.

.

26 Jan 2013

MISTERI DIBALIK ANGKA 7 ???




Kembali ke angka 7, menurut cerita angka 7 telah mempesona sejak jaman dahulu kala. Di China angka 7 dihubungkan dengan kehidupan gadis, dimana gadis mempunyai gigi susu pada usia 7 bulan dan tanggal pada usia 7 tahun, dalam 2 x 7 tahun “roda yin” membuka ketika ia mencapai masa puber, dan pada 7 x 7 = 49 datanglah masa monopause. Berikut Misteri Dibalik Angka 7, yaitu :


Di Amerika Kuno
Kesakralan angka 7 tidak ditemui di Amerika pra-Columbian dimana bangsa Maya percaya bahwa pada 7 lapis langit dan menganggap 7 sebagai angka penjuru mata angin.

Di Agama Yahudi
Dalam agama Yahudi (agama sebelum nabi Ibrahim. AS, atau agama pada jaman sebelum Masehi) hari ke 7 menjadi hari libur suci, sehinga di sakralkan, pada hari ke 7 itu larangan bekerja di ubah menjadi perintah. Dalam kitab perjanjian lama penuh angka 7. Pada generasi ke 7 setelah Adam hiduplah Lamech (silsilah dari Adam ) selama 777 tahun dan harus membayar balas dendam selama 777 tahun (Kejadian : 4.24). Tujuh tahun langkah menuju kuil sulaiman berhubungan dengan 7 cerita tentang kuil kuil Babilonia. Lalu Merpati Nuh menghilang selama 7 hari, dan tanda tanda datangnya muncul selama 7 hari, sungai Eufrat terbagi menjadi 7 aliran.

Di Agama Kristiani
Pada abad ke -14, sejarawan Mesir al-Maqrizi mengatakan bahwa orang orang kristen di Mesir (Koptik) merayakan 7 pesta besar dan 7 pesta kecil di gereja mereka. Dimana pesta yang dilangsungkan adalah 7 untuk pesta kesenangan dan 7 untuk pesta kesedihanMaria yang selaras dengan irama heptadik. Oleh karena itu dalam musik renaisans terdapat sejumlah lagu dengan 7 suara, yang biasanya dipersembahkan kepada Perawan Maria atau berkaitan dengan 7 pahala Roh Kudus.

Di India
Angka 7 juga banyak di jumpai di India, menurut cerita, angka 7 adalah angka penting terpenting di Weda selain angka 3. Angka 7 secara khusus berkaitan dengan Agni, dewa Api yang memiliki 7 istri, ibu atau adik serta 7 api, balok atau lidah, dan lagu lagu yang diperuntukkan baginya berjumlah 7. Dalam kepercayaan merea dewa matahari mempunyai 7 kuda penarik keretanya di langit.

Di Agama Budha
Dalam Budha (sidharta Gautama) yang baru lahir diyakini oleh pengikutnya, ketika lahir langsung menapak 7 langkah. Ia mencari keselamatan selama 7 tahun dan mengitari pohon bodhi selama 7 kali sebelum duduk bermeditasi dibawahnya. Masih menurut cerita, bahwa Syurga Budha mempunyai 7 teras, 7 karya keagamaan akan membawa manfaat bagi orang orang yang mempercayai kehidupan ini.

Di Ilmu Pengetahuan
Dalam Ilmu pengetahuan, angka 7 adalah dasar dari akumulasi angka yang tak terhitung jumlahnya, mulai dari 7 atom, 7 partikel terkecil dan seterusnya.

Di Agama Islam
Dalam islam, yang menarik dan untuk dicatat adalah, bahwa surah pertama dalam Al-Qur’an, Al-Fatihah mempunyai 7 ayat. Kalimah Syahadat dalam Laa Ilaaha ilaa Allaah, Muhammad rasul Allah terdiri dari 7 kata. Menurut Al-Qur’an Tuhan menciptakan langit dan bumi menjadi 7 lapis. Lalu Thawaf mengelilingi Ka’bah di Mekkah dilakukan sebanyak 7 kali, demikian juga dengan lari lari kecil (Sa’i) antara Shafa dan Marwah. Pada akhir haji, dekat Mina, syetan di lepar dalam 3 kali masing masing dengan 7 buah kerikil kecil yang lazim disebut (melempar jumroh). Angka 7 juga disukai oleh kaum Sufi. Tasawuf memperbincangkan 7 Lathaaif, atau titik titik subtil pada tubuh tempat kaum Sufi memusatkan kekuatan spiritualnya.

Di Masarakat Jawa
Dalam tradisi Jawa, ada moment tertentu yang berhubungan dengan angka 7. Sebagai contoh ketika orang hamil sudah usia 7 bulan, maka diadakan selamatan dengan istilah yang disebut “Tingkepan”. Lalu pada bayi yang telah berusia 7 bulan, maka ada prosesi yang dinamakan turun tanah. Persyaratan Upacara adat tertentu harus menggunakan kembang 7 rupa, mandi 7 sumur, Pesta kadang - kadang diadakan 7 hari 7 malam.. Juga tentang mitos kekayaan yang smapai 7 turunan ... (keturunan ke 8 jadi gembel...)

Benua Ada 7
Allah menurunkan malaikat untuk membunuh pasukan gajah 70000 malaikat. Allah menghias manusia dengan tujuh anggota badan, yaitu dua tangan, dua kaki, dua lutut, dan satu wajah. Kemudian Allah menghiasinya, dengan tujuh peribadatan, yaitu : dua tangan dengan doa, dua kaki dengan berkhidmat, dua lutut dengan duduk, dan wajah (muka) dengan sujud. Beberapa keajaiban angka 7 ada diantaranya terdapat pada ciptaan Allah yang lain, yaitu :

7 Lapis Langit
Rakaat Shalat 17
Pintu Surga Dan Neraka 7
Keajaiban Dunia Ada 7
27 Pahala Shalat Berjamaah
7 Lubang Dalam Tubuh Kita
1 Minggu 7 Hari

Allah menghiasi Al-Qur’an (Kitab suci umat Islam) dengan Tujuh surat panjang, Yaitu Al-Baqarah, Ali Imran, Al-Maaidah, An-Nissa', Al 'Araaf, Al An'aam dan Al-Anfaal atau At-Taubah. Kemudian Allah menghiasinya pula dengan Tujuh ayat Ummul kitab (Al-Fatihah/Pembuka kitab). Sebagaimana Firman Allah dalam Surat AL Hijr ayat 87, "Dan Sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Quran yang agung."Allah menghias umur manusia dengan tujuh tingkatan/tahapan. Pada masa baru lahir dinamakan tahapan rodhi’ (Menyusu), kemudian tahap fa thim (disapih), tahapan Shobiyyi (bayi), tahapan ghulam (masa kanak-kanak), kemudian tahapan syaab (pemuda/remaja), kemudian tahapan kuhul (yakni menginjak usia antara 30-50 tahun), dan menginjak tahapan Syaikh (masa tua). Demikianlah Tuhan Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Berkehendak telah menciptakan alam semsta dengan penuh misteri, seperti misteri nya angka 7. Allahu’Alam.

25 Jan 2013

tuah keris

Tulisan ini juga ditujukan untuk meluruskan pandangan orang tentang keris jawa dan tuahnya, termasuk pandangan para pemerhati perkerisan, karena kecenderungannya sudah salah kaprah yang menyamakan sebuah keris jawa dengan jimat bertuah, yang hanya dinilai dari bentuk fisiknya dan jenis tuahnya saja, tidak memahami sisi kejiwaan sebuah keris jawa.
Umumnya sebuah keris bersifat dinamis. Walaupun masing-masing keris memiliki kekhususan sendiri-sendiri dan sifat karakter sendiri-sendiri, tetapi secara umum sisi kegaibannya akan mengikuti sisi kehidupan manusia pemiliknya, terutama jika sudah ada penyatuan kebatinan antara manusia si pemilik keris dengan kerisnya.

Jadi, jika sudah ada penyatuan kebatinan antara manusia si pemilik keris dengan kerisnya, apapun jenis kerisnya dan tuahnya, secara umum sisi kegaibannya akan mengikuti jalan kehidupan manusia pemiliknya.

Dalam penyatuannya (pendampingan) kepada si manusia pemiliknya ada sosok gaib keris yang tampak berdiri mendampingi manusia tuannya, tetapi ada juga yang tetap berdiam di dalam kerisnya, mengawasi tuannya. Masing-masing sosok gaib keris mempunyai cara pendampingan sendiri-sendiri.

Tetapi menyatunya kegaiban keris dengan pemiliknya tidak semuanya ditunjukkan dalam bentuk sosok gaib kerisnya tampak keluar mendampingi si manusia pemilik keris, karena isi gaib keris ada yang tetap berdiam di dalam kerisnya, tidak keluar mendampingi manusia, tapi tetap mengawasi. Biasanya ini adalah dari jenis keris-keris kesaktian. Yang penting dan diperlukan adalah adanya bentuk penyatuan kebatinan antara si manusia dengan kerisnya, sehingga apakah isi gaib kerisnya keluar mendampinginya ataukah tetap berdiam di dalam kerisnya tidak akan menjadi masalah. Sewaktu-waktu dalam sekejap khodam kerisnya bisa keluar dan datang kalau diperlukan dan bisa berinteraksi batin dengan si manusia walaupun jaraknya jauh.

Secara umum tujuan keris-keris dibuat dimaksudkan dengan cara pendampingannya masing-masing keris-keris itu akan memberikan tuahnya kepada si manusia, dan untuk manfaat yang maksimal dalam pendampingan itu dibutuhkan adanya penyatuan kebatinan si manusia dengan kerisnya (ada interaksi batin).

Sifat kejiwaan keris sama seperti manusia yang memomong dan menjaga anaknya. Bila si manusia peka rasa, bisa mendengarkan bisikan kerisnya yang berupa ide dan ilham dan firasat (dan mimpi), maka orang itu akan dituntun kepada jalan yang mengantarkannya sukses sesuai jenis tuah kerisnya dan menjauhkannya dari kesulitan dan bahaya. Sifat kejiwaan yang seperti itu tidak kita dapatkan dari benda-benda gaib lain. Umumnya orang-orang jawa jaman dulu peka rasa dan batin, sehingga akan mudah penyatuan kebatinannya dengan keris-kerisnya. Itulah juga sebabnya orang-orang jawa jaman dulu, yang peka rasa, lebih memilih keris daripada benda-benda gaib lain.
Sebagai sebuah benda pribadi, keris dibuat secara khusus agar memiliki tuah yang sesuai dengan kepribadian dan kehidupan si manusia pemiliknya (si pemilik pertama), sehingga kegaiban sebuah keris dapat secara maksimal mendukung aktivitas keseharian dan upaya pemiliknya dalam mencapai keinginan atau cita-citanya.

Pada jaman dulu orang-orang yang datang kepada seorang empu keris, yang menjadi pesanan khususnya hanyalah bentuk kerisnya dan kelengkapan kerisnya saja, bukan tuahnya. Bentuk tuah keris ditentukan sendiri oleh si empu keris berdasarkan pertimbangannya pada karakteristik kepribadian dan kehidupan si manusia calon pemilik keris. Jadi, dalam membuat sebuah keris, tuah yang terkandung di dalam sebuah keris bukanlah pesanan dari calon pemiliknya, tidak seperti halnya orang yang datang kepada seorang paranormal / spiritualis untuk meminta jimat pengasihan, kerejekian, kekayaan, kewibawaan, kekuatan, kekebalan, dsb.

Pada saat pembuatannya, tuah keris dibuat berdasarkan pertimbangan yang bersifat pribadi, sehingga tuah keris yang dipesan oleh seorang raja, bupati dan adipati, atau keluarga raja, dan penguasa dan pejabat pemerintahan selalu mengenai kesaktian, wibawa kekuasaan dan kepemimpinan. Tuah keris untuk para pedagang selalu berkisar pada kejayaan berdagang.
Tuah keris untuk panembahan / spiritualis / sesepuh tokoh masyarakat kebanyakan berkisar pada sifat-sifat kesepuhan. Tuah keris untuk rakyat biasa kebanyakan berkisar pada kerejekian, keselamatan, ketentraman keluarga, keberkahan hidup, dsb.

Tuah keris jawa yang paling dasar adalah untuk kesaktian. Semua keris, apapun jenis kerisnya dan jenis tuahnya, selalu mengandung unsur kesaktian dan kekuatan gaib di dalamnya. Walaupun tuah utamanya adalah untuk kerejekian, ketika sedang digunakan untuk berkelahi, keris itu akan berfungsi sebagai keris kesaktian. Walaupun tuahnya untuk kerejekian, tetapi biasanya kekuatan gaib keris-keris jawa jauh di atas kekuatan gaib jimat-jimat kebal yang biasa dipakai orang, seperti mustika wesi kuning, rante babi, mustika merah delima, jimat rajahan ataupun jimat-jimat kebal isian. Sehingga walaupun tuahnya untuk kerejekian, keris-keris jawa siap setiap saat untuk mengalahkan kekuatan gaib jimat-jimat kebal tersebut.

Tuah dasar lainnya adalah untuk perlindungan gaib bagi si pemilik keris dari serangan gaib atau kejahatan. Jadi, selain tuah utamanya yang untuk kesaktian, kekuasaan atau rejeki, keris juga memberikan tuah perlindungan gaib bagi si pemilik. Dengan demikian, bila dikatakan bahwa sebuah keris bertuah kesaktian, atau kewibawaan, atau rejeki, sebenarnya terkandung juga di dalamnya tuah untuk perlindungan gaib, walaupun tuah itu mungkin tidak terasa dominan. Sesuai sugesti sang pemilik keris, kekuatan gaib di dalam keris jawa dapat diminta untuk memberikan pagaran gaib atau perlindungan gaib untuk si pemilik keris dan keluarganya



 1.
Tuah Keris Sesuai Tujuan Awal Pembuatannya.

Seperti sudah diuraikan dalam halaman-halaman sebelumnya bahwa sesuai filosofi dasar pembuatan keris jawa, sebuah keris dibuat dengan kegaiban di dalamnya yang sejalan dengan status keris dan kelas keris di dunia manusia maupun di dunia gaib keris yang aturannya sama dengan status dan kelas wahyu dewa yang diturunkan kepada manusia, karena filosofi dasar diturunkannya wahyu gaib keris adalah untuk dipasangkan dengan wahyu dewa yang diturunkan kepada manusia, sehingga hirarki status dan kelas gaib keris dan wahyu dewa itu sejalan (  Aturan ini menjadi faktor dominan yang akan menentukan apakah sebuah keris akan cocok dan bisa menyatu dengan seseorang.
 dituliskan bahwa tujuan sebuah keris dibuat beserta kegaiban di dalamnya adalah untuk menjadi pendamping manusia pemiliknya dan menunjang kehidupannya dalam bidang :
  - Kesaktian / Ksatriaan
  - Wibawa Kekuasaan
  - Kerejekian
  - Kesepuhan

Pada saat pembuatannya, tuah keris dibuat berdasarkan pertimbangan yang bersifat pribadi, sehingga tuah keris yang dipesan oleh seorang raja atau keluarga raja, bupati dan adipati / penguasa / pejabat pemerintahan selalu mengenai kesaktian, wibawa kekuasaan dan kepemimpinan. Tuah keris untuk para pedagang selalu berkisar pada kejayaan berdagang. Tuah keris untuk panembahan / spiritualis / sesepuh tokoh masyarakat kebanyakan berkisar pada sifat-sifat kesepuhan. Tuah keris untuk rakyat biasa kebanyakan berkisar pada kerejekian, keselamatan, ketentraman keluarga, keberkahan hidup, dsb. Keris-keris untuk para prajurit, senopati, panglima perang dan pemimpin perang lainnya dan untuk para pesilat dan ksatria dalam dunia persilatan selalu dominan mengandung tuah kesaktian. Sebagian keris-keris jenis ini mengandung hawa aura yang panas dan energi yang tajam.
Keris-keris untuk seorang raja atau keluarga raja, bupati dan adipati / penguasa / pejabat pemerintahan selalu mengandung tuah kesaktian, wibawa kekuasaan dan kepemimpinan. Sebagian keris-keris jenis ini mengandung hawa aura yang panas dan angker.

Sebagian dari keris-keris di atas ada yang bersifat khusus, yaitu
keris-keris yang tujuan pembuatannya adalah untuk menjadi lambang kebesaran sebuah kerajaan / kadipaten / kabupaten, yang biasanya terkandung di dalamnya apa yang biasa disebut sebagai
Wahyu Keraton

Keris-keris lain yang bersifat khusus adalah yang disebut Keris Keningratan, yang tujuan pembuatannya hanya untuk dimiliki oleh seorang raja / adipati / bupati dan keluarganya, yang tergolong sebagai orang-orang ningrat / bangsawan.

Keris-keris yang bersifat khusus di atas hanya patut dimiliki oleh orang-orang tertentu yang sesuai dengan tujuan keris-keris itu diciptakan, bukan untuk orang umum.
Keris-keris untuk para pedagang selalu berkisar pada kejayaan berdagang. Keris-keris untuk rakyat biasa kebanyakan mengandung tuah untuk kerejekian, keselamatan, ketentraman keluarga, keberkahan hidup, dsb.

Keris-keris untuk panembahan / spiritualis / sesepuh tokoh masyarakat kebanyakan berkisar pada sifat-sifat kesepuhan. Umumnya hawa auranya teduh.

Keris-keris yang disebutkan di atas mengandung sifat tuah, karakter dan kekhususan sendiri-sendiri yang sudah dicocokkan dengan manusia pemiliknya dulu, yang akan menentukan apakah keris-keris tersebut cocok untuk dimiliki oleh manusia jaman sekarang.



 2.
Tuah Keris Yang Disesuaikan Dengan Manusia Pemiliknya Sekarang.

Semua keris, apapun jenis kerisnya dan tuahnya, terkandung di dalamnya tuah untuk kesaktian / ksatriaan, wibawa kekuasaan, kerejekian dan kesepuhan. Artinya, jika keris itu dimiliki oleh seseorang, maka apapun jenis kerisnya dan tuahnya, keris-keris itu akan memberikan tuah-tuah tersebut, baik sang pemilik keris bergerak dalam bidang kesaktian, kekuasaan, kerejekian / ekonomi, maupun yang bergerak di bidang kesepuhan. Walaupun biasanya bentuk tuah yang dominan adalah yang sesuai dengan jalan kehidupan si manusia pemilik keris, tetapi sifat tuahnya tergantung juga pada karakter gaib kerisnya dan tergantung juga pada adanya penyatuan kebatinan antara si keris dengan si manusia.

Artinya, apapun jenis kerisnya dan tuahnya :
 - Semua keris akan berfungsi sebagai keris kesaktian jika sedang digunakan untuk bertarung.
 - Semua keris mengandung fungsi untuk menunjang wibawa kekuasaan.
 - Semua keris mengandung fungsi untuk menunjang kerejekian.
 - Semua keris mengandung fungsi untuk menunjang kesepuhan.


Artinya, apapun jenis kerisnya dan tuahnya :

Jika si manusia pemiliknya sekarang bergerak dalam bidang kesaktian / ksatriaan, keris-keris itu akan mengilhami / menuntun pada pembelajaran untuk meningkatkan kesaktian, sehingga jika sudah ada penyatuan kebatinan antara si manusia dengan kerisnya, maka kerisnya akan mendukungnya mencapai kesaktian yang tinggi dan kejayaan, berwibawa, berkuasa dan dihormati, yang menjadikan derajatnya lebih daripada orang lain yang tanpa keris.

Jika si manusia pemiliknya sekarang adalah seorang pejabat di pemerintahan / swasta atau menjadi perwira ketentaraan atau kepolisian, semua keris akan berfungsi sebagai keris yang menunjang wibawa kekuasaan, membuat seseorang dihormati oleh orang lain, baik yang sederajat, atasannya, maupun bawahannya. Unsur tuah kewibawaan akan membuat seseorang dihormati dan dianggap pantas untuk memegang jabatan tertentu, sehingga jika sudah ada penyatuan kebatinan antara si manusia dengan kerisnya, maka kerisnya akan mendukungnya mencapai kepangkatan dan kekuasaan yang tinggi, yang menjadikan derajatnya melebihi orang lain yang tanpa keris. Sekalipun seseorang belum menjadi seorang pejabat, hanya menjadi karyawan / pegawai / staf biasa saja, jika sudah ada penyatuan kebatinan antara si manusia dengan kerisnya, maka kerisnya akan mendukungnya mencapai derajat yang lebih tinggi dan menjadikannya dihormati, lebih daripada orang lain yang tanpa keris.

Jika si manusia pemiliknya sekarang bergerak di bidang usaha ekonomi, atau sebagai manusia biasa yang bekerja untuk mencari rejeki, semua keris akan berfungsi sebagai keris yang menunjang kerejekian, sifat dasar pengasihan dan kewibawaan akan membuat seseorang dikasihi sekaligus dihormati oleh orang lain, baik yang sederajat, atasannya, maupun bawahannya, dan juga membantu dalam hubungan sosial. Jika sudah ada penyatuan kebatinan antara si manusia dengan kerisnya, maka kerisnya akan membantu membuka jalan pikiran pemiliknya dan memberikan ide / ilham pemecahan permasalahan yang berhubungan dengan pekerjaannya dan yang berhubungan dengan pengembangan usaha, memberikan aura yang baik dalam perdagangan, pertanian dan perikanan, dan menjadikannya dipercaya untuk menangani banyak transaksi dan kerjasama usaha, dipercaya untuk menangani banyak urusan atau dipercaya untuk menangani banyak transaksi dan hubungan bisnis. Kerisnya akan membantunya mencapai derajat yang lebih tinggi dan dihormati, lebih daripada orang lain yang tanpa keris.

Jika si manusia pemiliknya sekarang bergerak di bidang kesepuhan, semua keris akan berfungsi sebagai keris yang menunjang kesepuhan. Jika sudah ada penyatuan kebatinan antara si manusia dengan kerisnya, maka kerisnya akan memberikan pengaruh berupa ketenangan hati, pikiran dan batin, membuka pikiran si pemilik dalam pemecahan masalah, membantu memberikan ide-ide dan ilham (atau wangsit), kesehatan dan ketentraman keluarga dan melancarkan segala urusannya yang berhubungan dengan hubungan sosial di masyarakat. Sisi gaib keris ini juga akan membantu dan mendampingi pemiliknya dalam menekuni keilmuan kesepuhan (kebatinan) dan kerohanian dan mendampinginya menjalani dimensi keilmuan yang lebih tinggi. Kerisnya juga akan memberikan aura perbawa dan wibawa seorang tua pengayom. Kerisnya akan mendukungnya mencapai derajat yang lebih tinggi dan dihormati sebagai seorang sepuh, lebih daripada orang lain yang tanpa keris.

Uraian di atas adalah mengenai tuah keris yang oleh kerisnya disesuaikan kecocokkannya dengan jalan kehidupan manusia pemiliknya yang sekarang.



 3.
Tuah Keris Sesuai Karakter Sosok Gaib Kerisnya.

Masing-masing sosok mahluk halus mempunyai karakter kepribadian sendiri-sendiri. Mengenai itu Penulis sudah menuliskannya dalam tulisan berjudul

Sejalan dengan tulisan di atas sifat dasar tuah keris juga dipengaruhi oleh masing-masing sosok karakter gaib keris di dalamnya yang akan membawa sifat-sifat yang sesuai dengan karakter sosok gaibnya.
Misalnya : Sosok ular naga, berarti watak dan perilakunya seperti naga, berwibawa dan berkuasa.Sosok ular naga ini biasanya menjadi khodam kewibawaan, kekuasan dan penjagaan gaib. Hawa aura yang ditimbulkannya biasanya menyebabkan manusianya kelihatan berwibawa dan berkuasa dan akan menjauhkan manusia atau mahluk halus yang bersifat / bertendensi negatif. Sosok seperti manusia, berarti watak dan perilakunya seperti manusia, bisa diajak bertukar pikiran.

Sosok seperti manusia berbadan tinggi dan besar, biasanya watak dan perilakunya bersifat seperti seorang manusia yang akan menonjolkan kekuatan, kesaktian dan kewibawaan, dan siap setiap saat untuk bertarung. Biasanya hawa auranya teduh, tidak panas. Sosok ini juga bersifat idealis, yang akan menonjolkan kekuatan, kekerasan dan kewibawaan untuk memaksakan idealisnya pada perilaku berbudi pekerti dan tidak sombong, yang sebagian akan sama dengan perilaku keris tindih  Kebanyakan sosok gaib keris yang seperti ini ada pada keris-keris yang dulu dibuat di Jawa Tengah (silakan dibaca juga :
Sosok seperti bapak-bapak berjubah, seperti seorang panembahan atau seperti pertapa, berarti watak dan perilakunya seperti manusia bapak-bapak sepuh. Apapun jenis tuah yang mereka berikan biasanya mengandung hawa kewibawaan seorang bapak-bapak yang bersifat mengayomi. Sosok-sosok tersebut juga melambangkan bahwa mereka mempunyai kearifan dalam hal kebatinan dan spiritual dan bisa mengajarkan / menuntun manusia dalam bidang keilmuan kesaktian atau kebatinan / spiritual, tetapi juga akan siap sedia setiap saat untuk menggunakan kekuatan dan kesaktiannya jika diperlukan.

Sosok seperti ibu-ibu jawa memakai kain kemben, berarti watak dan perilakunya seperti manusia ibu-ibu, galak dan berwibawa seperti orang tua ibu-ibu. Sebagian besar juga bersifat mengayomi. Apapun jenis tuah yang mereka berikan biasanya mengandung hawa kewibawaan seorang ibu-ibu yang galak dan berwibawa yang mempengaruhi orang-orang di sekitarnya untuk tidak bersikap merendahkan dan menjauhkan orang-orang yang berniat jahat / curang. Tetapi hawa aura ibu-ibu itu juga akan memberikan suasana yang menarik orang untuk datang berkumpul (membantu hubungan sosial / pergaulan dan kerejekian).




 
Tuah Keris Pada Jaman Sekarang.

Umumnya sebuah keris jawa bersifat dinamis. Walaupun masing-masing keris jawa memiliki kekhususan sendiri-sendiri dan sifat karakter sendiri-sendiri, tetapi secara umum sisi kegaibannya akan mengikuti sisi kehidupan manusia pemiliknya, terutama jika sudah ada penyatuan kebatinan antara manusia si pemilik keris dengan kerisnya.

Seperti sudah dituliskan di atas, walaupun sebuah keris sudah menyesuaikan dirinya dengan kepribadian dan jalan kehidupan manusia pemiliknya yang sekarang, masing-masing keris memiliki sifat karakter sendiri-sendiri yang akan mempengaruhi sifat tuahnya yang dominan, sehingga dalam memberikan tuahnya seperti diuraikan di atas masing-masing keris akan memberikan sifat tuah dan aura sendiri-sendiri. Sehingga jika sebuah keris dimiliki oleh seseorang, maka selain disesuaikan dengan jalan kehidupan orang tersebut, sifat tuahnya juga dipengaruhi oleh sifat karakter kerisnya sendiri, apakah kerisnya akan menonjolkan sifat kesaktian / ksatriaan, wibawa kekuasaan, pengasihan kerejekian ataukah kesepuhan, apakah berhawa teduh ataukah berhawa panas dan berenergi tajam

Semua keris, apapun jenis kerisnya dan tuahnya, terkandung di dalamnya tuah untuk kesaktian / ksatriaan, wibawa kekuasaan, kerejekian dan kesepuhan. Artinya, jika keris itu dimiliki oleh seseorang, maka apapun jenis kerisnya dan tuahnya, keris-keris itu akan memberikan tuah-tuah tersebut, baik sang pemilik keris bergerak dalam bidang kesaktian, kekuasaan, kerejekian / ekonomi, maupun yang bergerak di bidang kesepuhan. Tetapi bentuk tuah yang dominan adalah yang sesuai dengan jalan kehidupan si manusia pemiliknya dan tergantung juga pada adanya penyatuan kebatinan antara si manusia dengan si keris (ada interaksi batin dan sugesti penyatuan).

Maka, apapun jenis keris anda dan tuahnya, keris anda itu :
 - akan berfungsi sebagai keris kesaktian jika sedang digunakan untuk bertarung.
 - mengandung fungsi untuk perlindungan gaib.
 - mengandung fungsi untuk menunjang wibawa kekuasaan.
 - mengandung fungsi untuk menunjang kerejekian.
 - mengandung fungsi untuk menunjang kesepuhan.

Jadi, sekalipun anda sehari-harinya bekerja dan beraktivitas sebagai seorang guru sekolah,
keris anda itu :
 - akan berfungsi sebagai keris kesaktian jika sedang digunakan berkelahi.
 - akan memberikan perlindungan gaib, jika anda menginginkan itu.
 - akan menunjang wibawa kekuasaan, jika anda mengsugestikannya begitu.
 - akan menunjang kerejekian, sesuai penyatuan dan sugesti anda.
 - akan menunjang kesepuhan, jika anda juga menekuni keilmuan kebatinan / kerohanian / kesepuhan.


Sebuah keris jawa yang belum ada penyatuan dengan pemiliknya yang sekarang sifat-sifat karakternya akan sama dengan saat pertamakali keris itu dibuat, tetapi akan bersifat pasif, tidak menunjukkan penyatuannya dan tidak memberikan tuahnya. Jika sudah ada penyatuan dengan seorang manusia pemiliknya, keris itu akan menyesuaikan dirinya dan tuahnya dengan manusia itu.

Jadi jika anda sudah memiliki sebuah keris, anda harus bisa berinteraksi batin menyatukan kebatinan anda dengan keris anda itu dan mengsugestikannya supaya menyatu dan membantu aktivitas anda sehari-hari. Anda juga bisa mengsugesti keris anda untuk memberikan semua fungsi-fungsi di atas sepanjang sesuai dengan yang anda butuhkan dalam kehidupan anda. Ada banyak halaman bertema keris yang menjelaskan sugesti penyatuan dengan keris untuk dipelajari.

Dalam hal ini sebaiknya dimengerti bahwa apapun tuah dari sebuah keris yang disebutkan oleh Penulis, termasuk tuah keris-keris milik pembaca, adalah sifat tuah keris yang potensial diberikan oleh sebuah keris kepada manusia pemiliknya sekarang (setelah adanya penyesuaian keris dengan pemiliknya atau calon pemiliknya), bukan semata-mata tuah yang terkandung di dalam sebuah keris seperti halnya sebuah benda yang bertuah khusus untuk kerejekian, pengasihan, kewibawaan, penjagaan gaib, dsb.

JUNJUNG DERAJAT

Secara umum yang disebut Keris Junjung Derajat adalah berasal dari jenis keris yang bertuah kerejekian. Istilah Keris Junjung Derajat di atas bukanlah keris-keris berpamor Junjung Derajat, tetapi ditujukan untuk keris-keris kerejekian yang tuahnya diperuntukkan bagi orang-orang yang bekerja sebagai karyawan / pegawai di pemerintahan ataupun swasta, yang penghasilannya terutama berasal dari gaji / upah. Sedangkan keris kerejekian umum atau yang untuk kalangan pedagang / pengusaha, istilahnya bukan keris junjung derajat, tetapi keris yang bertuah untuk menderaskan rejeki.

Pengertian Keris Junjung Derajat di atas adalah keris-keris yang tuahnya dikatakan ampuh dapat menaikkan pangkat / derajat / jabatan kepegawaian yang akhirnya juga akan menaikkan gaji, kekayaan dan kemuliaan seseorang.



Sebenarnya
keris-keris yang bertuah junjung derajat dan yang bertuah menderaskan rejeki bukan hanya berasal dari keris-keris bertuah kerejekian, tetapi keris-keris yang bertuah kesaktian, wibawa kekuasaan, kesepuhan dan keris-keris keningratan juga dapat memberikan tuah junjung derajat dan menderaskan rejeki, tetapi sifat dasar tuah dan auranya berbeda.

Sesuai filosofi dasar pembuatan keris jawa, tujuan sebuah keris dibuat adalah untuk menjadi pendamping pemiliknya dan membantu kehidupannya dalam bidang :
 - Kesaktian / Ksatriaan
 - Wibawa Kekuasaan
 - Kerejekian
 - Kesepuhan

Walaupun masing-masing keris memiliki kekhususan sendiri-sendiri dan sifat karakter sendiri-sendiri, tetapi secara umum sisi kegaibannya akan mengikuti kehidupan manusia pemiliknya, terutama jika sudah ada penyatuan kebatinan antara manusia si pemilik keris dengan kerisnya.

Jadi, jika sudah ada penyatuan kebatinan antara manusia si pemilik keris dengan kerisnya, apapun jenis kerisnya dan tuahnya, secara umum sisi kegaibannya akan mengikuti kehidupan manusia pemiliknya.

Pengertian di atas, yaitu tuah junjung derajat adalah pengertian manusia jaman sekarang yang berorientasi pada kepangkatan / kemuliaan, kemakmuran dan kejayaan ekonomi. Padahal sebenarnya pengertian junjung derajat tidaklah sesempit itu maknanya.


Semua keris, apapun jenis kerisnya dan tuahnya, terkandung di dalamnya tuah untuk kesaktian / ksatriaan, wibawa kekuasaan, kerejekian dan kesepuhan. Artinya, jika dihubungkan dengan pengertian di atas, yaitu tuah junjung derajat, maka apapun jenis kerisnya dan tuahnya, semua keris mengandung tuah untuk menaikkan derajat pemiliknya hingga dapat mencapai derajat yang tinggi dan mencapai kemuliaan, baik sang pemilik keris bergerak dalam bidang kesaktian, wibawa kekuasaan, kerejekian / ekonomi, maupun yang bergerak di bidang kesepuhan.

Jika si manusia pemiliknya sekarang bergerak dalam bidang kesaktian / ksatriaan, keris-keris itu akan mengilhami / menuntun pada pembelajaran untuk meningkatkan kesaktian, sehingga jika sudah ada penyatuan kebatinan antara si manusia dengan kerisnya, maka kerisnya akan mendukungnya mencapai kesaktian yang tinggi dan kejayaan, berwibawa, berkuasa dan dihormati, yang menjadikan derajatnya melebihi orang lain yang tanpa keris.

Jika si manusia pemilik keris menjadi seorang pejabat di pemerintahan / swasta atau menjadi perwira ketentaraan atau kepolisian, semua keris akan berfungsi sebagai keris yang menunjang wibawa kekuasaan, membuat seseorang dihormati oleh orang lain, baik yang sederajat, atasannya, maupun bawahannya. Unsur tuah kewibawaan akan membuat seseorang dihormati dan dianggap pantas memegang jabatan tertentu. Sehingga jika sudah ada penyatuan kebatinan antara si manusia dengan kerisnya, maka kerisnya akan mendukungnya mencapai kepangkatan dan kekuasaan yang tinggi, yang menjadikan derajatnya melebihi orang lain yang tanpa keris. Sekalipun seseorang belum menjadi seorang pejabat, hanya menjadi karyawan / pegawai / staf biasa saja, jika sudah ada penyatuan kebatinan antara si manusia dengan kerisnya, maka kerisnya akan mendukungnya mencapai derajat yang lebih tinggi dan dihormati, melebihi orang lain yang tanpa keris.

Jika si manusia pemiliknya sekarang bergerak di bidang usaha ekonomi, atau sebagai manusia biasa yang hidup untuk mencari rejeki, semua keris akan berfungsi sebagai keris yang menunjang kerejekian, sifat dasar pengasihan dan kewibawaan akan membuat seseorang dikasihi sekaligus dihormati oleh orang lain, baik yang sederajat, atasannya, maupun bawahannya, dan juga membantu dalam hubungan sosial. Jika sudah ada penyatuan kebatinan antara si manusia dengan kerisnya, maka kerisnya akan membantu membuka jalan pikiran pemiliknya dan memberikan ide / ilham pemecahan permasalahan yang berhubungan dengan pekerjaannya dan yang berhubungan dengan pengembangan usaha, memberikan aura yang baik dalam perdagangan, pertanian dan perikanan, dan menjadikannya dipercaya untuk menangani banyak transaksi dan kerjasama usaha, dipercaya untuk menangani banyak urusan atau dipercaya untuk menangani banyak transaksi dan hubungan bisnis. Kerisnya akan membantunya mencapai derajat yang lebih tinggi dan dihormati, melebihi orang lain yang tanpa keris.

Jika si manusia bergerak di bidang kesepuhan, semua keris akan berfungsi sebagai keris yang menunjang kesepuhan. Jika sudah ada penyatuan kebatinan antara si manusia dengan kerisnya, maka kerisnya akan memberikan pengaruh berupa ketenangan hati, pikiran dan batin, membuka pikiran si pemilik dalam pemecahan masalah, membantu memberikan ide-ide dan ilham (atau wangsit), kesehatan dan ketentraman keluarga dan melancarkan segala urusannya yang berhubungan dengan hubungan sosial di masyarakat. Sisi gaib keris ini juga akan membantu dan mendampingi pemiliknya dalam menekuni keilmuan kesepuhan (kebatinan) dan kerohanian dan mendampinginya menjalani dimensi keilmuan yang lebih tinggi. Kerisnya juga akan memberikan aura perbawa dan wibawa seorang tua pengayom. Kerisnya akan mendukungnya mencapai derajat yang lebih tinggi dan dihormati sebagai seorang sepuh, melebihi orang lain yang tanpa keris.


Tetapi masing-masing keris memiliki sifat karakter sendiri-sendiri, yang disesuaikan dengan orang pemiliknya dulu, sehingga dalam memberikan tuahnya seperti diuraikan di atas masing-masing keris akan memberikan sifat tuah dan aura sendiri-sendiri.

Tuah junjung derajat yang berasal dari keris-keris bertuah kerejekian dan kesepuhan mengandung sifat dasar pengasihan yang membuat seseorang dikasihi oleh orang lain, baik yang sederajat, atasannya, maupun bawahannya, dan juga membantu dalam hubungan sosial. Keris-keris itu juga akan membantu membuka jalan pikiran pemiliknya dan memberikan ide / ilham, sehingga manusia pemiliknya akan mendapatkan ide pemecahan permasalahan yang berhubungan dengan pekerjaannya dan akan dipercaya untuk menangani banyak urusan atau dipercaya untuk memegang jabatan tertentu. Yang umum dirasakan oleh orang-orang pemiliknya adalah keris-keris tersebut dapat menaikkan kerejekian dan kekayaan / kemuliaan yang berasal dari naiknya kepangkatan atau karena kedekatannya dengan atasan.
Tuah junjung derajat yang berasal dari keris-keris bertuah kesaktian, wibawa kekuasaan dan kesepuhan mengandung sifat dasar kewibawaan yang membuat seseorang dihormati oleh orang lain, baik yang sederajat, atasannya, maupun bawahannya. Unsur tuah kewibawaan akan membuat seseorang dihormati dan dianggap pantas memegang jabatan tertentu. Yang umum dirasakan oleh orang-orang pemiliknya adalah keris-keris tersebut dapat mengangkat derajat dan kepangkatan pemiliknya, menaikkan wibawanya, dan mengamankan posisinya dari persaingan.

Tuah junjung derajat yang berasal dari keris-keris keningratan ada yang mengandung sifat dasar kewibawaan, ada juga yang mengandung sifat dasar pengasihan, tergantung sifat dasar karakter khodam kerisnya masing-masing apakah bersifat kesaktian ataukah kewibawaan.

Selain sifat dasar tuah yang bersifat pengasihan atau kewibawaan, sifat dasar tuah lainnya dipengaruhi oleh masing-masing sosok karakter gaib keris yang berdiam di dalamnya seperti dituliskan dalam tulisan berjudul Khodam dan Kualitas Tuah.


Mengenai tuah junjung derajat, ataupun tuah menderaskan rejeki, semua keris dapat memberikan tuah itu, tetapi kekuatan tuahnya yang terkait dengan itu sangat bergantung pada penyesuaian si keris terhadap kepribadian dan aktivitas sehari-hari manusia pemiliknya, penyatuan antara manusia pemiliknya dengan kerisnya, dan seberapa baik si pemilik keris aktif menunjukkan penyatuan dirinya dengan kerisnya, yang bukan hanya sekedar mengharapkan keris itu menyatu dengan dirinya dan memberikan tuahnya kepadanya seperti sebuah jimat keberuntungan / kesuksesan.

Syarat dasar sebuah keris dapat menjadi optimal manfaat tuahnya :
 - Kerisnya sudah menyatu dengan pemiliknya. Salah satu bentuknya adalah khodamnya sudah mendampingi
   manusia pemiliknya (berlaku seperti khodam pendamping), atau dari dalam kerisnya mengawasi
   kehidupan manusia pemiliknya.

 - Pemiliknya peka rasa dan firasat untuk "mendengarkan" kontak / bisikan gaib dari kerisnya dan ide / ilham
   (dan mimpi) yang akan menuntunnya pada perbuatan-perbuatan tertentu atau peluang-peluang tertentu
   yang harus dimanfaatkannya, sehingga setelah menjalankan perbuatan-perbuatan dan peluang-peluang
   yang ditunjukkan oleh kerisnya itu sang pemilik keris bisa mendapatkan manfaat dari tindakannya itu yang
   akhirnya akan mengangkat kehormatan dan citra dirinya.
 - Pemiliknya peka rasa dan firasat untuk mendengarkan petunjuk kerisnya yang akan menjauhkannya dari
   hambatan dan kesulitan.

 - Pemiliknya aktif berinteraksi batin dengan kerisnya, menunjukkan tujuan-tujuan dan posisi-posisi yang
   ingin dicapainya untuk mengsugesti kerisnya supaya memfokuskan perhatiannya untuk membantu
   membukakan jalannya.


Jika si pemilik keris mampu peka rasa dan firasat, bisa "mendengarkan" bisikan / ide / ilham dari kerisnya, maka selain memberikan aura tuah yang akan mendukung aktivitas sang pemilik, kerisnya akan bersikap sebagai sosok pendamping (teman di alam gaib) yang akan memberikan arahan dan petunjuk tentang apa yang harus dilakukannya, arahan dan petunjuk tentang hambatan / kesulitan yang harus dihindari dan ide / ilham untuk pemecahan masalah.

Jika syarat dasar di atas tidak terpenuhi, dan jika si pemilik keris tidak mampu peka rasa dan firasat, tidak bisa "mendengarkan" bisikan / ide / ilham dari kerisnya, maka akan ada banyak petunjuk dan arahan yang tidak diketahuinya, akan ada banyak petunjuk peluang dan kesempatan dan ide / ilham pemecahan masalah yang tidak dimanfaatkannya dan akan ada hambatan / kesulitan yang tidak dihindarinya karena petunjuknya tidak didengarnya.

Dengan demikian si manusia pemilik keris tidak akan dapat mengoptimalkan manfaat dari kerisnya, sehingga kerisnya itu tidak dapat dimanfaatkannya untuk membantunya menaikkan derajatnya, menjadi sama saja dengan keris-keris lainnya yang pemiliknya tidak mampu mengoptimalkan manfaatnya. Dalam hal ini si pemilik keris memegang peranan sentral yang menentukan akan menjadi sejauh apa dirinya dengan kerisnya.

Uraian di atas maksudnya adalah kita harus bisa memperlakukan keris kita seolah-olah dia adalah teman kita di alam gaib. Kita bisa berinteraksi, bisa minta ditunjukkan jalan usaha kita, bisa minta diberikan ide-ide untuk pemecahan masalah pribadi, kantor ataupun keluarga, petunjuk mengenai atasan kita, rekan sekerja, rekanan usaha, prospek produk kita, petunjuk ide alternatif usaha, petunjuk cara-cara berhubungan dengan seorang rekanan, dsb. Untuk itu diperlukan kemampuan menyampaikan sugesti (kontak batin) kepada gaib kerisnya dan kemampuan peka rasa dan firasat untuk "mendengarkan" suara gaib kerisnya yang berupa bisikan gaib, ide dan ilham.

Untuk maksud di atas tidak harus kita sering memegang / mengeluarkan keris kita. Cukup asalkan kita bisa fokus batin untuk berinteraksi dengan sosok gaibnya, apalagi kalau sosok gaib kerisnya sudah mendampingi keseharian kita. Dengan demikian perilaku dalam memiliki sebuah keris yang lebih menuntut adanya kedekatan hati dan interaksi batin haruslah dibedakan dengan memiliki sebuah benda jimat yang hanya perlu dipakai saja atau dikantongi untuk dibawa-bawa.

Dengan cara di atas, maka selain tuah asli dari kerisnya, kita juga akan mendapatkan manfaat dari petunjuk-petunjuk yang kita terima yang juga akan menjauhkan kita dari masalah, sehingga kita bisa terus maju naik ke atas, bukannya sekedar jalan di tempat atau malah terjebak di dalam kesulitan.



Dengan dasar pemahaman di atas, maka janganlah anda termotivasi untuk mencari dan membeli keris-keris yang dikatakan sebagai keris junjung derajat, atau yang dikatakan sebagai bertuah menderaskan rejeki, karena keris-keris milik anda pun sebenarnya dapat memberikan tuah tersebut, jika anda dapat mengoptimalkan manfaatnya. Keris-keris yang akan anda beli, yang dikatakan sebagai keris junjung derajat atau bertuah menderaskan rejeki, belum tentu nantinya tuahnya akan sama seperti yang anda harapkan, belum tentu hasilnya sama dengan yang diiklankan, karena ada persyaratan seperti tertulis di atas yang harus dipenuhi, lagipula belum tentu keris tersebut cocok untuk anda.

Lagipula keris-keris tersebut, pemiliknya
mungkin tidak dapat merasakan tuahnya yang berupa junjung derajat atau menderaskan rejeki, sehingga keris itu dijualnya. Jika anda membeli keris itu, mungkin anda akan bernasib sama, tidak dapat merasakan tuahnya seperti yang diiklankan.

Sekalipun keris-keris tersebut sudah anda beli dan sudah anda miliki,
kekuatan tuahnya yang terkait dengan junjung derajat atau menderaskan rejeki, sangat bergantung pada penyesuaian si keris terhadap kepribadian dan aktivitas sehari-hari anda pemiliknya, penyatuan antara anda dengan keris anda, dan seberapa baik anda aktif menunjukkan penyatuan diri anda dengan kerisnya, jangan hanya sekedar mengharapkan keris itu menyatu dengan anda dan memberikan tuahnya kepada anda seperti halnya sebuah jimat keberuntungan / kesuksesan.

Dalam hal ini kita perlu belajar bagaimana seharusnya kita memperlakukan keris-keris kita kepada orang-orang sukses / pejabat yang kesuksesannya didampingi oleh keris-kerisnya.
Mereka yang sudah merasakan keris-kerisnya ampuh bertuah junjung derajat atau menderaskan rejeki tidak akan mau menjual keris-kerisnya berapapun harganya.

Jadi jika anda ingin memiliki sebuah keris janganlah karena didasari hasrat yang tinggi akan tuahnya, jangan sekedar mengikuti apa kata orang, jangan termakan rayuan iklan, karena sebuah keris memiliki karakteristik tersendiri yang tidak sama dengan benda jimat atau benda-benda bertuah lain.

Untuk mencoba mencaritahu apakah keris-keris yang sudah anda miliki berpotensi menjadi keris
junjung derajat berikut semua persyaratannya, silakan dicoba keris-keris anda ditayuh seperti contoh dalam tulisan berjudul 

Maksudnya, dengan cara menayuh itu diharapkan kita akan menjadi lebih tahu potensi dari keris-keris kita, bagaimana perlakuan kita supaya potensi itu bisa terwujud, dan bagaimana perawatan dan sesaji yang seharusnya, apakah ada perlakuan dan sikap kita yang kurang, yang menyebabkan potensi itu tidak bisa terwujud, atau apakah ada yang belum kita lakukan sehingga potensi itu belum terwujud.

Jadi tujuan menayuh itu adalah untuk mengenal potensi kerisnya, juga untuk mengenal potensi kita sendiri bersama kerisnya, karena keris itu bersifat mendampingi, jadi kita sendiri harus bisa sejalan dengan kerisnya, bukan sekedar mengharapkan tuahnya seperti sebuah jimat keberuntungan dan kesuksesan. Ibaratnya seperti sahabat seiring sejalan yang saling mengerti dan saling membantu. Kita sendiri harus peka rasa dan firasat, supaya bisa mendengarkan arahan dan petunjuk dari khodam kerisnya yang akan menuntun jalan kita. Kalau kita bisa begitu, kita akan tahu jalan kita ke depan, terbuka atau tertutup, atau apakah ada lubang yang harus dihindari, sehingga akhirnya akan tampak jelas jalan yang harus kita lalui, bahkan seolah-olah menjadi seperti bisa meramal.