.

5 Agu 2011

Dunia gaib terhubung melalui cermin


Benarkah Dunia Lain / Dunia Ghoib  Terhubung Melalui Cermin?...

Cermin merupakan pintu masuk ke dunia lain, argumen yang didasarkan pada Foton, pusaran energi, dan keterikatan mekanika Kuantum.

Dunia ini luar biasa, banyak hal di sekitar kita tidak terlihat atau menyadarinya. Contohnya Decode atau dikenal dalam ilmu pengetahuan sebagai mainstream penampakan cahaya. Cahaya yang terlihat merupakan bagian spektrum elektro-magnetik, yang hanya menyumbang sekitar 0,005 persen di alam semesta. Sementara 95 persen lainnya adalah energi gelap atau informasi yang tidak terlihat.

Cahaya yang terlihat hanya membentuk sebagian kecil dari spektrum elektro-magnetik, maka kita hanya melihat sebagian kecil dari 0,005 persen di alam semesta. Bahasa kasarnya ‘Kita buta’ dan sebagian besar dari kita tidak menyadari apa yang tidak terlihat.

Cermin penghubung dunia lain / Credit: David Icle
Cermin, Pintu Masuk Dunia Lain

Apakah pikiran sadar kita terpaku dengan realitas saat ini? Dapatkah cermin menciptakan keretakan diantara dunia yang menakutkan dalam realitas dunia paralel? Ada alam semesta yang berbeda, petunjuk keberadaan mereka sudah cukup untuk membuat kita bertanya-tanya.


Dan beberapa peneliti mengatakan jawaban yang sama, dunia lain benar-benar Ada! Dunia yang kita lihat sebenarnya terbalik dan dikoreksi oleh otak, semuanya terlihat dalam Dua Dimensi yang dikonversi menjadi sebuah ilusi 3D melalui paralaks dari dua organ terpisah, yang disebut mata.


Kita tidak dapat melihat gelombang radio atau ultraviolet, atau masuk ke dimensi lain. Kebanyakan manusia tidak memiliki indera untuk melihat banyak hal yang ada, sehingga hanya melihat bagian dari realitas.

Realitas dalam bentuk yang paling dasar selalu dianggap sebagai suatu konstruksi. Apa yang kita lihat akan selalu berada di masa lalu, sementara pikiran dimasa sekarang, namun alam semesta di sekitar kita berada di kaca dan menyusut, hanya imajinasi yang dapat mengantisipasi masa depan.

Yang kita lihat selama ini sebagai realitas hanyalah puncak menara, ketika melihat bintang di angkasa maka sebenarnya melihat masa lalu dan beberapa bintang yang terlihat mungkin tidak ada lagi. Hal yang sama juga berlaku pada apa yang terdengar, tercium (bau), sentuhan, dan bahkan rasa. Segala sesuatu yang di rasakan tertunda sementara pikiran beroperasi mendekati kecepatan cahaya.

Menurut Dr.Michio Kaku, manusia saat ini berinteraksi dengan alam semesta atau dunia paralel. Di dunia lain hanya sebagai persepsi luar, kita beraktifitas dalam ruang tetapi kuantum string bergetar pada tingkat yang sedikit berbeda sehingga kita tidak menyadari perjalanan panjang.


Pintu dimensi mungkin saja sebuah pusaran, atau pintu masuk dunia lain yang lebih stabil menggunakan sifat-sifat benda-benda fisik untuk menjembatani kesenjangan antara string yang bergetar di Quanta. Tapi, benarkah benda-benda fisik itu seperti cermin?


Mitos, Olkutisme Dan Tradisi Cermin


Daya tarik okultisme pada cermin telah digunakan selama berabad-abad, cermin digunakan banyak peramal dan pendeta tinggi sejak zaman Sumeria kuno. Mitos dan legenda sering memiliki inti kebenaran dalam diri mereka, mungkin ada kebenaran di dalam kepercayaan mistik bahwa sifat cermin, konstruksi fisik yang unik, membuka beberapa pintu atau portal ke dunia lain.



Cerita fiksi Lewis Carroll, Through the Looking Glass, menggunakan cermin sebagai portal ke dunia lain di mana pahlawan pemberani, Alice, terjalin dalam petualangan baru setelah perjalanan pertamanya melalui lubang kelinci. Pelihat dan penyihir, semua mempercayai bahwa cermin memiliki kekuatan khusus yang tertanam dalam diri mereka dan dapat diakses dengan mantra yang tepat atau ritual.

Penulis Edgar Allan Poe terkesan membenci cermin, dalam cerita The Philosophy of Furniture, dia menuliskan kisah dibalik misteri cermin. Cermin dianggap terpisah dari refleksinya, cermin yang disajikan terus menerus datar, tidak berwarna, permukaan datar tak henti-hentinya, suatu hal yang selalu menyenangkan dan jelas. Cermin dianggap sebagai reflektor kuat dalam menghasilkan cerita mengerikan, dan kejahatan diperburuk dalam cerita ini, tidak hanya proporsi langsung dari augmentasi sumbernya, tetapi juga dalam rasio yang terus meningkat. Bahkan sebuah ruangan dengan empat atau lima cermin diatur secara acak, semua untuk satu tujuan. Seperti dalam acara seni, tatanan ruang yang tidak ada bentuk sama sekali.


The Dream of Red Chamber, sebuah novel Cina kuno yang menceritakan kisah seorang biksu Tao dengan kemampuan magis yang menciptakan cermin dua sisi, mencerminkan kebenaran di satu sisi dan keburukan di sisi lain. Banyak orang merasa memiliki sensasi lain ketika melihat bayangan mereka dalam cermin, mata menatap tanpa berkedip. Bahkan meyakini kekuatan mistik yang melekat pada cermin dan dianggap ajaib.


Cermin diyakini bisa mengungkapkan visi masa depan, neraka, setan, hantu, yang sesungguhnya dari kekuatan paranormal. Cermin telah digunakan untuk mengirimkan mantra, pembunuhan, memata-matai saingan, bahkan perjalanan waktu. Praktek menggunakan cermin sebagai alat paranormal sering disebut pengintai, dan beberapa diantara tradisi masih menggunakannya.


Dunia Lain Dalam Sudut Pandang Fisika

Lawrence Krauss, profesor fisika Arizona State University pernah menulis sebuah buku Hiding in the Mirror: the Mysterious Allure of Extra Dimensions, from Plato to String Theory and Beyond. Krauss bertanya-tanya apakah ada dunia lain dalam cermin dan jika penemuan ilmiah selama beberapa ratus tahun mengarah pada realisasi, cermin mungkin sebuah jendela untuk mendapatkan sesuatu yang lain.


Krauss mengulas tentang ilmu empiris dalam dua abad terakhir, dimulai dengan penemuan hukum elektromagnetisme yang akhirnya menimbulkan pertanyaan besar tentang hubungan antara ruang waktu. Kemudian Albert Einstein memecahkan misteri itu pada tahun 1915 melalui teori relativitas. Dari sini awal penemuan subatomik, termasuk penemuan partikel positron, muon, neutrino, dan quark yang telah membawa umat manusia ke pemahaman baru dari empat kekuatan di alam, dan entah bagaimana gravitasi secara fundamental berbeda dari kekuatan lain dengan cara yang masih belum bisa dipahami.


Upaya mengungkap misteri gravitasi dan mekanika kuantum menyebabkan para ilmuwan pada tahun 1980 mengeksplorasi teori string, dengan kemungkinan adanya dimensi ekstra. Penemuan-penemuan baru cenderung mendukung dunia lain yang tidak banyak diketahui, seperti yang dikatakan Krauss dalam sebuah artikel internal, bahwa ilmu tidak beroperasi dalam ruang hampa. Ide-ide tentang dimensi ekstra terus berkembang sepanjang tahun, dan mungkin akan mengatakan kepada kita tentang sesuatu. Jika tidak mengungkapkan tentang dunia alami maka setidaknya tentang pikiran manusia.



Cermin adalah portal fisik yang berdiri sendiri, tidak lain merupakan energi yang bebas dari penahanan yang ada di berbagai tempat di dunia. Atau disebut pusaran waktu spasial, fenomena ini berada dalam bidang pusaran pergeseran fase.

David Deutsch pernah mengadakan serangkaian percobaan dengan Foton untuk membuktikan bahwa ketika melewati celah ganda, foton diblokir oleh pergeseran fase dan tidak dapat terjadi proses kecuali bergerak ke dimensi lain atau realitas. Berdasarkan argumen foton, tentunya menguatkan anggapan mereka yang meyakini bahwa cermin bisa menjadi gerbang ke dunia lain.



9 Jul 2011

Bagelen memiliki nilai dan karismatik

Bagelen memiliki nilai dan karismatik sebagai sebuah wilayah. Wilayah yang luas -terdapat 20 kecamatan jika dibandingkan dengan kondisi administratif saat ini- dan terletak di Jawa Tengah bagian selatan (tepatnya di Yogyakarta) itu memiliki peranan yang sangat penting dalam sejarah tanah air. Operasi militer, perlawanan terhadap Kompeni, pembangunan candi (Prambanan dan Borobudur) merupakan beberapa bukti pentingnya wilayah tersebut.
Bukti-bukti kebesaran Bagelen tercatat sebagai berikut:
1. di era Majapahit, Raja Hayam Wuruk pernah memerintahkan untuk menyelesaikan pembangunan candi makam dan bangunan para leluhur, menjaga serta merawatnya dengan serius (Negarakertagama);
2. di era Demak, Sunan Kalijaga (anggota Wali Songo) mengunjungi Bagelen dan mengangkat muridnya, Sunan Geseng untuk berdakwah di wilayah Bagelen;
3. di awal Dinasti Mataram, Panembahan Senopati menggalang persahabatan dengan para kenthol (tokoh-tokoh) Bagelen untuk menopang kekuasaannya.
4. ditemukannya bukti-bukti sejarah, seperti Lingga (52 buah), Yoni (13), stupa/Budhis (2), Megalith (22), Guci (4), Arca (38), Lumpang (24), Candi Batu atau berkasnya (8), Umpak Batu (16), Prasasti (3), Batu Bata (8), temuan lain (17), dan Umpak Masjid (20).

Tapi pada akhirnya, Bagelen sebagai sebuah kawasan yang solid akhirnya terpecah seiring dengan ditandatanganinya Perjanjian Giyanti (13 Februari 1755) yang didesain oleh Kompeni Belanda untuk memecah Mataram menjadi dua kerajaan; Kasunanan Surakarta (Solo) dengan Sunan Paku Buwono III sebagai raja pertamanya, dan Kasultanan Yogyakarta dengan Sultan Hamengku Buwono I sebagai rajanya.
Sebagian masuk Solo, dan sisanya masuk Yogyakarta. Secara peradaban, Bagelen sudah terbelah. Abad XIX (1825-1830), Bagelen ikut dalam Perang Jawa. 3000 prajurit Bagelen di bawah kendali Pangeran Ontowiryo menyokong perjuangan Pangeran Diponegoro yang terpusat di Tegalrejo, Magelang. Saking kuatnya perlawanan Bagelen, Kompeni Belanda sampai harus menggunakan taktik Benteng Stelsel, dengan mambangun 25 buah benteng di kawasan Bagelen.
Usaha Belanda untuk semakin memperlemah Bagelen dilanjutkan di tahun 1901. Tanggal 1 Agustus, Bagelen dihapus secara karesidenan dan dilebur ke dalam Karesidenan Kedu. Selanjutnya Bagelen hanya dijadikan sebagai sebuah kecamatan saja. Kemudian Belanda juga membangun jalur transportasi Purworejo-Magelang untuk memudahkan pengawasan. Belanda juga menempatkan batalion militer reguler dengan dibantu serdadu negro (Ambon?). Kebijakan ini sangat nyata untuk menghilangkan jati diri Bagelen sebagai sebuah kawasan yang sangat berakar. Buku ringkas ini merupakan upaya penulis untuk melakukan rekonstruksi suatu aset nasional yang memiliki muatan lokal. Berikut penelusurannya:
LATAR BELAKANG MATARAM KUNO
Di Jawa Tengah abad VIII – X, ada kerajaan besar, bernama Medang yang terletak di Poh pitu. Kerajaan ini luas, dikenal subur dan makmur. Pusat kekuasaan dibagi menjadi dua; Pertama, negara yang bersifat internasional dengan beragama Budha, diperintah oleh Dinasti Syailendra. Kedua, negara yang diperintah oleh sepupunya yang beragama Syiwa. Kedua kerajaan ini berada dalam satu istana, dan disebut Kerajaan Medang i Bhumi Mataram. Berdasarkan prasasti berbahasa Melayu Kuno (Desa Sojomerto, Batang) memperkuat pendapat sejarawan Purbacaraka, bahwa hanya ada satu dinasti saja di Jawa Tengah, yakni Syailendra. Raja Sanjaya yang menganut Syiwa di kemudian hari menganjurkan putranya, Rakai Panangkaran untuk memeluk Budha. Menurut catatan Boechori, epigraf dan arkeolog, Syailendra merupakan penduduk asli Indonesia. Hal ini juga diperkuat oleh prasasti Wanua Tengah III (Temanggung) yang memuat silsilah raja-raja Mataram lengkap dengan tahunnya.
ASAL-MULA RAJA SANJAYA DAN TANAH BAGELEN
Berdasarkan prasasti Canggal (Sleman) menjelaskan: -ada sebuah pulau bernama Yawadwipa -negeri yang kaya raya akan padi, jewawut, dan tambang emas. -raja pertamanya : Raja Sanna. -setelah dia mangkat, diganti oleh ponakannya: Raja Sri Sanjaya Menurut catatan seorang sejarawan, Raja Sanjaya mendirikan kerajaan di Bagelen, satu abad kemudian dipindah ke Wonosobo. Sanjaya adalah keturunan raka-raka yang bergelar Syailendra, yang bermakna “Raja Gunung“, “Tuan yang Datang dari Gunung“. Atau, “Tuan yang Datang dari Kahyangan“, karena gunung menurut kepercayaan merupakan tempatnya para dewata.
Raja Sanjaya dikenal sebagai ahli kitab-kitab suci dan keprajuritan. Armada darat dan lautnya sangat kuat dan besar, sehingga dihormati oleh India, Irian, Tiongkok, hingga Afrika. Dia berhasil menaklukkan Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Kerajaan Melayu, Kemis (Kamboja), Keling, Barus, dan Sriwijaya, dan Tiongkok pun diperanginya (from “Cerita Parahiyangan“).
Area Kerajaan Mataram Kuno (Bagelen) berbentuk segitiga. Ledok di bagian utara, dikelilingi Pegunungan Menoreh di sisi Barat dan Pegunungan Kendeng di utara dan basisnya di pantai selatan dengan puncaknya Gunung Perahu (Dieng), di lembah Sungai Bagawanta (Sungai Watukura, kitab sejarah Dinasti Tang Kuno 618-906). Catatan dinasti Tiongkok tersebut diperkuat juga oleh Van der Meulen yang menggunakan kitab “Cerita Parahiyangan” dan “Babad Tanah Jawi“.
Bagelen merupakan hasil proses nama yang final. Bermula Galuh/Galih, menjadi Pegaluhan/Pegalihan, menjadi Medanggele, Pagelen, lalu jadilah Bagelen. Dalam prasasti Tuk Mas (Desa Dakawu, Grabag-Magelang) yang menyebut adanya sungai yang seperti sungai Gangga, maka Medang i bhumi Mataram bermakna “Medang yang terletak di suatu negeri yang menyerupai Ibu” (lembah Sungai Gangga). Dieng diasumsikan sebagai Himalaya, Perpaduan Sungai Elo dan Progo disamakan sebagai Sungai Gangga, dan pegunungan Menoreh disamakan sebagai Pegunungan Widiya.
SILSILAH RAJA-RAJA MATARAM KUNO
bagelen_1

cara memanggil makhluk gaib

Ada yang ingin mencoba? Berikut ini berita yang DI ambil dari tribunnews tentang "beginilah cara memanggil makhluk gaib" ...  Menurut ahli paranormal dan pengobatan alternatif, Ki Kusumo, membeberkan beberapa cara memanggil mahkluk halus ke dunia kita.

" Jam 12 malam, letakan dua cermin di kiri dan kanan menghadap ke kita. 

Lalu selama 32 kali kita menengok ke arah kanan lalu kiri cermin. 
Pada saat tengokkan ke 31 satu anda akan merasakan hal yang aneh di ruangan, dan saat ke 32 akan muncul bentuk mahkluk mistis di kaca kanan dan kiri.

Dalam hal mistis dari Kitab Serat Jawa Kuno
“Kitab Serat Jawa Kuno yang bisa dibaca untuk memanggil makhluk dari alam lain, tanpa perlu mantra, puasa atau nglakoni. Jadi jangan pernah mempraktikkannya di rumah,” terang Ki Kusumo.

"Percaya atau tidak, semua tergantungkepada diri masing masing

8 Apr 2011

Ada Penampakan Hantu Perang Dunia II di Foto Ini?

Ada Penampakan Hantu Perang Dunia II di Foto Ini?

Foto yang diambil Mayor John Tulloch saat melakukan napak tilas ke rute maut para tawanan perang.
        Ini kisah nyata yang terjadi di Kalimantan Utara tahun 1945 lalu, di tengah Perang Dunia II. Buruh dan tawanan perang dipaksa berbaris dari Sandakan menuju Ranau, di bawah todongan senjata tentara Jepang. 
Kondisi mereka memprihatinkan, gizi buruk akibat kurang makan dan kelelahan. Bertelanjang kaki, para tawanan menempuh jarak 160 mil di tengah cuaca terik, selama satu bulan.

Siapa yang rubuh karena kelelahan dibiarkan meregang nyawa, ditembak, ditusuk bayonet, bahkan disembelih. Sungguh siksaan tak terperi. Bahkan dikisahkan, untuk bertahan hidup para tawanan terpaksa menjadi kanibal, memakan mayat temannya sendiri.

Tiga kali pemberangkatan semua berakhir tragis, lebih dari 3.600 orang Indonesia dan Filipina yang diperbudak dan 2.400 tawanan perang tentara Sekutu kebanyakan dari Australia tewas. Hanya enam tentara Australia yang selamat, berhasil melarikan diri.

Tragedi sejarah yang terlupakan itu kini kembali mengemuka, lewat selembar foto.

Pada tahun 2010 lalu, seorang pensiunan tentara Inggris, Mayor John Tulloch melakukan napak tilas ke rute maut para tawanan perang. Ia mengira kamera yang ia jepretkan dari mobil yang melaju merekam rute berliku "barisan kematian" yang mengambil banyak nyawa 70 tahun silam.

Justru kejutan yang ia dapatkan. Saat melihat gambar itu, ia menjumpai bayangan putih, kerangka bungkuk yang berbaris, persis di rute yang diambil para tawanan tujuh dekade lalu. Gambar mengerikan itu kembali mengingatkan kondisi mengerikan "barisan maut".

"Kami sedang berkendara di sepanjang rute maut, saya mengambil sekitar 200 gambar lewat kamera digital," kata dia, seperti dimuat Daily Mail, Kamis 27 September 2012.

Saat gambar itu dilihat di layar komputer ada penampakan aneh. "Saya merinding saat melihat 17 sampai 18 sosok hantu seakan ke luar dari hutan dan berjalan menyusuri rute menuju Ranau," kata dia.

Gambar itu ia tunjukkan ke sejumlah orang, beberapa dari mereka menyebutnya luar biasa, yang lain menolak untuk melihatnya, takut dihantui.

Tapi benarkah itu foto hantu?
Diduga ilusi fotografis itu dihasilkan dari refleksi handuk bermotif yang ada di dashboard mobil di mana dia mengambil gambar.
"Pemandu saya menaruh handuk di dashboardnya. Pola handuk itu tercermin lewat kaca," kata Tulloch. Namun, karena diambil di lokasi yang tepat, "saya  menyebutnya refleksi dari barisan kematian."

9 Feb 2011

Misteri Telaga Sarangan di Magetan

Misteri Telaga Sarangan di Magetan


Telaga sarangan adalah danau kecil yang juga biasa disebut telaga pasir. Sebuah telaga alam yang terletak di kaki Gunung Lawu, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Telaga Sarangan terletak di lereng Gunung Lawu (3.265m) yang memiliki keindahan alam pegunungan nan elok. Telaga ini berjarak sekitar 16 kilometer dari arah barat kota Magetan dan sekitar 5 kilometer dari arah tawangmangu. Telaga ini juga mempunyai luas sekitar 30 hektar dan mempunyai kedalaman 28 meter. Telaga sarangan ini adalah objek wisata andalan di kota tersebut. Untuk lebih menikmati keindahan telaga tersebut, pengunjung juga bisa berkuda dan mengendarai kapal cepat berkeliling telaga sarangan tersebut. Di Telaga Sarangan juga terdapat hidangan makanan khas yang dijajakan oleh penjual di sekitar telaga tersebut, yaitu sate kelinci. Sate ini biasanya di hidangkan dengan lontong dan sambal kacang. Satu porsi sate kelinci biasanya di hargai sekitar 7.000 -10.000. di sekitar telaga juga banyak kios-kios yang menjual hasil hasil home industri setempat yang mampu memproduksi kerajinan-kerajinan souvenir seperti kerajinan kulit, kerajinan sepatu dari kulit, kerajinan anyaman bambu, dll. Ada juga produk makanan khas seperti empeng mlinjo dan lempeng (krupuk puli yang terbuat dari nasi) yang di kenal dengan sebutan lempeng magetan.


Menurut penduduk setempat mereka sering menyebut Telaga Sarangan sebagai Telaga Pasir. Pulau yang ada di tengah telaga tersebut adalah tempat bersemayamnya roh leluhur pencipta Telaga Sarangan, yaitu Kyai Pasir dan Nyai pasir. Bisa disebut sebagai Telaga Pasir karena menurut legenda hingga sampai detik ini masih dipercayai oleh masyarakat sekitar telaga tersebut bahwa terbentuknya telaga tersebut berasal dari cerita sepasang suami istri yang bernama Kyai Pasir dan Nyai Pasir. Pasangan ini bertahun-tahun hidup berdampingan tetapi belum dikaruniai seorang anak pun. Lalu untuk mewujudkan agar pasangan ini mendapatkan keturunan, Kyai dan Nyai Pasir bersemedi dan memohon kepada Sang Hyang Widhi. Setelah mereka melakukan semedinya itu akhirmya mereka pun mendapatkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Joko Lelung. Agar keluarga itu bisa mencukupi kebutuhan hidupnya, sehari-hari mereka bercocok tanam dan berburu. Karena menurut mereka pekerjaan yang di kerjakan itu sangatlah berat, maka pasangan ini memutuskan untuk bersemedi lagi untuk memohon kesehatan dan panjang umur kepada Sang Hyang Widhi. Dalam semedinya kali itu, pasangan suami tersebut mendapatkan wasiat agar keinginannya bisa terwujud, pasangan ini harus dapat menemukan dan memakan telur yang ada didekat ladang mereka. Akhirnya pasangan suami istri itu berhasil menemukan telur itu dan langsung di bawa pulang dan memasaknya. Lalu telur yang sudah matang itu dibagi untuk keduanya . setelah memakannya pasangan itu merasakan panas dan gatal di seluruh tubuhnya setelah ia pergi ke ladangnya. Pasangan suami itu terus menggaruk tubuhnya yang terasa gatal hingga menimbulkan luka lecet di seluruh tubuh mereka. Lama kelamaan keduanya berubah menjadi ular naga yang sangat besar. Lalu kedua ular tersebut berguling-guling di pasir sehingga menimbulkan cekungan yang kemudian mengeluarkan air yang sangat deras dan menggenamgi cekungan yang di buat oleh ular naga tersebut. Akhirnya pasangan tersebut menyadari kemampuan yang mereka miliki, mereka berniat untuk membuat cekungan yang banyak untuk menenggelamkan Gunung Lawu. Mengetahui kedua orang tuanya tiba-tiba berubah menjadi naga dan memiliki niat yang buruk, maka anaknya yaitu Joko Lelung pun juga bersemedi memohon agar niat kedua orang tuanya tersebut dapat digagalkan, dan semedi Joko Lelung pun diterima oleh Hyang Widhi. Saat keduan orang tuanya sedang berguling-guling membuat cekungan baru, lalu timbul wahyu kesadaran agar Kyai dan Nyai Pasir mengurungkan niat mereka untuk menenggelamkan Gunung Lawu.



Begitulah asal mula Telaga Sarangan yang sampai saat ini masih diyakini oleh penduduk setempat. Di Telaga Sarangan tersebut pemerintah juga selalu membuat event setiap tahunnya. Setiap menjelang bulan ruwah( bulan puasa ) selalu diadakan upacara bersih desa dan labuh sesaji untuk tolak bala dan memperingati terbentuknya Telaga Sarangan tersebut. Kegiatan ini juga bertujuan untuk memberikan penghormatan kepada roh leluhur Desa Sarangan.

20 Jan 2011

Kehebatan Surah Yaasin | Memanggil Istri Atau Saudara Yang Kabur Dari Rumah

Kehebatan Surah Yaasin | Memanggil Istri Atau Saudara Yang Kabur Dari Rumah

Kehebatan Surah Yaasin | Memanggil Istri Atau Saudara Yang Kabur Dari Rumah - kehebatan Surah Yaasin ini banyak sekali khasiatnya namun disini kita akan membahas kehebatan yasin ini Untuk  memanggil sanak saudara yang kabur dari rumah, Semua ini Tentunya Berkat kyakinan dan ketabahan kita yang mengamalkan nya, Juga karena Ridho Allah SWT,

yasin


Amalan ini biasa disebut orang jawa  "Puter Giling"Adapun cara Mengamalkan nya Seperti Berikut ini :

1. siapkan pakaian,dan poto orang yang kabur dari rumah tsb,lalu masukkan kedalam mangkok/baskom kecil yg berisi air.
2. siapkan 49 butir merica
3. kertas kecil yang ditulisi namanya dan nama ayahnya
4. bungkus sebutir merica dengan kertas yang sudah ditulisi namanya dan nama ayahnya satu persatu sehingga menjadi 49 bungkus
5. sholat hajat 2 rakaat
6. tawasulan
7. baca Surah Yaasin sebanyak 7x

keterangan :
pada setiap kata “mubiin” masukkan bungkusan merica kedalam mangkok yg sudah berisi air tambah poto tambah sobekan kecil pakaiannya,
dalam satu Surah Yaasin ada 6 kata “mubiin”.bila dibaca 7x berarti ada 49x kata “mubiin”.
8. Langsung rebus air tsb sekitar 1 s/d 2 jam,bila besok dia belum pulang maka rebus kembali pada jam 5 pagi dan jam 5 sore,biasanya ga sampai 3 hari dia akan segera kembali kerumah.

Demikianlah cara mengamalkan  Kehebatan Surah Yaasin | Memanggil Istri Atau Saudara Yang Kabur Dari Rumah, Semoga berhasil,

1 Jan 2010

01 januari 2010

Dahulu aku pernah menyimpan rasa sampai jauh sekali. Tentang kenangan ku bersama seorang pujaan. Kisah demi kisah kami jalani berdua. Hingga kata kata manispun terucap sebagai janji. membuat aku bermimpi tanpa tahu kemana arahnya. Dan yang pasti, waktu yang kian berlalu membuat aku dan dia saling memiliki, satu sama lain.
Hingga suatu ketika, setiap perbedaan yang ada pada kami harus segera diungkap. Aku harus jujur, aku harus bercerita. Dan disaat dia sadar, ternyata niat serta pilihanku hanya menyisakan rasa kecewa.
Kini, Semua mimpi dia tinggalkan. Namun tiada tindakan dapat kulakukan. Aku tetap bertahan dalam angkuh. Seperti dirinya yang tak sejalan dengan Semua tentangku. Dan dia tetap ingin berbeda harapan, mimpi dan setiap keinginan.
akhirnya, keputusanku harus mampu untuk melepaskan ikatan diantara kami berdua
(Suatu hasrat yang memukau saat itu)
Walau manisnya senyuman terasa manis dan manis sekali. Aku dan inilah diriku yang harus mengenangmu dan melangkah jauh kedepan . "aku Hanya bisa berharap lewat mimpi dan hanya akan mengenangmu dalam hati, walaupun tetap berusaha melupakan rasa hati yang terdalam,
Hingga tiada cinta yang tersisa di jiwa ini.
 "january2010

6 Agu 2009

Kejawen Pak Harto



Soeharto adalah manusia Kejawen yang percaya akan kekuasaan Tuhan sebagai Dzat Yang Tertinggi. Cara pandang hidup orang Jawa itu penuh simbol dan mitos….
Menurut kalangan pinisepuh Kejawen, berbagai bencana akhir Desember 2007 hingga awal 2008, seperti meluapnya Bengawan Solo, amukan puting beliung, termasuk tanah longsor di Karanganyar, merupakan pertanda sambutan alam untuk kepulangan Sang Raja Gung Binathoro, HM. Soeharto. Ya, orang kuat zaman Orde Baru ini tak kuat dengan usia tua. Akhirnya, dia pun berpulang pada Minggu, 27 Januari, saat langit terang benderang.
Sebagai manusia Jawa, Soeharto memang tak bisa lepas dari olah batin dan olah rasa. Menurut salah seorang paranormal terkenal dari Solo, ilmu kanuragan yang dimiliki Soeharto banyak berasal dari guru spiritualnya sekaligus pamannya yang bernama Ndoro Daryatmo yang berasal dari Wonogiri. Seoharto menimba ilmu pada sang paman sejak masih berpangkat Kolonel.

Ndoro Daryatmo ini abdi dalem Pura Mangkunegaran yang menjabat sebagai Ulu Ulu Pengairan di Wonogiri. Ilmu kanuragan yang diwariskan Ndoro Daryatmo, konon salah satunya berupa rapal milik Patih Kudonowarso, panglima perang Pangeran Sambernyowo. Rapalan itu berupa kekuatan gaib yang bisa digunakan untuk kekuatan dan kederajatan. Namun rapalan itu bisa dihilangkan bila pemiliknya pasrah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Pak Harto adalah manusia Kejawen yang percaya akan kekuasaan Tuhan sebagai Dzat Yang Tertinggi. Cara pandang hidup orang Jawa itu penuh simbol dan mitos. Karena itu untuk memahami wong Jowo, kita harus memahami simbil-simbol yang melingkupinya.
Beberapa kalangan kasepuhan berpendapat, kalau Pak Harto itu adalah ‘titisan’ dari Panembahan Senopati, pendiri Dinasti Mataram. Kebetulan gaya kepemimpinan beliau selama memerintah negeri RI ini memang hampir sama.
Senopati Ingalogo Ngabdulrachman Sayidin Panatagomo berpendapat, bahwa dalam segala persoalan maka raja memiliki kekuasaan tertinggi sehingga tergambarkan kekuasaan itu sentralistik, tidak terbagi-bagi dan merupakan kebulatan yang tunggal serta tiada yang mampu menandingi (endi ana surya-surya kembar: mana ada matahari kembar), berartt tidak membenarkan adanya kekuasaan lain yang dapat menjadi saingannya. Begitu pula halnya dengan Soeharto.
Sejak dulu, legitimasi kekuasaan di Jawa dihubungkan dengan mobilitas “mistis” politik yang dialami oleh elit Jawa masa lampau. Dan Panembahan Senopati merupakan tokoh yang berhasil membuat anyaman mistik dan politik yang keteladanannya memandu alam pikiran Jawa.
Dalam pewayangan hanya Bima yang bisa bertemu Dewa Ruci. Dalam kasanah kejawen hanya Sunan Kalijaga dan Panembahan Senopati. Sedang dalam Nusantara dipercaya Ir. Soekarno dan HM Soeharto, banyak yang meyanini telah bertemu dengan Kencono Wungu.
Hakikat politik dalam budaya Jawa adalah kekuasaan. Jadi, berpolitik dengan menggunakan mistik pun sebagai upaya meraih kekuasaan. Dan pengaruh mistik kejawen dalam dunia politik menarik perhatian dalam era kekuasaan Presiden Soeharto.
Pada waktu itu, Presiden sempat mengingatkan tentang bahaya praktek ilmu hitam. Waktu itu ada kekhawatiran munculnya kebatinan di Jawa yang mengarah pada klenik sentries.
Kehadiran mistk kejawen tetap diakui sebagai sebuah fenomena budaya. Mistik Kejawen yang kental dengan kebatinan dan kepercayaan, menjadi semakin subur ketika Golkar berjaya di tahun 1970-an.
Di bawah dominasi Golkar waktu itu, mistik kejawen sebagai ekspresi religius yang sah diperkuat. Akhirnya di dunia politik Orba keberadaan mistik kejawen diakui di bawah Depdikbud, ada departemen yang mengurusi aliran kepercayaan.
Menurut Suwardi Endraswara melalui mistik kejawen, di era Orba sistem Bapakisme telah melahirkan budaya ‘kolusi’, ‘upeti’, dan mempertahankan status quo. Ritual mistik kejawen seringkali menjadi landasan spiritual kekuasaan untuk mendewakan status quo.
Tak sedikit ritual mistik pelaku politik untuk mendapatkan kesaktian. Kesaktian identik dengan kekuasaan. Melalui tirani dan kultus individu, ibarat raja yang tak terkalahkan karena telah menjalankan mistik kejawen, sering tergelincir pada sikap asu gede menang kerahe.
Hanya sedikit yang tahu jika Pak Harto sesungguhnya memang menjalin hubungan dengan Sabdopalon, bukan dengan Semar (Pranoto, 2000:177). Hubungan mistis tersebut sering diwujudkan melalui sesaji kembang menyan. Ini terjadi sebagai manisfestasi pemujaan mistis terhadap roh leluhur, agar pemerintahan pada masanya langgeng.
Hikayat Semar yang menjadi Sabdopalon memang hanya diurai di Serat Darmogandul. Tokoh ini sempat berkelana, meninggalkan Majapahit, hingga sampai di Gunung Srandil, Cilacap, Jawa Tengah.
Dahulu, setiap malam satu Suro, yang datang ke situ akan ditemui oleh Ki Lengkung Kusumo yang saat trance dianggap dapat memberikan isyarat sesuatu yang bakal terjadi. Sayangnya, Ki Lengkung bukan Semar, melainkan hanya Petruk Kantong Bolong.
Sedang Semar di Srandil, yang oleh Soeharto pernah dihormatinya atas perintah guru spiritualnya Romo Diyat dari Semarang, masih misterius. Apakah Semar ini yang mampu memberikan Kembang Wijayakusuma, sehingga kekuasaan Pak Harto sulit dipatahkan?
Memang diakui banyak kalangan, kalau Soeharto sangat mengagumi tokoh Semar, bahkan sering mengidentikkan dirinya dengan Semar sebagai pengayom Nusantara. Tampaknya Pak Harto merupakan ‘titah’ pilihan yang telah menguasai jagad kosmis. Sehingga dia bisa berdialog dengan tokoh-tokoh gaib yang super melalui asah diri maupun bimbingan guru spiritualnya.
Dengan luasnya cakupan wawasan Soeharto tentang jagad alus maupun jagad kasad, masih banyak yang mengomentarinya dengan ‘tetek bengek’ pendapat yang tidak ada patokannya.

Label:

5 Agu 2009

SOEHARTO DAN MISTIK ANGKA-26-27-28

SOEHARTO DAN MISTIK ANGKA-ANGKA
YUSLAM HANAFI
Misteri angka-angka Soeharto adalah 26, 27 dan 28. Perjalanan hidupnya yang warna-warni berada dalam naungan kombinasi angka-angka tersebut. Seperti apakah analisanya…?
Orang kuat yang lebih dari 32 tahun berkuasa di Indonesia itu telah tiada. Jasadnya dimakamkan di cungkup Argosari Komplek Makam Astana Giribangun. Sebuah komplek makam termuda leluhur dinasti Raja Mataram Imogiri,Yogyakarta. Terletak di ketinggian 666 meter dpl. Wilayah kabupaten Karanganyar, Solo, Jawa Tengah.
Selama hidup, hingga akhir hayatnya, Pak Harto meninggalkan sebuah tanggal dan angka misteri yang berurutan, yaitu: 26, 27, dan 28. Kombinasi angka-angka tersebut membawa makna tersendiri baginya. Berikut kajiannya:
Tanggal /Angka 26
- Tanggal 26/12/1947, Pak Harto menikah dengan Siti Hartinah, anak seorang Wedana di Waruyantoro, Solo.
- Angka 26, Pak Harto meresmikan RSPP Jakarta pada tanggal 6/1/1972, bila dijumlah (6+1+1+9+7+2=26). Di RSPP itulah Pak Harto dirawat dan menghembuskan nafas terakhirnya. Selama dirawat 23 hari, dari tanggal 4-27 Januari 2008, Pak Harto menghabiskan biaya sebesar Rp 1.509 miliyar.

Tanggal/Angka 27
- Rabu Kliwon tanggal 8/6/1921, adalah kelahiran Pak Harto. Bila dijumlah 8+6+1+9+2+1=27, tepat dengan tanggal kematian Pak Harto, Minggu 27 Januari.
- Angka 27, Pak Harto diangkat sebagai Komandan Brigade 10 Wehrkreise III berpangkat Letkol, tahun 1948 pada usia 27 tahun.
- Angka 27, Pak Harto menerima Supersemar, bila dijumlah 1+1+3+1+9+6+6=27.
- Tanggal 27/3/1968, MPRS melantik Pak Harto sebagai Presiden RI ke-2.
- Tanggal 27/11/1974, Pak Harto mulai mempesiapkan makam Astana Giribangun, tempat peristirahatan terakhirnya. Tanggalnya tepat dan sama dengan tanggal kematiannya 27/1/2008.
- Tanggal 27/7/1966, tragedi penyerbuan kantor PDI Jakarta. Aktivis Budiman Sujatmiko dituding sebagai dalangnya, yang kemudian divonis 13 tahun penjara. Presiden Abdurrahman Wahid memberi amnesti, akhirnya hanya 3 tahun dia menjalani hukuman di LP Cipinang. Tragedi berdarah ini menelan korban 5 orang tewas, luka-luka 149, hilang 23 orang dan 124 orang ditahan dan ditangkap.
- Angka 27, Pak Harto mengundurkan diri dari Presiden RI, setelah berkuasa selama 32 tahun, dan digantikan oleh waliknya BJ. Habibie pada tahun 1998 (21/5/1998), bila dijumlah angkanya 27. Sama dengan tanggal kematiannya.
- Tanggal 27/5/1999, Pak Harto menyerahkan surat kuasa khusus kepada Jaksa Agung, Andi Ghalib untuk menyelidiki kekayaannya di Swiss dan Austria.
- Tanggal 27/4/2005, Pak Harto melalui kuasa hukumnya siap menghadiri gugatan class action para korban tragedi 1965.
- Tanggal 27/1/2006, Pengacara Pak Harto, OC Kaligis untuk yang ketiga kalinya mengirim surat ke Presiden SBY agar menghentikan kasus Pak Harto.
- Tanggal 27/1/2008, Pak Harto meninggal dunia di RSPP Jakarta pada jam 13.10.

Tanggal/Angka 28
- Angka 28, Pak Harto meresmikan proyek controversial Taman Mini Indonesia Indah dengan biaya pada waktu itu Rp 10,5 milyiar. Proyek tersebut mendapat protes dari berbagai kalangan. Diresmikan tanggal 20/4/1975, bila dijumlah menjadi 28.
- Tanggal 28/4/1996, Ibu Tien meninggal dunia.
- Angka 28, Presiden SBY dan Ibu Ani melayat ke Pak Harto di Cendana, ditemui oleh Sigit, puteranya. Di rumah duka, SBY dan isteri berada selama 28 menit.
Di komplek Astana Giribangun, tepatnya disebelah utara sudut cungkup Argo Kembang, terpampang tulisan berisi petikan Serat Wedatama, sebuah sastra Jawa Klasik karya agung raja Solo, Mangkunegera IV, kutipannya yang artinya kurang lebih….
“Ikhlas jika kehilangan, tak akan menyesal. Menerima dengan lapang dada, jika mendapatkan kebencian dari sesame. Berbesar hati dan menyerahkan segalanya kepada Yang Maha Kuasa.”
Selamat jalan Pak Harto. Semoga Allah SWT melapangkan jalanmu

Label:

30 Jul 2009

setiap perbuatan meninggalkan jejak

Karma

Karma (Sanskerta: karma) berarti perbuatan. Karma merujuk pada perbuatan berkehendak yang kita lakukan dengan tubuh, ucapan, dan pikiran kita melalui berbuat, berkata, dan berpikir. Karma adalah kaidah bahwa setiap perbuatan yang dilakukan, jika kondisinya sesuai, akan menghasilkan akibat tertentu.

Bagaimana Karma Bekerja?

Semua perbuatan meninggalkan jejak atau benih pada kesadaran kita, yang akan masak menjadi pengalaman-pengalaman kita ketika kondisi yang sesuai muncul. Sebagai contoh, jika kita menolong seseorang dengan hati yang tulus, perbuatan ini akan meninggalkan jejak-jejak positif dalam arus pikiran kita. Ketika kondisinya memadai, jejak ini akan masak dalam bentuk kita menerima pertolongan tatkala kita membutuhkannya.
Benih-benih Karma terus mengikuti kita dari satu kehidupan ke kehidupan berikutnya. Bagaimanapun juga, jika kita tidak menciptakan sebab-sebab atau Karma untuk terjadinya sesuatu, kita tidak akan mengalami hasilnya. Jika kita tidak menanam benih tertentu, tanaman tidak akan tumbuh. Buddha mengajarkan:
Sesuai benih yang ditabur,
begitulah buah yang dituai.
Pelaku kebaikan akan meraih hasil yang baik,
Pelaku keburukan akan memetik hasil yang buruk.
Jika engkau menanam benih yang baik,
engkau akan menikmati buah yang baik.

Apakah Pengaruh Karma?

Karma mempengaruhi kelahiran kita yang akan datang dan mempengaruhi apa yang kita alami selama hidup ini: bagaimana orang lain memperlakukan kita, kekayaan kita, status sosial kita, dan sebagainya. Karma juga mempengaruhi kepribadian dan watak kita, bakat kita, perilaku kita, dan kebiasaan kita. Jenis lingkungan tempat kita dilahirkan juga dipengaruhi oleh Karma.
Kita yang sekarang ini sesuai dengan apa yang telah kita lakukan. Kita yang akan datang sesuai dengan apa yang tengah kita lakukan.

Ada Jenis Karma Apa Saja?

Jika suatu perbuatan membawa derita dan sengsara dalam jangka panjang bagi diri sendiri dan makhluk lain, itu adalah Karma yang buruk atau negatif. Sebaliknya, jika suatu perbuatan membawa kebahagiaan, itu adalah Karma yang baik atau positif. Perbuatan pada hakikatnya bukanlah baik atau buruk-mereka hanya sedemikian tergantung pada motivasi dan konsekuensi yang dihasilkannya. Kebahagiaan dan keberuntungan apa pun yang kita alami dalam hidup kita berasal dari tindakan-tindakan positif kita sendiri, sementara masalah-masalah kita datang dari tindakan-tindakan negatif kita sendiri.

Bagaimana Terjadinya Karma Buruk?

Ada sepuluh perbuatan negatif yang seharusnya dihindari jika kita tidak ingin menciptakan Karma buruk, yaitu:
  1. Membunuh
  2. Mencuri
  3. Berzinah
  4. Berbohong
  5. Memfitnah
  6. Berkata kasar
  7. Berbicara yang tak berguna
  8. Serakah
  9. Marah/Membenci
  10. Berpandangan salah

Bagaimana Terjadinya Karma Baik?

Ada sepuluh perbuatan bermanfaat yang seharusnya kita perjuangkan untuk menciptakan Karma baik. Kesepuluh perbuatan baik ini juga termasuk menghindari sepuluh perbuatan buruk. Adapun sepuluh perbuatan baik itu antara lain:
  1. Bermurah hati
  2. Mengendalikan diri
  3. Bermeditasi
  4. Menghormat
  5. Melayani
  6. Melimpahkan jasa
  7. Berbahagia atas jasa pihak lain
  8. Mendengarkan Dharma
  9. Mengajarkan Dharma
  10. Meluruskan pandangan

Dapatkah Karma Diciptakan Secara Bersamaan?

Karma bisa kolektif maupun individual. Karma kolektif adalah perbuatan yang dilakukan bersama-sama dalam sebuah kelompok. Contohnya, sepasukan tentara bersama-sama membunuh. Hasil perbuatan ini dapat dialami bersama-sama sebagai satu kelompok, seringnya dalam kehidupan yang akan datang. Namun setiap anggota kelompok berpikir, berbicara, dan bertindak secara berbeda-beda, hal ini juga menghasilkan karma individual, yang akibatnya akan dialami oleh masing-masing pribadi.

Siapakah yang Mengendalikan Karma?

Tidak ada siapa pun yang menentukan "imbalan dan hukuman" untuk apa yang kita lakukan. Kita menciptakan penyebab-penyebab dari tindakan kita, dan kita akan mengalami akibat-akibatnya. Kitalah yang bertanggung jawab atas pengalaman kita sendiri. Buddha menemukan hukum Karma-Ia tidak menciptakannya (tidak ada satu makhluk pun yang menciptakannya). Dengan mengajarkan hukum Karma kepada kita, Buddha menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya kita bertindak di dalam fungsi sebab dan akibat agar kita mencapai Kebahagiaan Sejati dan terhindar dari penderitaan.

Apakah Segala Sesuatu Terjadi Karena Karma?

Hukum Karma tidak berlaku untuk perbuatan-perbuatan "tanpa kesadaran" seperti berjalan, duduk, atau tidur. Perbuatan-perbuatan seperti itu tidak menghasilkan akibat-akibat selain dari perbuatan itu sendiri (bagaimanapun juga, Karma berlaku pada gagasan-gagasan kita yang didasari kehendak). Begitu juga, kecelakaan dianggap Karma netral karena hal itu tidak disengaja. Bagaimanapun, kita seharusnya selalu berusaha meningkatkan kewaspadaan kita agar kecelakaan tidak terjadi.

Dapatkah Karma Berubah?

Karma bukanlah kartu mati-karma bukan berarti nasib atau takdir. Perbuatan-perbuatan berkehendak pada suatu waktu tertentu akan menghasilkan akibatnya ketika berada dalam kondisi yang sesuai. Walaupun pada kehidupan sekarang kita mengalami akibat-akibat dari perbuatan (Karma) yang silam, kita masih mungkin untuk mengubah, mengurangi atau menambah akibat-akibat dari perbuatan-perbuatan lampau ini melalui perbuatan-perbuatan saat ini, yang akan mempengaruhi masa depan maupun kehidupan yang akan datang. Memahami hukum Karma membantu kita menyadari bahwa kita sendirilah yang menentukan kita akan menjadi seperti apa. Kita sepenuhnya bertanggung jawab atas nasib kita sendiri.

Bagaimana Kita Mengetahui Karma Kita?

Buddha memberikan kepada kita panduan umum mengenai akibat dari berbagai jenis perbuatan. Sebagai contoh, Buddha mengajarkan kepada kita bahwa membunuh akan mengakibatkan umur pendek dan kemurahan hati akan membawa kekayaan. Bagaimanapun juga, hanya pikiran mahatahu Buddha-lah yang mampu memahami bekerjanya Karma secara lengkap.
Ada kelenturan dalam berfungsinya perbuatan dan akibatnya. Sekalipun kita tahu bahwa jika kita terus-menerus menyakiti makhluk lain, contohnya, akan membawa kita pada kelahiran kembali yang kurang menguntungkan, tetap saja kita tidak tahu secara pasti dalam bentuk apakah nantinya kita dilahirkan. Jika tindakan kita sangat berat-misalnya, dengan kemurkaan besar kita terus-menerus menganiaya banyak orang dan merasa puas bahwa kita telah menyakiti orang itu, akibat yang akan kita terima tentu akan lebih tidak menyenangkan dibandingkan jika kita sekadar sembrono mengejek orang lain lalu menyesali kekurangpekaan kita. Berbagai keadaan yang hadir pada saat buah Karma masak, juga mempengaruhi akibat spesifik apakah yang akan terjadi.

Apakah Karma Selalu Adil?

Ketika kita melihat orang yang tidak jujur hidup kaya, atau orang kejam yang penuh kuasa, atau orang baik yang mati muda, kita mungkin jadi meragukan hukum Karma. Namun, banyak sekali akibat yang kita alami pada kehidupan ini merupakan akibat dari tindakan-tindakan kita pada kehidupan lampau kita; dan banyak tindakan-tindakan yang kita lakukan dalam kehidupan sekarang ini hanya akan masak dalam kelahiran yang akan datang-inilah yang disebut Karma jangka panjang (Karma jangka pendek adalah Karma yang berbuah dalam waktu yang relatif singkat). Kekayaan orang yang tidak jujur mungkin saja akibat kedermawanan orang itu dalam kehidupan lampaunya. Bagaimanapun juga, ketidakjujuran orang itu saat ini, meninggalkan benih-benih Karma bagi mereka untuk mengalami kemiskinan dalam kehidupan mendatang. Demikian pula, penghargaan dan kewenangan yang dimiliki oleh orang-orang yang kejam merupakan hasil perbuatan positif yang mereka lakukan pada kehidupan lampau. Pada kehidupan sekarang, mereka menyalahgunakan kekuasaan untuk hal-hal yang tidak baik, hal ini menciptakan sebab bagi penderitaan masa depan. Mereka yang mati muda sedang mengalami akibat perbuatan-perbuatan negatif seperti pembunuhan yang dilakukannya pada kehidupan lampau. Bagaimanapun, kebaikan mereka pada kehidupan saat ini akan menanamkan benih-benih atau jejak-jejak dalam arus kesadaran mereka untuk mengalami kebahagiaan pada masa yang akan datang.

Pastikah Kita Akan Mengalami Karma Buruk?

Ketika benih sekecil apa pun ditanam di tanah, pada akhirnya mereka akan berkembang-kecuali mereka tidak mendapatkan kondisi-kondisi yang diperlukan bagi pertumbuhan, seperti air, sinar matahari, dan pupuk. Jalan pamungkas untuk mencabut jejak atau benih Karma adalah dengan bermeditasi pada Kesunyaan (kekosongan) keberadaan. Inilah jalan untuk memurnikan kecenderungan dan jejak-jejak Karma yang merugikan. Pada tataran spiritual seperti kita, hal ini mungkin cukup sulit, tetapi kita tetap dapat menghentikan masaknya jejak-jejak merugikan dengan cara memurnikan mereka. Hal ini seperti mencegah benih untuk menerima air, sinar matahari, dan pupuk. Banyak melakukan kebajikan juga dapat "melarutkan" dampak merugikan dari Karma buruk.

Bagaimanakah Kita Memurnikan Karma Buruk?

Pemurnian sangatlah penting karena hal ini mencegah penderitaan pada masa mendatang dan meredakan perasaan bersalah. Dengan memurnikan pikiran, kita akan mampu untuk menjadi lebih tenang dan memahami Dharma dengan lebih baik. Empat kekuatan penangkal yang digunakan untuk memurnikan jejak atau benih negatif adalah:
  1. Penyesalan.
  2. Tekad untuk tidak mengulangi tindakan merugikan itu lagi.
  3. Mengambil Tiga Pernaungan dan membangkitkan Welas Asih kepada semua makhluk.
  4. Melakukan latihan-latihan penyembuhan sebenarnya (perbuatan baik apa pun-termasuk meditasi dan menguncar Sutta/Mantra).
Keempat kekuatan ini harus dilakukan berulang-ulang. Karena kita telah melakukan banyak sekali perbuatan negatif, kita tidak bisa berharap dapat memurnikan Karma-Karma buruk itu sekaligus. Semakin besar kekuatan empat komponen itu, semakin kuat tekad kita untuk tidak mengulangi perbuatan itu lagi, semakin kuatlah pemurnian kita.

Apakah Karma Mempengaruhi Siapa yang Kita Jumpai?

Ya, tetapi ini bukan berarti bahwa semua hubungan telah ditakdirkan. Kita mungkin punya kecenderungan Karma tertentu untuk merasa dekat atau merasa kurang pas dengan orang-orang tertentu. Akan tetapi, hal ini tidak berarti bahwa hubungan kita dengan mereka harus berlanjut terus seperti itu. Jika kita berbaik hati kepada mereka yang menyakiti kita dan mencoba untuk berkomunikasi dengan mereka, hubungan ini akan berubah, menciptakan Karma positif yang akan membawa kebahagiaan pada masa yang akan datang.
Kita tidak terikat kepada orang lain secara Karma-tidak ada orang tertentu yang khusus hanya untuk kita. Karena kita memiliki banyak kehidupan lampau, kita telah berhubungan dengan semua makhluk pada suatu waktu sebelumnya. Hubungan kita dengan orang tertentu juga terus berubah-ubah. Bagaimanapun juga, hubungan Karma lampau dapat mempengaruhi hubungan kita sekarang. Contohnya, jika seseorang telah menjadi guru spiritual kita pada suatu kehidupan lampau, kita mungkin akan bersua kembali dengan orang itu dalam kehidupan sekarang, dan ketika orang tersebut mengajarkan Dharma kepada kita, hal itu mungkin berpengaruh kuat bagi kita.

Jika Makhluk Lain Menderita Akibat Karma Buruknya, Dapatkah Kita Menolongnya?

Kita semua tahu bagaimana rasanya menderita, dan itu pulalah yang dirasakan makhluk lain ketika mereka mengalami akibat perbuatan buruk mereka. Didasarkan empati dan Welas Asih, sudah semestinya kita menolong mereka! Walaupun mereka menciptakan sendiri sebab-sebab bagi penderitaan mereka, mungkin mereka juga menciptakan sebab-sebab untuk menerima pertolongan dari kita! Kita semua adalah sama dalam hal mengharapkan kebahagiaan dan berusaha menghindari penderitaan. Tanpa pandang penderitaan atau masalah siapakah itu, kita seharusnya mencoba meringankannya. Sebagai contoh, berpikir bahwa "orang miskin itu miskin karena perbuatan lampau mereka sendiri-karena kikir; jika aku menolong mereka, aku akan ketularan miskin", ini merupakan pandangan salah yang kejam. Kita tidak seharusnya merasionalisasi kemalasan, sikap apatis, dan keangkuhan kita dengan salah mengartikan kaidah sebab dan akibat. Welas Asih dan tanggung jawab universal sangatlah penting untuk perkembangan spiritual kita sendiri dan kedamaian dunia.

18 Jul 2009

Arca Shiwa Ditemukan di Dasar Petirtaan

Arca Shiwa Ditemukan di Dasar Petirtaan


4Petugas Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah yang mengekskavasi petirtaan abad ke-8 di Desa Derekan, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, menemukan arca yang diduga berbentuk Shiwa di dasar petirtaan. Hal ini mengokohkan pendapat bahwa petirtaan itu dibangun kaum Shiwais dan menjadi bagian dari Candi Ngempon.

”Arca itu belum dibentuk sempurna karena atributnya masih kurang. Kemungkinan, arca itu ditaruh di tengah. Namun, sangat tidak umum meletakkan Shiwa di petirtaan karena kebanyakan menaruh Ganesha, yang salah satunya melambangkan kesejahteraan,” kata Kepala Unit Pemugaran Candi Ngempon Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah Gutomo, Rabu (15/7).

Arca setinggi 40 sentimeter dengan lebar 30 sentimeter itu ditemukan pada Selasa sore di dasar bagian timur petirtaan, dalam kondisi terkubur tanah. Arca itu berbentuk sosok tengah duduk bersila dengan tangan empat dan kepala mengenakan semacam mahkota. Namun, yang tampak jelas hanya dua tangan yang menyatu di bagian pusar.

Gutomo mengatakan, awalnya sangat sulit mengenali arca ini karena bentuknya yang belum sempurna. Terlebih lagi, umumnya sosok dewa dikenali dari atribut yang digunakannya. Namun, posisi arca yang dibentuk duduk bersila dan memiliki tangan empat membuat dia memperkirakan arca ini merupakan Shiwa.

Di lokasi tersebut, sebelumnya juga ditemukan tangga masuk petirtaan yang di tepinya terdapat arca dua gajah kembar. Jarak dari sudut sisi utara ke arca sekitar 2 meter. Di sekitar tempat tersebut juga ditemukan saluran kuno pembuangan air yang menuju sungai.

10 Jul 2009

Yang Anda Tebar, Anda tuai


Apa yang Anda tebar, itulah yang akan Anda tuai


Berikut ini adalah karma menurut ilmu Penyembuhan dengan Tenaga Prana. Dalam setiap lokakarya Penyembuhan dengan Tenaga Prana, baik itu Lokakarya tingkat Dasar, Tingkat Lanjut, Tingkat Psikoterapi, Penyembuhan dengan Kristal maupun Yoga Arhatik, selalu saja dibahas soal karma.

Kalau seseorang berbuat sesuatu, dengan tujuan yang baik ataupun buruk, pengaruh karmanya bisa mencapai sepuluh kali lipat. Bila Anda menanam sebutir gabah, Anda tidak hanya akan menuai satu bulir padi, tetapi Anda akan menuai beberapa kali lipat dari apa yang sudah Anda tanam. Kalau Anda menanam satu biji mangga, Anda nanti akan memanen banyak mangga selama bertahun-tahun.

Apa hubungan karma dengan Penyembuhan dengan Tenaga Prana? Apa perlunya kita membahasnya dalam setiap lokakarya?


Kita tahu, Penyembuhan dengan Tenaga Prana sangat ampuh untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Dalam memberikan energi, ada organ-organ atau cakra tertentu yang tidak boleh diberi energi warna tertentu, karena bisa membahayakan pasien kita.

Kita juga telah belajar melakukan penyembuhan jarak jauh, di manapun pasien kita berada, tidak menjadi soal, dengan efektif kita tetap bisa melakukan perawatan.

Kalau Anda tidak mematuhi larangan di atas dan memberikan energi yang membahayakan pada organ atau cakra yang seharusnya tidak boleh diberi energi itu, akan berakibat fatal bagi pasien Anda. Atau mungkin Anda bermaksud jahat ingin mencelakakan seseorang dengan memberikan energi yang berbahaya di tempat yang tidak seharusnya.

Apalagi kalau hal ini Anda lakukan dengan teknik penyembuhan jarak jauh, bukankah ini sama saja dengan ilmu tenung?

Karenanya untuk memberikan rambu-rambu agar kita tidak menyalahgunakan ilmu Penyembuhan dengan Tenaga Prana yang baru saja kita pelajari, sangat penting ditekankan pembahasan mengenai hukum sebab akibat atau karma ini.

Kalau Anda tidak ingin bernasib buruk, janganlah mencelakakan orang lain. Kalau Anda menginginkan kemakmuran, bermurah hatilah.

Mereka yang sedang mengembangkan kemampuan spiritualnya seperti para penyembuh prana, melakukan sesuatu dengan tujuan yang baik maupun yang buruk, pengaruh karmanya dapat berratus kali lipat. Ini tidak berlebih-lebihan dan harus ditafsirkan secara harafiah. Penyalahgunaan kekuatan seseorang atau teknik Penyembuhan dengan Tenaga Prana secara sengaja akan mendatangkan akibat karma yang sangat berat, seseorang akan menuai apa yang ditaburnya. Oleh sebab itu, lebih bijaksana dan lebih baik untuk selalu melakukan tindakan yang baik daripada tindakan yang jahat.

Anda tidak harus menerima begitu saja pendapat ini. Anda dapat mencobanya dengan melakukan sesuatu yang tidak terlalu negatif, untuk kemudian memperhatikan apa yang akan terjadi. Anda juga dapat melakukan sesuatu yang positif dan melihat apa yang akan terjadi. Sering kali akibat karmanya tidak tidak akan langsung terjadi secara sekaligus, tetapi sedikit demi sedikit secara bertahap, tetapi akibat karmanya tetap saja parah.

Hukum karma tidak ditentukan oleh nasib tetapi ditentukan oleh diri kita sendiri atau diarahkan oleh diri kita sendiri. Ini hanya berarti bahwa Anda harus bertanggung jawab atas tindakan, perkataan dan pikiran Anda. Anda tidak bisa menyalahkan orang lain, orang tua Anda, lingkungan Anda atau kekuatan yang tidak nampak untuk segala masalah dan kesulitan yang Anda alami. Jika Anda mendapat kesulitan, maka Anda sendirilah yang harus berusaha keluar dari kesulitan itu dangan atau tanpa pertolongan dari luar. Jika Anda mengalami banyak nasib buruk dan sering mengalami ketidak adilan, maka Anda harus bermeditasi dan merenung, dan menarik pelajaran darinya.

Anda harus melakukan perbuatan baik untuk menghasilkan karma yang baik. Jelas Anda harus bekerja keras dan cerdas untuk memperbaiki keadaan Anda. Dengan memetik pelajaran dari pengalaman Anda inilah, dan dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik, dengan berusaha dan berjuang dengan keras dan cerdas, Anda dapat mengubah keadaan yang merugikan menjadi menguntungkan. Dengan menanggulangi karma negatif, seseorang dapat disucikan dan memperoleh kekuatan dan kebijaksanaan batin.

Kekejaman terhadap sesama dan terhadap makhluk hidup lainnya adalah salah satu penyebab nasib buruk dan penyakit berat yang sangat menyakitkan. Apa yang kita tebar, itulah yang kita tuai, inilah hukumnya. Jika seseorang berulang kali menyakiti orang lain maka dia juga akan menuai rasa sakit yang luar biasa, kadang dalam bentuk penyakit yang berat. Jika seseorang berulang kali menghilangkan nafkah orang lain (bisa penghasilan, uang atau pangan), maka makanan fisiknyapun akan dirampas, ini dapat berupa penyakit paru-paru yang parah di mana dia tersengal-sengal menggapai hidup. Tubuh yang menderita itu lama kelamaan akan menjadi lemah. Ini juga menimbulkan pengaruh keuangan yang sangat merugikan.

Hindarilah kekejaman dan lakukanlah kebaikan hati kepada orang lain, ini adalah kunci utama menuju kesehatan yang baik, kebahagiaan dan untuk menghindari penyakit berat yang disertai rasa sakit yang hebat.

Karma negatif dapat dinetralkan dengan hukum pengampunan dan hukum belas kasihan. Anda dianjurkan untuk memaafkan dan memberkati mereka yang telah menyakiti hati Anda. Ini dapat dilakukan dengan cara membuat daftar orang-orang tersebut. Visualisasikanlah mereka dan dalam hati maafkanlah mereka satu persatu dan berkatilah mereka dengan kesehatan yang baik, kebahagiaan, keberhasilan, kemakmuran dan mohonkan perlindungan Tuhan. Agar karma negatif seseorang dinetralkan, dia perlu memaafkan orang lain, karena bila Anda memaafkan orang lain, Tuhan juga akan memaafkan Anda, tetapi jika Anda tidak memaafkan orang lain, Tuhan juga tidak akan memaafkan kesalahan Anda.

Hukum belas kasihan berarti bahwa untuk menerima belas kasihan, orang harus penuh belas kasihan. Sebaiknya Anda memberikan sepuluh persen dari penghasilan Anda setiap bulan dan selalu beramal. Melakukan tindakan dengan penuh belas kasihan menghasilkan karma baik dan memberikan hak kepada Anda untuk menerima belas kasihan. Menjadi vegetarian adalah tindakan belas kasihan terhadap binatang, karenanya orang yang menderita sakit berat sangat di anjurkan untuk melakukan diet vegetarian. Tindakan-tindakan kejam, ucapan yang menyakitkan hati dan pikiran yang negatif harus benar-benar dihindari. Bagaimana seseorang dapat menerima belas kasihan kalau dia menimbulkan begitu banyak sakit hati pada orang lain?


Dapat disimpulkan dengan sangat jelas bahwa karma adalah sebagai berikut: kalau Anda menanam kebaikan, Anda akan memperoleh kelimpahan, kalau Anda menanam kejahatan, hidup Anda akan penuh penderitaan. Pilihan Anda di tangan Anda.

8 Jul 2009

Filosofi Di Dalam Batik Yogyakarta

Filosofi Di Dalam Batik Yogyakarta


1. Batik cuwiri [batik tulis]

zat warna : Soga alam
kegunaan : Sebagai “semek’an” dan kemben. Dipakai saat upacara “mitoni”
unsur motif : Meru, gurda
filosofi : Cuwiri artinya kecil-kecil, diharapkan pemakainya terlihat pantas dan dihormati.
2. Batik sido mukti [batik tulis]


zat warna : Soga alam
kegunaan : Sebagai kain dalam upacara perkimpoian
unsur motif : Gurda
filosofi : Diharapkan selalu dalam kecukupan dan kebahagiaan.
3. batik kawung [batik tulis]


zat warna : Naphtol
kegunaan : Sebagai kain panjang
unsur motif : Geometris
filosofi : Biasa dipakai raja dan keluarganya sebagai lambang keperkasaan dan keadilan
4. batik pamiluto [batik tulis]


zat warna : Soga alam
kegunaan : Sebagai kain panjang saat pertunangan
unsur motif : Parang, ceplok, truntum dan lainnya
filosofi : Pamiluto berasal dari kata “pulut”, berarti perekat, dalam bahasa jawa bisa artinya kepilut [tertarik].
5. batik parang kusumo [batik tulis]


zat warna : Naphtol
kegunaan : Sebagai kain saat tukar cincin
unsur motif : Parang, mlinjon
ciri khas : Kerokan
filosofi : Kusumo artinya bunga yang mekar, diharapkan pemakainya terlihat indah
6. batik ceplok kasatrian [batik tulis]


zat warna : Soga alam
kegunaan : Sebagai kain saat kirab pengantin
unsur motif : Parang, gurda, meru
ciri khas : Kerokan
filosofi : Dipakai golongan menengah kebawah, agar terlihat gagah
7. batik nitik karawitan [batik tulis]


zat warna : Soga alam
kegunaan : Sebagai kain panjang
ciri khas : Kerokan
unsur motif : Ceplok
filosofi : Pemakainya orang yang bijaksana.
8. batik truntum [batik tulis]


zat warna : Soga alam
kegunaan : Dipakai saat pernikahan
ciri khas : Kerokan
filosofi : Truntum artinya menuntun, diharapkan orang tua bisa menuntun calon pengantin.
9. batik ciptoning [batik tulis]


zat warna : Soga alam
kegunaan : Sebagai kain panjang
unsur motif : Parang, wayang
ciri khas : Kerokan filosofi : Diharapkan pemakainya menjadi orang bijak, mampu memberi petunjuk jalan yang benar
10. batik tambal [batik tulis]


zat warna : Soga alam
kegunaan : Sebagai kain panjang
unsur motif : Ceplok, parang, meru dll
ciri khas : Kerokan
filosofi : Ada kepercayaan bila orang sakit menggunakan kain ini sebagai selimut, sakitnya cepat sembuh, karena tambal artinya menambah semangat baru
11. batik slobog [batik tulis]


zat warna : Naphtol
kegunaan : Sebagai kain panjang
unsur motif : Ceplok
ciri khas : Kerokan
filosofi : Slobog bisa juga “lobok” atau longgar, kain ini biasa dipakai untuk melayat agar yang meninggal tidak mengalami kesulitan menghadap yang kuasa.
12. batik parang rusak barong [batik tulis]


zat warna : Soga alam

kegunaan : Sebagai kain panjang
unsur motif : Parang, mlinjon
ciri khas : Kerokan
filosofi : Parang menggambarkan senjata, kekuasaan.
Ksatria yang menggunakan batik ini bisa berlipat kekuatannya.
13. batik udan liris


zat warna : Soga alam
kegunaan : Sebagai kain panjang
unsur motif : Kombinasi geometris dan suluran
ciri khas : Kerokan filosofi : Artinya udan gerimis, lambang kesuburan