.

Tampilkan postingan dengan label keris. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keris. Tampilkan semua postingan

13 Apr 2014

Menabur Benih Pasti Menuai

Selama anda tidak melakukan suatu aksi, maka tidak akan ada reaksi. Tidak ada akibat tanpa sebab. Namun begitu anda melakukan sesuatu, maka anda akan menghadapi berbagai efek-efeknya.



Jadi berfikirlah secara matang sebelum anda melakukan suatu tindakan apapun juga, fahamilah bahwasanya akan timbul reaksi dan akibat jangka pendek dan jangka panjang karena tidak ada sesuatu apapun yang luput dari penglihatan-Nya.


Di dalam kehidupan ini, anda bebas untuk menjadi manusia yang baik dan suci, ataupun menjadi jahat dan destruktif. Namun semua itu ada konskuensinya, sebaiknya anda bertanggung jawab untuk setiap tindakan anda, dan tidak mencari-cari kesalahan orang lain ataupun mencari kambing hitam untuk kesalahan yang anda lakukan sendiri. 

Jangan juga sekali-kali menyalahkan Tuhan YME, karena Beliau sebenarnya telah menganugerahkan otak dan nurani kepada anda. Padahal hewan dan tumbuh-tumbuhan yang tidak memiliki intelegensi yang tinggi malahan secara naluri amat bertanggung jawab, mengapa manusia yang merasa lebih beradab merusak diri dan lingkungannya secara bodoh?

Sebuah contoh, anjing mencium dahulu makanannya secara instinktif, kalau busuk atau basi, maka ia tidak akan menyantapnya. Jadi secara alami hewan dapat terhindar dari berbagai penyakit. Sebaliknya seorang manusia dengan mudah mengambil dan merampas hak orang lain, tanpa berfikir panjang bahwasanya semua itu harus kembali secara berlipat ganda dalam bentuk penyakit, pengobatan, penderitaan, dsb. (Swarga dan neraka itu sebenarnya tidak jauh dari bumi ini, alias memang di bumi ini juga adanya.)

Semua yang dilakukan manusia akan dipertanggung-jawabkan. Tak ada sekecil apapun terlewatkan. Tak ada perbedaan laki-laki atau perempuan, anak-anak ataupun dewasa. Semua yang dilakukan manusia ketika masih hidup pasti dipertanggungjawabkan.! Akan ada "Balasannya".

A. Apa yang harus dilakukan saat masih hidup ?



Karena manusia lahir ke dunia ada yang menciptakan, sudah semestinya manusia itu TAAT dan PATUH pada Sang Pencipta. Sebenarnya Sang Pencipta itu TIDAK PERDULI manusia itu mau taat, patuh atau tidak. Sang Pencipta tidak butuh disembah. Semuanya yang BUTUH adalah MANUSIA sendiri.



Saat manusia masih hidup di muka bumi juga diwajibkan untuk hidup berdampingan dengan siapapun, tanpa kecuali. Karena semua yang dilakukan akan mendapat balasan.



Jika manusia menyadari dengan sepenuh hati, pasti takut dengan perbuatannya sendiri. Semua yang dilakukan terhadap orang lain, suatu saat akan mendapat balasan atas perbuatan yang telah dilakukan itu. Salah satu contoh, orang yang menemukan uang di jalan, dan dibawa pulang kemudian dibelanjakan untuk kebutuhannya, di lain waktu pasti kehilangan uang yang nilainya sama bahkan lebih banyak.






Contoh lain, barang siapa yang memakan atau merampas barang atau uang yang bukan haknya, walaupun yang berhak tidak tahu, di lain waktu pasti ada musibah yang menimpa dirinya.

Inilah yang sering terjadi dalam kehidupan manusia.

Tapi hal ini banyak orang yang tidak menyadari.



Sebenarnya untuk menjalani hidup bersama orang lain tidaklah sulit. Agar manusia bisa baik dan diterima banyak orang. Dalam kehidupan di dunia ini yang terpenting BISA MENYADARI bahwa KEADAAN MANUSIA itu TIDAK STABIL (manungsa kuwi kahanane ORA AJEG). Maka dengan sadar akan hal itu, manusia tidak akan sombong, tidak semena-mena, tidak akan mudah meremehkan orang lain.



Lebih ironis lagi, suatu saat menghina, menghardik pada orang lain. Nah di lain waktu orang yang menghina membutuhkan pertolongan orang yang telah dihina itu. Dan orang yang dihina itupun ikhlas memberi pertolongan. Bagaimana dengan hal ini ?



B. Pembalasan atau Hukum Karma itu ada.


Pembalasan, Hukum Alam ataupun Hukum Karma "tidak akan pernah bisa ditolak" oleh manusia hanya karena manusia itu punya jabatan, punya kedudukan, punya kekayaan, punya harga diri ataupun karena manusia itu punya status sosial yang tinggi. Pembalasan, hukum karma, hukum alam akan tetap mendatangi manusia bagaimanapun  "keberadaan" manusia, tanpa pernah mengucap "permisi" pada manusia.



Itulah realitas kehidupan manusia yang selalu diikuti dengan PEMBALASAN atau HUKUM KARMA. Pembalasan atau Hukum Karma ini bersifat TETAP dan PASTI. Tetap artinya bahwa pembalasan atau hukum karma itu SEBANDING dengan apa yang telah dilakukan, bahkan lebih.. Bersifat PASTI artinya pembalasan atau hukum karma itu pasti diterima, tidak ada yang mampu menghindari. Lebih parah lagi, kalau si pelaku belum menerima pembalasan atau hukum karma, maka yang akan menerima adalah KETURUNANnya.

Masyaallooohh !



BARANG SIAPA YANG MEMBUAT KESULITAN pada ORANG LAIN, suatu SAAT PASTI dan PASTI mendapat KESULITAN yang SEBANDING, bahkan lebih.



Untuk itu, marilah kita semua berperilaku yang bisa membahagiakan diri sendiri orang lain dan keturunan kita. Selamatkan diri sendiri dan keturunan. Agar mendapat pembalasan yang baik, saat kita masih hidup di bumi maupun besok di alam baka. Semoga kita selamat dunia akhirat. Amin.

1 Mar 2014

Energi alam semesta

spesifikasi tertentu. Energi ini tidak bisa musnah. Ia akan bersatu dengan sesuatu yang memberikan media. Getaran batu nisan tua dibanding batu nisan buatan pemahat baru, tentu berbeda. Batu nisan jaman dahulu berasal dari tebangan pohon, setelah sekian ratus tahun, membatu dan menjadi fosil.

Getaran fosil kayu itu, akan mengeluarkan energi, mempengaruhi lingkungan sekitarnya. Termasuk manusia dan binatang. Ada sebentuk atmosfer tertentu yang dihasilkan fosil itu. Energi yang dihasilkan,

Langit dan bumi, juga memiliki getaran, bangunan tembok, batu, kayu, bambu yang dibuat jadi rumah tinggal, juga mengandung getaran. Getaran itu bisa mempengaruhi kondisi manusia. Disamping itu getaran jiwa pembuatnya, penghuni atau siapapun yang pernah tinggal dalam sebuah rumah, akan meninggalkan getaran tertentu jika sudah pergi dari rumah tersebut. Getaran itu disimpan dalam media ruang yang ada. Semakin lama mengendap akan berubah menjadi energi.

Getaran nafsu, emosi, kelainan jiwa dan sejenisnya, tentu akan menghasilkan energi negatif. Getaran kekuasaan, kemakmuran, kemenangan akan menghasilkan energi positif. Paling tidak, akan memacu optimisme penghuninya.

Tidaklah mengherankan, banyak orang berburu barang antik keris tombak arca pusaka peninggalan bangsawan atau orang terpandang, atau milik para pertapa zaman dahulu. Kesemuanya dimaksudkan sebagai sarana untuk ikut mewarisi energi positif yang terkandung pada benda-benda tersebut. Istilah Jawa: nyadhong sawabe. Memang bukan sesuatu yang mustahil, karena energi itu sendiri tidak pernah bisa dimusnahkan. Termasuk energi anda.

Disamping, bisa menciptakan lingkungan berenergi positif, energi manusia juga mampu menyerap energi dari luar tubuhnya


Dari berbagai sumber

1 Agu 2013

Keris, Senjata untuk Melawan Diri

Keris, Senjata Melawan Diri

Sebagai pusat budaya Jawa, Yogyakarta sangat kaya akan beragam jenis keris. Keberadaan keris kerap kali dilingkupi mitosmitos ”isi” dan kesaktiannya. Decak kagum sering terlontar ketika kita menatap keindahan artistiknya. Apalagi kegiatan pembuatannya selalu terbalut misteri.

UNESCO tahun 2005 pun mengukuhkan keris sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity. Memang tak dapat dimungkiri keris adalah mahakarya yang menyimpan rahasia hidup di dalamnya. ”Keris itu sinengker karana aris, artinya ada rahasia yang dipendam di dalamnya. Rahasianya adalah falsafah Jawa,” ungkap Ki Juru Bangunjiwo, pelaku budaya.

Sayang, falsafah kehidupan yang terkandung dalam keris belum banyak diketahui. Keris bukan sekadar senjata tajam, melainkan sejatinya adalah senjata untuk memerangi diri sendiri. Tentunya dari belenggu nafsu dan keserakahan duniawi. Dalam keris tercuat simbolisasi hidup baik, sesuai etika, norma, agama, dan negara.

”Akan tetapi, masyarakat masih terjebak pada mitos karena kita telah kehilangan akar budaya. Tulisan berisi ajaran keris dijarah Belanda dan Inggris, dipelajari di sana dan kita hanya ditinggali takhayulnya. Keris unggul dianggap sakti, padahal yang sakti itu orangnya,” ungkapnya.

Buku hidup
Keris sesungguhnya adalah wahana untuk berdoa. Cita-cita dan harapan manusia Jawa dimantramkan dalam keris. Ia adalah sebuah keyakinan dan buku hidup. Wujud keris yang ber-luk (berlekuk) adalah simbol kebijaksanaan, sedangkan keris lurus adalah simbol keteguhan prinsip. Kebijaksanaan dan tekad itu harus seimbang dan akhirnya bermuara ke atas (Tuhan). Karena itu, keris ujungnya lancip.

”Kekaguman itu masih pada sisi artistiknya, fisiknya; belum pada seni hidup dan filosofinya. Padahal, budaya (keris) itu, kan, seni kehidupan. Filosofi itu harus dimasukkan dalam kehidupan manusia supaya lebih bermartabat. Karena itu, keris harus didalami filosofinya,” katanya.

Sultan Hamengku Buwono X, Raja Keraton Ngayogyakarta, pernah menyampaikan, keris merupakan bagian terpenting dalam kelompok tosan aji (senjata pusaka) yang di masa silam melambangkan status dan kewibawaan seorang manusia Jawa. Dalam dunia tosan aji, manusia Jawa merumuskan doa yang diwujudkan dalam sebentuk pusaka keris. Doa itu dilantunkan dalam laku, mulai tapa, matiraga, tapa bisu, dan lainnya.

Anggota Dewan Kebudayaan DIY, KH Abdul Muhaimin, menegaskan, keris menjadi sarana penyaluran energi positif dari para pembuat atau pemakainya sehingga menyalurkan kekuatan positif. ”Generasi muda cenderung tidak memahami keris karena minimnya transfer pengetahuan tentang keris,” kata Muhaimin.




Sumber: http://cetak.kompas.com/

1 Apr 2013

Waktu Berkeliaran Jin

Waktu Berkeliaran Jin


haunted_house_3d_screensaver_26299“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila sore hari menjelang malam tiba, tahanlah (di dalam rumah) anak-anak kecil kalian, karena pada saat itu setan berkeliaran. Apabila permulaan malam sudah tiba, diamkanlah anak-anak kalian di dalam rumah, tutuplah pintu-pintu (termasuk jendela) kalian dengan terlebih dahulu menyebut nama Allah karena setan tidak akan dapat membuka pintu yang terkunci dengan menyebut nama Allah sebelumnya, dan ikatlah kendi-kendi air kalian (qirab adalah jama dari qurbah yakni tempat air yang terbuat dari kulit dan di ujungnya biasa diikat dengan tali untuk menghalangi kotoran masuk) sambil menyebut nama Allah, tutuplah bejana-bejana atau wadah-wadah kalian sambil menyebut nama Allah meskipun hanya ditutup dengan sesuatu alakadarnya dan matikanlah lampu-lampu kalian (kalau mau tidur),” (HR. Bukhari Muslim).
DALAM hadits di atas Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menganjurkan lima hal ketika sore hari menjelang malam tiba.
1. menyuruh masuk dan diam anak-anak,
2. menutup pintu, karena dengan demikian, setan tidak akan mengganggu anak tersebut juga setan tidak akan bisa masuk ke dalam rumah yang sudah terkunci dengan menyebut nama Allah sebelumnya.
3. mengikat (menutup) tempat air.
4. menutup bejana dan wadah-wadah, karena setan juga tidak akan bisa membuka tempat air dan bijana yang disebutkan nama Allah sebelumnya, dan matikanlah lampu apabila menjelang tidur.
5. matikan lampu sebelum tidur karena dengan demikian, kita akan terhindar dari bahaya kebakaran yang seringkali dilakukan setan. Setan seringkali bermaksud untuk membakar rumah dan penghuninya dengan jalan menyerupai seekor tikus lalu menubruk tempat lampu tersebut sehingga api bisa menjalar. Untuk itu Rasulullah menganjurkan agar lampu dimatikan sebelum tidur. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikut:
“Ibnu Abbas berkata: “Suatu hari seekor tikus datang menyeret kain yang dipintal kemudian dilemparkan ke hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang sedang duduk di atas tikar. Kemudian kain dipintal yang dibawa tikus tadi terbakar persis sebesar uang dirham. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Kemudian bersabda: “Apabila kalian tidur, matikanlah lampunya, karena syaithan seringkali berwujud seekor tikus yang membawa sesuatu (yang mudah dibakar) yang ditujukkan ke lampu tersebut sehingga dapat membakar kalian,” (HR. Abu Dawud dengan sanad shahih).
Dalam hadits lain juga dikatakan:
“Dari Jabir, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah kalian melepaskan binatang peliharaan dan anak-anak kalian ketika matahari terbenam sehingga hitam legammnya sore hari (sunda=layung) betul- betul hilang, karena setan-setan berkeliaran ketika matahari terbenam sampai saat dimana hitam legamnya sore hilang (sampai waktu malam tiba)” (HR. Muslim).
Mengapa setan berkeliaran pada waktu menjelang malam? Menurut Ibn al-Jauzi, karena gerak gerik setan pada waktu malam jauh lebih gesit dan kuat dari pada waktu siang. Karena waktu gelap bagi setan adalah waktu yang lebih fresh dan lebih menguatkannya, di samping memang kegelapan dan warna hitam adalah kesukaan setan. Karena itulah, dalam salah satu hadits Rasulullah Saw mengatakan: “Anjing hitam itu adalah setan”.