.

25 Jan 2014

termaharkan

KERIS TUA LANGKA LUK 13 original

DAPUR SENGKELAT 

PAMOR FULL METEOR PENDARINGAN KEBAK

PAMOR GONJO WULUNG

TANGGUH MATARAM SENOPATEN ( panembahan senopati )

Maskawin RP 5.000.000 SUDAH TERMAHARKAN


KONDISI

MAAF BUKAN KERIS BARU/KAMARDIKAN

SEPUH /TUA,UTUH,GAGAH ,BERWIBAWA, BESI AJI
 warangka lawas iras
panjang wilah 36.5 cm
panjang gonjo 8 cm
panjang pesi 7 cm

Kepada Yth
Bapak / Ibu berminat dengan pusaka ini  monggo Telpon / sms 02199977267

SALAM HORMAT DARI SAYA
TERIMA KASIH





































10 Jan 2014

Termaharkan

KERIS LURUS
DAPUR JALAK TILAM SARI
PAMOR JUNJUNG DERAJAT (mengkang jagad alami di sor soran)
TANGGUH TUBAN
mahar rp 3.750.000
TELP 02199977267
BAPAK /IBU BERMINAT SILAKAN TELPON / SMS 
TERIMA KASIH










5 Jan 2014

MAKNA NAMA TOKOH PUNAKAWAN

Pernahkah Anda nonton wayang kulit? Tentu banyak orang yang sudah pernah nonton wayang kulit ataupun wayang orang. Dalam pewayangan tersebut ada beraneka macam tokoh. Konon Sunan Kalijaga telah menciptakan wayang kulit tersebut untuk sarana dakwah, agar manusia senantiasa Eling marang GUSTI ALLAH.
Diantara tokoh-tokoh wayang kulit ada tokoh yan…g disebut Punakawan. Marilah kita simak, apakah arti dari punakawan itu dan arti dari nama-nama tokoh dalam punawakan itu.
Punakawan itu berasal dari kata-kata Puna dan Kawan. Puna berarti susah; sedangkan kawan berarti kanca, teman atau saudara. Jadi arti Punakawan itu juga bisa diterjemahkan teman/saudara di kala susah.
Ada penafsiran lain dari kata-kata Punakawan. Puna bisa juga disebut Pana yang berarti terang, sedangkan kawan berarti teman atau saudara. Jadi penafsiran lain dari arti kata Punakawan adalah teman atau saudara yang mengajak ke jalan yang terang.
Penafsiran lainnya, Puna atau Pana itu berarti fana. Jadi Punakawan juga bisa ditafsirkan teman/saudara yang mengajak ke jalan kefanaan.
Tokoh-tokoh Punakawan itupun namanya memiliki arti. Semar berasal dari kata Samara (bergegas), Nala Gareng berasal dari kata nala khairan (memperoleh kebaikan). Sedangkan Petruk berasal dari kata fat ruk (tinggalkanlah), sementara Bagong berasal dari kata al ba gho ya (perkara buruk).
Jadi jika digabungkan maka arti dari tokoh Semar, Nala Gareng, Petruk, Bagong itu memiliki arti ‘bergegaslah memperoleh kebaikan, tinggalkanlah perkara buruk’.

Sembilan Makam Keramat Di Kabupaten Tulungagung

Tulungagung, Mataram Timur

Beberapa makam di daerah Tulungagung masih dianggap keramat. Pancaran Yoni atau Sawabnya masih diburu oleh banyak kalangan. Karena itu tak heran jika pada saat – saat tertentu bisa dijumpai banyak orang yang berdatangan ketempat itu. Mereka menjalankan laku spiritual tertentu sekaligus ngalap berkah.
Beberapa makam keramat yang paling banyak diziarahi orang dari berbagai daerah adalah Makam Tumenggung Surotani I, Ario Koesoemo dan Tumenggung Surotani II, Kertokusumo di wajak lor Boyolangu. 

Di sebelah makam makam Tumenggung Surontani, Ario Koesoemo dan Kertokoesoemo adalah makam Senopati Alap – alap dan Raden Djigantoko. Sedagkan makam Senopati Banteng Gerang di luar tembok makam Surontani. Tidak jauh dari makam – makam Tumenggung dan para senopatinya tersebut ada juga makam Raden Surodongso. 

Menurut Muhadi Kasbun Iro Karso, raden Surodongso adalah yang bertugas menyimpan pusaka ketumenggungan Wajak bahkan sampai menmeninggal beberapa pusaka disimpan tidak jauh dari makamnya. “Menurut cerita, pusaka – pusaka tersebut disimpan di sekitar pohon besar dekat makam Raden Surodongso” jelasnya.

1) Makam Tumenggung Surontani Kertoyuda
Makam Tumenggung Surontani Kertoyuda dimakamkan di Gunung Budeg Kertoyuda adalah Senopati Wajak pada era Surontani Kerto Koesumo. Bahkan dia sempat menggantikan Tumenggung Surantani Ariyo Koesumoedi saat ki Surontani I di tahan di Mataram, meski hanya sementara. Setelah Surontani I kembali ke Wajak menantunya diangkat sebagai Tumenggung Surotani II dengan gelar Kerto Koesoemo.

2) Makam Eyang Agung Tjokro Koesumo
Makam Eyang Agung Tjokro Koesumo dimakamkan di dekat Candi Dadi Wajak Kidul. Para peziarah datang dari berbagai daerah. “Banyak juga peziarah yang datang dari Pulau Dewata Bali” kata Mbah Wo Juru Kunci makam Eyang Agung Tjokro Koesoemo.

3) Makam Syekh Sunan Kuning
Makam Syekh Sunan Kuning atau lebih dikenal Makam RM. Garandhi di desa Macanbang Kecamatan Gondang. Makam tersebut diketemukan sekitar abad ke-18. RM Garandhi adalah musuh bebuyutan Kolonial Belanda. Di saat Mataram dikuasai Kolonial, RM. Garandhi didukung rakyat dapat merebut Mataram yang telah dikuasai penjajah. Namun hanya bertahan beberapa tahun RM. Garandhi menjadi raja.
Disaat Mataram di duduki Belanda lagi RM. Garandhi melarikan diri ke arah timur, tepatnya di daerah Tulungagung sampai akhirnya wafat di Desa Macanbang.

4) Makam Fatimah
Makam Fatimah atau lebih dikenal Nyai Lidah Hitam. Menurut cerita nyai Lidah Hitam adalah seorang putri mandraguna istri dari Kyai Abu Masur dari Desa Tawangsari.
Julukan Nyai Lidah Hitam sebenarnya datang dari para kompeni. Menurut tokoh spritualis Abah Edi Purnomo, karena ucapan beliau yang selalu bertuah, maka para kompeni sering kelabakan dalam menghadapinya sepak terjang Nyai Lidah Hitam ini. “Keluarga Abu Mansur II ini pernah kedatangan seorang tamu. Entah kasannya ingin menjajal kesaktian keluarga Abu Mansur atau tujuan lain. Yang jelas tamu tersebut merasa kurang puas dengan penyambutan pihak keluarga. Akhirnya dengan terpaksa tampilah Nyai Lidah Hitam dengan kesaktiannya yaitu menggoreng batu dengan tangan diatas kembennya. Pada akhirnya kian lama batu tersebut akhirnya dapat memanas. Bahkan panasnya dapat mematangkan buah beras” jelasnya.
Makam Fatimah atau lebih dikenal Nyai Lidah Hitam di komplek pemakaman keluarga Kyai Abu Mansur di belakang masjid Tawangsari Kecamatan Kedungwaru.


5) Makam RMT. Djayadiningrat Adipati Tulungagung
Makam RMT. Djayadiningrat Adipati Tulungagung dimakamkan di belakang Masjid Macan, Kedungwaru. Di masa hidupnya bersama rakyat mendirikan masjid sebagai tempat ibadah dan berkumpulnya ulama – ulama dan santri – santri. Dan Djayaningrat tidak melupakan perjuangan salah satunya familinya yakni pangeran Diponegoro yang berjuang melawan Belanda tidak terlepas dari mental agama.
 
6) Makam Syekh Sarkowi
Makam Syekh Sarkowi berada di desa Ngujang Kecamatan Kedung Waru Makam tersebut berada di tengah sawah. Menurut cerita penemu makam tersebut adalah seorang pengusaha yang pernah ditolong Syekh Sarkowi.
Dimasa sulitnya seorang pengusaha tersebut pernah bertemu orang tua. Orang tua tersebut mendoakan semoga seorang yang berasal dari Nganjuk tersebut menjadi orang sukses. Pesan orang tua tersebut jika sudah sukses agar segera beribadah haji ke tanah suci Makah.
Di saat menunaikan ibadah haji, pengusaha dari Nganjuk tersebut bertemu lagi dengan orang tua yang pernah berpesan untuk menunaikan ibadah haji jika sudah sukses.
Namun sebelum berpisah dengan orang tua tersebut pengusaha berasal dari Nganjuk meminta alamat rumah orang tua yang pernah mendo’akannya.
Beberapa hari kemudian seorang pengusaha tersebut sengaja mencari alamat orang tua tersebut di desa Ngujang. Namun seharian mencari rumah orang tua tersebut tidak membuahkan hasil. Karena kecapekan seorang pengusaha itu tertidur dengan nyenyak. Didalam tidurnya ditemui orang yang baru saja dicarinya.
“Kamu sudah hampir menemukan alamatku, jika kamu teruskan mencarinya kamu akan menemukan rumahku. Rumahku ada ditengah sawah dan di bawah pepohonan desa Ngujang” kata orang tua tersebut.
Ketika terjaga dari tidurnya pengusaha tersebut berniat mencari rumah orang yang baru menemuinya dalam mimpinya.
Keesok harinya dia mencari rumah orang tua itu di tengah sawah di bawah pepohonan. Dia terkejut ketika menemukan makam tua di bawah pohon di tengah sawah. Makam tua tersebut di batu nisannya tertulis Syekh Sarkowi. Ternyata orang tua yang selama ini pernah dia temui lewat mimpi maupun ketemu langsung sudah lama meninggal. Sejak kejadian tersebut pengusaha asal Nganjuk tersebut membangun makam keramat itu. Sampai saat ini makam keramat itu banyak diziarahi orang dari berbagai daerah.

7) Makam Mbah Wali

Makam keramat berikutnya adalah makam Mbah Wali di pantai Popoh Tulungagung. Menurut Abah Marwin Sholeh tokoh Paranormal asal Pucang Laban, Mbah Wali adalah tokoh agama Islam di pulau Jawa sebelum zaman Wali Songo. Makamnya tidak jauh dari pantai Popoh, bahkan di tepi pantai Popoh. “Ketika memasuki kawasan wisata pantai Popoh, silahkan tanya petugas pasti sudah mengenalnya” jelasnya.

8) Makam RM. Djayeng Koesoemo
Makam keramat berikutnya adalah RM. Djayeng Koesoemo di Demuk, Pulanglaban. RM. Djayeng Koesoemo adalah anak dari Adipati RMT. Djayaningrat, sedang istrinya bernama R. Ayu Endang Ratna Palupi putri Bupati Japanan Mojokerjo.
Menurut Ny. Sundari yang masih keturunan RM. Djayeng Koesoemo, semasa hidupnya RM. Djayeng Koesoemo sangat gigih berjuang melawan kolonial Belanda. Pada suatu ketika berhasil membunuh petinggi kolonial Belanda. Karena masih keturunan Bupati Ngrowo V maka tidak dipenjara namun dibuang di hutan belantara pada tahun 1866. Bersama 40 orang pengikutnya RM. Djayeng Koesoemo berada di hutan yang dikenal sangat angker. Orang Jawa sering menyebut Jalmo moro Jalmo Mati, Sato Moro Sato Mati. Dengan kesaktian RM. Djayeng Koesoemo dapat mengalahkan para dedemit yang mengamuk. Oleh karena itu hutan yang semula angker itu dinamakan desa Demuk.

9) Makam Syeh Basyarudin
Makam Syeh Basyarudin berada di makam Srigading, Kauman. Pada malam Jum’at legi makam ulama besar tersebut diziarahi pendatang dari berbagai daerah. Bahkan makam syeh Basyarudin sering diziarahi para santri dari pondok pesantren di berbagai daerah. Disekitar makam Syeh Basyarudin terdapat makam Bupati Trenggalek dan keluarganya.

 
“Tujuan kami berziarah ke makam – makam para ulama dan pejuang untuk kirim do’a agar amal ibadahnya selama di dunia di terima Allah SWT”, Kata Ustadz Gupron dari Ngunut.

4 Jan 2014

PETILASAN GUNUNG "GAMBAR NGAWEN" GUNUNGKIDUL

PETILASAN GUNUNG "GAMBAR NGAWEN" GUNUNGKIDUL




               Petilasan Gunung Gambar terletak di Dusun Gempol Desa Jurangjero Kecamatan Ngawen Kabupaten Gunungkidul DIY. Dengan ketinggian sekitar 200 mdpl, berjarak sekitar 20 km dari Wonosari. Petilasan Gunung Gambar dipercaya sebagai markas pertahanan  Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I atau Pangeran Samber Nyawa atau Raden Mas Said untuk menyusun strategi ketika berperang melawan Belanda. Beliau dikatakan menggambar peta strategi perang tersebut diatas sebongkah batu dengan permukaan yang datar.
               

Dalam perjuangannya, Pangeran Samber Nyawa menempati berbagai wilayah yang dijadikan sebagai markas pertahanan. Di tempat-tempat tersebut  beliau menyusun strategi perang dan menggalang dukungan dari masyarakat setempat untuk menghancurkan Belanda. Tercatat lokasi-lokasi tersebut antara lain : Desa Kasatriyan barat daya Ponorogo, Randulangi (Surakarta) dan Dusun Gempol atau yang kini lebih dikenal dengan nama Dusun Gunung Gambar atau Petilasan Gunung Gambar. Selain merupakan tempat yang memiliki nilai sejarah, pemandangan sekitar yang terlihat juga memukau. Terlihat Gunung Merapi (Yogyakarta), obyek wisata alam Rawa Jombor (Klaten), dan Waduk Gajah Mungkur (Wonogiri).Setiap satu tahun sekali, bersamaan dengan Desa Wonosadi, digelar prosesi sadranan.  Selain sadranan, daerah ini juga dikenal dengan kesenian tradisional khas Ngawen yaitu rinding gumbeng. Musik rinding gumbeng adalah sebuah kesenian yang memadukan dua alat musik yang diberi nama rinding dan gumbeng. rinding merupakan alat musik yang terbuat dari sebilah bambu yang ditiup. sedangkan gumbeng adalah instrumen musik yang menyerupai gitar perkusi yang terbuat dari bambu dengan senar yang dimainkan dengan cara ditabuh.

PETILASAN SUNAN KALI JAGA GRESIK

Perjalanan ke Bukit Surowiti, Gresik, dimana Petilasan Sunan Kalijaga berada, terasa cukup jauh. Setelah meninggalkan kompleks Makam Siti Fatimah binti Maimun, mobil mengarah ke Utara, melewati Jalan Raya Manyar, lanjut ke Jalan Sembayat, dan berhenti untuk mengisi perut di Warung Jaya Lestari pada GPS -7.07240, 112.57446.
Menu utamanya adalah Asem2 Ikan Sembilang, dan Asem2 Sop Iga. Ada juga rawon, dan makanan lainnya. Saya suka Asem2 Ikan Sembilang-nya. Anda harus mampir di warung ini untuk mencobanya masakannya. Letaknya ada di sebelah kanan jalan.
Selesai makan, mobil meluncur melewati Jalan Raya Bungah, belok kiri ke Jalan Raya Golokan, lanjut ke Jalan Raya Daendels, dan setelah melaju beberapa lama kami pun belok kiri masuk Jalan Siwalan – Surowiti, pada GPS: -6.92912,112.46937.
Jalanan sempit, hanya cukup untuk satu mobil, melewati hutan jati muda, kebun jagung dan tanaman kering lainnya, serta perumahan penduduk. Kami belok ke kanan setelah sekitar 2 km di jalan sempit ini. Setelah meluncur sejauh 600 m, kami berhenti tepat di tanjakan di kaki bukit pada GPS -6.93495, 112.45139. Perjalanan mendaki bukit pun dimulai.
Petilasan Sunan KalijagaPetilasan Sunan Kalijaga di puncak Bukit Surowiti dicapai dengan melewati beberapa kelompok anak tangga yang jumlahnya ratusan, terpisah-pisah oleh rumah penduduk dan tanah-tanah perbukitan. Entah bagaimana caranya, motor-motor seperti ini masih bisa naik sampai ke puncak bukit.
Petilasan Sunan Kalijaga
Lokasi Petilasan Sunan Kalijaga memang cukup jauh dan tanjakannya lumayan berat, sehingga ada beberapa titik perhentian seperti ditunjukkan pada papan di atas.

Sayang tidak ada gazebo sebagai tempat untuk beristirahat. Selain Petilasan Sunan Kalijaga, di atas Bukit Surowoti juga terdapat beberapa makam yang dikeramatkan, serta Gua Langsih, yaitu tempat tinggal Brandal Lokajaya, julukan Raden Sahid sebelum mendapat pencerahan dan menjadi Sunan Kalijaga.
Petilasan Sunan KalijagaPetilasan Sunan Kalijaga memiliki satu tempat pemberhentian terakhir yang disebut Laketeng, tepat sebelum masuk ke tanjakan yang paling tajam dan tinggi.
Petilasan Sunan Kalijaga
Beberapa orang tua tampak tengah menuruni tanjakan terakhir itu. Melihat orang-orang tua itu turun dari atas bukit, semangat pun menyala kembali untuk tetap meneruskan perjalanan.

Petilasan Sunan Kalijaga rupanya berada di ujung puncak Bukit Surowiti, sehingga setelah sampai ke atas kami masih berjalan beberapa puluh meter lagi, melewati rumah-rumah penduduk dan warung-warung penjual makanan minuman, sebelum akhirnya melihat pintu Petilasan.
Petilasan Sunan KalijagaPetilasan Sunan Kalijaga akhirnya terlihat di kejauhan, dengan pintu masuk dicat warna hijau. Sebuah pohon sangat besar dan tinggi terlihat berada tidak jauh dari pintu Petilasan. Ada pula papan petunjuk ke arah Makam Empu Supo di sebelah kiri.
Petilasan Sunan KalijagaPetilasan Sunan Kalijaga dengan pintu masuk yang terbuka. Kuncen Petilasan rupanya tinggal di sekitar tanjakan yang pertama, dan sedang tidak berada di Petilasan saat itu. Papan penunjuk ke Goa Langsih tampak dipasang di samping pintu masuk Petilasan Sunan Kalijaga.
Petilasan Sunan Kalijaga Petilasan Sunan Kalijaga
Cungkup Makam Mbah Sloko dan cungkup Makam Mbah Singo Wongso yang berada di dalam kompleks Petilasan Sunan Kalijaga. Barangkali mereka adalah santri-santri Sunan Kalijaga.

Petilasan Sunan KalijagaPetilasan Sunan Kalijaga dengan atap berbentuk limasan yang mengerucut, ornamen bulatan logam di puncaknya, atap susunan kayu yang menyerupai sisik, dan kaligrafi berbunyi “Allah” pada tembok di atas pintu.
Sunan Kalijaga adalah keturunan Aryo Adikoro, yang lebih dikenal sebagai Ronggo Lawe, penguasa Tuban di masa awal Kerajaan Majapahit. Tuban ketika itu merupakan pelabuhan terbesar di Nusantara. Sunan Kalijaga lahir dengan nama Raden Mas Sahid, dari ayah bernama Raden Sahur (Tumenggung Wilwatikta, Adipati Tuban) dan ibu bernama Dewi Sukati, salah seorang puteri raja Majapahit. Raden Sahur adalah cucu buyut Ronggo Lawe.
Nama Kalijaga berasal dari pertemuannya dengan Sunan Bonang, saat ia menjadi begal dengan julukan Brandal Lokajaya karena kekecewaannya pada ketidakadilan yang terjadi di tengah masyarakat ketika itu. Setelah ditundukkan Sunan Bonang, selama setahun Raden Mas Sahid diminta menjaga tongkat yang ditancapkannya di tepi kali dan ditugaskan memperdalam ilmu agama dari kitab yang ditinggalkannya. Namun konon baru tiga tahun kemudian Sunan Bonang kembali untuk menjumpai Raden Mas Sahid.
Karena kecerdasannya, kedalaman dan ketinggian ilmunya, kewaskitaannya, serta pendekatan yang dilakukannya dalam berdakwah dan berpolitik, Sunan Kalijaga termasuk salah satu dari Wali Songo yang paling disegani, dan sering disebut Wali Kutub atau leluhuring Wali
Petilasan Sunan KalijagaPetilasan Sunan Kalijaga berada pada ketinggian 260 mdpl, dengan pemandangan yang luas ke wilayah di sekitarnya. Perkampungan yang ada di puncak bukit Surowiti ini dihuni oleh sekitar 100 keluarga.
Sunan Kalijaga lebih suka berkelana dalam melakukan dakwah, sehingga tidak heran jika petilasannya bisa ditemukan di beberapa tempat, seperti yang ada di Situs Taman Kera dan Petilasan Sunan Kalijaga di Cirebon.
Mungkin selama dalam pengembaraannya itu ia menciptakan tembang Ilir-ilir dan Dandhang Gulo, serta menulis Kitab Serat Dewa Ruci dan Kitab Suluk Linglung. Gamelan Sekaten, yaitu Kanjeng Kyai Nagawilaga dan Kanjeng Kyai Guntur Madu yang disimpan di Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta, adalah juga peninggalan Sunan Kalijaga.
Petilasan Sunan KalijagaPetilasan Sunan Kalijaga juga dikelilingi oleh makam-makam lain. Namun sepertinya tidak ada makam baru di sana.
Dalam berdakwah, Sunan Kalijaga membuat perumpamaan yang mudah dipahami masyarakat. Dikatakannya bahwa setelah petani selesai membajak sawah, tetap saja ada bagian tanah di sudut sawah yang belum terbajak, yang diartikan bahwa selalu ada kekurangan meskipun cita-cita telah tercapai.
Sunan Kalijaga mengajarkan bahwa Pacul terdiri dari tiga bagian. Pertama Pacul, Ngipatake Kang Muncul: dalam mengejar cita-cita ada banyak godaan yang harus dikesampingkan. Kedua Bawak, Obahing Awak: cita-cita dicapai dengan berupaya dan melakukan kerja keras secara fisik. Ketiga Doran, Dedongo ing Pangeran, dalam mengejar cita-cita jangan lupa untuk selalu memanjatkan do’a kepada Pangeran, Tuhan yang menguasai alam fana dan baka, yaitu Allah.
Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada 1430-an, dan hidup dari jaman Majapahit sampai awal berdirinya Kerajaan Mataram, sehingga usianya diperkirakan mencapai 150 tahun. Makam Sunan Kalijaga berada di Kadilangu, Demak.
Petilasan Sunan KalijagaPetilasan Sunan Kalijaga pintunya terkunci saat itu, dan kabarnya hanya dibuka pada hari-hari tertentu. Rumah kuncen juga cukup jauh, dan tidak ada nomor telepon yang bisa dihubungi, sehingga saya tidak bisa masuk untuk melihat isi ruangan.
Haul akbar Sunan Kalijaga dilakukan setiap tahun oleh penduduk Surowiti, yaitu pada bulan Dzulhijjah, di Hari Kamis minggu terakhir.

Petilasan Sunan Kalijaga

Puncak Bukit Surowiti
Desa Surowiti, Kecamatan Panceng
Gresik
GPS: -6.93148, 112.45199

NYAI BAGELEN


Menurut ceritera rakyat nama Bagelen itu sudah ada sejak jaman dahulu, yaitu negeri Medangkamulan atau Medang Gele atau Pagelen yang memerintah negeri itu ialah Sri Prabu Kandiawan yang berputera lima orang yang masing-masing memerintah Negara Bagian.
Putra sulung bernama Sri Panuwun, ahli dalam pengairan, pertanian dan pemerintahan dan memerintah Negara bagian Medang Gele, yang akhirnya bernama Pagelen.
Putra yang kedua bernama Si Sendang Garbo, ahli perdagangan dan memerintah didaerah Jepara. Putra yang ketiga berkedudukan di Prambanan bernama Karungkala. Yang keempat bernama Sri Petung Laras atau tunggul Ametung memerintah di Kediri. Dan yang bungsu bernama Sri Djetayu, memerintah di Kahuripan. Kerajaan Medangkamulan adalah negeri yang aman, tentram dan makmur. Karena rajanya berlaku adil dan jujur. Sri Prabu Kadiawan meninggal dalam tahun yang ditandai dengan suryasengkala “RUPA TRI MUKSENG LEBU“ yang berarti kurang lebih 1031 yang kemudian yang menggantikan ialah putranya yang sulung, Sri Panuwun.
Prabu Panuwun mempunyai dua orang anak, tetapi semuanya cacat. Maka sang Prabu bersedih yang selanjutnya bersemedi untuk mohon petunjuk Dewata. Akhirnya diperoleh suatu petunjuk gaib, bahwa ia harus pergi kesuatu sendang di Somolangu. Di daerah tersebut Sang Prabu Panuwun memperistri anak perempuan Kyai Somolangu. Dari perkawinannya itu kemudian dianugrahi seorang anak perempuan yang diberi nama “Raden Rara Wetan” Yang kelak terkenal dengan nama “ NYAI BAGELEN “ dan menjadi pewaris daerah Bagelen.
Setelah dewasa Rara Wetan menjadi isteri Pangeran Awu Awu Langit yang berkedudukan di daerah Ngombol.
Karena Sri Panuwun berpindah kedudukan di Hargopura (Hargorojo), maka Pangeran Awu Awu Langit menggantikan kedudukannya di Bagelen .
Pengairan di daerah tersebut maju sehingga pertanian-pun maju dengan pesat. Hasil pertanian yang utama ialah padi ketan wulung dan kedele. Dan Nyai Bagelen bersama suaminya disamping sebagai petani maju juga beraktifitas sebagai penenun.
Perkawinannya dengan Pangeran Awu Awu Langit Nyai Bagelen dikaruniai tiga orang anak. Yang sulung bernama Raden Bagus Gento, dan yang kedua dan ketiga masing-masing perempuan yang bernama Raden Rara Taker dan Raden Rara Pitrah.
Pada suatu hari Selasa Wage, ketika Nyai Bagelen sedang menenun dan anak-anaknya asyik bermain-main tidak jauh dari ia bekerja , tiba-tiba Nyi Bagelen alangkah terkejut karena bukan putranya yang sedang menyusu, melainkan seekor anak lembu. Kemudian dicarilah kedua anak perempuannya dan ditanyakan kepada suaminya yang sedang asyik memilihi bibit ketan wulung. Karena jawaban dari suaminya kurang mengenakkan, maka dengan alat tenunnya didorongnya lumbung padi dan kedele sehingga isinya berhamburan. Lumbung padi itu terlempar jauh dan tersangkut di pohon beringin di desa Krendetan dan yang sebuah lagi jatuh di desa Penatak (Somorejo).
Padi dan kedele berhamburan jatuh di desa Ketesan dan Wingko-tinumpuk. Namun bukan main terkejutnya Nyai Bagelen ketika dilihat kedua anak perempuannya terbaring pada bekas lumbung dalam keadaan telah meninggal.
Terjadilah pertengkaran antar suami istri. Dan suaminya Pangeran Awu Awu langit memutuskan pulang ke daerah asalnya dan kemudian meninggal di desa Awu-Awu. Ketika mendengar berita suaminya meninggal, maka Nyai Bagelen berpesan kepada anaknya sulung Raden Bagus Gento; semua anak cucu serta keturunanku dilarang atau berpantang untuk berpergian atau jual beli , mengadakan hajad pada hari pasaran Wage, karena hari pasaran itu saat jatuhnya bencana dan merupakan hari yang naas. Kecuali itu juga bagi orang-orang asli Bagelen berpantang untuk menanam kedele, memelihara lembu, memakai pakaian yang menyerupai pakaian yang dipakai Nyai Bagelen waktu datang bulan yaitu : kain lurik, kebaya gadung melati dan kemben bangau tulis.
Setelah menyampaikan pesan itu , Nyai Bagelen masuk ke kamarnya dan kemudian menghilang, tanpa meninggalkan bekas atau murca
Dan selanjutnya Raden Bagus Gento menggantikan kedudukannya memerintah daerah Bagelen.
Raden bagus Gento mempunyai anak yang bernama Kyai Rodjo Pandito, yang setelah meninggal dimakamkan di desa Margorejo. Kyai Rodjo Pandito mempunyai putra yang bernama Dewi Rengganis dan makamnya di desa Semono.
Komplek petilasan Nyai Bagelen terdapat sejumlah makam kuno dan peninggalan sejarah Buddha yang berupa stupa-stupa berjumlah sembilan buah dengan masing-masing ukuran stupa yang berbeda dan dinyatakan sebagai peninggalan sejarah purbakala yang dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.

PUNDEN PERIGI BANYUURIP


Punden Perigi atau punden batu merupakan bangunan joglo kecil yang berukuran 3,2 m x 3,2 m berlantai ubin putih yang digunakan sebagi tempat pertapaan seorang pangeran yang berasal dari Majapahit (menurut babad Banyu Urip). Di dalam bangunan tersebut terdapat batu bekas tempat duduk Pangeran Joyokusumo, batu lutut, batu dakon, batu lumpang dan sebuah yoni sebagai tempat menampung air untuk membasuh muka (yang oleh sementara orang dipercaya dapat mendatangkan berkah). Pada sebelah barat punden Perigi terdapat bangunan berukuran 8 m x 16 m yang sering digunakan untuk pertunjukan wayang kulit oleh penduduk setempat sehabis panen musim kemarau. Pertunjukan tersebut merupakan ungkapan syukur masyarakat setempat atas keselamatan dan hasil panen yang diperoleh.

Kisah punden Perigi bermula dari terusirnya seorang pangeran dari kerajaan Majapahit. Pada waktu itu yang menjadi raja Majapahit adalah Hayam Wuruk. Dari selir, raja tersebut memiliki seorang putera bernama Pangeran Joyokusumo dan seorang putri bernama Galuhwati.
Suatu hari Raja mengadakan rapat besar yang dihadiri oleh para pejabat tinggi kerajaan dan sanak saudara raja, kecuali Pangeran Joyokusumo. Diutusnya Patih Gajahmada untuk mencari Pangeran tersebut. Ketika ditemukan Pangeran tersebut sedang mencari belalang untuk makan burung kesayangannya, yaitu burung puyuh atau gemak. Burung itu diberi nama si Kebrok. Karena kesaktiannya, maka burung tersebut sering diadu dengan burung lain. Konon si Kebrok dapat mengalahkan seekor harimau.

Dengan rasa marah Raja kemudian mengusir putranya Pangeran Joyokusumo. Dengan susah hati, Pangeran tersebut beserta adiknya yang masih kecil, yaitu Galuhwati meninggalkan Majapahit menuju ke arah barat. Siang malam kedua kakak beradik tersebut melintasi hutan belantara dan suatu ketika sampai di daerah ini. Karena kehausan, adiknya yaitu Galuhwati minta air. Seketika Pangeran Joyokusumo mencabut keris pusakanya yang bernama Kyai Dhalang (versi lain menyatakan bernama Panubiru) dan menancapkannya ke tanah sehingga keluar air. Air tersebut kemudian digunakan untuk minum dan mandi. Karena air itu menyegarkan kembali dan memberi kehidupan (urip) pada warga sekitarnya, maka daerah tersebut diberi nama Banyu Urip. Tempat pertapaan Pangeran Joyokusumo disebut Punden Perigi, yang berarti dimurugi (didatangi dari jauh yaitu Majapahit) menuju tempat itu.
Punden Perigi yang ada di desa Banyuurip kecamatan Banyuurip Kabupaten Purworejo memiliki bentuk 4 persegi panjang, dengan kedua sisi panjang dibagian utara dan selatan , sedang sisi yang lebih pendek terletak dibagian barat dan timur dengan ukuran 10,6 m x 6,3 m. Keempat dinding teras disusun dari bongkahan-bongkahan batuan andesit dengan tebal 1,1 m dan tinggi 45 cm. Dimuka dinding selatan dari bangunan tersebut terdapat pohon kecacil yang sangat rindang. Disamping itu pula pada arah barat yang tidak jauh dari punden Perigi terdapat dua buah sumur tua yang oleh masyarakat setempat dinamakan Beji dan Pinatak. Yang oleh masyarakat sampai sekarang diyakini bahwa kedua air sumur itu bila dicampur dan dimasukkan pada yoni yang ada di Perigi dapat mendatangkan sawab/tuah bagi yang mempercayainya.

PETILASAN SUNAN GESENG (Ki Cakrajaya)

PETILASAN SUNAN GESENG (Ki Cakrajaya)


Ki Cakrajaya atau Sunan Geseng adalah mubalig dari tanah Bagelen yang namanya terkenal bukan saja di wilayah tanah Bagelen namun juga tenar di wilayah Bantul Yogyakarta maupun di Kecamatan Grabag Kabupaten Magelang. Dalam Babad Demak, perihal Cokrojoyo digambarkan dalam tembang Dhandanggula. Petilasan Sunan Geseng berada di bukit di Desa Bagelen, tempat ini sering dikunjung peziarah yang kebanyakan adalah penderes kelapa. Lokasi ini dulu merupakan tempat Sunan Geseng bermeditasi. Jejak Sunan Geseng ditandai dengan sebongkah batu sedimentasi.

MAJAPAHIT DAHA JENGGALA KADIRI MASA KINI


Alun-Alun Daha Dahulu pernah jadi Kantor Bupati Kediri, disini banyak ditemukan Benda Purbakala Patung Patung Dewa Leluhur Kerajaan Daha/Kadiri/Jenggala, Benda Purbakala dipindah ke Musium Gunung Kelotok 15 km dari Alun Alun Doho. 
Ada Sumur Peninggalan Majapahit yang cukup angker ditempat ini, Hari tertentu Ada Dewi Berpakaian Putih keluar dari Sumur, Tak jauh dari Sumur berdiri megah Hotel Bismo, di Alun Alun berdiri Patung Pahlawan Kemerdekaan Bismo. Seberang hotel ada Mal/Pusat Perbelanjaan Baru saja diresmikan, jadi Alun Alun sudah bukan Lapangan tapi seperti Taman saja,dimana Malam hari tempat berjualan serba ada dari sate Bekicot sampai Kambing. Barang pun serba ada dari jepit rambut sampai vidio game. 
Tapi Kesakralan masih menghantui tempat ini, banyak para Spiritualis Meditasi, Semedi ditempat ini mencari Wangsit. Disinilah tempat tinggal Brahmaraja XI bila berada di Kediri, yaitu di Hotel Bismo dimana Beliau masih dipanggil Sang Prabu. Hotel Bismo milik cucu Tan Koen Swie Pahlawan Budaya dan bukunya diakui sebagai ‘SEJARAH KOTA KADIRI” yang diakui baik masyarakat maupun Pemerintah Kota Kediri Jawa Timur, Buku itu dilarang dibaca diera Orde Baru 1966-2000′. Yang berisi Ramalan Sabdopalon. Pada 2003 disinilah dipusatkan Ngeruwat Kota Kediri oleh Hyang Bhatoro Agung Suryo Wilatikto, acara pertama kalinya sejak 500 tahun Keruntuhan Majapahit [berita terdahulu] di Kadiri banyak Kerabat Hyang Suryo, bahkan Leluhurnya disarekan di Gunung Kelotok. 
Peninggalan Sejarah Kota Kadiri sangat sesuai dengan Buku Tan Koen Swie karena bisa dilihat dengan mata telanjang bukan gaib, contoh Patung Totok Kerot/Durga yang di Kepruk Sunan Bonang kini berdiri Tegak dengan bahu kanan sempal/putus kena hantaman/Kepruk’an Sunan Bonang sang Wali yang anti Berhala/Musrik/Tohut/Patung. Desa Gedah yang dikutuk pun masih ada, Bahkan Pada Hari jadi Kota Kadiri 23-3-2002 ketika Brahmaraja XI lagi di Hotel Bismo ‘Ono Suworo Tanpo Rupo” suara tanpa ada Orang berbunyi “Nyang ngo Selomangleng” ber ulang-ulang. 
Akhirnya Brahmaraja XI yang biasa dipanggil Eyang Suryo pergi mengikuti suara tadi ke Selomangleng yaitu Guwa Pertapaan Dewi Kilisuci, ternyata sampai disana bertemu seorang Pertapa. ” lha, Kowe wis tak enteni ngger, ontong kupingmu apik iso nrimo wisik” Kamu sudah saya tunggu nak, untung telingamu bagus bisa mendengar suara niskala/gaib. 
Demikian Sabda Sang Pertapa, Singkat Cerita Eyang Suryo dipertemukan Prabu Airlangga, Mpu Bharadah, Prabu Joyoboyo, Dewi Kilisuci, Dewi Sekartaji, Panji Asmorobangun, Buto Lucoyo, Para sesari Pepunden sekeliling Gua Selomangleng Gunung Kelotok Kediri [Salinan tertulis, saat itu Buku Tan Koen Swie /Sejarah Kadiri belum diterbitkan] setelah rapat dengan Para Leluhur ini lalu Sang Pertapa memberikan Simbul Tanah Jawa, sepasang Keris Kembar Luk 13 [ada di Puri Gading] setelah pertemuan aneh ini Sang Pertapa berkata “Ngger, Duwe Deluwang karo potelot te? Aku arep nulis kanggo bukti kanggo Wong sing ora percoyo Gaib” Nak, Punya kertas sama alat tulis?, Saya mau nulis agar dapat dipakai bukti bagi orang yang tidak percaya Niskala, Eyang Suryo mengambil kertas di mobil PU AG 7000 NZ kebetulan ada kertas ber Kop Hotel SATELIT [Hyang Suryo Tinggal di Hotel Satelit bila di Surabaya] dan Balpoin, lalu diserahkan kepada Sang Pertapa, 
Lalu pertapa ini menuliskan tentang pertemuan dan siapa yang hadir, waktu itu memang sangat aneh tapi bagi Hyang Suryo biasa saja karena sudah sering bertemu alam lain cuman tidak berani cerita nanti dianggap bohong, kebetulan peristiwa ini Sang Pertapa mengerti membuat tulisan, Tulisannya Ejaan Zaman Belanda U pakai OE [tulisan Tan Koen Swie], Sang Pertapa bilang ini untuk bukti sudah bertemu dirinya. Hyang Suryo mancing bertanya ” Mbah Kowe iki sopo to?” lalu dijawab “Lhah kowe Lali yo biyen kan bareng waktu jenengmu Sokro, Lha aku Topo terus tetep ngene lha kowe kan nitis bolak balik” hyang Suryo ya pura-pura ngerti, “oo, Yo Mbah aku rodok lali, mosok Sokro, lha Sokro iku sopo Mbah” lagi coba mancing karena Orang Dahulu tidak sekolah/kuliah dan jujur dijawab ” iyo aku maeng kan jambal, yo wis sepurane Bhatoro Indro, pangkatmu luwih duwur” ini sedikit dialog yang diungkap ternyata belakangan ada yang bilang Sakra/Indra. Beliau Sang Pertapa memang Jujur/lugu karena jaman dulu tidak ada sekolah/Universitas, dan Karena Kemanungsan jadi mudah dipancing, kalau alam Roh sulit dipancing, Pertapa ini punya badan kasar, tapi bisa kumunikasi alam lain,jadi badan kasar panca indranya mudah diajak kumunikasi jujur. Jadi peristiwa aneh ini terjadi 23-3-2002 ternyata setahun kemudian 27-3-2003 Hyang Suryo meruwat Kota Kadiri, inipun baru diketahui setelah ditulisnya peristiwa aneh itu hari ini 19-9-2009. 
Kejadian Pertemuan justru Pura Majapahit Trowulan Lagi gawat di serbu dan diancam Bom Karyono dan sudah di tutup di larang kegiatan Hingga Hyang Suryo bisa keluyuran Sowan Leluhur. Karena di Trowulan ditutup itulah Hyang Suryo sering di Kediri atau di Surabaya kemudian Bali. Tulisan Sang Pertapa kini tertempel di Pusat Informasi Pura Ibu Majapahit sebagai bukti ilmiah, Ditambahkan 15-3 2002 Hyang Suryo dilantik sebagai Ketua IX Budaya Sepiritua Asli Nusantara untuk mengurusi Keluarga Mojopait Oleh Prof. DR. RM Wisnuwardhana Suryadiningrat di pendopo Agung Manunggale Kawula Lan Gusti Keraton Suryadiningrat Jogjakarta, kemudian diteruskan Wayangan di Alun Alun Suryodiningratan dengan Lakon ‘Turunnya Wahyu Mahkuto Ramo”, sepulang dari Jogja masih mampir di Solo Gelar Budaya 2002 di Mangkunegaran, kemudian ke Kadiri bertemu pertapa 23-3-2003. dan 27-3-2003 juga tidak sengaja diminta Meruwat kota Kediri jawa Timur.

Selanjutnya Gelar “Budaya Pemersatu Bangsa” di Bali hingga terwujut Pura Ibu Majapahit Jimbaran untuk Melinggihkan Leluhur agar bisa tetap di Odali, dan Odalan Baru dilaksanakan 9-9-’09 yang lalu dengan sukses, dan masih banyak informasi aneh tapi ditunjang bukti ilmiah, seperti Mahkota Mjapahit, nantikan informasi selanjutnya.***Lebih jauh dijelaskan bahwa Buku Tan Koen Swie / Sejarah Kota Kadiri baru didapat Awal 2009 dimana saat ada Pernikahan salah satu Cicit Tan Koen Swie Undangan Pernikahan dilampiri Sejarah Kadiri karangan Tan Koen Swie buku ini dikirim Pura Ibu awal 2009 setelah di Sah kan menjadi Buku Sejarah Kota Kediri, Juga Mangku GRP. Nokoprawiro membawa Copy Negarakertagama awal 2009 setelah Hyang Suryo meresmikan Candi Gajahmada di Kertosono yang dipugar Yayasan Negarakertagama, yang disebutkan oleh Ketua Yayasan Bpk. Harmoko penterjemahan belum selesai tuntas, sebagian Lontar ada yang terbakar. Ternyata setelah di cocok kan ada kemiripan Tokoh yang disebut dalam buku Tan Koen Swie tentang Buta Locaya. 
Soal nama Sokro ini pernah pada 1968 di Trowulan ketika Melepas Djaini Putra Bpk. Saguh Jurukunci Makam Pendopo Agung, bertemu seorang Pertapa dari Gunung Semeru yaitu Mbah Tjokro juga memangil Eyang Suryo Dik Sokro, ada 2X Orang memanggil Eyang Suryo Sokro/Sakra. Bakan sebuah Foto Kuna 1968 Eyang Suryo pakai Blangkon tercantum nama SOKRO menghormati Mbah/Rama/Eyang Tjokro/Cokro yang memanggil Sokro untuk Eyang Suryo.b Jadi selama ini yang menyebut Eyang Suryo dengan panggilan Sokro 2 Orang yaitu Eyang Semeru dan Eyang Kadiri.