6 Agt 2009

Kejawen Pak Harto



Soeharto adalah manusia Kejawen yang percaya akan kekuasaan Tuhan sebagai Dzat Yang Tertinggi. Cara pandang hidup orang Jawa itu penuh simbol dan mitos….
Menurut kalangan pinisepuh Kejawen, berbagai bencana akhir Desember 2007 hingga awal 2008, seperti meluapnya Bengawan Solo, amukan puting beliung, termasuk tanah longsor di Karanganyar, merupakan pertanda sambutan alam untuk kepulangan Sang Raja Gung Binathoro, HM. Soeharto. Ya, orang kuat zaman Orde Baru ini tak kuat dengan usia tua. Akhirnya, dia pun berpulang pada Minggu, 27 Januari, saat langit terang benderang.
Sebagai manusia Jawa, Soeharto memang tak bisa lepas dari olah batin dan olah rasa. Menurut salah seorang paranormal terkenal dari Solo, ilmu kanuragan yang dimiliki Soeharto banyak berasal dari guru spiritualnya sekaligus pamannya yang bernama Ndoro Daryatmo yang berasal dari Wonogiri. Seoharto menimba ilmu pada sang paman sejak masih berpangkat Kolonel.

Ndoro Daryatmo ini abdi dalem Pura Mangkunegaran yang menjabat sebagai Ulu Ulu Pengairan di Wonogiri. Ilmu kanuragan yang diwariskan Ndoro Daryatmo, konon salah satunya berupa rapal milik Patih Kudonowarso, panglima perang Pangeran Sambernyowo. Rapalan itu berupa kekuatan gaib yang bisa digunakan untuk kekuatan dan kederajatan. Namun rapalan itu bisa dihilangkan bila pemiliknya pasrah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Pak Harto adalah manusia Kejawen yang percaya akan kekuasaan Tuhan sebagai Dzat Yang Tertinggi. Cara pandang hidup orang Jawa itu penuh simbol dan mitos. Karena itu untuk memahami wong Jowo, kita harus memahami simbil-simbol yang melingkupinya.
Beberapa kalangan kasepuhan berpendapat, kalau Pak Harto itu adalah ‘titisan’ dari Panembahan Senopati, pendiri Dinasti Mataram. Kebetulan gaya kepemimpinan beliau selama memerintah negeri RI ini memang hampir sama.
Senopati Ingalogo Ngabdulrachman Sayidin Panatagomo berpendapat, bahwa dalam segala persoalan maka raja memiliki kekuasaan tertinggi sehingga tergambarkan kekuasaan itu sentralistik, tidak terbagi-bagi dan merupakan kebulatan yang tunggal serta tiada yang mampu menandingi (endi ana surya-surya kembar: mana ada matahari kembar), berartt tidak membenarkan adanya kekuasaan lain yang dapat menjadi saingannya. Begitu pula halnya dengan Soeharto.
Sejak dulu, legitimasi kekuasaan di Jawa dihubungkan dengan mobilitas “mistis” politik yang dialami oleh elit Jawa masa lampau. Dan Panembahan Senopati merupakan tokoh yang berhasil membuat anyaman mistik dan politik yang keteladanannya memandu alam pikiran Jawa.
Dalam pewayangan hanya Bima yang bisa bertemu Dewa Ruci. Dalam kasanah kejawen hanya Sunan Kalijaga dan Panembahan Senopati. Sedang dalam Nusantara dipercaya Ir. Soekarno dan HM Soeharto, banyak yang meyanini telah bertemu dengan Kencono Wungu.
Hakikat politik dalam budaya Jawa adalah kekuasaan. Jadi, berpolitik dengan menggunakan mistik pun sebagai upaya meraih kekuasaan. Dan pengaruh mistik kejawen dalam dunia politik menarik perhatian dalam era kekuasaan Presiden Soeharto.
Pada waktu itu, Presiden sempat mengingatkan tentang bahaya praktek ilmu hitam. Waktu itu ada kekhawatiran munculnya kebatinan di Jawa yang mengarah pada klenik sentries.
Kehadiran mistk kejawen tetap diakui sebagai sebuah fenomena budaya. Mistik Kejawen yang kental dengan kebatinan dan kepercayaan, menjadi semakin subur ketika Golkar berjaya di tahun 1970-an.
Di bawah dominasi Golkar waktu itu, mistik kejawen sebagai ekspresi religius yang sah diperkuat. Akhirnya di dunia politik Orba keberadaan mistik kejawen diakui di bawah Depdikbud, ada departemen yang mengurusi aliran kepercayaan.
Menurut Suwardi Endraswara melalui mistik kejawen, di era Orba sistem Bapakisme telah melahirkan budaya ‘kolusi’, ‘upeti’, dan mempertahankan status quo. Ritual mistik kejawen seringkali menjadi landasan spiritual kekuasaan untuk mendewakan status quo.
Tak sedikit ritual mistik pelaku politik untuk mendapatkan kesaktian. Kesaktian identik dengan kekuasaan. Melalui tirani dan kultus individu, ibarat raja yang tak terkalahkan karena telah menjalankan mistik kejawen, sering tergelincir pada sikap asu gede menang kerahe.
Hanya sedikit yang tahu jika Pak Harto sesungguhnya memang menjalin hubungan dengan Sabdopalon, bukan dengan Semar (Pranoto, 2000:177). Hubungan mistis tersebut sering diwujudkan melalui sesaji kembang menyan. Ini terjadi sebagai manisfestasi pemujaan mistis terhadap roh leluhur, agar pemerintahan pada masanya langgeng.
Hikayat Semar yang menjadi Sabdopalon memang hanya diurai di Serat Darmogandul. Tokoh ini sempat berkelana, meninggalkan Majapahit, hingga sampai di Gunung Srandil, Cilacap, Jawa Tengah.
Dahulu, setiap malam satu Suro, yang datang ke situ akan ditemui oleh Ki Lengkung Kusumo yang saat trance dianggap dapat memberikan isyarat sesuatu yang bakal terjadi. Sayangnya, Ki Lengkung bukan Semar, melainkan hanya Petruk Kantong Bolong.
Sedang Semar di Srandil, yang oleh Soeharto pernah dihormatinya atas perintah guru spiritualnya Romo Diyat dari Semarang, masih misterius. Apakah Semar ini yang mampu memberikan Kembang Wijayakusuma, sehingga kekuasaan Pak Harto sulit dipatahkan?
Memang diakui banyak kalangan, kalau Soeharto sangat mengagumi tokoh Semar, bahkan sering mengidentikkan dirinya dengan Semar sebagai pengayom Nusantara. Tampaknya Pak Harto merupakan ‘titah’ pilihan yang telah menguasai jagad kosmis. Sehingga dia bisa berdialog dengan tokoh-tokoh gaib yang super melalui asah diri maupun bimbingan guru spiritualnya.
Dengan luasnya cakupan wawasan Soeharto tentang jagad alus maupun jagad kasad, masih banyak yang mengomentarinya dengan ‘tetek bengek’ pendapat yang tidak ada patokannya.

Label:

5 Agt 2009

SOEHARTO DAN MISTIK ANGKA-26-27-28

SOEHARTO DAN MISTIK ANGKA-ANGKA
YUSLAM HANAFI
Misteri angka-angka Soeharto adalah 26, 27 dan 28. Perjalanan hidupnya yang warna-warni berada dalam naungan kombinasi angka-angka tersebut. Seperti apakah analisanya…?
Orang kuat yang lebih dari 32 tahun berkuasa di Indonesia itu telah tiada. Jasadnya dimakamkan di cungkup Argosari Komplek Makam Astana Giribangun. Sebuah komplek makam termuda leluhur dinasti Raja Mataram Imogiri,Yogyakarta. Terletak di ketinggian 666 meter dpl. Wilayah kabupaten Karanganyar, Solo, Jawa Tengah.
Selama hidup, hingga akhir hayatnya, Pak Harto meninggalkan sebuah tanggal dan angka misteri yang berurutan, yaitu: 26, 27, dan 28. Kombinasi angka-angka tersebut membawa makna tersendiri baginya. Berikut kajiannya:
Tanggal /Angka 26
- Tanggal 26/12/1947, Pak Harto menikah dengan Siti Hartinah, anak seorang Wedana di Waruyantoro, Solo.
- Angka 26, Pak Harto meresmikan RSPP Jakarta pada tanggal 6/1/1972, bila dijumlah (6+1+1+9+7+2=26). Di RSPP itulah Pak Harto dirawat dan menghembuskan nafas terakhirnya. Selama dirawat 23 hari, dari tanggal 4-27 Januari 2008, Pak Harto menghabiskan biaya sebesar Rp 1.509 miliyar.

Tanggal/Angka 27
- Rabu Kliwon tanggal 8/6/1921, adalah kelahiran Pak Harto. Bila dijumlah 8+6+1+9+2+1=27, tepat dengan tanggal kematian Pak Harto, Minggu 27 Januari.
- Angka 27, Pak Harto diangkat sebagai Komandan Brigade 10 Wehrkreise III berpangkat Letkol, tahun 1948 pada usia 27 tahun.
- Angka 27, Pak Harto menerima Supersemar, bila dijumlah 1+1+3+1+9+6+6=27.
- Tanggal 27/3/1968, MPRS melantik Pak Harto sebagai Presiden RI ke-2.
- Tanggal 27/11/1974, Pak Harto mulai mempesiapkan makam Astana Giribangun, tempat peristirahatan terakhirnya. Tanggalnya tepat dan sama dengan tanggal kematiannya 27/1/2008.
- Tanggal 27/7/1966, tragedi penyerbuan kantor PDI Jakarta. Aktivis Budiman Sujatmiko dituding sebagai dalangnya, yang kemudian divonis 13 tahun penjara. Presiden Abdurrahman Wahid memberi amnesti, akhirnya hanya 3 tahun dia menjalani hukuman di LP Cipinang. Tragedi berdarah ini menelan korban 5 orang tewas, luka-luka 149, hilang 23 orang dan 124 orang ditahan dan ditangkap.
- Angka 27, Pak Harto mengundurkan diri dari Presiden RI, setelah berkuasa selama 32 tahun, dan digantikan oleh waliknya BJ. Habibie pada tahun 1998 (21/5/1998), bila dijumlah angkanya 27. Sama dengan tanggal kematiannya.
- Tanggal 27/5/1999, Pak Harto menyerahkan surat kuasa khusus kepada Jaksa Agung, Andi Ghalib untuk menyelidiki kekayaannya di Swiss dan Austria.
- Tanggal 27/4/2005, Pak Harto melalui kuasa hukumnya siap menghadiri gugatan class action para korban tragedi 1965.
- Tanggal 27/1/2006, Pengacara Pak Harto, OC Kaligis untuk yang ketiga kalinya mengirim surat ke Presiden SBY agar menghentikan kasus Pak Harto.
- Tanggal 27/1/2008, Pak Harto meninggal dunia di RSPP Jakarta pada jam 13.10.

Tanggal/Angka 28
- Angka 28, Pak Harto meresmikan proyek controversial Taman Mini Indonesia Indah dengan biaya pada waktu itu Rp 10,5 milyiar. Proyek tersebut mendapat protes dari berbagai kalangan. Diresmikan tanggal 20/4/1975, bila dijumlah menjadi 28.
- Tanggal 28/4/1996, Ibu Tien meninggal dunia.
- Angka 28, Presiden SBY dan Ibu Ani melayat ke Pak Harto di Cendana, ditemui oleh Sigit, puteranya. Di rumah duka, SBY dan isteri berada selama 28 menit.
Di komplek Astana Giribangun, tepatnya disebelah utara sudut cungkup Argo Kembang, terpampang tulisan berisi petikan Serat Wedatama, sebuah sastra Jawa Klasik karya agung raja Solo, Mangkunegera IV, kutipannya yang artinya kurang lebih….
“Ikhlas jika kehilangan, tak akan menyesal. Menerima dengan lapang dada, jika mendapatkan kebencian dari sesame. Berbesar hati dan menyerahkan segalanya kepada Yang Maha Kuasa.”
Selamat jalan Pak Harto. Semoga Allah SWT melapangkan jalanmu

Label: