31 Okt 2013

Besi Bukan Diciptakan di Bumi, Melainkan Langsung Diturunkan Dari Langit




Di dalam Al Qur’an pada surat Al Hadid ayat 25, terdapat kalimat “…wa anzalnal hadida…”

yang jika diartikan menjadi “… dan Kami ciptakan besi…” tapi dapat juga diartikan “… dan Kami turunkan besi…”.

Ternyata, lewat penelitian bisa diketahui bahwa besi memang turun dari ‘langit’. Besi tidak dihasilkan oleh bumi. Adanya besi berasal dari meteorit, benda-benda langit yang berjatuhan pada saat awal terbentuknya planet bumi, milyaran tahun yang silam.

Ya, penemuan astronomi modern telah mengungkap bahwa logam besi yang ditemukan di bumi kita berasal dari bintang-bintang raksasa di angkasa luar.

Logam berat di alam semesta dibuat dan dihasilkan dalam inti bintang-bintang raksasa. Akan tetapi sistem tata surya kita tidak memiliki struktur yang cocok untuk menghasilkan besi secara mandiri.

Besi hanya dapat dibuat dan dihasilkan dalam bintang-bintang yang jauh lebih besar dari matahari, yang suhunya mencapai beberapa ratus juta derajat.

Ketika jumlah besi telah melampaui batas tertentu dalam sebuah bintang, bintang tersebut tidak mampu lagi menanggungnya, dan akhirnya meledak melalui peristiwa yang disebut “nova” atau “supernova”.

Akibat dari ledakan ini, meteor-meteor yang mengandung besi bertaburan di seluruh penjuru alam semesta dan mereka bergerak melalui ruang hampa hingga mengalami tarikan oleh gaya gravitasi benda angkasa.

Semua ini menunjukkan bahwa logam besi tidak terbentuk di bumi melainkan kiriman dari bintang-bintang yang meledak di ruang angkasa melalui meteor-meteor dan “diturunkan ke bumi”, persis seperti dinyatakan dalam ayat tersebut.

Jelaslah bahwa fakta ini tidak dapat diketahui secara ilmiah pada abad ke-7 ketika Al Qur’an diturunkan.

Ayat mengenai kejadian besi ini adalah salah satu bukti mukzijat dari Al Qur’an. Bagaimana mungkin seorang yang buta baca tulis seperti Muhammad SAW di abad 8 M, bisa memahami kejadian pembentukkan bumi? Jelas, ini membuktikan lagi kalau Al Qur’an itu memang langsung dari Allah.

Keajaiban dan keunikan besi bukan hanya sampai di situ saja. Secara alamiah unsur besi mempunyai 4 isotop, yaitu 54, 56, 57 dan 58. Yang stabil ada 3, yaitu 56, 57 dan 58. Dari ketiganya Isotop 57 adalah satu-satunya yang punya nuclear spin. Uniknya ini sesuai dengan urutan surat Al Hadid (besi) yang merupakan surat ke-57. Subhanallah, laa quwwata illa billah

Bukankah Al Qur’an adalah petunjuk dan cahaya yang sangat terang ???. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan..?
Akan Kami perlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa al-Qur'an Adalah Benar. Tidak cukuplah (bagi mu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu . (QS.Fushshilat:53)

Dan Kami telah mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang (46:27)

26 Okt 2013

Jend. Soeharto: Tokoh Strategi Indonesia

by semarwarta
kqg8nfdxlw
Membahas Jenderal Soeharto sama halnya mengejar bayang bayang kita sendiri ditengah teriknya matahari. Kita takkan pernah menjumpai titik yang pas untuk mendefinisikan Profile Jenderal Soeharto. Apabila dalam kisah Ramayana kita mengenal tokoh DASAMUKA ( Sepuluh wajah ) maka kita di Bumi Nusantara ini juga memiliki tokoh Dasamuka (sepuluk wajah) bahkan lebih dari sepuluh.
Perbedaan yang prinsip diantara keduanya hanya pengaturan waktu dalam pengunaan kesepuluh wajah yang dimilikinya. Dasamuka selalu menggunakan sepuluh wajah yang dimilikinya secara bersama-sama, tetapi tidak demikian halnya dengan Jenderal Soeharto. Jenderal Soeharto sangat pandai menyelaraskan wajah dan waktu pengunaannya. Maka tak heran jika terkadang kita melihatnya sebagai ALGOJO berdarah dingin. Tapi dilain sisi dia akan tampil sebagai DEWA PENOLONG bagi sebagian rakyat Indonesia. Jenderal Soeharto begitu menyayangi kesepuluh wajah yang dimilikinya, dan ingin terus memelihara sehingga selalu Nampak awet muda. Guna memenuhi keinginan tersebut maka dibentukla team Khusus untuk merawat wajah-wajah Jenderal Soeharto dengan baik. Kedua tim tersebut oleh Jenderal Soeharto di beri nama ABRI dan GOLKAR. Kedua tim inilah yang senantisa dengan setia mengawal setiap langkah Jenderal Soeharto.
Berbagai uraian diatas hanya merupakan selayang pandang dari sosok Jend. Soeharto. Dan tulisan kali ini Penulis akan menggali sosok Jend. Soeharto dari sisi yang berbeda. Saya tidak melihat Jend. Soeharto sebagai sebuah sosok pribadi, tetapi lebih memfokuskan pada LANDASAN BERFIKIR JENDERAL SOEHARTO. Selaras dengan arah artikel ini maka Penulis tidak membuat evaluasi tentang HITAM & PUTIHNYA Strategi yang dimainkan oleh Jenderal Soeharto.
Ada beberapa hal yang berkaitan dengan Landasan Berfikir Jend. Soeharto :
- Kemauan yang kuat untuk merubah nasib
- Kemampuan menghapus jejak hitam masa lalu
- Kepekaan memanfaatkan peluang yang ada
- Berani mengambil keputusan yang beresiko tinggi.
- Mampu menstabilkan dan meredam kondisi yang ada.
Kemauan yang kuat untuk merubah nasib :
Jend. Soeharto adalah sosok anak desa yang memiliki cita-cita dan kemauan yang keras. Dia bukan seorang sarjana, dan karier militernya diawali sebagai seorang opsir KNIL. Dia bukan lulusan Akademi Militer. Namun demikian, dengan berbekal kerja keras dan kecerdikan, Pangkat Jenderal TNI berhasil di raihnya. Bukan hanya sekedar Jenderal Staff dilingkungan TNI AD, tapi Jabatan Pangkostrad . Pangkostrad merupakan jabatan Prestise di lingkungan TNI AD. Semua Jenderal TNI AD mendabakan jambatan tersebut. Tetapi hanya hanya Jenderal pilihan yang mampu meraihnya. Dan salah satunya adal Jenderal Soeharto. Disini Nampak kelebihan Jenderal Soeharto dibanding Jenderal lainnya.
Kemampuan menghapus jejak hitam masa lalu :
Perjalanan karier militer Jenderal Soeharto tidak selalu putih. Jenderal Soeharto kerap tersandung dalam lembaran hitam. Satu kasus yang sangat menonjol dan sangat kritis dalam kariernya di dunia mliter adalah kasus penyelundupan peralatan tempur milik TNI AD. Hal ini hamper membuat karier militernya berakhir tragis. Namun kembali pada kemampuannya sebagai Dasamuka Indonesia, maka dengan tepat dia mampu memilih wajah yang harus dipakai dalam mengatasi permasalahan yang dihadapinya. Dengan cerdiknya dia bias menghindar dari berbagai tuntutan. Bahkan catatan hutam tersebut tidak menjadi penghalang bagi Jenderal Soeharto dalam merebut jabatan PANGKOSTRAD. Mengapa jabatan Pangkostrad tidak di berikan kepada Jenderal yang memiliki catatan bersih ?. Jawabannya hanya satu, yaitu : Jenderal Soeharto memiliki Strategi yang jauh lebih tinggi dibanding Jenderal lainnya.
Kamampuan memanfaatkan peluang yang ada :
Peristiwa G30S PKI membuat kalang kabut semua petinggi yang ada di Indonesia. Baik dari kalangan sipil maupun dari kalangan militer. Bahkan Presiden Soekarno pun terlambat dan tidak cepat melikat realita yang ada. Hal demikian tidak berlaku bagi Jenderal Soeharto. Dengan pemikiran yang tenang dan langkah yang pasti dia menciptakan peluang dalam kondisi yang ada. Dengan strategi yang halus, dia susun kekuatan. Hal ini berujung pada titik klimaksnya dengam penyerahan Surat Perintah Sebelas Maret (SUPER SEMAR) dari Presiden Soekarno kepada Jenderal Soeharto. Kita semua tahu betap jeniusnya Presiden Soekarno. Dunia International juga mengakiui hal tersebut. Namun pada kenyataannya Presiden Soekarno tidak mampu membaca strategi yang tengah dijalankan Jenderal Soeharto . Maka secara jujur harus kita akui bahwa Jenderal Soeharto memiliki strategi penyerangan yang demikian hebat dan halus. Hal ini hanya dimiliki oleh seorang Jenderal yang memiliki Strategi tempur dan strategi Intelijen yang jenius. Sekali lagi hal tersebut hanya dimiliki Jend. Soeharto.

Berani mengambil keputusan yang beresiko tinggi :
Banyak sumber sejarah yang menyebutkan bahwasanya Super Semar di dapat oleh Jenderal Soeharto dengan cara paksa. Andaipun hal tersebut benar, kesimpulan yang dapat kita tarik disini menyebutkan bahwasanya Jenderal Soeharto memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan yang beresiko tinggi. Bisa dibayangkan, bagaimana seorang Jenderal mampu memaksakan kehendak kepada seorang Presiden RI/Mandataris MPR/Panglima Tertinggi ABRI/Pemimpin Besar Revolusi , Soekarno. Hanya Jenderal yang berjiwa Harimau mampu melakukan semua itu. Jenderal Soeharto berdiri dipersimpangan jalan dan hanya memiliki 2 pilihan: Menjadi Presiden, atau Mati di gantung sebagai seorang yang melakukan kudeta. Mampukah kita melakukan hal itu ? jawabannya sudah pasti TIDAK MAMPU. Karena kita hanya bagian dari orang-orang berjiwa kerdil. Kita hanya mampu berteriak kepada seseorang apabila orang tersebut dalam posisi lemah dan tidak lagi berkuasa.
Mampu menstabilkan dan meredam kondisi yang ada.

Pasca lengsernya Presiden Soeharto, jabatan Presiden RI datangng silih berganti personil. Sepintas bagaikankan orang keluar masuk di kamar kecil yang ada di terminal. Mengapa demikian ? Jawabannya hanya satu, mereka tidak bisa menguasai dan meredam kondisi yang ada. Jangan berdalih bahwa kesadaran berdemokrasi di Indonesia saat ini jauh lebih tinggi disbanding jaman Presiden Soeharto, tapi jawablah dengan jujur bahwa Saya lebih bodoh dari Jenderal Soeharto . Jangan katakan bahwa Jenderal Soeharto dengan jahat telah membungkam aspirasi rakyat, tapi katakanlah Jenderal Soeharto begitu jenius untuk membungkam aspirasi rakyat.

Melihat dari berbagai kenyataan yang tertuang diatas, maka kita sebagai generasi penerus suatu bangsa harus mampu menyerap LANDASAN BERFIKIR JENDERAL SOEHARTO, hal ini akan sangat berguna untuk kelangsungan hidup kita sebagai sebuah pribadi ataupun kita sebagai bagian suatu bangsa menghadapi masa depan. Tinggal kemampuan kita member FILTER NORMA AGAMA dalam aplikasi nyata.

2 Okt 2013

Pembagian Zaman

Adapun pembagian tahapan-tahapan zaman itu adalah sebagai berikut:
1. Kuno
(Budho) tahun 125 M – 1125 M
meliputi kerajaan-kerajaan: Purwacarita, Medang Siwanda, Medang Kamulan, Tulisan, Gilingwesi, Mamenang, Pengging Witaradya, Kahuripan dan Kediri.

2. Madyo Kuno

(Kuno Pertengahan) tahun 1126 M – 1250 M.
Meliputi kerajaan-kerajaan : Jenggala, Kediri, Pajajaran dan Cirebon.

3. Sepuh Tengah

(Tua Pertengahan) tahun 1251 M – 1459 M
Meliputi Kerajaan-kerajaan : Jenggala, Kediri, Tuban, Madura, Majapahit dan Blambangan.

4. Tengahan

(Pertengahan) tahun 1460 M – 1613 M
Meliputi Kerajaan-kerajaan : Demak, Pajang, Madiun, dan Mataram

5. Nom

(Muda) tahun 1614 M – 1945
Meliputi Kerajaan-kerajaan : Kartasura dan Surakarta.

1 Okt 2013

Obat stress semoga stress Teman teman hilang

Mari kita tinggalkan sejenak pikiran kita yang ruwet, santailah sejenak dan mari kita baca obrolan terindah ini, semoga stress Teman teman hilang dan pikiran jadi ploong,. Langsung aja cekibroooooooooot...............

Sang guru tertarik dengan sebuah nama, dan memanggil murid dengan nama tersebut. Guru : "Smary Saklitinov, coba kemari" Murid : "Iya Bu". Guru : "Sini kamu Nak, kamu keturunan yugoslavia ya?" Murid : "Bukan Bu."... Guru : "Lalu kenapa nama kamu Smary Saklitinov?" Murid : "O, Smary itu singkatan dari nama Bapak saya S(urtono) dan Ibu saya Mary(anti)." Guru : "Mmmm.. kalau Saklitinov?" Murid : "Sabtu kliwon tiga november"

pengusaha: pir.. ke stasiun berapa? supir taksi: 50rebu aja pak.. pengusaha: ini koper saya ada 5, ada tambahan biaya ga? supir taksi: tidak ada pak.. koper gratis... pengusaha: ya udah kopernya aja naekin.. saya jalan kaki aja..

Bu Ncep :nama anak saya Islami sekali, NURUL JANNAH... artinya teh cahaya surga.. Bu Ucup : sama dong, anak saya namanya islami juga.... Bu Ncep : emang siapa namanya? Bu Ucup :TONI Bu Ncep :Toni? Islami dari hongkong? Itu mah kebarat-baratan atuhh.. Bu Ucup: Ih gimana sih? Toni mah cuma panggilan aja...nama lengkapnya mah "A'ujubilahiminasyai TONIrojim" Bu Ncep : zzzz..lebih cocok dipanggil Syaiton.

Bu guru memeriksa daftar nama murid2 baru kelas 3 SD
dan agak aneh pd saat membaca nama seorang murid yaitu “W. TAUFIK WWW” Kemudian bu guru menanyakan hal tsb.


Bu guru: “Bu guru ingin tahu dari kalian yg namanya W. TAUFIK WWW yg mana ya?” Taufik: “Saya bu guru” (sambil berdiri) Bu guru: “Taufik, ibu ingin tahu nama panjang kamu siapa?” Taufik: “Maaf bu, panjang skali” Bu guru: “Gak apa2 Taufik, bilang aja” Taufik: “Baik bu guru, nama lengkap saya… Wabillahi TAUFIK-wal hidayah Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…”

UCUP selesai dandan ala 70an, trus si Ucup menuju halte Bus sambil nunggu bus, lalu ada anak kecil lewat di depan si Ucup. anak kecil itu mulai tanya. anak kecil : Om Rano Karno ya??? Ucup : sambil geleng2 kapala ( bukan ) pas naik di Bus, anak itu masih aja ngikutin ucup sambil duduk di samping ucup anak kecil : om rano karno ya??? ucup : BUKAN ( udah mulai emosi ) ucup pindah tempat duduk ke kursi bagian bagian depan, tapi anak kecil itu terus ikutin ucup, sambil kasih pertanyaan yg sama. om rano karna ya?? sampai turun dari Bus, anak kecil itu masih tanya. anak kecil : om rano karno ya??? saking emosinya ucup jawab aja : Iya OM ini Rano Karno. Bahlulll ente. anak kecil : Loh koq gak Mirip ya??? Ucup : aeggggggrhhhhhhh..

“Suatu hari Ucup naik bis, saat itu Ucup melihat seorang nenek tampak mual-mual dan ingin muntah. Ucup: (dengan ramahnya bertanya) “Kenapa nek, nenek mual ya?” Nenek: “Iya nak” Ucup lalu membiarkan nenek tersebut. Lalu nenek itu bertanya: Nenek: “Nak boleh lihat mukanya sebentar?” Ucup: “Boleh nek, (dengan penuh senyum), tapi kenapa nek?” Nenek: “Biar muntahnya gampang…nak” Ucup : ##%%##$$*,,,.... dasar nenek2 Koplakkkk.

Obrolan Ayam dan Anjing. Anjing : yam, ente lucu ya, pake baju berantakan banged, celana pendek setengah tiang, sampai ente lupa. ente gak pakai kaos kaki ayam : ehhh gukguk, ente yang anehh. udah pakai baju ketat, celana panjang ketat, tapi knape BIJI Ente masih diluar???? kwkwkwkkkw




















makna dapur brojol

Brojol Merupakan Ajaran Hidup Menuju Fitrah Manusia
Dapur Brojol yang sederhana merupakan suatu symbol mengenai ajaran hidup bagaimana seseorang untuk menjaga fitrah yang telah diberikan oleh Tuhan. Meskipun bentuknya sederhana, dapur ini sarat dengan ajaran hidup yang sangat dalam. Meskipun fidak mudah untuk mencapainya, namun paling tidak ajaran ini mengingatkan manusia. Seorang yang masih sadar akan eksistensi kemanusiaannya, tentu ia tidak mau merendahkan derajatnva, ia bahkan akan selalu berusaha untuk mempertahankan fitrah kemanusiaannva. Bahkan, ia akan selalu berusaha meningkatkan derajat serta kualitas kemanusiaannya.
Nafsu- nafsu duniawi yang menghalangi pencapaian fitrah, dikendalikan dengan tapa laku dan memahami takdir yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Karena hidup ini tidak lepas dari kepastian dari Tuhan maka segala yang telah tercapai harus disyukuri, diambil hikmahnya dan harus diterima dengan ikhlas dengan Sumeleh (dengan hati yang lapang) dan Sumarah (tabah dan pasrah). Sumarah dan sumeleh menunjukkan kestabilan jiwa seseorang dalam menjalani hidup. Namun demikian, orang harus wajib berikhtiar, harus berusaha semampunya (wiradat). Namun usaha tersebut perlu dijalani sewajarnya, ora ngoyo atau memaksakan diri diluar batas kemampuannya, melanggar ajaran agama dan merugikan orang lain. Orang yang hidup ngoyo dan neko-neko (bertingkah), cenderung untuk berbuat dan berperilaku tidak baik, vang justru menjauhkan dirinya dari pencapaian fitrahnya sebagai manusia.

filosofi kembang atau bunga

FILOSOFI BUNGA / KEMBANG





Mengenal Berbagai Simbol Penghormatan

Dalam falsafah hidup Jawa, berbakti kepada kedua orang tua dan para leluhur yang menurunkan adalah suatu ajaran yang diagungkan.
 Orang Jawa yang memahami hakekat hidup, tentunya akan sangat memahami apabila kesuksesan lahir dan batin tak akan bisa diraih apabila kita menjadi seorang anak atau generasi penerus yang durhaka kepada orang tua dan para leluhur yang menurunkannya. Ungkapan rasa berbakti, tidak hanya diucapkan dalam ikrar doa-doa puji-pujian yang ditujukan kepada leluhurnya. Lebih dari itu, harus ada langkah konkrit sebagaimana telah saya posting dalam thread terdahulu dengan judul “ Salah satu wujud konkrit rasa berbakti tersebut adalah berupa sesaji, yang dimaksud sebagai persembahan atas segala rasa hormat dan rasa terimakasih tak terhingga kepada para leluhur yang telah wafat yang mana semasa hidupnya telah berjasa memberikan warisan ilmu, harta-benda, dan lingkungan alam yang terpelihara dengan baik sehingga masih dapat kita nikmati sampai saat ini dan memberikan manfaat untuk kebaikan hidup kita.

Berikut ini adalah beberapa contoh menu persembahan sebagai ungkapan rasa menghormati kepada leluhur (sesaji). 
Masing-masing uborampe mempunyai ciri khas dan makna yang dalam. Tanpa memahami makna, rasanya persembahan sesaji akan terasa hambar dan mudah menimbulkan prasangka buruk, dianggap sesat, tak ada tuntunannya, dan syirik. Tetapi semua prasangka itu tentu datang dari hasil pemikiran yang tak cukup informasi untuk mengenal dan memahami apa makna hakekat di balik semua itu.

kita ambil contoh, misalnya para orang tua zaman dulu suka menabur bunga setaman di perempatan jalan. Tetapi lama-kelamaan tradisi itu hilang karena orang takut dituduh musrik dst. Padahal, sesungguhnya orang yang menabur bunga di perempatan jalan sambil mengucapkan doa yang mensiratkan makna yang dalam dalam limpahan kasih sayang yang tidak pilih kasih. Adapun doanya misalnya sebagai berikut :

Ya Tuhan…berilah keselamatan dan berkah kepada siapapun yang melewati jalan ini, baik manusia, makhluk halus, maupun binatang apapun jenis dan namanya.

Doa dan apa yang mereka lakukan merupakan manifestasi dari budi pekerti mereka yang sungguh adiluhung. Melakukannya penuh dengan ketulusan dan kasih sayang. Tentu saja doa yang mengandung ketulusan dan kasih sayang yang berlimpah itu, akan beresonansi dan bersinergi dengan energi alam semesta yang penuh limpahan berkah. Alam menyambutnya dengan limpahan berkah dan keselamatan lahir batin kepada seluruh makhluk yang melewati perempatan jalan itu. Itulah kodrat alam yang telah terbentuk dalam relung-relung hukum keadilan Tuhan.

Kembang

Atau bunga. Bermakna filosofis agar kita dan keluarga senantiasa mendapatkan “keharuman” dari para leluhur. Keharuman merupakan kiasan dari berkah-safa’at yang berlimpah dari para leluhur, dapat mengalir (sumrambah) kepada anak turunnya. Menurut pengalaman saya pribadi, masing-masing aroma bunga, dapat menjadi ciri khas masing-masing leluhur. Desa mawa cara, negara mawa tata. Beda daerah, beda masyarakatnya, beda leluhurnya, beda pula tradisi dan tata cara penghormatannya. Bahkan aroma khas bunga serta  berbagai jenis dedaunan  tertentu sering menjadi penanda bau khas salah satu leluhur kita. Bila bau harum bunga tiba-tiba hadir di sekitar anda, kemungkinan besar ada salah satu leluhur anda yang hadir di dekat anda berada.

Kembang  Setaman

Uborampe ini sangat fleksibel, cakupannya luas dan dimanfaatkan dalam berbagai acara ritus dan kegiatan spiritual. Kembang setaman versi Jawa terdiri dari beberapa jenis bunga. Yakni, mawar, melati, kanthil, dan kenanga. Lihat dalam gambar.

Adapun makna-makna bunga tersebut yang sarat akan makna filosofis adalah sbb :


1. Kembang KANTHIL, kanthi laku, tansah kumanthil

Atau simbol pepeling bahwa untuk meraih ngelmu iku kalakone kanthi laku. Lekase kalawan kas, tegese kas iku nyantosani  Maksudnya, untuk meraih ilmu spiritual serta meraih kesuksesan lahir dan batin, setiap orang tidak cukup hanya dengan memohon-mohon doa. Kesadaran spiritual tak akan bisa dialami secara lahir dan batin tanpa adanya penghayatan akan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari (lakutama atau perilaku yang utama). Bunga kanthil berarti pula, adanya tali rasa, atau tansah kumanthil-kanthil, yang bermakna pula kasih sayang yang mendalam tiada terputus. Yakni cirahan kasih sayang kepada seluruh makhluk, kepada kedua orang tuanya dan para leluhurnya. Bukankah hidup ini pada dasarnya untuk saling memberi dan menerima kasih sayang kepada dan dari seluruh makhluk. Jika semua umat manusia bisa melakukan hal demikian tanpa terkotak-kotak ragam “kulit” agama, niscaya bumi ini akan damai, tenteram, dan sejahtera lahir dan batinnya. Tak ada lagi pertumpahan darah dan ribuan nyawa melayang gara-gara masing-masing umat manusia (yang sesungguhnya maha lemah) tetapi merasa dirinya disuruh tuhan yang Maha Kuasa. Tak ada lagi manusia yang mengklaim diri menjadi utusanNya untuk membela tuhan Yang Maha Kuasa. Yaah, mudah-mudahan untuk ke depan tuhan tak usah mengutus-utus manusia membela diriNya. Kalau memang kita percaya kemutlakan kekuasaan Tuhan, biarkan tuhan sendiri yang membela diriNya, biarkan tuhan yang menegakkan jalanNya untuk manusia, pasti bisa walau tanpa adanya peran manusia! Toh tuhan maha kuasa, pasti akan lebih aman, tenteram, damai. Tidak seperti halnya manusia yang suka pertumpahan darah !! Seumpama membersihkan lantai dengan menggunakan lap yang kotor.

2. Kembang MLATHI, rasa melad saka njero ati.

Dalam berucap dan berbicara hendaknya kita selalu mengandung ketulusan dari hati nurani yang paling dalam. Lahir dan batin haruslah selalu sama, kompak, tidak munafik. Menjalani segala sesuatu tidak asal bunyi, tidak asal-asalan. Kembang melati, atau mlathi, bermakna filosofis bahwa setiap orang melakukan segala kebaikan hendaklah melibatkan hati (sembah kalbu), jangan hanya dilakukan secara gerak ragawi saja
.

3. Kembang KENANGA, Keneng-a!

Atau gapailah..! segala keluhuran yang telah dicapai oleh para pendahulu. Berarti generasi penerus seyogyanya mencontoh perilaku yang baik dan prestasi tinggi yang berhasil dicapai para leluhur semasa hidupnya. Kenanga, kenang-en ing angga. Bermakna filosofis agar supaya anak turun selalu mengenang, semua “pusaka” warisan leluhur berupa benda-benda seni, tradisi, kesenian, kebudayaan, filsafat, dan ilmu spiritual yang banyak mengandung nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom).

4. Kembang MAWAR, Mawi-Arsa

Dengan kehendak atau niat. Menghayati nilai-nilai luhur hendaknya dengan niat. Mawar, atau awar-awar ben tawar. Buatlah hati menjadi “tawar” alias tulus. Jadi niat tersebut harus berdasarkan ketulusan, menjalani segala sesuatu tanpa pamrih (tapa ngrame) sekalipun pamrih mengharap-harap pahala. Pahala tetap saja “upah” yang diharapkan datang dari tuhan apabila seseorang melakukan suatu perbuatan baik. Pamrih pahala ini tetap saja pamrih, berarti belum mencapai ketulusan yang tiada batas atau keadaan rasa tulus pada titik nihil, yakni duwe rasa, ora duwe rasa duwe (punya rasa tidak punya rasa punya) sebagaimana ketulusan tuhan/kekuatan alam semesta dalam melimpahkan anugrah kepada seluruh makhluk. Pastilah tanpa pamrih.

4.1. Mawar Merah

Mawar melambangkan proses terjadinya atau lahirnya diri kita ke dunia fana. Yakni lambang dumadine jalma menungsa melalui langkah Triwikrama. Mawar merah melambangkan ibu. Ibu adalah tempat per-empu-an di dalam mana jiwa-raga kita diukir. Dalam bancakan weton dilambangkan juga berupa bubur merah (bubur manis gula jawa).

4.2. Mawar Putih

Mawar putih adalah perlambang dari bapa yang meretas roh kita menjadi ada. Dalam lingkup makrokosmos, Bapanya adalah Bapa langit, Ibunya adalah Ibu Bumi. Bapanya jiwa bangsa Indonesia, Ibunya adalah nusantara Ibu Pertiwi.  Keduanya mencetak “pancer” atau guru sejati kita. Maka, pancer kita adalah pancerku kang ana sa ngisore langit, lan pancerku kang ana sa nduwure bumi.  Sang Bapa dalam bancakan weton dilambangkan pula berupa bubur putih (santan kelapa). Lalu kedua bubur merah dan putih, disilangkan, ditumpuk, dijejer, merupakan lambang dari percampuran raga antara Bapa dan Ibu. Percampuran ragawi yang diikat oleh rasa sejati, dan jiwa yang penuh cinta kasih yang mulia, sebagai pasangan hidup yang seiring dan sejalan. Perpaduan ini diharapkan menghasilkan bibit regenerasi  yang berkwalitas unggul. Dalam jagad makro, keselarasan dan keharmonisan antara bumi dan langit menjadukan keseimbangan alam yang selalu melahirkan berkah agung, berupa ketentraman, kedamaian, kebahagiaan kepada seluruh penghuninya. Melahirkan suatu negeri yang tiada musibah dan bencana, subur makmur, gemah ripah loh jinawi, tata titi tentrem kerta raharja.

Kembang Telon

Terdiri tiga macam bunga. Bisa menggunakan bunga mawar putih, mawar merah, dan kanthil. Atau mawar, melati, kenanga. Atau mawar, melati, kantil. Telon berasal dari kata telu (tiga). Dengan harapan agar meraih tiga kesempurnaan dan kemuliaan hidup (tri tunggal jaya sampurna). Sugih banda, sugih ngelmu, sugih kuasa.

Kembang Boreh, Putihan

Terdiri dari tiga macam bunga yang berwarna putih. Yakni kanthil, melati, dan mawar putih. Ditambah dengan “boreh” atau parutan terdiri dua macam rempah; dlingo dan bengle. Agar segala sesuatu selalu dalam tindak tanduk, perilaku yang suci murni. Karena putih di sini melambangkan kesucian dan ketulusan hati. Kembang telon bermakna pula sebagai pengingat agar supaya kita selalu eling dan waspada.

Kembang Tujuh Rupa

Berupa kembang setaman ditambah jenis bunga-bunga lainnya sampai berjumlah 7 macam. Lebih sempurna bila di antara kembang tersebut terdapat kembang wora-wari bang. Atau sejenis bunga sepatu yang wujudnya tidak mekar, tetapi bergulung/gilig memanjang (seperti gulungan bulat memanjang berwarna merah). Ciri lainya jika pangkal bunga dihisap akan terasa segar manis.  Kembang tujuh rupa, dimaksudkan supaya apa yang sedang menjadi tujuan hidupnya dapat terkabul dan terlaksana. Tujuh (Jawa; pitu) bermakna sebuah harapan untuk mendapatkan pitulungan atau pertolongan dari tuhan yang Mahakuasa.

Rujak Degan

Atau rujak kelapa muda. Degan supaya hatinya legan, legowo. Seger sumringah, segar bugar dengan hati yang selalu sumeleh, lega lila lan legawa. Hatinya selalu berserah diri pada tuhan, selalu sabar, dan tulus.

Dlingo dan Bengle

Keduanya termasuk rempah-rempah, atau empon-empon. Bengle bentuk luarnya mirip jahe. Tetapi baunya sangat menyengat dan bisa membuat puisng. Sedangkan dalamnya berwarna kuning muda. Karena baunya yangmblenger sehingga di Indonesia jenis rempah ini tidak digunakan sebagai bumbu masak. Sebaliknya di negeri Thailand rempah ini termasuk sebagai bumbu masak utama. Entah apa sebabnya, bengle dan dlingo merupakan rempah yang sangat tidak disukai oleh bangsa lelembut. Sehingga masyarakat Jawa sering memanfaatkannya sebagai sarana penolak bala atau gangguan berbagai makhluk halus. Anda dapat membuktikannya secara sederhana. Bila ada orang gila yang dicurigai karena ketempelansawan. mahluk halus, atau jika ada seseorang sedang kesurupan, coba saja anda ambil bengle, atau parutan bengle, lalu oleskan di bagian tubuhnya mana saja, terutama di bagian tengkuk. Anda akan melihat sendiri bagaimana reaksinya. Biasanya ia akan ketakutan atau berteriak histeris lalu sembuh dari kesurupan. Dalam tradisi Jawa, jika ada orang meninggal dunia biasanya disiapkan parutan bengle dicampur dengan sedikit air digunakan sebagai pengoles bagian belakang telinga. Gunanya untuk menangkal 

Bahkan pengalaman saya pribadi, setiap hidung ini mencium bau bengle, menandakan ada seseorang yang berada di dekat saya waktu itu, yang akan meninggal dunia.

Dlingo bengle, walaupun keduanya sangat berbeda bentuk dan rupanya, tetapi baunya seolah matching, sangat serasi dan sekilas baunya hampir sama. Dlingo dan bengle ebrmanfaat pula sebagai sarana memasaang pagar gaib di lingkungan rumah tinggal. Dengan cara ; dlingo dan bengle ditusuk bersama seperti sate, lalu di tanam di setiap sudut pekarangan atau rumah.

Begitulah pelajaran berharga yang kini sering dianggap remeh bagi yang merasa diri telah suci dan kaya pengetahuan. Di balik semua itu sungguh memuat nilai adiluhung sebagai “pusaka” warisan leluhur, nenek moyang kita, nenek moyang bangsa ini sebagai wujud sikapnya yang bijaksana dalam memahami jagad raya dan segala isinya. Doa tak hanya diucap dari mulut. Tetapi juga diwujudkan dalam bergai simbol dan lambang supaya hakekat pepeling/ajaran yang ada di dalamnya mudah diingat-ingat untuk selalu dihayati dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Ajaran adiluhung yang di dalamnya penuh arti, sarat dengan filsafat kehidupan. Kaya akan makna alegoris tentang moralitas dan spiritualitas dalam memahami jati diri alam semesta, jagad nusantara, serta jagad kecil yang ada dalam diri kita pribadi.

Tangguh Keris

Tangguh keris
Ilmu tangguh adalah pengetahuan (kawruh) untuk memperkirakan jaman pembuatan keris, dengan cara meneliti ciri khas atau gaya pada rancang bangun keris, jenis besi keris dan pamornya.
Tangguh
Tangguh arti harfiahnya adalah perkiraan atau taksiran. Dalam dunia perkerisan maksudnya adalah perkiraan zaman pembuatan bilah keris, perkiraan tempat pembuatan, atau gaya pembuatannya. Karena hanya merupakan perkiraan, me-nangguh keris bisa saja salah atau keliru. Kalau sebilah keris disebut tangguh Blambangan, padahal sebenarnya tangguh Majapahit, orang akan memaklumi kekeliruan tersebut, karena bentuk keris dari kedua tangguh itu memang mirip. Tetapi jika sebuah keris buatan baru di-tangguh keris Jenggala, maka jelas ia bukan seorang ahli tangguh yang baik.
Walaupun sebuah perkiraan, tidak sembarang orang bisa menentukan tangguh keris. Untuk itu ia perlu belajar dari seorang ahli tangguh, dan mengamati secara cermat ribuan bilah keris. Ia juga harus memiliki photographic memory yang kuat.
Dalam catatan kuno, dituliskan ciri-ciri secara tertulis. Notasi itu meyakini akan adanya sebuah gaya atau langgam dari setiap kerajaan. Artinya pada jaman Majapahit diyakini kerisnya memiliki beberapa ciri gaya atau langgam yang seragam. Begitu pula jaman kerajaan Mataram dan seterusnya jaman kerajaan Surakarta Hadiningrat diyakini memiliki gayanya masing-masing.
Keyakinan terhadap bahan besi dan pamor juga menjadi panduan dalam ilmu tangguh ini.
Adapun pembagian tahapan-tahapan zaman itu adalah sebagai berikut:
1. Kuno
(Budho) tahun 125 M – 1125 M
meliputi kerajaan-kerajaan: Purwacarita, Medang Siwanda, Medang Kamulan, Tulisan, Gilingwesi, Mamenang, Pengging Witaradya, Kahuripan dan Kediri.
2. Madyo Kuno
(Kuno Pertengahan) tahun 1126 M – 1250 M.
Meliputi kerajaan-kerajaan : Jenggala, Singosari, Pajajaran dan Cirebon.
3. Sepuh Tengah
(Tua Pertengahan) tahun 1251 M – 1459 M
Meliputi Kerajaan-kerajaan : Jenggala, Kediri, Tuban, Madura, Majapahit dan Blambangan.
4. Tengahan
(Pertengahan) tahun 1460 M – 1613 M
Meliputi Kerajaan-kerajaan : Demak, Pajang, Madiun, dan Mataram
5. Nom
(Muda) tahun 1614 M – 1945
Meliputi Kerajaan-kerajaan : Kartasura dan Surakarta.
6. Kamardikan 1945 hingga seterusnya.
Adalah keris yang diciptakan setelah Indonesia merdeka, 1945.
Pada waktu itu pun raja di Surakarta Hadiningrat ke XII mendapat julukan Sinuhun Hamardika. Keris yang diciptakan pada era ini masuk dalam penggolongan keris kamardikan.
Tangguh merupakan seni yang digandrungi oleh komunitas pecinta keris, karena disini terletak suatu seni dalam nilai kemampuan; semacam uji kemampuan dari sesama penggemar keris. Tangguh juga menjadi sebuah nilai pada harga sebilah keris … sesuai trend yang ada dari masa ke masa.
Tangguh dalam kamus bahasa Jawa (S. Prawiroatmodjo) diartikan sebagai ’boleh dipercaya’, ’tenggang’, ’waktu yang baik’, ’sangka’, ’persangkaan’, ’gaya’, ’lembaga’, ’macam’ (keris).
Namun demikian, tuntutan modernitas dan keinginan yang kritis (sisi ilmiah) masa kini, tangguh dituntut menjadi pasti (exact), artinya ilmu tangguh akan bergeser menyesuaikan jaman untuk dapat melengkapi salah satu kriteria dalam melakukan sertifikasi sebilah keris. Tuntutan ini adalah hal yang realistik karena generasi muda tak lagi menyanjung ’sesepuh’ yang belum tentu memiliki wawasan yang benar. Penyanjungan sesepuh adalah ciri etnografis dari budaya paternalistik dalam sub kultur Jawa (Nusantara). Namun demikian ’ilmu tangguh’ harus tetap dipertahankan keberadaannya, kepercayaan pada sesepuh akan bergeser pada sertifikasi suatu badan bahkan mungkin institusional berskala nasional.
Dalam sisi pandang yang kritikal pada abad modern ini, tangguh menjadi sebuah rangsangan baru untuk meneliti secara lebih pasti, betul dan tepat (exact) menentukan sebilah tangguh keris. Maka tingkat pengetahuan yang tertuang pada masa dulu melalui catatan, buku dan naskah kuno menjadi sebuah catatan yang masih kurang memenuhi hasrat keingin-tahuan perkerisan pada saat sekarang. Catatan atau buku kuno tidak melampirkan contoh sketsa atau foto apa yang dimaksudkan pada uraiannya. Tulisan kuno tentang tangguh juga belum bisa menjamin si penulis adalah orang mengetahui keris, bisa jadi penulis adalah seorang pujangga yang menulis secara puitis, karena waktu itu memang tidak memiliki target bahwa tulisannya akan menjadi sebuah kawruh yang meningkat menjadi ilmu seni menangguh.
Ilmu tangguh sering menjadi sebuah polemik, karena terkendala oleh banyak hal, antara lain; kendala wawasan, kendala tempat (domisili atau keberadaan), kendala oleh narasumber yang sebetulnya berskala lokal, kendala oleh karena minat atau selera pada jenis keris dan banyak sekali hal-hal yang memancing perdebatan.
Salah satu cara untuk membangun sebuah ”ilmu tangguh” yang representatif tentu harus melakukan pendataan dan penelitian ulang, salah satunya adalah dengan meneliti penyesuaian antara keris penemuan (artefak) dengan situsnya (geografis); meneliti dan mengkaji ulang catatan kuno dan memperbandingkannya satu buku dengan buku yang lain. Saat ini pun di perpustakaan keraton masih banyak sumber yang dapat menjadi referensi, baik buku-buku bahkan contoh keris berserta kekancingannya.

Dibawah ini ciri-ciri sebuah keris dan tangguhnya :

Struktur besi pada keris
struktur besi



Singosari

Pajajaran

Majapahit
Penging, majapahit



kediri

- Nom-Noman
Nom-noman

Ada beberapa tangguh keris diantaranya :
1. Tangguh Segaluh (Abad 12)
2. Tangguh Pajajaran (Abad 12)
3. Tangguh Kahuripan (Abad 12)
4. Tangguh Jenggala (Abad 13)
5. Tangguh Singasari (Abad 13)
6. Tangguh Majapahit (1294-1474)
7. Tangguh Madura (1294-1474, Era Invansi Kerajaan Majapahit)
8. Tangguh Blambangan (1294-1474, Era Invansi Kerajaan Majapahit)
9. Tangguh Sedayu (1294-1474, Era Invansi Kerajaan Majapahit)
10. Tangguh Tuban (1294-1474, Era Invansi Kerajaan Majapahit)
11. Tangguh Sendang (1294-1474, Era Invansi Kerajaan Majapahit)
12. Tangguh Pengging (1475-1479)
13. Tangguh Demak (1480-1550)
14. Tangguh Pajang (1551-1582)
15. Tangguh Madiun (Abad 16)
16. Tangguh Koripan (Abad 16)
17. Tangguh Mataram (1582-1749)
a) Panembahan Senapati – Sutawijaya (1582-1601)
b) Panembahan Seda Krapyak – Mas Jolang (1601-1613)
c) Sultan Agung – R.M. Rangsang (1613-1645)
d) Amangkurat I – Seda Tegal Arum (1645-1677)
e) Amangkurat II (1677-1703)
f) Amangkurat III – Sunan Mas (1703-1705)
g) Paku Buwono I – Sunan Puger (1705-1719)
h) Amangkurat IV – Sunan Prabu (1719-1725)
i) Paku Buwono II (1725-1749)
18. Tangguh Cirebon (Abad 16)
19. Tangguh Surakarta (1749-sekarang)
a) Paku Buwono III (1749-1788)
b) Paku Buwono IV (1788-1820)
c) Paku Buwono V (1820-1823)
d) Paku Buwono VI (1823-1830)
e) Paku Buwono VII (1830-1858)
f) Paku Buwono VIII (1858-1861)
g) Paku Buwono IX (1861-1893)
h) Paku Buwono X (1893-1939)
i) Paku Buwono XI (1839-1944)
j) Paku Buwono XII (1944-sekarang)
20. Tangguh Yogyakarta (1755-sekarang)
a) Hamengku Buwono I – P. Mangkubmi (1755-1792)
b) Hamengku Buwono II – Sultan Sepuh (1792-1810)
c) Hamengku Buwono III (1810-1814)
d) Hamengku Buwono IV (1814-1822)
e) Hamengku Buwono V (1822-1855)
f) Hamengku Buwono VI (1855-1877)
g) Hamengku Buwono VII (1877-1921)
h) Hamengku Buwono VIII (1921-1939)
i) Hamengku Buwono IX (1939-1990)
j) Hamengku Buwono X (1990-sekarang)
Sedangkan Bambang Harsrinuksmo dalam bukunya Eksiklopedi Budaya Nasional. Keris dan senjata tradisional Indonesia lainnya memabagi Tangguh / periodesasi Jaman pembuatan keris di Pulau Jawa , mambagi menjadi 20 masa / tangguh. Diantaranya
1. Jaman Kabudan (Abad 6-9)
2. Kahuripan (Abad 11 an)
3. Jenggala (Abad pertengahan 11)
4. Singasari (Abad pertengahan 11)
5. Madura Tua (Abad 12-14)
6. Pajajaran (Abad 12-14)
7. Segaluh (Abad 13 an)
8. Tuban (Abad 12-18)
9. Blambangan (Abad 12-13)
10. Majapahit (Abad 13-14)
11. Pengging Witaradya (Abad 13 an)
12. Demak (Abad 14 an)
13. Pajang (Abad 14 an)
14. Mataram Senopaten (Abad 14-15)
15. Mataram Sultan Agung (Abad 16)
16. Mataram Amangkurat (Abad 17)
17. Kartasura (Abad 18)
18. Surakarta (1726 – 1945)
19. Yogyakarta (1755 – 1945)
20. Republik Indonesia / Kamardikan (1945 – )
Ada lagi sebuah periode keris yang amat mudah di-tangguh, yakni tangguh Buda. Keris Buda mudah dikenali karena bilahnya selalu pendek, lebar, tebal, dan berat.
Keris Buda dan tangguh kabudan, walaupun di kenal masyarakat secara luas, tidak dimasukan dalam buku buku yang memuat soal tangguh. Mungkin, karena dapur keris yang di anggap masuk dalam tangguh Kabudan dan hanya sedikit, hanya dua macam bentuk, yakni jalak buda dan betok buda.

Sisi kegaiban pusaka

sisi kegaiban dan tuah keris tombak dll adalah sesuatu yang menyatu dan ada di dalam sebuah keris. Kita hanya perlu untuk menjaga hubungan batin dan penyatuan keris dengan kita sebagai pemiliknya, karena keris itu "hidup" dan bisa menjadi "teman perjalanan" kita.
Jadikanlah mereka sebagai teman dari alam gaib. Dengan demikian kita juga dituntut untuk menjadi teman bagi mereka, diharapkan kita juga memperhatikan mereka dan bisa secara batin berinteraksi dengan mereka, jangan hanya sekedar menginginkan tuahnya saja, mengharapkan mereka bekerja seperti pesugihan.
Jangan mengkondisikan hati dan pikiran kita untuk bergantung kepada tuah mereka. Tuah dari khodam atau benda gaib adalah sesuatu yang intrinsik ada dari keberadaan mereka, kita hanya perlu mengsugesti mereka saja untuk memberikan tuahnya, sama seperti seorang teman yang memberikan bantuan dan perhatiannya kepada kita. Sesudahnya kita tidak perlu bergantung kepada tuah mereka. Karena seharusnya yang bekerja, yang sakti, yang ampuh bertuah adalah kita sendiri, mereka hanya membantu melengkapi kekurangan kita, jangan malah kita yang bergantung kepada tuah mereka.
Jangan kita pasif menunggu dan berharap mereka akan bekerja sendiri memberikan tuahnya seolah-olah tuah mereka sama dengan tuah pesugihan. Jadi kita sendiri harus tetap bekerja. Mereka bersifat membantu kelancaran dan keberhasilan usaha dan pekerjaan kita dan membantu menjauhkan kita dari kesulitan. Di sisi lain kita tetap harus dekat secara batin dan mengsugesti supaya khodam  kita membantu kelancaran dan keberhasilan semua pekerjaan dan usaha kita. Kita sendiri harus selalu bisa peka rasa untuk selalu bisa "mendengarkan" bisikan dari mereka dalam bentuk ide dan ilham yang mengalir di pikiran kita (dan mimpi) dan tanggap firasat, peka sasmita, dan waspada jangan sampai kita sendiri yang masuk ke dalam kesulitan.

Hari Baik dan Hari Buruk

            Dalam kehidupan masyarakat Jawa yang masih memegang budaya dan kepercayaan tradisional dikenal adanya istilah ‘hari baik’ dan ‘hari buruk’. Maksudnya, ada suatu kepercayaan bahwa hari-hari dalam kehidupan manusia mempunyai pengaruh kegaiban tertentu bagi manusia, ada yang pengaruhnya baik, ada yang pengaruhnya buruk, dan pengaruh tersebut dapat berpengaruh terhadap kehidupan manusia secara jangka panjang. Dalam melakukan sesuatu perbuatan yang bersifat penting, biasanya orang jawa akan menyesuaikan waktu dan hari pelaksanaannya, supaya hasilnya baik seperti yang diharapkan dan tidak ada nasib buruk yang dialami di belakang hari. Misalnya, yang akan pindah rumah atau bepergian jauh akan menghindari hari Jum'at dan Sabtu, karena hari Jum'at banyak yang rusuh, banyak masalah, banyak perselisihan, dan hari Sabtu banyak naas, nasib buruk dan musibah.

Ada juga dalam budaya Jawa konsep ilmu petungan (perhitungan), yang melibatkan alam pemikiran makro dan mikrokosmos, jagad gedhe dan cilik, alam semesta dan diri manusia. Petungan bukan dibuat atas dasar tahayul, tetapi karena titen, mengamati dan memahami alam, sehingga muncullah konsep pranata mangsa, ilmu tentang ramalan cuaca, yang sehari-harinya banyak digunakan sebagai patokan hari untuk rencana menanam padi dan panenan.


Sifat-sifat hari yang akan disebut di bawah ini bersifat tidak mutlak, karena dipengaruhi juga oleh hari pasaran (pon, pahing, wage, legi dan kliwon), jam (pagi, siang, malam), dan wukunya (mingguannya), dsb. Tetapi Penulis tidak akan menuliskan tentang pengaruh lainnya itu, karena tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang itu. Kami juga tidak akan membahas lebih daripada tulisan ini, misalnya tentang perjodohan, dsb.

Sebagai catatan, dalam penanggalan Jawa, hari dimulai pada pukul 5 sore dan akan berakhir pada pukul 5 sore hari berikutnya. Berarti hari Senin dimulai pada hari Minggu pk.5 sore dan berakhir pada hari Senin pk.5 sore.

Hari Senin pk.6 sore (mahgrib) berarti sudah masuk hari Selasa. Menurut penanggalan Jawa, hari Senin pk.6 sore, hari itu sudah masuk hari Selasa, karena sudah melewati hari Senin pk.5 sore.

Hitungan hari mulai berlakunya pengaruh hari menurut penanggalan jawa ini, tidak semata-mata secara formal ditentukan oleh hari atau tanggal di dalam penanggalan jawa, tetapi terutama ditentukan oleh suasana batin yang mengsugesti orang-orang yang bersangkutan.

Misalnya, hari seseorang memulai usaha warung / toko tidak semata-mata ditentukan oleh hari saat seseorang mengisi tokonya dengan barang-barang dagangan atau hari saat pertama membuka tokonya. Tetapi lebih ditentukan oleh suasana batin kapan orang tersebut merasa mulai berdagang atau berjualan.

Begitu juga dengan perkawinan, tidak semata-mata ditentukan oleh hari saat seseorang melamar, ijab kabul atau hari resepsi perkawinannya. Tetapi lebih ditentukan oleh suasana batin kapan orang-orang tersebut merasa telah resmi menjadi suami-istri.

Hari seseorang pindah rumah tidak ditentukan saat seseorang memindahkan barang-barang lamanya ke rumahnya yang baru atau hari saat pertama dia tidur di rumahnya yang baru. Tetapi lebih ditentukan oleh suasana batin kapan orang tersebut merasa sudah pindah ke rumahnya yang baru. Biasanya dimulai saat perlengkapan tidur sudah dipindahkan, sudah tidur di rumahnya yang baru, sudah merasa pindah ke rumah yang baru dan tidak lagi memikirkan rumah yang lama.

Pengaruh hitungan hari menurut penanggalan jawa ini berlaku untuk orang Jawa di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan orang Bali di pulau Bali. Untuk masa sekarang, orang Jawa yang sudah tidak tinggal di Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan orang Bali yang sudah tidak tinggal di Bali, pengaruhnya terhadap mereka sedikit (masih berpengaruh tetapi kadarnya kecil). Kecuali mereka masih meyakininya di dalam hatinya, maka pengaruhnya terhadap mereka tetap besar, karena mereka meng-sugesti dirinya begitu.


Watak Hari untuk memulai usaha :

  Hari Senin    :  hari yang baik untuk semua keperluan.

  Hari Selasa  :  awalnya baik, tetapi hal-hal yang baik waktunya pendek, yang tidak baik lebih panjang.

  Hari Rabu    :  baik untuk semua keperluan, tetapi tidak sebaik hari Senin.

  Hari Kamis   :  hari yang keras. Usaha dan perkawinan akan banyak kesulitannya.

  Hari Jum’at   :  hari yang ‘panas’.  Usaha dan perkawinan akan banyak gangguan dan keributan / pertengkaran.

  Hari Sabtu    :  hari yang berat untuk semua urusan. Usaha dan perkawinan akan banyak kesulitan, penyakit,                                naas, kecelakaan, musibah, dsb.

  Hari Minggu  :  hari yang netral untuk semua urusan.

Sebaiknya memulai usaha tidak dilakukan pada malam hari, karena banyak pengaruh jeleknya. Hari masih malam, belum waktunya bekerja. Akan banyak mendapatkan halangan dan kesulitan. Seringkali walaupun sudah berusaha keras, hasil yang didapat tidak sebanding dengan kerasnya usahanya.
Sebaiknya memulai usaha dilakukan pada pagi hari, karena banyak pengaruh energi positif, sehingga usaha dan pekerjaan dapat berjalan lebih lancar.
Usaha yang dimulai pada siang hari akan lebih banyak mendapatkan kesulitan dan halangan dibanding pagi hari.
Usaha yang dimulai pada sore hari akan lebih banyak lagi mendapatkan kesulitan dan halangan dibanding siang hari.

Bulan Besar atau Bulan Haji adalah bulan yang paling baik untuk semua keperluan, untuk memulai usaha, pindah rumah atau pun perkawinan.

Bulan Sura (Suro) adalah bulan yang paling  tidak baik  untuk semua keperluan, untuk memulai usaha, pindah rumah atau pun perkawinan. Paling baik digunakan untuk upaya bersih diri dan lingkungan.

Bulan Maulid adalah bulan yang paling baik untuk ritual pembersihan diri, untuk ruwatan nasib / sengkolo, menjamas keris, mandi kembang, dsb.


Watak Hari Kelahiran :

Hari Senin    :  dibanding hari kelahiran lainnya, yang lahir pada hari Senin lebih mudah dan lebih lancar dalam

                      semua urusan-urusannya. Lebih banyak peruntungannya dan banyak hal-hal baik yang sifatnya

                      kebetulan.

Hari Selasa  :  banyak peruntungannya. Tetapi hal-hal yang baik dalam hidupnya pada mulanya banyak, lebih

                      banyak daripada orang lain, tetapi pada akhirnya banyak kemalangan atau nasib jelek. Banyak

                      susahnya daripada senangnya. Awalannya baik, tetapi semua yang baik waktunya pendek, yang

                      kurang baik lebih panjang. Kalau sedang bernasib baik, jangan sampai membuat tindakan yang

                      menyebabkan peruntungannya menjadi jelek.

Hari Rabu    :   lancar dalam semua urusan-urusannya, tetapi tidak sebaik kelahiran hari Senin. Lebih cocok bila

                      bekerjanya mengikut kepada orang lain (menjadi karyawan / pegawai).

Hari Kamis   :  yang lahir pada hari Kamis harus lebih banyak bekerja keras, supaya apa yang diusahakan dapat

                      mencapai hasil seperti yang diinginkan, karena banyak kesulitannya, terutama dari lingkungannya.

Hari Jum’at  :   berwatak ‘panas’, cerewet.  Hidupnya banyak "urusan". Tetapi urusan rejeki juga banyak

                      peluangnya. Harus pintar menjaga hubungan dengan orang lain, karena akan dapat menjadi batu

                      sandungan.

Hari Sabtu   :   berwatak keras. Hidupnya berat dan keras dalam semua urusan.

                      Banyak kesulitan dan nasib jelek. Banyak hambatan dari lingkungan.

                      Harus lebih banyak bekerja keras. Kadangkala walaupun sudah bekerja keras, hasilnya tidak

                      sebaik yang diinginkan.

Hari Minggu :   netral dalam semua urusan.

                      Kalau mau bekerja keras, hasil yang didapat akan sesuai dengan yang diinginkan.



Orang yang lahir pada pagi hari biasanya kehidupannya lebih lancar, tidak banyak mendapatkan halangan dan kesulitan dalam urusan-urusannya.
Orang yang lahir pada siang hari biasanya kehidupannya lebih banyak mendapatkan halangan dan kesulitan, dibanding kelahiran pagi hari, terutama dari lingkungannya berada.
Orang yang lahir pada sore hari biasanya kehidupannya lebih banyak lagi mendapatkan halangan dan kesulitan, terutama dari lingkungannya berada. Harus lebih keras berusaha.
Orang yang lahir pada malam hari biasanya kehidupannya banyak mendapatkan halangan dan kesulitan. Harus bekerja lebih keras. Seringkali walaupun sudah berusaha keras, hasil yang didapat tidak sebanding dengan kerasnya usahanya. Tetapi yang lahir pada malam hari biasanya memiliki insting, intuisi dan kepekaan batin yang lebih, dibanding yang lahir pada waktu lain yang berbeda.




Latar Belakang Kegaiban Hari

Di dalam kehidupan mahluk halus, banyak di antara mereka yang hidup dalam suatu komunitas tertentu yang memiliki pemimpin sebagai raja atau sosok penguasa di dalam komunitas tersebut. Para penguasa itu memiliki rakyat atau bawahan yang harus melaksanakan semua perintah pemimpinnya.  Bila perintah sang penguasa tidak dapat dilaksanakan, maka hukuman akan menanti mereka. Pancaran aura energi dari suasana batin para mahluk halus itulah yang mempengaruhi manusia secara fisik maupun psikologis dan pengaruhnya itu dapat berdampak jangka panjang, karena auranya akan menyatu dengan aura sukma manusia.

Biasanya aktivitas mereka dalam menjalankan tugasnya dimulai pada hari Senin pagi dan diakhiri pada hari Jum’at sore.

Pada hari Senin pagi mereka 'turun ke lapangan'. Mereka bersemangat. Mereka memancarkan aura yang baik bagi manusia.

Pada hari Selasa ada saja yang merasa kesal, mungkin karena pada hari Senin ada usaha mereka yang tidak berhasil. Ada di antara mereka yang memancarkan aura yang tidak baik bagi manusia.

Pada hari Rabu kondisi kembali tenang. Tetapi mereka mulai berhati-hati, karena batas waktu mereka semakin pendek.

Pada hari Kamis mereka sudah harus bergegas menyelesaikan tugasnya, karena waktunya semakin pendek. Mereka harus bisa mengatasi halangan dan hambatan pekerjaannya. Mereka memancarkan hawa aura yang keras secara psikologi manusia.

Pada hari Jum’at banyak di antara mereka yang marah dan panik, karena tugasnya belum selesai, sedangkan pada sore hari mereka harus kembali ke komunitasnya. Mereka memancarkan hawa yang panas bagi psikologi manusia, menyebabkan manusia mudah marah, benci dan bertengkar / rusuh.

Hari Sabtu adalah hari terakhir mereka di ‘lapangan’, selesai atau tidak selesai pekerjaan mereka, pada sore harinya mereka harus kembali ke komunitasnya. Hukuman sudah menunggu mereka, apalagi bila pekerjaannya belum selesai. Mereka diliputi rasa marah, putus asa, kebencian, ingin mengamuk, dsb, apalagi bila melihat ada mahluk halus lain atau manusia yang bersenang-senang, atau menyelenggarakan hajatan, bepergian, dsb. Pada hari Sabtu itu mereka memancarkan hawa yang berat secara psikologi manusia, hawa penyakit dan kematian, kesialan, nasib jelek, keputus-asaan, dsb.  Bila bertemu dengan manusia yang sedang bepergian dengan berkendaraan, mungkin saja dengan sengaja mereka akan mencelakakannya.

Pada hari Minggu mereka sudah bebas dari semua urusan pekerjaan.

Bila kekuatan aura batin manusia cukup kuat, maka pengaruh pancaran aura para mahluk halus tersebut hanya akan berdampak kecil. Sebaliknya, bila kekuatan aura batin manusia lemah, maka pengaruh pancaran aura para mahluk halus tersebut akan berdampak dominan dalam kehidupan manusia yang bersangkutan. Tetapi aura batin seseorang kuat ataupun lemah, seandainya dalam kehidupannya dia tidak dapat merubah pengaruh aura negatif menjadi aura positif, misalnya dia menjadi kesal, marah, stress, depresi, atau larut dalam permasalahan hidup, dsb, maka kekuatan aura batinnya itu justru akan memperparah ke-negatif-an dalam dirinya, sehingga jalan hidupnya akan semakin buruk dan terpuruk, sedikit peruntungannya, banyak kesulitan, dan sulit untuk memperbaiki derajat.

Pengaruh negatif dari pancaran aura batin dan aura mahluk halus tersebut dapat dicoba diakali dengan suatu laku untuk membersihkan aura batin. Misalnya diawali dengan mandi keramas, kemudian berendam / mandi kembang setaman / kembang tujuh rupa. Dilakukan dengan guyuran dari atas kepala hingga basah seluruh tubuh. Dengan cara ini diupayakan supaya aura dari kembang-kembang tersebut menyelaraskan aura-aura negatif di dalam tubuh agar menjadi positif. Berguna untuk membantu mempermudah jalan hidup, dan membuang kesulitan-kesulitan yang berasal dari aura negatif di dalam tubuh.