1 Des 2014

KERIS MPU SUPAGATI DIBURU PEJABAT DAERAH HINGGA PUSAT



Kayangan Api merupakan salah satu satu tempat wisata yang ada di Bojonegoro. Tempat wisata ini berada di Desa Sendang Harjo,  Kecamatan Ngasem yang berada di tengah-tengah hutan jati dan terletak sekitar 15 kilometer selatan Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Memasuki lokasi Kayangan Api, terlihat  gapura, yang seolah menyambut pengujung. Lebih ke dalam tampak berdiri jajaran tiang. Di tengah tiang tersebut terdapat sebuah lingkaran batu. Dari lingkaran itu menguap gelombang panas, sementara api unggun berwarna kuning kemerahan menari-nari tertiup angin.
Sayangnya, cahaya api itu tidak terlalu terlihat jika pengunjung kebetulan mendatangi tempat ini pada siang hari. Lain lagi jika datang pada malam hari, tentu akan terlihat api yang  menari-nari seperti seorang tayub yang merupakan ciri khas kesenian rakyat Bojonegoro.
Pada siang hari, wisatawan banyak didominasi oleh kaun muda-mudi dan rombongan keluarga yang terdiri dari anak-anak hingga orangtua. Tak hanya ingin menikmati uniknya Kayangan Api, para wisatawan ada juga yang sampai nekad masuk ke dalam tungku api raksasa tersebut sampai beberapa lama. Mereka biasanya masuk dengan bertelanjang dada dan kakinya beralaskan sendal atau sepatu supaya tidak terbakar atau kepanasan.
Setelah beberapa menit berada di atas api, tubuh orang yang berada di atas Kayangan Api biasanya akan dipenuhi keringat. Tak cuma sekali, ada juga yang mengulangi hal itu sampai beberapa kali. Setelah selesai, rata-rata mereka mengaku badannya terasa segar. Konon, dari aksi ini ada yang percaya bisa menyembuhkan beberapa penyakit atau paling tidak badan terasa lebih enak dari sebelumnya.
Menurut sejarah dari masyarakat setempat, Kayangan Api merupakan petilasan seorang mpu pembuat keris pada zaman Kerajaan Majapahit. Karena suatu hal, mpu pembuat keris itu mengasingkan diri di sekitar tempat itu. Mpu yang bernama samaran Ki Kriya Kusuma yang bernama asli Mpu Supagati ini sebenarnya adalah seorang mpu pembuat keris yang terkenal di pusat Kerajaan Majapahit.
Di tempat pengasingannya inilah Ki Kriya Kusuma melakukan tapa sambil menekuni profesinya sebagai ahli pembuat keris. Di dalam pengasingannya, Mpu Supagati berhasil membuat sebuah keris yang terkenal dan diberi nama 'Dapur Jangkung Luk Telu Blong Pok Gonjo' yang kini menjadi pusaka Kabupaten Bojonegoro.
Konon, sebenarnya tak hanya sebilah keris yang berhasil dibuat oleh Mpu Supa. Namun, keris-keris itu jumlahnya ada beberapa buah dan belum semuanya diwariskan kepada orang-orang yang pernah mempunyai hubungan dengannya. Karena kepercayaan itulah maka tak heran bila ada pelaku spiritual yang rela bersusah-susah payah lelaku di tempat itu.
Salah satu tempat yang paling banyak digunakan untuk semedi adalah sebuah pohon yang letaknya hanya beberapa meter dari munculnya Kayangan Api. Sisa-sisa bekas dupa atau pembakaran kemenyan saat LIBERTY mengunjungi tempat itu masih terlihat dengan jelas.
“Ada yang berhasil, namun ada juga yang pulang dengan tangan hampa meski sudah berhari-hari lelaku di tempat ini,” ujar Mbah Juli, juru kunci Kayangan Api sudah menjadi perawat tempat ini sejak 1978.
Menurut Mbah Juli, mereka yang datang tak hanya orang biasa. Namun, ada pula pejabat, baik pejabat daerah atau yang datang dari Jakarta. Katanya, mereka sedang memburu keris yang dianggap cocok untuk memenangkan pemilihan.
Mbah Juli menambahkan bahwa tidak ada ritual khusus yang harus dilakukan seorang peziarah agar bisa mendapatkan keris buatannya Mpu Supo. Pelaku biasanya berpuasa sampai beberapa hari, tidak tidur, dan dalam hatinya tentu saja mengungkapkan keinginannya agar diberi piadel yang menjadi keinginannya.

Sembuhkan Penyakit
Selain terdapat sumber api abadi, di sekitar lokasi tersebut juga terdapat semburan air bercampur lumpur yang mengandung belerang. Namun, semburan tersebut tidak membahayakan masyarakat maupun daerah yang berada di sekitar lokasi.
"Air blukuthuk ini dulunya untuk mencuci atau merendam keris yang di buat Mpu Supagati", kata Juru kunci Kayangan Api, Pak Juli.
Bahkan oleh masyarakat sekitar maupun pengunjung lokasi wisata tersebut, dianggap membawa berkah. Karena selain dapat mengobati penyakit juga dianggap dapat membawa keberuntungan bagi mereka yang datang untuk meminta sesuatu. Untuk media penyembuhan, air blukhtuk tersebut cukup dioleskan ke bagian tubuh yang sakit, dengan cara seperti ini insaallah sakit yang diderita seseorang akan bisa disembuhkan.
Meski begitu, Mbah Juli mengatakan bahwa air blukhutuk tersebut jangan dianggap sebagai penyembuh, namun hanya sebagai perantara saja. Sebab, yang menyembuhkan menurut Mbah Juli tetap saja Tuhan Yang Maha Kuasa.
"Selain meminta kesembuhan dari air blukuthuk, masyarakat yang datang kesini juga melakukan tirakat dengan bertapa di dekat lokasi api abadi," ujar Pak Juli.
Hingga saat ini lokasi wisata yang berada di tengah hutan jati ini masih banyak meninggalkan berbagai misteri. Mbah Juli sering melihat harimau besar warna putih, namun kemunculannya cuma sekilas saja lalu menghilang. Konon, harimau putih tersebut adalah peliharaan Mpu Supagati. Beberapa kali, Mbah Juli juga pernah melihat lelaki tua berjanggut putih yang cukup panjang yang diyakini sebagai Mpu Supagati sendiri.

Wanita Cantik
Tak jauh dari Air Blukhutuk, ada pula pohon yang langka dengan akar-akarnya membentuk atau menyerupai pintu gerbang. Pohon itu menurut Mbah Juli usianya sudah ratusan tahun.
Konon pula, di tempat itu berdiam dua orang putri cantik anak gadis Mpu Supo atau yang bernama lain Ki Kriya Kusuma yang bernama Sri Wulan dan Siti Sundari. Orang yang melakukan lelaku biasanya menyepi atau meditasi di sekitar pohon ini. Bekas-bekas orang yang melakukan ritual masih bisa terlihat dengan jelas dari sisa-sisa ubo rampe yang dibawanya.
Dalam meditasi, tak jarang Sri Wulan dan Siti Sundari, penampakan dirinya. Wujudnya bukan sebagai wanita cantik, namun macam-macam. Ia terkadang bisa berwujud sebagai dua ekor ular, wanita yang sangat menyeramkan, dan sebagainya. Ini dilakukan untuk menguji seberapa keseriusan orang yang melakukan meditasi.
Namun, jika memang niat peziarah sudah baik, ia langsung bisa ditemui kedua putri ini dalam wujud aslinya yang cantik sekali. Jika peziarah bisa ditemui putri ini dalam wujud aslinya, ada anggapan bahwa itu merupakan perlambang bahwa niat peziarah akan terkabulkan. Meski begitu, sekali lagi tidak semua orang bisa bertemu dengannya jika tidak memiliki niat yang tulus dan hati yang bersih dalam lelaku spiritualnya.
Mbah Juli mengatakan bahwa orang yang melakukan ritual di sekitar Kayangan Api tidak saja dari masyarakat sekitar Bojonegoro. Tapi, ada juga yang dari Semarang, Surabaya, Solo, Yogyakarta, dan Jakarta. Mereka juga terdiri dari berbagai lapisan masyarakat, mulai kelas bawah hingga kelas atas.
“Paling ramai adalah beberapa hari sebelum pemilu legeslatif kemarin. Katanya sih untuk mencari pusaka sebagai bekal agar terpilih sebagai anggota DPR,” ucap Mbah Juli.
Kayangan Api sebenarnya tidak hanya sangat terkenal di Jawa Timur. Namun, juga sampai ke luar negeri. Tim geologi dari Inggris, misalnya, menyebutkan bahwa Kayangan Api merupakan sumber api yang terbesar di dunia. Karena itulah sayang sekali jika pontensi wisata yang langka ini tidak dikembangkan dan dijaga kelestariannya.