27 Feb 2014

Kyai Nurizal:Makam di Tebing Sungai Serayu



Makam-makam kuna di Wonosobo memiliki daya tarik tinggi. Terbukti setiap hari, nyaris tak henti para peziarah datang. Mereka memiliki keyakinan, berdoa di makam para tokoh ini keinginan cepat terkabul. Salah satunya di makam Kyai Nurizal di Dusun Lempong Desa Kalierang Kecamatan Selomerto.
Tak sedikit peziarah yang datang dengan berbagai permintaan. Banyak pula yang terkabul saat berdoa di makam tersebut. Dusun Lempong Desa Kalierang tak begitu jauh dari Kota Wonosobo, sekitar 7 kilometer. Menuju makam dari Dusun Lempong harus melalui jalan setapak sekitar 500 meter.
Kyai Nurizal atau warga setempat menyebutkan Mbah Nurizal konon merupakan teman seperjuangan Tumenggung Jogonegoro dalam melawan penjajah. Dugaan cukup masuk akal. Antara makam Jogonegoro dan Mbah Nurizal lokasinya tak begitu jauh. Sama-sama berada di wilayah Kecamatan Selomerto.
‘Tumenggung Jogonegoro merupakan tokoh pemerintahan, sedangkan Mbah Nurizal alim ulama. Keduanya bahu-membahu dalam memajukan pemerintahan waktu itu,”papar Muhammad Muslim, tokoh masyarakat sekaligus juru kunci makam.
Mbah Nurizal, diketahui sebagai prajurit Keraton Jogjakarta yang tangguh. Saat berjuang, bersama Tumenggung Jogonegoro yang nama kecilnya Raden Ontokoesoemo dikejar-kejar oleh Belanda. Akhirnya sampai di Dusun Lempong menjadi tokoh penyebar agama Islam pertama kali. Sekaligus pendiri Dusun Lempong. Anak keturunannya juga menjadi ulama yang disegani.
“Mbah Nurizal dijuluki Karto Siluman, karena pintar mengecoh musuhnya. Kalau diburu hilang, lalu muncul lagi di tempat berbeda. Seperti siluman, sehingga musuhnya kuwalahan,”katanya.
Sayangnya tidak ada catatan pasti sekitar tahun berapa, Kyai Nurizal berada di Dusun Lempong. Tidak terdaftar pula silsilah keluarganya. Apakah masih ada keturunan dari bangsawan keraton Jogja atau tidak. Muhammad Muslim pun mengaku tidak mengetahui secara pasti, meskipun ia termasuk keturunannya. Menurut dia, Mbah Nurizal memiliki anak Kyai Ali Muhammad, menurunkan anak Ali Ibrahim. Kemudian berturut-turut Ali Mustar, Ali Rahmat, Muhammad Tarmudzi dan Muhammad Muslim sendiri.
Sebagai pendiri dusun, Kyai Nurizal mempunyai pengaruh ketokohan yang kuat. Tak heran, bila sekarang makamnya kerap diziarahi banyak orang. Mereka berasal dari berbagai kota. Seperti Magelang, Purworejo, Temanggung dan Parakan.
Dusun Lempong dapat dicapai dengan mudah dengan akses jalan cukup bagus, beraspal. Yang menjadi kendala adalah jalan menuju makam Kyai Nurizal. Makam ini terletak di atas Sungai Serayu, di pinggir saluran irigasi besar. Tidak bercampur dengan makam warga setempat.
Namun berada dalam satu kompleks pemakaman keluarga. Terdiri dari sejumlah makam kuna yang tidak diketahui satu per satu siapa saja yang disemayamkan di situ. Makam Mbah Nurizal sendiri dibangun kijing baru. Dikatakan Muslim, pembangunan kijing belum lama.
“Inisiatif dari salah seorang peziarah. Karena doanya terkabul, ia bermaksud membangun makam. Saya sendiri sebagai anak keturunannya tidak berani karena biasanya, tokoh-tokoh semacam itu makamnya tak mau dibangun. Tapi karena ini permintaan peziarah, saya tidak kuasa menolak,”tuturnya.
Seperti halnya makam-makam yang lain, terdapat pohon besar yang menaungi peristirahatan terakhir. Sebuah pohon gintung besar tumbuh di pinggir makam. Tepat di bawahnya, terdapat makam Kyai Ali Rahmat. Getah pohon gintung kata Muslim, berkasiat sebagai perekat atau lem. Bila ada kitab-kitab kuna atau Alquran lepas, dilem dengan getah gintung melekat kuat.
Pemandangan alami disuguhkan di depan makam. Di bawahnya Sungai Serayu yang berair deras, pinggirnya pohon-pohon kelapa melambai. Terhampar tanaman padi menghijau terasering. Berada di makam terasa sangat sejuk. Lelah perjalanan, sirna dihembus semilir angin.
Banyak Godaan, Keinginan Terkabul
Para peziarah yang datang ke makam Mbah Nurizal memiliki keinginan bermacam-macam. Naik jabatan, pangkat maupun usahanya lancar. Ditegaskan Muhammad Muslim, para peziarah dilarang menyembah makam atau meminta pada Mbah Nurizal.
“Berdoa tetap pada Allah SWT tidak boleh meminta apapun pada Mbah Nurizal. Makam itu hanya sebagai wasilah,”tegasnya.
Banyak peziarah yang mengaku mendapatkan firasat setelah beberapa kali berdoa di makam. Disebutkan bapak beranak 9 itu, ada seorang kyai terkenal yang sebelumnya tidak bisa berdakwah. Selama 3 hari berturut-turut berdoa di makam. Esoknya menemukan sarang burung berisi telur-telur. Anehnya, sarang itu berada di ranting pohon yang sangat rendah. Sungguh tidak masuk akal. Sarang tersebut tidak diambilnya. Paginya, ketika dia kembali ke makam, telur-telur itu telah menetas, ternyata burung kutilang.

“Hari terakhir datang ke makam, sarang burung telah lenyap. Itu sebuah pertanda, bahwa orang itu akan menjadi seorang mubalik. Orang yang banyak omong, suka memberi ceramah. Seperti burung kutilang yang suka ngoceh. Sampai sekarang dia menjadi mubalik yang terkenal,”jelasnya.
Pada malam Jumat biasanya banyak peziarah datang. Menjelang pilihan kepala desa ini, makam kerap didatangi. Bahkan calon-calon bupati Wonosobo dulu pernah juga berziarah.
Semakin banyak godaan, kata Muslim, keinginan bakal cepat terkabul. Tidak sedikit yang mengalami berbagai peristiwa selama berziarah. Seperti melihat harimau, suara anjing melolong. Kadang-kadang peziarah mendengar bisikan lirih di kupingnya.
“Kalau mulai digoda hal-hal gaib seperti itu, pertanda bakal cepat tercapai cita-citanya. Tapi kalau hanya biasa-biasa saja, tidak ada yang aneh, harus sabar. Firasat itu kadang lewat mimpi,”ceritanya.
Bahkan, tambahnya, sekitar tahun 1970-an, tidak ada gempa, tak ada angin, para peziarah merasakan makam bergoyang hebat. Tapi tidak menimbulkan korban. Karena itu hanya perasaan masing-masing peziarah. Malam hari, suasana di makam lebih sunyi, dan tintrim. Justru itulah saat yang tepat berdoa khusuk pada Tuhan.

24 Feb 2014

Jalan Kuno yang Tersisa Antara Pajajaran Majapahit




jalan kuno. dok pribadi
Berjalan di sebuah jalan tua dengan pepohonan bambu yang rapat dan pohon-pohon besar yang membuat sinar matahari terhalang, membuat pikiran kita berkelana ke masa silam. Sehingga di antara lamunan, apabila mendengar suara ketipak-ketipuk kaki kuda dan seseorang penunggang berpakaian ksatria jaman Pajajaran, mungkin kita tidak akan terlalu kaget karenanya. Suasana sangat mendukung, bak setting film untuk kisah cerita radio terkenal sepanjang jaman, Brama Kumbara.
Tempat dengan sepotong jalan kuno yang tersisa itu  sebagai penghubung antara Pajajaran Majapahit adalah Situs Karang Kamulyan.  Situs Karangkamulyan adalah tempat wisata sejarah purbakala dan situs arkeologi dengan corak Hindu Buddha yang berada di Desa Karangkamulyan, Cijeunjing, Ciamis, Jawa Barat. Dari arah Jakarta menuju Pantai Pangandaran, akan melewati desa ini, di sebelah kanan jalan raya Ciamis - Banjar.
Patokan untuk situs Karangkamulyan ini adalah sekitar km 17 setelah melewati kota Ciamis, setelah melewati Rumah Makan Padang Sederhana yang besar sekali di pinggir jalan, yang secara ironis menunjukkan bahwa bangunannya  jauh dari kata  sederhana, beberapa ratus meter setelahnya sebelah kanan jalan terdapat pintu masuk dengan  area parkir yang cukup luas dengan tulisan Karang Kamulyan.
Seperti halnya tempat wisata lainnya di Indonesia, di pintu masuk berderet warung-warung makan, dan penjaja aneka souvenir, dan aneka makanan kecil berbungkus plastik, yang menurut saya sampahnya, sangat luar biasa menjengkelkan karena banyak ditinggalkan pengunjung di setiap sudut tempat ini. Walaupun tempat sampah bukannya tidak disediakan, namun rupanya kesadaran yang kurang untuk sekedar membuang sampah di tempat seharusnya.
Tiket masuk sebesar Rp 2300,- per kepala. Di jalanan pintu masuk banyak monyet-monyet berbulu abu-abu yang bermain-main dan bergelantungan di pohon atau berlarian di jalan. Monyet-monyet ini tidak mengganggu pengunjung, hanya terkadang meminta makanan atau minuman yang kita bawa. Jenis monyet ini adalah monyet ekor panjang alias Macaca fascicularis yang merupakan monyet asli Asia Tenggara.
Situs bersejarah biasanya tak lepas dari legenda cerita rakyat setempat. Demikian pula dengan situs Karang Kamulyan. Legenda Ciung Wanara berasal dari sini. Ciung Wanara yang sering dikisahkan sebagai cerita rakyat Jawa Barat dan menjadi salah satu cerita untuk Pantun Sunda, selain cerita Mundinglaya Dikusumah dan Lutung Kasarung.
Ciung Wanara adalah nama seorang putra mahkota yang terbuang akibat iri dengki istri kedua sang raja yang berkuasa saat itu, Dewi Pangrenyep yang telah memiliki putera, Hariang Banga. Saat kelahiran Ciung Wanara, ibunya Dewi Pohaci Naganingrum dibuang karena fitnah, bayi lelakinya ditukar dengan bayi anjing oleh Dewi Pangrenyep, sementara Ciung Wanara yang baru lahir diperintahkan untuk dihanyutkan di leuwi Sipatahunan, yaitu lubuk di sungai Citanduy. Sang Permana Dikusumah dibunuh dan digantikan oleh Sang Tamperan yang kemudian berkuasa bersama Dewi Pangrenyep.
1345877833505020362
Sipatahunan. Dok Pribadi
Bayi yang masih merah itu dihanyutkan dalam kandaga, kotak kayu berukir, bersama sebutir telur ayam. Ditemukan  oleh Aki Balangantrang, yang tidak lain adalah Sang Bimaraksa, patih dari kerajaan Galuh yang menyepi di desa Geger Sunten. Bimaraksa adalah cucu dari Wretikandayun, pendiri kerajaan Galuh. Nama Ciung Wanara berasal dari nama burung, Ciung dan Wanara yang berarti monyet. Ciung Wanara tumbuh menjadi lelaki yang sakti, adil bijaksana dengan bimbingan kakeknya. Telur ayam yang dibawa di kotak bersamanya saat dihanyutkan, menjadi seekor ayam jago petarung yang sangat kuat.
Geger Sunten menjadi desa yang diceritakan sebagai tempat penggalangan kekuatan dan pelatihan prajurit yang disiapkan untuk merebut kembali kekuasaan oleh Ciung Wanara dan Aki Balangantrang. Berbekal ayam sabungan, mereka turut serta dalam pertandingan sabung ayam yang saat itu sedang dijadikan pertandingan kebanggaan kerajaan, mungkin seperti hausnya para petinggi kerajaan akan pertandingan berdarah ala gladiator di colloseum. Hanya ini bedanya menggunakan ayam. Dan tidak di gedung dengan model ampitheater, tapi lapangan kecil dengan tanah yang sangat rata, yang digunakan sebagai arena. Sampai saat ini arena sabung ayam bersejarah ini masih ada di Karang Kamulyan.
Lengahnya para Raja Tamperan, Hariang Banga dan pasukan kerajaan akan pesta dan pertandingan sabung ayam ini, menyebabkan pasukan Ciung Wanara dan Aki Balangantrang mudah menyusup. Ibaratnya kisah perang Troya, dimana patung kuda kayu berisi prajurit menyusup masuk ke dalam kerajaan. Cuma disini tidak pakai patung kuda raksasa persembahan bagi Poseidon, hanya menyusup saja.
Saat pasukan Tamperan lengah dan mabuk arak dan pesta pora, saat itu pasukan Ciung Wanara menyerbu dan menduduki kerajaan Galuh. Antara Ciung Wanara terjadi perkelahian seru melawan saudara tirinya Hariang Banga, sampai saat Ciung Wanara memenangkan pertandingan, namun ia tak kuasa membunuh saudara tiri lain ibu ini, sehingga Hariang Banga dilempar ke seberang sungai Cipamali yang kemudian menjadi batas dua kerajaan. Galuh yang dibagi dua, antara Ciung Wanara (yang kemudian bergelar Sang Manarah) dan Hariang Banga.
Kisah Ciung Wanara ini terjadi pada abad ke 8 Masehi dan menurut telisik sejarah tercatat saat kerajaan Galuh terpisah dari kerajaan Sunda dan merupakan turunan dari kerajaan Tarumanegara. Situs Karang Kamulyan sendiri menurut penggalian arkeologi ditemukan bukti pecahan keramik Dinasti Ming dari abad ke 9 yang menjadi bukti bahwa adanya kehidupan bersejarah di daerah tersebut.
Karang Kamulyan menempati area sekitar 25 ha, banyak ditumbuhi bambu dan rapat oleh tumbuhan dan pepohonan lainnya, rotan pun banyak tumbuh  tergelantung dari pepohonan disana. Jalanan sunyi dari tanah yang dipinggiri bebatuan, menjadikan area ini seperti sepotong taman dari masa lalu yang terawetkan. Di depan dekat pintu masuk ada tumpukan bebatuan berupa sisa struktur bangunan yang disebut sebagai Pangcalikan atau Singgasana. Berbelok ke kanan menuruni jalan, kita akan sampai ke Sipatahunan, lubuk sungai tempat cerita bayi Ciung Wanara dihanyutkan. Sungai tampak sepi dengan air yang terlihat jernih.
1345877964581290535
Penyabungan Ayam. Dok Pribadi
Menyusur lagi jalanan sunyi, kita sampai di area penyabungan ayam. Tanah padat berwarna coklat muda tampak sangat halus dan  rata, sehingga sekilas mirip kolam berair coklat. Orang yang duduk di bangku bambu di pinggirnya seakan mengambang di air. Tak jauh sekitar 5 meter, terdapat struktur batu yang disebut Sang Hyang Bedil, dikatakan oleh orang yang menunggu disana sebagai tempat penempaan senjata kerajaan. Di tengah struktur batu berbentuk persegi tersebut terdapat batu yang berlekuk.
Selain itu disana terdapat area dengan batu berukir khas Hindu yang disebut Lambang Peribadatan, bentuknya seperti fragmen candi. Mata air Cikahuripan disana dikatakan tak pernah kering, banyak orang mengambil air disana dalam botol atau dipakai untuk mencuci wajah dan tangan, mengharap berkah. Di area itu pula terdapat batu dolmen dan menhir yang disebut sebagai Panyandaan, dipercaya sebagai tempat Dewi Pohaci Naganingrum melahirkan Ciung Wanara, dan bersandar disana selama 40 hari untuk memulihkan kekuatan. Di ujung jalan lainnya terdapat makam Adipati Panaekan, keturunan Kerajaan Galuh yang mendapat gelar Adipati dari Kerajaan Mataram.
13458780891354760049
Sang Hyang Bedil. Dok Pribadi
Area kuno dengan sepotong jalan sepi ini memnbuat saya teringat pada Gyeongju, kota kuno kerajaan Silla di Korea Selatan. Lho kok jauh-jauh ke Korea? Saya bahkan belum pernah ke Korea, namun saya membaca betapa pemerintah Korea sangat menjaga situs warisan budaya dan sejarah disana. Sehingga Gyeongju dijuluki sebagai ‘Museum Tanpa Dinding’ saking banyaknya peninggalan bersejarah di setiap sudut kotanya, baik alam maupun bangunan. Banyak taman-taman dan hutan di Gyeongju yang merupakan peninggalan kerajaan di masa lalu yang masih dipelihara hingga kini.
Wisata yang ditawarkan oleh Korea Selatan pun beraneka, dari melihat pembuatan keramik dan teh, wisata jalan dan bersepeda di kota tua, sampai menginap di desa kuno dengan bangunan rumah dari bahan yang alami. Gyeongju tercatat sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO.
Lalu bagaimana dengan kita? Peninggalan bersejarah kita punya, kejayaan kerajaan masa lalu kita ada, desa kuno dengan bangunan rumah adat dari bambu dan kayu kita tak kalah pula. Namun apakah kita bisa menjaga warisan sejarah kita? Dapatkah kita menjualnya menjadi daerah berpotensi wisata yang layak dikunjungi wisatawan mancanegara yang tertarik pada budaya dan sejarah bangsa kita? Mengurus sampah di tempat wisata saja kita tampaknya belum mampu.

Sejarah kerajaan pajajaran


Kerajaan Pajajaran adalah nama lain dari Kerajaan Sunda saat kerajaan ini beribukota di kota Pajajaran atau Pakuan Pajajaran (Bogor) di Jawa Barat yang terletak di Parahyangan (Sunda). Kata Pakuan sendiri berasal dari kata Pakuwuan yang berarti kota. Pada masa lalu, di Asia Tenggara ada kebiasaan menyebut nama kerajaan dengan nama ibu kotanya. Beberapa catatan menyebutkan bahwa kerajaan ini didirikan tahun 923 oleh Sri Jayabhupati, seperti yang disebutkan dalam Prasasti Sanghyang Tapak (1030 M) di kampung Pangcalikan dan Bantarmuncang, tepi Sungai Cicatih, Cibadak, Suka Bumi.
Awal Pakuan Pajajaran
Seperti tertulis dalam sejarah, akhir tahun 1400-an Majapahit kian melemah. Pemberontakan, saling berebut kekuasaan di antara saudara berkali-kali terjadi. Pada masa kejatuhan Prabu Kertabumi (Brawijaya V) itulah mengalir pula pengungsi dari kerabat Kerajaan Majapahit ke ibukota Kerajaan Galuh di Kawali, Kuningan, Jawa Barat.

Raden Baribin, salah seorang saudara Prabu Kertabumi termasuk di antaranya. Selain diterima dengan damai oleh Raja Dewa Niskala ia bahkan dinikahkan dengan Ratna Ayu Kirana salah seorang putri Raja Dewa Niskala. Tak sampai di situ saja, sang Raja juga menikah dengan salah satu keluarga pengungsi yang ada dalam rombongan Raden Barinbin.

Pernikahan Dewa Niskala itu mengundang kemarahan Raja Susuktunggal dari Kerajaan Sunda. Dewa Niskala dianggap telah melanggar aturan yang seharusnya ditaati. Aturan itu keluar sejak “Peristiwa Bubat” yang menyebutkan bahwa orang Sunda-Galuh dilarang menikah dengan keturunan dari Majapahit.

Nyaris terjadi peperangan di antara dua raja yang sebenarnya adalah besan. Disebut besan karena Jayadewata, putra raja Dewa Niskala adalah menantu dari Raja Susuktunggal.

Untungnya, kemudian dewan penasehat berhasil mendamaikan keduanya dengan keputusan: dua raja itu harus turun dari tahta. Kemudian mereka harus menyerahkan tahta kepada putera mahkota yang ditunjuk.

Dewa Niskala menunjuk Jayadewata, anaknya, sebagai penerus kekuasaan. Prabu Susuktunggal pun menunjuk nama yang sama. Demikianlah, akhirnya Jayadewata menyatukan dua kerajaan itu. Jayadewata yang kemudian bergelar Sri Baduga Maharaja mulai memerintah di Pakuan Pajajaran pada tahun 1482.

Selanjutnya nama Pakuan Pajajaran menjadi populer sebagai nama kerajaan. Awal “berdirinya” Pajajaran dihitung pada tahun Sri Baduga Maharaha berkuasa, yakni tahun 1482.


Sumber Sejarah
Dari catatan-catatan sejarah yang ada, baik dari prasasti, naskah kuno, maupun catatan bangsa asing, dapatlah ditelusuri jejak kerajaan ini; antara lain mengenai wilayah kerajaan dan ibukota Pakuan Pajajaran. Mengenai raja-raja Kerajaan Sunda yang memerintah dari ibukota Pakuan Pajajaran, terdapat perbedaan urutan antara naskah-naskah Babad Pajajaran, Carita Parahiangan, dan Carita Waruga Guru.

Selain naskah-naskah babad, Kerajaan Pajajaran juga meninggalkan sejumlah jejak peninggalan dari masa lalu, seperti:
• Prasasti Batu Tulis, Bogor
• Prasasti Sanghyang Tapak, Sukabumi
• Prasasti Kawali, Ciamis
• Prasasti Rakyan Juru Pangambat
• Prasasti Horren
• Prasasti Astanagede
• Tugu Perjanjian Portugis (padraƵ), Kampung Tugu, Jakarta
• Taman perburuan, yang sekarang menjadi Kebun Raya Bogor
• Kitab cerita Kidung Sundayana dan Cerita Parahyangan
• Berita asing dari Tome Pires (1513) dan Pigafetta (1522)

Segi Geografis Kerajaan Pajajaran
Terletak di Parahyangan (Sunda). Pakuan sebagai ibukota Sunda dicacat oleh Tom Peres (1513 M) di dalam “The Suma Oriantal”, ia menyebutkan bahwa ibukota Kerajaan Sunda disebut Dayo (dayeuh) itu terletak sejauh sejauh dua hari perjalanan dari Kalapa (Jakarta).

Kondisi Keseluruhan Kerajaan pajajaran (Kondisi POLISOSBUD), yaitu Kondisi Politik (Politik-Pemerintahan)

Kerajaan Pajajaran terletak di Jawa Barat, yang berkembang pada abad ke 8-16. Raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Pajajaran, antara lain :

Daftar raja Pajajaran
• Sri Baduga Maharaja (1482 – 1521), bertahta di Pakuan (Bogor sekarang)
• Surawisesa (1521 – 1535), bertahta di Pakuan
• Ratu Dewata (1535 – 1543), bertahta di Pakuan
• Ratu Sakti (1543 – 1551), bertahta di Pakuan
• Ratu Nilakendra (1551-1567), meninggalkan Pakuan karena serangan Hasanudin dan anaknya, Maulana Yusuf
• Raga Mulya (1567 – 1579), dikenal sebagai Prabu Surya Kencana, memerintah dari PandeglangMaharaja Jayabhupati (Haji-Ri-Sunda)
• Rahyang Niskala Wastu Kencana
• Rahyang Dewa Niskala (Rahyang Ningrat Kencana)
• Sri Baduga MahaRaja
• Hyang Wuni Sora
• Ratu Samian (Prabu Surawisesa)
• dan Prabu Ratu Dewata.


Puncak Kejayaan/ Keemasan Kerajaan Pajajaran
Kerajaan Pajajaran pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja mengalami masa keemasan. Alasan ini pula yang banyak diingat dan dituturkan masyarakat Jawa Barat, seolah-olah Sri Baduga atau Siliwangi adalah Raja yang tak pernah purna, senantiasa hidup abadi dihati dan pikiran masyarakat.

Pembangunan Pajajaran di masa Sri Baduga menyangkut seluruh aspek kehidupan. Tentang pembangunan spiritual dikisahkan dalam Carita Parahyangan.

Sang Maharaja membuat karya besar, yaitu ; membuat talaga besar yang bernama Maharena Wijaya, membuat jalan yang menuju ke ibukota Pakuan dan Wanagiri. Ia memperteguh (pertahanan) ibu kota, memberikan desa perdikan kepada semua pendeta dan pengikutnya untuk menggairahkan kegiatan agama yang menjadi penuntun kehidupan rakyat. Kemudian membuat Kabinihajian (kaputren), kesatriaan (asrama prajurit), pagelaran (bermacam-macam formasi tempur), pamingtonan (tempat pertunjukan), memperkuat angkatan perang, mengatur pemungutan upeti dari raja-raja bawahan dan menyusun undang-undang kerajaan

Pembangunan yang bersifat material tersebut terlacak pula didalam Prasasti Kabantenan dan Batutulis, di kisahkan para Juru Pantun dan penulis Babad, saat ini masih bisa terjejaki, namun tak kurang yang musnah termakan jaman.

Dari kedua Prasasti serta Cerita Pantun dan Kisah-kisah Babad tersebut diketahui bahwa Sri Baduga telah memerintahkan untuk membuat wilayah perdikan; membuat Talaga Maharena Wijaya; memperteguh ibu kota; membuat Kabinihajian, kesatriaan, pagelaran, pamingtonan, memperkuat angkatan perang, mengatur pemungutan upeti dari raja-raja bawahan dan menyusun undang-undang kerajaan

Puncak Kehancuran
Kerajaan Pajajaran runtuh pada tahun 1579 akibat serangan kerajaan Sunda lainnya, yaitu Kesultanan Banten. Berakhirnya zaman Pajajaran ditandai dengan diboyongnya Palangka Sriman Sriwacana (singgahsana raja), dari Pakuan Pajajaran ke Keraton Surosowan di Banten oleh pasukan Maulana Yusuf.

Batu berukuran 200x160x20 cm itu diboyong ke Banten karena tradisi politik agar di Pakuan Pajajaran tidak mungkin lagi dinobatkan raja baru, dan menandakan Maulana Yusuf adalah penerus kekuasaan Sunda yang sah karena buyut perempuannya adalah puteri Sri Baduga Maharaja. Palangka Sriman Sriwacana tersebut saat ini bisa ditemukan di depan bekas Keraton Surosowan di Banten. Masyarakat Banten menyebutnya Watu Gilang, berarti mengkilap atau berseri, sama artinya dengan kata Sriman.

Kondisi Kehidupan Ekonomi
Pada umumnya masyarakat Kerajaan Pajajaran hidup dari pertanian, terutama perladangan. Di samping itu, Pajajaran juga mengembangkan pelayaran dan perdagangan. Kerajaan Pajajaran memiliki enam pelabuhan penting, yaitu Pelabuhan Banten, Pontang, Cigede, Tamgara, Sunda Kelapa (Jakarta), dan Cimanuk (Pamanukan)

Kehidupan Budaya
Kehidupan budaya masyarakat Pajajaran sangat di pengaruhi oleh agama Hindu. Peninggalan-peninggalannya berupa kitab Cerita Parahyangan dan kitab Sangyang Siksakanda, prasasti-prasasti, dan jenis-jenis batik.

Kesimpulan
• Kerajaan Pajajaran adalah nama lain dari Kerajaan Sunda saat kerajaan ini beribukota di kota Pajajaran atau Pakuan Pajajaran (Bogor) di Jawa Barat yang terletak di Parahyangan (Sunda).
• Sumber sejarahnya berupa prasati-prasati, tugu perjanjian, taman perburuan, kitab cerita, dan berita asing.
• Kerajaan Pajajaran pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja mengalami masa keemasan/ kejayaan dan Kerajaan Pajajaran runtuh pada tahun 1579 akibat serangan kerajaan Sunda lainnya, yaitu Kesultanan Banten.

pendamping gaib dikalangan pengusaha

PERAN SUPRANATURAL DI KALANGAN PENGUSAHA 
Sejumlah pakar supranatural, baik di Jawa Timur tengah barat jakarta maupun di Bali yang dihubungi Misteri, tidak memungkiri kiprah mereka dalam menunjang keberhasilan kalangan pengusaha. Khususnya pebisnis di Pulau Dewata. Seperti apa…?
Semua hal berbau supranatural, jauh lebih universal dibanding hal-hal realita. Tidak terkecuali kiprah manusia di kancah bisnis lokal maupun nasional. Pendek kata, para pelaku usaha (pengusaha) kaya yang belakangan menguasai pangsa pasar bisnis lokal dan nasional, tidak dapat dipisahkan dari andilnya supranatural melalui berbagai pirantinya.

Tetapi, watak kemunafikan pada diri manusia selalu menepiskan realitas tersebut. Mereka sengaja memberikan kesan bahwa keberhasilan bisnisnya murni sebagai buah dari ketajaman naluri sebagai seorang pengusaha dalam membaca pangsa pasar, ditunjang dengan koneksi dan network yang solid.
Yang menarik, para pengusaha yang belakangan ini mulai menarik perhatian kalangan pengusaha nasional, kian tercium adanya keterlibatan peran supranatural dalam menopang kelancaran dan kesuksesan mereka dalam menjalankan usahanya. Pengakuan ini memang tidak pernah keluar melalui celah bibir mereka, sebab mereka menganggap tabu melibatkan supranatural dalam bidang usaha, meskipun hal itu sesungguhnya saling kait mengait bahkan susah untuk dipisahkan.
Sejumlah pakar supranatural (supranaturalis), baik di Jawa Timur (Jatim) maupun di Bali yang dihubungi Misteri, tidak memungkiri kiprah mereka dalam menunjang keberhasilan kalangan pengusaha di Pulau Dewata. Salah satunya Gde Agung Jumenti, 77 tahun. Sosok yang dikenal sebagai ahli mistik dunia bisnis ini mengaku sedikitnya belasan pengusaha di sejumlah kota di Pulau Bali sudah meminta jasa supranaturalnya.
“Jasa supranatural ini terutama dalam upaya membukakan gagasan bisnis sekaligus melancarkan proses usahanya,” urai Gde Agung Jumenti.
Tidak ada bedanya dengan pengusaha di seantoro negeri, lanjut Jumenti, kebanyakan dari mereka merasa percaya diri (PD) saat usahanya dibekingi supranaturalis, terutama supranaturalis yang sudah punya pamor. Dan faktanya, masing-masing pengusaha punya supranaturalis pribadi yang selalu membekingi setiap usaha apapun yang ditekuni.
Senada dengan Gde Agung Jumenti, orang pintar asal Jawa Timur, H Bagus Abdurrahman, 60 tahun, juga membenarkan kiprah supranatural di tengah-tengah gelora bisnis di Tanah Air. Bahkan dia mengecam keras terhadap pengusaha yang memungkiri jasa supranaturalis dalam menunjang pergerakan bisnisnya.
Kenyataan semacam ini, menurut Abdurrahman, sudah berlangsung lama. Bisa jadi sejak Indonesia belum merdeka. Hanya saja, karena takut menurunkan kredibilitas intelektualnya sebagai pengusaha, maka mereka suka memungkiri kenyataan yang sesungguhnya.
“Itu hal lumrah saja, sebab mereka memang lebih bangga ketika orang memuji kesuksesan bisnisnya dengan menyebut pengusaha ulet yang punya manajemen andal daripada dihubungkan dengan hal-hal berbau supranatural,” tandasnya.
Abdurrahman menyebutkan pula, keberhasilan pengusaha tidak mutlak hanya hasil kerja keras beking supranaturalis. Idealnya, supranatural berperan sebagai penunjang motivasi dalam melancarkan manajemen. Jadi, dirinya tetap menyetujui, yang lebih tepat, kesuksesan pengusaha disebabkan andalnya manajemen yang dimotivasi kekuatan supranatural, dengan seizin Tuhan tentunya.
Pengusaha di Pulau Dewata belakangan ini mulai menunjukkan eksistensinya sebagai orang-orang kaya dari hasil kesuksesannya meniti usaha di daerahnya. Keberhasilan ini tentu saja tidak terlepas dari gaung Bali sebagai obyek wisata bertaraf internasional. Dari sekian daftar pengusaha peringkat atas di Bali, memang sebagian besar bergerak di bidang pariwisata. Hal itu karena Bali identik dengan pariwisata, sehingga industri yang paling menonjol dan bisa melahirkan orang-orang kaya baru adalah dari bisnis pariwisata ini.
Memang, akibat Tragedi Bom Bali I (12 Oktober 2002) dan Bom Bali II (1 Oktober 2005), Bali menjadi kering akan kunjungan wisatawan. Namun, dampak yang ditimbulkan hanya terasa di golongan bawah saja. Sedangkan golongan berduit dan berdeposito akan mencari usaha-usaha baru guna menambah simpanan yang berkurang gara-gara dampak tersebut. Terbukti, hanya dalam kurun waktu relative singkat, telah kembali bermunculan pengusaha-pengusaha dengan akumulasi kekayaan cukup mencengangkan.
Bukti otentiknya, hingga Desember 2007 tercatat 21 pengusaha pribumi dan pendatang yang mampu mengibarkan bendera keberhasilan dalam menggeluti kompleksitas usahanya. Berikut ini daftar nama pengusaha terkaya di Bali yang berhasil dirangkum Misteri dari sumber yang layak dipercaya:
1. I Wayan Kari, pemilik Grup Waka. Basis operasional di Bali. Bidang usaha pariwisata (Waka Land Cruise, Waka di Ume, Waka Nusa, Waka Maya, Waka
Gangga, Waka Shorea, Waka di Abian, Waka Namya, Waka Barong, Hotel Oberoi Bali dan Lombok, Waka Dive), Konsultan Manajemen, Arsitektur (Sain D Sain), transportasi (taksi, rental mobil, kapal penumpang sepat), periklanan (Matamera Advertising), dan perumahan (menggarap hotel satu grup dan knockdown house), tiga hotel di Manado, dan satu di Bintan.
2. Anak Agung Ngurah Mahendra. Basis operasional di Bali. Mendirikan PT Khrisna Kreasi pada tahun 1985 di bidang usaha produksi dan eksportir garmen, forwarder dengan tiga cabang (Ubud, Jakarta, dan Surabaya), periklanan, perdagangan, jasa gudang, money changer, teknologi informasi, dan agen wisata, perusahaannya kini berjumlah 12 buah.
3. I Gde Wiratha dan Kadek Wiranatha. Basis operasional di Bali. Mendirikan PT Gde & Kadek Brothers. Bidang usaha pariwisata (penginapan, biro perjalanan, restoran kafe, kapal pesiar, dan penerbangan). Group Bounty (Bounty Hotel, Hotel Barong, Dewi Sri Cottages, Vila Rumah Manis, Bounty Cruises, Paddy’s Cafe, Sari Club, Bounty Mall, Double Six, Gado Gado Restaurant, AJ Hackett Bungy, taksi Pan Witri dan Praja Taksi), biro perjalanan Calvin Tour & Travel, Bali Safari Rafting, Air Paradise International. Berencana membangun kembali Sari Club di Legian, Kuta, yang dibom teroris pada 12 Oktober 2002 (Bom Bali I), dan sircuit balap Formula-1 (F-1).
4. Gde Sumarjaya Linggih. Pemilik grup Ganeca. Basis operasional di Bali dan Bandung. Bidang usaha hotel (Hotel Sol Lovina berkapasitas 120 kamar, 8 villa, dan satu president suite, serta hotel di Nusa Dua), printing supplier, dan minuman anggur (Indico Wine). Kini grup Ganeca Prima membawahi 11 anak perusahaan dan membangun Bali Trade Centre.
5. ABG Satria Naradha pemilik kelompok media massa Bali Post. Basis operasional Bali dan Mataram, kini ekspansi ke Jakarta, Yogya, Bandung, Semarang, Palembang, dan Aceh. Bidang usaha surat kabar (Bali Post, Denpost, Bisnis Bali, Suara NTB, dan Prima), tabloid (Tokoh, Bali Travel News, Wiyata Mandala, dan
Lintang), radio (Swara Widya Besakih, Global Kinijani, Genta Bali, Singaraja FM), TV (Bali TV, Yogya TV, Semarang TV, Bandung TV, Palembang TV, dan Aceh TV) dengan pendapatan iklan per tahun yang menonjol sebesar Rp 198,3 miliar dari Bali Post ditambah Rp 33,3 miliar dari Bali TV.
Disamping kelima nama di atas, masih ada nama lain seperti: Putu Suryajaya, AAM Sukadhana Wendha, Putu Agus Antara, Putu Subada Kusuma, Ida Bagus Tjetana Putra, Nyoman Dana Asmara, Gede Agus Hardiawan, Desak Nyoman Suarti, Gde Ngurah Wididana alias Pak Oles, Bagus Sudibya, Tjok Oka Artha Ardhana. S, M. Sunhaji, Djuwito Tjahjadi, Joseph Theodorus Wulianadi alias Joger, dan Panudiana Kuhn.
Selain 21 orang pengusaha pribumi dan pendatang yang mengenyam kesuksesan di Bali, masih belasan pengusaha sukses lainnya yang belum sempat terdaftar, namun asset mereka rata-rata di atas Rp 5 miliar. Dari belasan pengusaha tersebut, ternyata sangat sulit membuka mulut untuk mengakui andilnya supranaturalis terhadap kesuksesan usaha yang mereka geluti.
Tetapi tidak semua pengusaha enggan untuk mengakui peran supranaturalis dalam menopang keberhasilan

 usahanya.  

Bagi pengusaha Jawa Timur, H Ariffin SE, kesuksesan bisnis mesti diusahakan secara total, mulai lahir maupun bathin.
Dijelaskan pengusaha otomotif pemilik 80 unit bus patas trayek antar kota antar propinsi tergabung dalam AKAP serta pengusaha kayu dan pabrik es ini, bahwa manajemen, koneksi dan tim network sangat besar perannya dalam mengemudikan kendaraan bisnis. Sehingga, tenaga ahli yang punya spesifikasi ilmu manajemen tertentu, punya nilai tawar tinggi saat direkrut bekerja di bidang usaha. Tetapi, kehandalan tenaga ahli masih belum lengkap tanpa dorongan bathiniah yakni doa.
“Doa disini, selain doa pribadi masing-masing, biasanya agar lebih afdol, pengusaha meminta doa kepada orang-orang tertentu yang sudah mengibarkan bendera dalam kancah supranatural,” terang Ariffin.
Menurut Ariffin, idealnya pengusaha tidak perlu malu untuk mengakui hal ini. Sebab, tidak ada kata tabu bagi pengusaha untuk melibatkan paranormal dalam kapasitas untuk mendoakan keberhasilan usaha.


INTIP WATAK MELALUI JAM LAHIR

Intip watak bayi lewat jam lahir
Intip watak bayi lewat jam lahir
Menurut budaya tiongkok. Jam kelahiran seseorang adalah kunci penting dalam pembentukan watak. Mengetahui jam kelahiran dapat di ibaratkan memiliki peta jalan kepribadian mereka. Para ahli psikologi juga menemukan bakat dan tempramen berdasar wkt kelahiran. Bahkan bnyk ahli kini dapat menduga jam kelahiran berdasar wataknya.

Lahir pada jam 23.00 – 01.00

  • Wataknya keras.
  • Dalam melaksanakan pekerjaanya berdasar pendapatnya sendiri. Kelemahan imi kadang membuatnya gagal dlm mencapai 7anya. Padahal kalau saja mau mendengar saran orang yg lbh bijaksana. Karir n usahanya akan meningkat. Namun bila dpt dorongan dr orang2 tercinta, usahanya akan meroket.
  • Rata2 mampu membangun usaha n membina keluarga dg kemampuan sendiri.
Lahir pada jam 01.00-03.00

  • Watak keras.
  • Mudah tersinggung.tapi cukup pemberani.Kebanyakan kurang sukses jk mengembangkan usaha di kampung halaman. Namun ada kans sukses besar bila merantau ke tempat laen dan merintis usaha atw karir di sana.Hr tua ckp menyenangkan.
Lahir pada jam 03.00-05.00

  • Kurang akur dg keluarga.
  • Ketika muda lbh banyak kerja keras dg capaian yg minim.
  • Tapi jika merantau, nasipnya jauh lbh baik.
  • Amat beruntung di hari tua.
Lahir pada jam 05.00-07.00

  • Umumnya lebih banyak senang dari pada susah.
  • Jgn menggantungkan hidup pada bantuan orang lain.
  • Kehidupan lbh baik jk merantau dan merintis kariq atw usaha di negeri orang.Rumah tangga harmonis.
Lahir pada jam 07.00-09.00

  • Cerdas n lincah.
  • Kuat pendirian, agak angkuh dan selalu keren dandananya.
  • Sering menyendiri.Kesepian,terlampau yakin thd kemampuanya sendiri, hingga sering melakukan kesalahan tnp di sadari.
  • Ambisius.
  • Semangat dan efisien.
  • Berorientasi pd tujuan dan sangat termotivasi untuk sukses pd sesuatu yg di kerjakan.
  • Sbg pemimpin ya alamiah, yg senang mengatur dan mengendalikan situasi.
Lahir pada jam 09.00-11.00

  • Kecerdasan diatas rata2.
  • Tdk mengandalkan bantuan sanak famili.
  • Sebaiknya merantau.Pasti akan dpt membangun usaha sendiri.
  • Cukup bahagia hidupnya.
  • Jauhi miras, krn dpt berpengaruh buruk pd usaha n karir.
  • Berbagi ide2 adlah kunci kebahagian orgng yg lahir pd jam ini.
  • Di sarankan untuk bergabung dg grub relegius ataw politik. Karena menurut studi, orang2 yg merasa pendapatnya di dengarkan lbh rendah stress dr pd yg tdk.
Lahir pada jam 11.00 – 13.00

  • Lincah n cekatan.
  • Suka menghambur2kan uang.
  • Sok pinter n gengsi.
  • Gemar bersolek, tak mau kalah dg sapa2.
  • Inilah yg menyebabkan pemborosan.
Lahir pada jam 13.00-15.00

  • Watak keras.Sering berselisih paham dg klg.
  • Suka membawa cara sendiri.
  • Hinga membwt sering cekcok dg teman n bnyk musug.
  • Cukup pandai.
  • Tdk bisa membuka usaha bersama teman. Karena sering berubah pendirian, yg mengakibatkan gelisah.
Lahir pada jam 15.00-17.00

  • Lebih bnyk jatuhnya. Dr pd bangunya.
  • Kurang harmonis dg keluarga.
  • Memiliki keinginan yg kuat untuk berhubungan dg orang lain.Suka bercengrama dg klg n teman.

  • Selalu ingin mbwt orang bhgia.Seorang yg peragu dlm menentukan sikap.Bila menuruti hawa nafsu, semua akan gagal.
Lahir pada jam 17.00-19.00

  • Kukuh dlm pringsip hidup.
  • Serakah.
  • Tdk mau kalah soal apapun.
  • Sering gonta-ganti pasangan.
  • Kehidupan rumah tangga kurang harmonis.Sebaiknya meninggalkan kampung halaman.
Lahir pada jam 19.00-21.00

  • Punya daya tarik yg cukup besar.
  • Mandiri.Tak perlu mementingkan uang.
  • Tdk memiliki kesabaran dlm melakukan sesuatu.
  • Tapi suka pamer n Mudah tersinggung.

Misteri Ilmu Lembu Petheng Pak Harto

Hanya Kalah oleh Umurnya Sendiri

Misteri Ilmu Lembu Petheng Pak Harto

Misteri Ilmu Lembu Petheng Pak Harto Pak Harto disegani lawan-lawan politiknya termasuk Bung Karno karena memiliki ilmu Lembu Petheng.
Suharto adalah anak petani yang secara politik bisa mengalahkan Sudarsono, DN Aidit, Sukarno, Hatta, Nasution dan seluruh orang besar di negeri ini yang mustahil dikalahkan. Sebab, dia merupakan sosok Lembu Petheng. Secara politik, Suharto hanya dikalahkan oleh umurnya sendiri.
Saat itu Minggu Wage, 27 Januari 2008. Jarum jam menunjuk ke angka 15.30. Bersamaan dengan terdengarnya suara Azan Asar sayup-sayup dari kejauhan. Suasana Astana Giribangun saat itu sangat tidauh, tidak sinar matahari. Uniknya seperti tidak ada  awan, juga tiada tanda gerimis bakal jatuh.
Sejumlah orang berkumpul, mengelilingi sebidang petak tanah makam yang siap digali. Mereka melakukan upacara Bedah Bumi, tujuannya agar penggalian berjalan lancar dan selamat. Yang memimpin Begug Purnomosidi.
Lalu, linggis dihujamkan ke  tanah. Tak ada apapun yang terjadi. Begitu pula yang ke dua. Namun, kejadian yang membuat merinding bulu kuduk terjadi saat linggis mengoyak tanah  untuk kali ketiganya.
“Tiba-tiba, duar! Terdengar suara ledakan yang sangat keras bergema di atas kepala kami,” kata  Sukirno, juru kunci makam keluarga Soeharto di Astana  Giribangun, menceritakan pengalamannya menggali makam Soeharto.
Para penggali makam dan orang-orang di sekitarnya sontak kaget. Mereka berpandangan. Bingung. Mencoba mereka-reka dari mana asal suara menggelegar itu.
“Bukan bunyi petir, lebih  mirip suara bom besar meledak di atas cungkup Astana Giribangun,” kata Sukirno.
Namun, anehnya, tak ada yang porak poranda, tak ada yang benda yang bergeser karena suara ledakan itu. Terbesit di pikiran, mungkin itu suara gaib. Ada juga yang berpikiran itu adalah ilmu Lembu Petheng Suharto.
Semua yang ada di tempat itu terdiam, terpaku. Lalu, suara Begug memecah keheningan. “Bumi  mengisyaratkan penerimaan terhadap jenazah beliau,” tutur  Sukirno.
Memang, jika Negara ini menjadi negara besar, Indonesia harus memiliki pemimpin yang memiliki ilmu Lembu Petheng. Lembu Petheng sebenarnya bukan ilmu, tetapi sekedar perumpamaan terhadap sosok pemimpin yang tak jelas siapa bapak kandungnya. Seperti Ken Arok dan Pak Harto yang tak jelas siapa bapaknya.

Meski demikian, orang-orang yang masuk dalam kategori Lembu Petheng, biasanya memiliki kekuatan yang tiada batas. Lembu Petheng kemudian dianalogikan sebagaian orang sebagai sebuah ilmu atau kekuatan. Sebab, mereka-mereka yang masuk golongan Lembu Petheng–seperti Ken Arok dan Pak Harto, biasanya akan memiliki kekuatan (ilmu) yang besar. Sebab, orang-orang Lembu Petheng tidak punya rasa minder terhadap masa lalu. Itulah yang dikatakan budayawan Sudjiwo Tedjo.
Sejarah Jawa adalah sejarah suksesi, sejarah kudeta dan sejarah berdarah-darah dalam merebut tahta kekuasaan. Banyak tokoh yang kemudian muncul tiba-tiba dalam panggung sejarah, tanpa masa lalu, dan tanpa beban silsilah. Ia kemudian mengklaim sebagai anak para Dewa, anak Para Raja, dan dengan begitu mereka menggenggam mitos.

Suharto adalah manusia paling kontroversial di Indonesia. Nilai kontroversinya jauh melebihi Sukarno. Bila Bung Karno dikenal dunia karena ulahnya yang begitu mencengangkan dan sering bikin kejutan, maka Suharto lebih pada nilai misteriusnya. Misteri Suharto adalah kekuasaan yang begitu besar, dan itu dibangun dengan cara yang mungkin orang akan juga tercengang yaitu sikap: Diam. Pendiam bagi Suharto bukan hanya watak tapi merupakan latihan menahan diri yang ekstrem.
Yah, dengan ilmu Lembu Petheng itulah, Suharto bisa memecahkan mitos buku suci Raja-raja Jawa. Ini juga yang tampaknya dipegang dalam konstelasi perpolitik nasional kita yang belum lepas dari kesejarahan mitos atas silsilah di masa lalu.

Naiknya Megawati dan SBY juga tak lepas dari mitos atas kerja orangtua mereka dimasa lalu. Sehingga silsilah menjadi begitu penting dalam kerja politik kita, penghancuran mitos ini belum reda sampai sekarang.
Mitologi silsilah inilah yang kemudian ditembak oleh Sudjiwo Tedjo dalam melihat kasus Suharto. Menurut Sudjiwo Tedjo, “Bagaimana mungkin seorang anak petani biasa membuat Sri Sultan Hamengkubuwono IX tertunduk dan menurut pada Pak Harto, bagaimana mungkin orang yang begitu Prabawa dan penuh kharisma seperti Bung Karno seperti gemetar ketakutan melihat Suharto, bahkan di akhir tahun 1966 dengan nada galau Sukarno berteriak tiga kali menyebut Suharto sebagai keadaan bahwa tak boleh ada yang merebut kursi Presiden,” katanya
.
Yah, pada saat itu, Bung Karno menyebut nama Suharto tiga kali. “Tidak Juga engkau Suharto, Tidak Juga engkau Suharto, Tidak Juga engkau Suharto….” kata Bung Karno sambil tangannya menunjuk-nunjuk ke arah barisan para Jenderalnya. Ada apa dengan kekuatan Suharto?
Jelas Sukarno tidak akan takut dengan kekuatan militer Amerika Serikat, ia sudah terbiasa menghadapi teater perang besar. Bahkan di hadapan Dadong (nama panggilan Presiden Filipina-Macapagal), Sukarno menyatakan siap menghadapi perang sebesar apapun, dan itu memang sudah dilakukan Sukarno ketika ia meletuskan kata-kata Dwikora dan mengancam perang dengan Malaysia, sebuah pidato yang mirip pidato Franklin Delano Roosevelt.

Koran-koran besar Amerika menjuluki Sukarno sebagai ‘Tiran’ dengan kekuatan tanpa tanding yang mengancam dunia bebas. Tapi di sisi lain di negara-negara bekas jajahan dan negara tertindas, Sukarno dijuluki “Hadiah Tuhan untuk Kebebasan Bagi mereka Yang Tertindas”. Di sini Sukarno menunjukkan bukan saja orang nomor satu, tapi juga tokoh dunia.
Sementara Jenderal AH Nasution sendiri saat menunggui anaknya di RS Gatot Subroto yang sekarat tertembak pasukan penculik pimpinan Letkol Untung, menampik saran Adam Malik.
Saat itu Adam Malik berkata pada Nasution yang juga merupakan sepupunya sendiri “Nas, kau ambil itu kekuasaan Angkatan Darat, sekarang juga kau ke Kostrad, kau pegang sendiri militer”.
Tapi Nasution menolak dengan alasan bahwa “bagaimana mungkin aku meninggalkan anakku yang sekarat untuk urusan pekerjaan”.

Di sinilah kemudian Adam Malik kecewa, dan menganggap Nasution lemah. Tapi mungkin Adam Malik lupa, sepanjang sejarah karir militer Nasution, ia tak berani berhadapan head to head dengan Sukarno. Seperti yang diucapkan Nasution sendiri di Amerika Serikat dalam wawancara dengan jurnalis Amerika Serikat di awal tahun 1960-an.
“Saya tak mungkin berhadapan dengan Sukarno, dialah yang menyadarkan saya tentang arti kemerdekaan, sebelum saya tahu apa itu merdeka di masa saya sekolah dulu,” katanya.
Ini artinya, kekuatan Sukarno memang secara personal luar biasa, dan anehnya kekuatan Sukarno bisa lebur ditangan Jenderal yang sama sekali tak dikenal sebelumnya. Nama Jenderal itu pernah disebut-sebut di koran-koran sepanjang konflik politik yang panas pada paruh pertama 1960-an.
Namanya hanya muncul sekilas saat pemakaman Jenderal Gatot Subroto dan saat ia diangkat jadi Panglima Mandala dalam Perang Perebutan Irian Barat. Itupun kemudian namanya tenggelam oleh Subandrio, Menteri Luar Negeri yang memiliki kelihaian diplomasi dengan mencari celah dukungan Inggris dan Amerika Serikat dalam menendang Belanda keluar dari Irian Barat. Yah, dialah Suharto.
Tidak Jelas Asal-usulnya

Saat menjabat presiden, Pak Harto mengaku sebagai anak petani.
Saat menjabat presiden, Pak Harto mengaku sebagai anak petani.
Suharto lahir dari situasi yang tak jelas. Pernyataan ini bukan hanya lahir dari majalah-majalah gosip yang banyak bermunculan di tahun 1970-an soal asal usul Suharto, tetapi juga dari buku-buku yang berbobot ilmiah tinggi seperti buku Robert Edward Elson, seorang Profesor dari University of Queensland, Australia yang secara serius meriset Suharto.

Disebutkan, bahwa asal usul Suharto menjadi bagian paling rumit untuk mendefinisikan kepribadian dan posisi psikologis Suharto di masa mendatang. Elson Elson menyajikan riset atas konfigurasi keluarga Suharto yang rumit, mengenaskan serta tidak jelasnya siapa ayah kandung Suharto. Ayah kandung Suharto yang tak jelas ini kemudian berpengaruh atas kepribadian Suharto yang pendiam, menganalisa masalah, mempertimbangkan keadaan serta hati-hati dan kepribadian ini menjadi modal dalam keberhasilan hidupnya. Bahkan ketika memimpin negeri ini, Suharto tidak memiliki rasa minder terhadap masa lalu.
Suharto lahir 8 Juni 1921, angka ini juga masih diperdebatkan banyak orang. Namun Suharto sendiri meredakan perdebatan ini dan ia secara gamblang menyatakan tanggal lahirnya adalah 8 Juli 1921.
Suharto dilahirkan dari seorang ibu yang galau, yang stress dan sedang prihatin. Ada juga yang menyebutkan bahwa asal usul Suharto, yakni dua tahun setelah kelahirannya orangtua mereka bercerai, tapi Elson lebih ganas lagi menyebutkan waktunya: Orangtua Suharto bercerai empat minggu setelah kelahiran Suharto.
Sukirah–ibu Suharto–mengalami kondisi stress. Ia dikabarkan hilang dan ternyata sedang ‘ngebleng’ puasa tanpa makan dan minum. Ia merasa membawa beban hidup yang amat berat. Bagi kalangan Jawa yang mengerti ilmu kebatinan, jelas Sukirah mengalami beban psikologi luar biasa karena ia mengandung ‘Seorang Raja di Masa Depan’. Penduduk kampung mencari-cari Sukirah, yang kemudian ditemukan dalam keadaan hampir mati karena kurang makan dan minum.

Dari situasi keprihatinan yang tinggi itulah Suharto lahir. Di usia empat tahun Suharto sudah diserahkan ke kakak ibunya, pada keluarga Kromodiryo. Pada usia yang masih amat muda sekitar lima tahun dan ini mengherankan bagi anak desa seumurnya, Suharto sudah disekolahkan.
Suharto yang berada di dusun amat terpencil bisa bersekolah bagus ini juga menjelaskan siapa ayah Suharto sesungguhnya. Suharto sendiri tak mengalami ikatan emosional yang tinggi kepada orang yang dianggap ayahnya yaitu Kertosudiro. Tapi kemungkinan Suharto sudah mengerti bahwa Kertosudiro bukan ayah kandungnya.

“Di masa lalu ada teman seingat saya bernama si Kromo, yang mengata-ngatai saya sebagai ‘Den Mas Tahi Mabul’. Dan ini penghinaan bagi Suharto kecil, lalu Suharto menonjok anak itu,” kata Suharto.
Dan itulah pengalaman satu-satunya Suharto berkelahi. Ini artinya berbeda dengan pengalaman berkelahi pertama Sukarno yang mempersoalkan dia dilarang main bola oleh Sinyo Belanda karena ia seorang Pribumi. Tapi Suharto berkelahi karena persoalan tak jelas asal usulnya. Dari Sukirah sendiri Suharto memang ada keturunan bangsawan Yogyakarta, kakek buyut Suharto: Notosudiro, memiliki isteri yang merupakan anak perempuan dari Hamengkubuwono V.
Terlepas dari situasi sulit siapa ayah kandungnya, perpecahan keluarga dan segala macam konflik psikologis dalam lingkungannya, Suharto tumbuh secara baik. Ia adalah pemuda yang tampan, berwajah ningrat dan sangat halus perangainya. Beberapa kali Suharto menjadi bahan rebutan antara Sukirah dan Kertosudiro, sehingga Suharto harus tabah dalam menjalani kehidupan.

Suharto sendiri mengakui saat paling bahagia adalah ketika ia ‘ngenger’ (menumpang) pada keluarga Prawirohardjo, yang salah satu anaknya adalah Sulardi di Wuryantoro. Lewat Sulardi inilah Suharto berkenalan dengan Hartinah, puteri wedana di Wonogiri, yang juga merupakan kawan sekelas Sulardi, kelak Hartinah menjadi isteri Suharto.
Suharto hidup prihatin. Ia senang sekali berpuasa. “Saya sudah mengalami banyak laku, banyak tindakan pertapaan di diri saya, satu-satunya yang belum saya lakukan adalah tidur diatas sampah,” kenang Suharto kala itu
.
Bertapa adalah ‘keprihatinan’ ala orang Jawa dalam memahami penderitaan, dalam keprihatinan manusia tidak boleh hidup enak, mereka harus mendidik dirinya sendiri dengan keras agar tidak gampang mengeluh dalam kehidupan dan kuat menghadapi godaan dalam menjalani cita-cita.
Guru Suharto paling awal dalam soal kebatinan dan pemahaman pada nilai-nilai filsafat Jawa adalah Kyai Daryatmo yang ditemui Suharto sewaktu muda.
Kemampuan Suharto dalam mengolah diri inilah yang kemudian berhasil menjadikan dirinya sebagai orang disiplin. Ia juga terus menerus mencari daya linuwih dalam kehidupannya. Ia orang yang tidak gemar kenikmatan hidup. Ia hanya menjalani apa yang diyakininya benar, tentunya terlepas keyakinannya itu membuat sengsara banyak orang, atau membuat keadaan susah, ia tahu apa tujuannya.
Misteri “Diamnya” Suharto

Pak Harto mengenakan blangkon sebagai simbol orang Jawa.
Pak Harto mengenakan blangkon sebagai simbol orang Jawa.
Perkenalan Suharto pertama kali dengan militer adalah di KNIL. Awalnya ia ingin melamar jadi Angkatan Laut, jadi seorang kelasi. Hal ini ia lakukan karena melihat seorang kelasi sedang berlibur di Yogya dan amat gagah. Namun keinginannya saat menjadi kelasi ia urungkan ketika ia mendaftar ke Angkatan Laut Hindia Belanda, soalnya ia mendengar bahwa lowongan yang dibuka hanya sebagai juru masak.
Sekeluarnya dari pendaftaran kelasi Angkatan Laut, tanpa sengaja ia mendengar bahwa KNIL membuka pendaftaran. Ia amat berminat kejadian itu sekitar akhir tahun 1939 atau awal 1940. Saat itu Hindia Belanda sedang membutuhkan tenaga perang sekitar 35.000 orang pribumi. Saat itu memang berkembang wacana bahwa kemungkinan Jepang masuk ke Hindia Belanda dan tak mungkin berhadapan dengan Jepang sendirian, seperti di Filipina yang sedang mempersiapkan perlawanan rakyat, maka Belanda harus mempersiapkan pribumi untuk militerisasi demi menghadapi serbuan Jepang.

Tampaknya wacana militerisasi kaum pribumi menjadi mentah, karena militerisasi ini hanya akan menjadikan ‘senjata makan tuan’ bagi Belanda kelak dikemudian hari. Akhirnya kaum pribumi dibatalkan untuk menghadapi Jepang. Ratusan ribu senjata yang sedianya digunakan untuk perang disembunyikan dan Pemerintahan Hindia Belanda memilih lari ke Australia.
Suharto masuk dalam program militerisasi besar-besaran itu dan ia lulus sebagai yang terbaik tiga tahun kemudian, tak lama kemudian Jepang masuk.
Ada cerita menarik ketika Suharto ingin masuk KNIL. Ia ngangon dua kerbaunya di ladang tebu dan bertemu sepupunya Sukardjo Wilardjito.
Sukardjo bercerita, “Mas Harto pamit dengan saya untuk masuk tentara karena ia tak sempat bertemu dengan ayah Sukardjo yang kebetulan adalah Paman Suharto dan seorang Lurah di Rewulu, Yogyakarta.”
“Kebetulan Dik, kita bertemu disini sehingga aku tak perlu ke rumahmu” katanya kepada Sukardjo.
“Ada apa sih Mas, kok rupanya penting sekali” jawab Sukardjo sambil mengerat tebu. “Penting sih tidak, cuma mau minta pamit”.
“Memang mau kemana sih mas?”
“Aku akan masuk Kumpeni,” kata Suharto.
“Sekolahan?”
“Aku sudah berhenti sekolah kok” Sukardjo heran lantas bertanya, “Padahal kudengar Mas Harto sudah kelas tiga MULO (SMP), tidak tunggu nanti kalau tamat saja?”
Suharto pamit kepada sepupunya untuk menjadi serdadu di Purworejo, Jawa Tengah dan menghentikan sekolahnya. Percakapan ini menjadi penting bukan saja karena dua orang ini memiliki hubungan saudara, tapi karena kelak dua orang ini di tahun 1966 berhadapan di sisi yang berlainan. Suharto memerintahkan Jenderalnya yang disebut ada tiga orang: Mayjen Amircmachmud, Mayjen M Jusuf dan Mayjen Basuki Rachmat untuk meminta surat perintah kekuasaan menertibkan keadaan.
Sementara di pihak lain sepupunya Sukardjo Wilardjito yang saat itu berpangkat Letnan Satu menjadi ajudan Bung Karno. Dan menurut pengakuannya, dia menyaksikan sendiri bagaimana Bung Karno ditodong senjata oleh seorang Jenderal yang ia sebut sebagai Mayjen Panggabean. Jenderal keempat dalam urusan Supersemar ini sempat heboh di awal tahun 2000, dan sampai sekarang kronologis SP 11 Maret 1966 menjadi berita paling menghebohkan.
Namun seperti biasa berita ini tetap dimenangkan oleh pembela Suharto yang mau tak mau Suharto telah memenangkan sejarah dengan memasukkan SP 11 Maret 1966 sebagai tonggak penting konstitusi di Indonesia.

Sukardjo kemudian diburu dan dipenjara bahkan sempat dibuang ke luar Jawa, namun selalu urung dibunuh apakah karena mungkin ia sepupu Suharto? Yang jelas disini Suharto bisa amat dingin membedakan mana saudara, mana politik. Inilah yang kemudian membuat Suharto memang merupakan Jenderal Berdarah Dingin, dan memiliki kepribadian lebih kuat apalagi hanya dibandingkan dengan Nasution yang cenderung lemah.

Kemampuan Suharto dalam memenangkan sejarah ini tak lepas dari kepribadiannya yang teliti sebelum mengambil tindakan dan mengamati. Salah satu modal psikologis dalam memenangkan setiap pertempurannya adalah ia amat “pendiam”.
Rosihan Anwar, wartawan senior Republikein yang pernah bersama Suharto tahun 1949 pernah menceritakan hal itu. “Saya berjalan berjam-jam dengan Suharto untuk menemui Jenderal Sudirman dan diantar oleh dia, tapi sekalipun ia tidak bicara. Ia hanya menyetir mobil lalu masuk pedesaan. Ia juga memetik kelapa dan satu-satunya ucapan yang ia katakan pada saya adalah “silahkan diminum” ketika menawari air degan (degan=kelapa muda). Ia adalah orang yang ‘kulino meneng’ (terbiasa berdiam diri),” sebut Rosihan menjuluki watak Suharto.
Kelak di tahun 1974 surat kabar Rosihan Anwar ‘Pedoman’ dibredel Pemerintahan Suharto, ketika Mashuri bertanya bagaimana nasib Pedoman pasca peristiwa Malari 1974, Suharto menjawab sinis, “Wis dipateni wae (sudah dibunuh saja)”.

Jelas ini menunjukkan Suharto amat dingin terhadap orang yang ia kenal dimasa lalu. Ia lebih mementingkan tujuan dalam mengerjakan sesuatu ketimbang kehangatan hubungan antar manusia.
Diam Suharto itu, kata Rosihan Anwar, modal dan itu adalah prinsipnya. Dengan filsafat diam ia membangun kekuasaannya dengan begitu perkasa dan tidak pernah terkalahkan oleh kekuatan politik lokal apapun. Namun ironisnya, kekuasaan Orde Baru yang begitu besar justru jatuh karena paradoks-paradoks masyarakat yang dibangunnya. Begitu juga dengan kekejamannya, korupsi bahkan lebih jauh lagi merubah secara fundamental haluan bangsa ini yang diarahkan oleh founding fathers sebagai negara kesejahteraan bersama menjadi negara milik kaum kroni, mungkin sampai detik ini.
Ilmu Lembu Petheng

Pak Harto bersama Bung Karno.
Pak Harto bersama Bung Karno.
Suharto amat berminat dalam latihan-latihan kemiliteran. Ia juga terpengaruh oleh ide-ide nasionalisme yang amat bergema pada masa latihan kemiliteran di PETA. Saat itu ide paling besar dari perwira PETA adalah: Nasionalisme Ekstrim, anti Belanda dan Anti Jepang.

Ada hal lain yang perlu dicatat PETA berbeda dengan KNIL. Dalam PETA tidak adanya pengaruh sipil yang mengendalikan ia seakan-akan bergerak sendiri. Sementara KNIL amat dipengaruhi keputusan sipil. Watak dasar entitas inilah yang kemudian menjelaskan bagaimana kemudian Jenderal-Jenderal Orde Baru lulusan PETA yang kemudian mengambil alih kendali sejarah, memutuskan hubungan dengan sipil dan berani menghajar Sukarno, berbeda dengan jenderal lulusan KNIL yang cenderung taat pada otoritas sipil.
Karir Suharto melejit setelah ia mendengarkan pengumuman bahwa Sukarno telah memerdekakan Indonesia. Ia sendiri mengakui bersorak gembira ia larut dalam eforia kemerdekaan Republik Indonesia. Tapi ia langsung bertindak di Yogyakarta dan karena masa lalunya yang baik dalam latihan kemiliteran ia langsung diangkat menjadi Mayor Republik.

Ini adalah keputusan menarik bagi seorang Suharto, karena bagaimanapun sebagai eks KNIL dan memiliki karir bagus di PETA, dan ia bisa saja menunggu Belanda dan melamar menjadi Perwira KNIL untuk perang dengan Republik. Tapi, Suharto lebih memilih menjadi pejuang di garis kemerdekaan Republik Indonesia. Pilihan ini tidak bisa dianggap remeh karena ini bisa menjelaskan watak nasionalisme Suharto yang puritan, ekstrim dan tidak aneh-aneh, setia pada merah putih walaupun kemudian ia gagal paham soal pandangan yang lebih menjlimet lagi ‘soal kedaulatan total’ ide yang dikeluarkan oleh Tan Malaka dan Bung Karno.
Bagi Suharto nasionalisme adalah soal kesejahteraan, cinta tanah air dan rakyat tidak kelaparan. Nasionalisme logistik inilah yang kemudian mewarnai Indonesia selama lebih dari 32 tahun.
Suharto adalah orang yang beruntung, ia tanpa sengaja masuk ke dalam pusaran sejarah dan kenal dengan orang-orang nomor satu di negeri ini. Ia bisa kenal dengan Bung Karno lewat kejadian paling bersejarah, yakni penangkapan Djenderal Mayoor Sudarsono.

Saat itu Sudarsono adalah orang yang paling berjasa terhadap pembentukan pasukan di Yogyakarta. Ia yang menyerang seluruh markas Jepang dan merebut persenjataan sehingga pasukan di Yogyakarta menjadi pasukan terkuat se Indonesia. Kekuatan pasukan inilah yang kemudian menjadikan posisi Sri Sultan Hamengkubuwono IX amat penting serta membuat seluruh kabinet Republik Indonesia mengungsi ke Yogyakarta dan meminta perlindungan pada Sri Sultan Hamengkubuwono IX sekaligus menyusun strategi militer yang lebih komprehensif untuk menghadapi kekuatan Belanda yang menurut data intelijen Inggris dan sudah diterima Sjahrir akan masuk lewat struktur entitas militer bernama NICA.
Di awal tahun 1946 berkembang perdebatan sengit di dua kelompok: Kelompok Sjahrir dan Amir Sjarifuddin. Saat itu mereka bersatu dalam Partai Sosialis (PS) serta menjadi dominan dalam Kabinet menghendaki perundingan kepada Belanda. Sementara di pihak lain kelompok oposisi yang dipimpin Tan Malaka menghendaki perang total, perang tanpa kompromi dengan Belanda.
“Tak Perundingan, Tak ada diplomasi, Merdeka-lah kita 100%”. Dan Kelompok Tan Malaka mendapatkan simpati hampir semua perwira militer terutama yang berasal dari PETA. Jenderal Sudirman adalah pengagum Tan Malaka. Ia selalu berdiri dan bertepuk tangan ketika Tan Malaka pidato. Anak buah Sudirman, Jenderal Mayoor Sudarsono dan anak buahnya Mayor AK Yusuf juga amat berdiri di garis Tan Malaka. Namun ada situasi over acting muncul dari tindakan Sudarsono yang menangkap Perdana Menteri Sjahrir dan pengikutnya.

Tindakan Sudarsono ini jelas dikecam Sukarno. Seorang pemimpin pemuda bernama Sudjojo memerintahkan Suharto–yang saat itu sudah menjadi Letkol karena keberaniannya dalam perang Ambarawa dan menjadi anak buah kesayangan Jenderal Sudirman–untuk  menangkap Sudarsono. Tak lama kemudian keluar surat perintah dari Sukarno untuk menangkap Sudarsono.
Saat itu Suharto berpikir, “Bagaimana bisa ia menangkap atasannya, orang yang paling berjasa atas lengkapnya persenjataan pasukan di Yogyakarta dan dikagumi banyak serdadu Yogya, sementara saya sendiri adalah pengikut Sudarsono,” pikir Suharto.

Tapi Suharto amat hati-hati membalas surat Sukarno. Katanya, ia (Suharto) akan menangkap Sudarsono bila ada perintah dari Jenderal Sudirman. Maka, konflik 3 Juli 1946 ini menjadi amat jelas bagi bagaimana menilai kemampuan Suharto dalam manajemen konflik dan mengerti atas situasi. Dan, ia mendapatkan pelajaran ‘Bahwa kekuasaan bukanlah selalu orang yang berada di atas posisinya, tapi kekuasaan adalah mereka yang secara realitas memegang kekuatan dan kendali atas keadaan’.
Suharto mengerti saat itu bukan Sukarno yang memegang kendali kekuasaan, tapi Sudirman dan Tan Malaka. Soal ini secara jelas diungkapkan banyak sejarawan pada waktu itu tentang pola kekuasaan di Indonesia selama masa revolusi bersenjata 1945-1949. Suharto tak mau melakukan tindakan sebelum tahu jelas sekali situasi dan tak mau bertindak sebelum mengerti siapa yang memegang kendali keadaan. Inilah yang kemudian menjadikan “Si Lembu Petheng’ selalu memenangkan sejarah.
Dan ucapan paling fenomenalnya adalah, “PKI berada dalam penculikan para Jenderal” di awal Oktober 1965. Ini menunjukkan bahwa memang Suharto memiliki informasi amat lengkap sebelum kejadian dan bukan merupakan spekulasi. Inilah yang membedakan Suharto dengan pelaku sejarah lainnya.
Memang, diakui seluruh bangsa, Sukarno merupakan Bapak Pembebas Rakyat Indonesia, tapi mau tak mau peradaban sekarang ini tetaplah peradaban Suhartorian bahkan di jaman era reformasi sekalipun. Seluruh pemegang kekuasaan saat ini merupakan anak didik Suharto yang diberi fasilitas pada jaman Suharto, hampir 100 persen pelaku penting politik saat ini bukanlah orang yang melawan Suharto. Inilah yang menjelaskan kenapa Sudjiwo Tedjo mengatakan ‘Siapa Bapak Kandung Suharto?’
Yah, kekuatan tanpa rasa minder, kekuatan (ilmu) Lembu Petheng itulah bapak kandung Suharto. Seperti ketika Suharto disindir oleh Mayjen S Parman sebelum kejadian 1965, “Suharto itu siapa, pendidikannya apa, arep melu-melu ngurus negoro”. Juga, ada beberapa catatan sejarah tentang para Jenderal yang berpendidikan tinggi dan mengejek Suharto apalagi ketika Suharto dengan lihai menggantikan posisi Bung Karno sebagai Presiden RI di tahun-tahun awal kekuasaannya. Saat itu Suharto selalu menerima banjir ejekan atas dirinya yang kurang berpendidikan dan memiliki masa lalu tak jelas.
Tapi, keadaan itu dijawab Suharto dengan tenang termasuk ketika ia mengadakan konferensi pers saat itu di tahun 1974, ramai sekali perdebatan siapa Bapak Kandung sesungguhnya Suharto. Bahkan Mashuri, bekas tetangga Suharto dan mantan Menteri Pendidikan memberikan keterangan bahwa Suharto adalah anak keturunan Cina. Saat itu ramai spekulasi bahwa Suharto adalah anak kandung Sri Sultan Hamengkubuwono VIII, artinya dia adalah adik kandung Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Ada juga yang menyatakan bahwa ayah kandung Suharto adalah, orang yang memegang payung kuning Sri Sultan Hamengkubuwono VIII. Namun spekulasi-spekulasi itu dijawab tenang dengan ilmu ‘Lembu Petheng’ Suharto, “Saya adalah anak Petani”.

Ya, Suharto adalah anak petani yang secara politik bisa mengalahkan Sudarsono, DN Aidit, Sukarno, Hatta, Nasution dan seluruh orang besar di negeri ini yang mustahil dikalahkan. Secara politik, ia hanya dikalahkan oleh umurnya sendiri.
Bung Karno Sudah Meramal Pak Harto Sebagai Penggantinya
Ki Utomo Darmadi. Dia seorang purnawirawan kapten TNI-AD, yang kebetulan banyak tahu jalannya sejarah, karena berada di lingkar satu Istana. Menjadi tentara tahun 1945, purnawirawan vokal ini tak lain adalah adik kandung pahlawan Peta, Suprijadi. Dalam banyak forum nasioanalis, ia acap bicara lantang. Tak jarang membikin merah kuping orang yang ditudingnya langsung.
Soal Pak Harto, dia mengatakan, orang boleh saja menghujat habis-habisan Pak Harto. Tetapi, katanya, Pak Harto adalah penyelamat Bung Karno. Kalau saja waktu itu pengganti Bung Karno bukan Pak Harto, bisa jadi Bung Karno “dieret-eret” di jalanan. Kalau saja pengganti Bung Karno bukan Pak Harto, belum tentu nasib anak-anaknya seperti sekarang.

Ia lantas mengisahkan, peristiwa tahun 1963 yang ia katakan bahwa Bung Karno sudah meramalkan Pak Harto-lah yang akan menggantikannya menjadi Presiden RI ke-2. Tomi, begitu ia akrab disapa, menyodorkan dua peristiwa bersejarah terkait hal itu. Pertama adalah kejadian setelah Pak Harto sukses sebagai Panglima Komando Mandala, dalam operasi Trikora, dengan misi tunggal mengembalikan Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi.
Nah, setelah itu, Bung Karno menggelorakan Operasi Dwikora, atau yang kita kenal Ganyang Malaysia tahun 1963. Sebagai Panglima diangkatlah Oemar Dhani (Angkatan Udara). Nah, di sinilah Pak Harto tampak kecewa. Dia kemudian menghadap Bung Karno dan menyatakan niatnya “mengundurkan diri”. Bung Karno lantas bertanya, “Nek pensiun, trus kowe arep dadi apa?” (Kalau pensiun, terus kamu mau jadi apa?).
Soeharto menjawab, “Menawi kepareng, dados gubernur Irian Jaya” (Kalau diizinkan, jadi gubernur Irian Jaya).
Di luar dugaan, Bung Karno menolak dengan menjawab, “Ora… kowe dudu gubernur… terus tirakat… kowe sak nduwure gubernur.” Kurang lebih artinya, “Tidak… kamu bukan gubernur… teruslah tirakat… kamu di atasnya gubernur”
.
Inilah yang oleh Tomi Darmadi disebutkan sebagai salah satu isyarat, bahwa Pak Harto bakal jadi presiden. “Dalam konteks pemimpin teritorial, di atas gubernur apa? Ya Presiden,” tegasnya.
Tidak hanya itu. Tomi Darmadi lantas mengilas balik peristiwa sidang kabinet, kurang lebih tahun 1964. Kebetulan Tomi Darmadi ada di ruang itu. Para petinggi militer yang hadir antara lain disebutkannya, ada Mayjen Ginting, Mayjen Sukowati, Brigjen Juhartono, dan Ahmadi. Achmadi. Tomi mendengar ketika Bung Karno secara santai bertanya kepada Achmadi, “Mad, yang nanti mengganti saya, siapa?” Yang ditanya menjawab spontan, “Mas Yani, Bung” Maksudnya adalah Jenderal Ahmad Yani.
Aneh, Bung Karno membelalakkan mata dan memberi isyarat “bukan”. “Bukan! Yang mengganti (saya), itu tuh, yang mengenakan celana kombor.” Bicara begitu sambil melirik ke arah Soeharto yang ada di sudut ruang yang lain, agak jauh dari posisi Bung Karno dan Achmadi.
Usai kejadian itu, Tomi Darmadi dan sejumlah petinggi Angkatan Darat di Front Nasional sempat bergunjing. Tidak sedikit yang memandang remeh Pak Harto dengan mengungkit “SD saja tidak tamat”. Di samping ada juga yang mengingatkan forum itu dengan mengatakan, “Tapi ingat lho… Bung Karno itu punya ilmu ladunni... dia tahu segala sesuatu yang belum terjadi….”
Sejarah kemudian mencatat, sejumlah jenderal Sukarnois tadi sempat meringkuk di penjara Orde Baru…. Belasan tahun kemudian, ketika mereka keluar penjara dan bertemu kembali, topik itu pun kembali disinggung…. Komentar mereka pendek saja, “Ternyata Bung Karno benar….”mudjib/rsd