30 Jul 2009

setiap perbuatan meninggalkan jejak

Karma

Karma (Sanskerta: karma) berarti perbuatan. Karma merujuk pada perbuatan berkehendak yang kita lakukan dengan tubuh, ucapan, dan pikiran kita melalui berbuat, berkata, dan berpikir. Karma adalah kaidah bahwa setiap perbuatan yang dilakukan, jika kondisinya sesuai, akan menghasilkan akibat tertentu.

Bagaimana Karma Bekerja?

Semua perbuatan meninggalkan jejak atau benih pada kesadaran kita, yang akan masak menjadi pengalaman-pengalaman kita ketika kondisi yang sesuai muncul. Sebagai contoh, jika kita menolong seseorang dengan hati yang tulus, perbuatan ini akan meninggalkan jejak-jejak positif dalam arus pikiran kita. Ketika kondisinya memadai, jejak ini akan masak dalam bentuk kita menerima pertolongan tatkala kita membutuhkannya.
Benih-benih Karma terus mengikuti kita dari satu kehidupan ke kehidupan berikutnya. Bagaimanapun juga, jika kita tidak menciptakan sebab-sebab atau Karma untuk terjadinya sesuatu, kita tidak akan mengalami hasilnya. Jika kita tidak menanam benih tertentu, tanaman tidak akan tumbuh. Buddha mengajarkan:
Sesuai benih yang ditabur,
begitulah buah yang dituai.
Pelaku kebaikan akan meraih hasil yang baik,
Pelaku keburukan akan memetik hasil yang buruk.
Jika engkau menanam benih yang baik,
engkau akan menikmati buah yang baik.

Apakah Pengaruh Karma?

Karma mempengaruhi kelahiran kita yang akan datang dan mempengaruhi apa yang kita alami selama hidup ini: bagaimana orang lain memperlakukan kita, kekayaan kita, status sosial kita, dan sebagainya. Karma juga mempengaruhi kepribadian dan watak kita, bakat kita, perilaku kita, dan kebiasaan kita. Jenis lingkungan tempat kita dilahirkan juga dipengaruhi oleh Karma.
Kita yang sekarang ini sesuai dengan apa yang telah kita lakukan. Kita yang akan datang sesuai dengan apa yang tengah kita lakukan.

Ada Jenis Karma Apa Saja?

Jika suatu perbuatan membawa derita dan sengsara dalam jangka panjang bagi diri sendiri dan makhluk lain, itu adalah Karma yang buruk atau negatif. Sebaliknya, jika suatu perbuatan membawa kebahagiaan, itu adalah Karma yang baik atau positif. Perbuatan pada hakikatnya bukanlah baik atau buruk-mereka hanya sedemikian tergantung pada motivasi dan konsekuensi yang dihasilkannya. Kebahagiaan dan keberuntungan apa pun yang kita alami dalam hidup kita berasal dari tindakan-tindakan positif kita sendiri, sementara masalah-masalah kita datang dari tindakan-tindakan negatif kita sendiri.

Bagaimana Terjadinya Karma Buruk?

Ada sepuluh perbuatan negatif yang seharusnya dihindari jika kita tidak ingin menciptakan Karma buruk, yaitu:
  1. Membunuh
  2. Mencuri
  3. Berzinah
  4. Berbohong
  5. Memfitnah
  6. Berkata kasar
  7. Berbicara yang tak berguna
  8. Serakah
  9. Marah/Membenci
  10. Berpandangan salah

Bagaimana Terjadinya Karma Baik?

Ada sepuluh perbuatan bermanfaat yang seharusnya kita perjuangkan untuk menciptakan Karma baik. Kesepuluh perbuatan baik ini juga termasuk menghindari sepuluh perbuatan buruk. Adapun sepuluh perbuatan baik itu antara lain:
  1. Bermurah hati
  2. Mengendalikan diri
  3. Bermeditasi
  4. Menghormat
  5. Melayani
  6. Melimpahkan jasa
  7. Berbahagia atas jasa pihak lain
  8. Mendengarkan Dharma
  9. Mengajarkan Dharma
  10. Meluruskan pandangan

Dapatkah Karma Diciptakan Secara Bersamaan?

Karma bisa kolektif maupun individual. Karma kolektif adalah perbuatan yang dilakukan bersama-sama dalam sebuah kelompok. Contohnya, sepasukan tentara bersama-sama membunuh. Hasil perbuatan ini dapat dialami bersama-sama sebagai satu kelompok, seringnya dalam kehidupan yang akan datang. Namun setiap anggota kelompok berpikir, berbicara, dan bertindak secara berbeda-beda, hal ini juga menghasilkan karma individual, yang akibatnya akan dialami oleh masing-masing pribadi.

Siapakah yang Mengendalikan Karma?

Tidak ada siapa pun yang menentukan "imbalan dan hukuman" untuk apa yang kita lakukan. Kita menciptakan penyebab-penyebab dari tindakan kita, dan kita akan mengalami akibat-akibatnya. Kitalah yang bertanggung jawab atas pengalaman kita sendiri. Buddha menemukan hukum Karma-Ia tidak menciptakannya (tidak ada satu makhluk pun yang menciptakannya). Dengan mengajarkan hukum Karma kepada kita, Buddha menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya kita bertindak di dalam fungsi sebab dan akibat agar kita mencapai Kebahagiaan Sejati dan terhindar dari penderitaan.

Apakah Segala Sesuatu Terjadi Karena Karma?

Hukum Karma tidak berlaku untuk perbuatan-perbuatan "tanpa kesadaran" seperti berjalan, duduk, atau tidur. Perbuatan-perbuatan seperti itu tidak menghasilkan akibat-akibat selain dari perbuatan itu sendiri (bagaimanapun juga, Karma berlaku pada gagasan-gagasan kita yang didasari kehendak). Begitu juga, kecelakaan dianggap Karma netral karena hal itu tidak disengaja. Bagaimanapun, kita seharusnya selalu berusaha meningkatkan kewaspadaan kita agar kecelakaan tidak terjadi.

Dapatkah Karma Berubah?

Karma bukanlah kartu mati-karma bukan berarti nasib atau takdir. Perbuatan-perbuatan berkehendak pada suatu waktu tertentu akan menghasilkan akibatnya ketika berada dalam kondisi yang sesuai. Walaupun pada kehidupan sekarang kita mengalami akibat-akibat dari perbuatan (Karma) yang silam, kita masih mungkin untuk mengubah, mengurangi atau menambah akibat-akibat dari perbuatan-perbuatan lampau ini melalui perbuatan-perbuatan saat ini, yang akan mempengaruhi masa depan maupun kehidupan yang akan datang. Memahami hukum Karma membantu kita menyadari bahwa kita sendirilah yang menentukan kita akan menjadi seperti apa. Kita sepenuhnya bertanggung jawab atas nasib kita sendiri.

Bagaimana Kita Mengetahui Karma Kita?

Buddha memberikan kepada kita panduan umum mengenai akibat dari berbagai jenis perbuatan. Sebagai contoh, Buddha mengajarkan kepada kita bahwa membunuh akan mengakibatkan umur pendek dan kemurahan hati akan membawa kekayaan. Bagaimanapun juga, hanya pikiran mahatahu Buddha-lah yang mampu memahami bekerjanya Karma secara lengkap.
Ada kelenturan dalam berfungsinya perbuatan dan akibatnya. Sekalipun kita tahu bahwa jika kita terus-menerus menyakiti makhluk lain, contohnya, akan membawa kita pada kelahiran kembali yang kurang menguntungkan, tetap saja kita tidak tahu secara pasti dalam bentuk apakah nantinya kita dilahirkan. Jika tindakan kita sangat berat-misalnya, dengan kemurkaan besar kita terus-menerus menganiaya banyak orang dan merasa puas bahwa kita telah menyakiti orang itu, akibat yang akan kita terima tentu akan lebih tidak menyenangkan dibandingkan jika kita sekadar sembrono mengejek orang lain lalu menyesali kekurangpekaan kita. Berbagai keadaan yang hadir pada saat buah Karma masak, juga mempengaruhi akibat spesifik apakah yang akan terjadi.

Apakah Karma Selalu Adil?

Ketika kita melihat orang yang tidak jujur hidup kaya, atau orang kejam yang penuh kuasa, atau orang baik yang mati muda, kita mungkin jadi meragukan hukum Karma. Namun, banyak sekali akibat yang kita alami pada kehidupan ini merupakan akibat dari tindakan-tindakan kita pada kehidupan lampau kita; dan banyak tindakan-tindakan yang kita lakukan dalam kehidupan sekarang ini hanya akan masak dalam kelahiran yang akan datang-inilah yang disebut Karma jangka panjang (Karma jangka pendek adalah Karma yang berbuah dalam waktu yang relatif singkat). Kekayaan orang yang tidak jujur mungkin saja akibat kedermawanan orang itu dalam kehidupan lampaunya. Bagaimanapun juga, ketidakjujuran orang itu saat ini, meninggalkan benih-benih Karma bagi mereka untuk mengalami kemiskinan dalam kehidupan mendatang. Demikian pula, penghargaan dan kewenangan yang dimiliki oleh orang-orang yang kejam merupakan hasil perbuatan positif yang mereka lakukan pada kehidupan lampau. Pada kehidupan sekarang, mereka menyalahgunakan kekuasaan untuk hal-hal yang tidak baik, hal ini menciptakan sebab bagi penderitaan masa depan. Mereka yang mati muda sedang mengalami akibat perbuatan-perbuatan negatif seperti pembunuhan yang dilakukannya pada kehidupan lampau. Bagaimanapun, kebaikan mereka pada kehidupan saat ini akan menanamkan benih-benih atau jejak-jejak dalam arus kesadaran mereka untuk mengalami kebahagiaan pada masa yang akan datang.

Pastikah Kita Akan Mengalami Karma Buruk?

Ketika benih sekecil apa pun ditanam di tanah, pada akhirnya mereka akan berkembang-kecuali mereka tidak mendapatkan kondisi-kondisi yang diperlukan bagi pertumbuhan, seperti air, sinar matahari, dan pupuk. Jalan pamungkas untuk mencabut jejak atau benih Karma adalah dengan bermeditasi pada Kesunyaan (kekosongan) keberadaan. Inilah jalan untuk memurnikan kecenderungan dan jejak-jejak Karma yang merugikan. Pada tataran spiritual seperti kita, hal ini mungkin cukup sulit, tetapi kita tetap dapat menghentikan masaknya jejak-jejak merugikan dengan cara memurnikan mereka. Hal ini seperti mencegah benih untuk menerima air, sinar matahari, dan pupuk. Banyak melakukan kebajikan juga dapat "melarutkan" dampak merugikan dari Karma buruk.

Bagaimanakah Kita Memurnikan Karma Buruk?

Pemurnian sangatlah penting karena hal ini mencegah penderitaan pada masa mendatang dan meredakan perasaan bersalah. Dengan memurnikan pikiran, kita akan mampu untuk menjadi lebih tenang dan memahami Dharma dengan lebih baik. Empat kekuatan penangkal yang digunakan untuk memurnikan jejak atau benih negatif adalah:
  1. Penyesalan.
  2. Tekad untuk tidak mengulangi tindakan merugikan itu lagi.
  3. Mengambil Tiga Pernaungan dan membangkitkan Welas Asih kepada semua makhluk.
  4. Melakukan latihan-latihan penyembuhan sebenarnya (perbuatan baik apa pun-termasuk meditasi dan menguncar Sutta/Mantra).
Keempat kekuatan ini harus dilakukan berulang-ulang. Karena kita telah melakukan banyak sekali perbuatan negatif, kita tidak bisa berharap dapat memurnikan Karma-Karma buruk itu sekaligus. Semakin besar kekuatan empat komponen itu, semakin kuat tekad kita untuk tidak mengulangi perbuatan itu lagi, semakin kuatlah pemurnian kita.

Apakah Karma Mempengaruhi Siapa yang Kita Jumpai?

Ya, tetapi ini bukan berarti bahwa semua hubungan telah ditakdirkan. Kita mungkin punya kecenderungan Karma tertentu untuk merasa dekat atau merasa kurang pas dengan orang-orang tertentu. Akan tetapi, hal ini tidak berarti bahwa hubungan kita dengan mereka harus berlanjut terus seperti itu. Jika kita berbaik hati kepada mereka yang menyakiti kita dan mencoba untuk berkomunikasi dengan mereka, hubungan ini akan berubah, menciptakan Karma positif yang akan membawa kebahagiaan pada masa yang akan datang.
Kita tidak terikat kepada orang lain secara Karma-tidak ada orang tertentu yang khusus hanya untuk kita. Karena kita memiliki banyak kehidupan lampau, kita telah berhubungan dengan semua makhluk pada suatu waktu sebelumnya. Hubungan kita dengan orang tertentu juga terus berubah-ubah. Bagaimanapun juga, hubungan Karma lampau dapat mempengaruhi hubungan kita sekarang. Contohnya, jika seseorang telah menjadi guru spiritual kita pada suatu kehidupan lampau, kita mungkin akan bersua kembali dengan orang itu dalam kehidupan sekarang, dan ketika orang tersebut mengajarkan Dharma kepada kita, hal itu mungkin berpengaruh kuat bagi kita.

Jika Makhluk Lain Menderita Akibat Karma Buruknya, Dapatkah Kita Menolongnya?

Kita semua tahu bagaimana rasanya menderita, dan itu pulalah yang dirasakan makhluk lain ketika mereka mengalami akibat perbuatan buruk mereka. Didasarkan empati dan Welas Asih, sudah semestinya kita menolong mereka! Walaupun mereka menciptakan sendiri sebab-sebab bagi penderitaan mereka, mungkin mereka juga menciptakan sebab-sebab untuk menerima pertolongan dari kita! Kita semua adalah sama dalam hal mengharapkan kebahagiaan dan berusaha menghindari penderitaan. Tanpa pandang penderitaan atau masalah siapakah itu, kita seharusnya mencoba meringankannya. Sebagai contoh, berpikir bahwa "orang miskin itu miskin karena perbuatan lampau mereka sendiri-karena kikir; jika aku menolong mereka, aku akan ketularan miskin", ini merupakan pandangan salah yang kejam. Kita tidak seharusnya merasionalisasi kemalasan, sikap apatis, dan keangkuhan kita dengan salah mengartikan kaidah sebab dan akibat. Welas Asih dan tanggung jawab universal sangatlah penting untuk perkembangan spiritual kita sendiri dan kedamaian dunia.

18 Jul 2009

Arca Shiwa Ditemukan di Dasar Petirtaan

Arca Shiwa Ditemukan di Dasar Petirtaan


4Petugas Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah yang mengekskavasi petirtaan abad ke-8 di Desa Derekan, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, menemukan arca yang diduga berbentuk Shiwa di dasar petirtaan. Hal ini mengokohkan pendapat bahwa petirtaan itu dibangun kaum Shiwais dan menjadi bagian dari Candi Ngempon.

”Arca itu belum dibentuk sempurna karena atributnya masih kurang. Kemungkinan, arca itu ditaruh di tengah. Namun, sangat tidak umum meletakkan Shiwa di petirtaan karena kebanyakan menaruh Ganesha, yang salah satunya melambangkan kesejahteraan,” kata Kepala Unit Pemugaran Candi Ngempon Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah Gutomo, Rabu (15/7).

Arca setinggi 40 sentimeter dengan lebar 30 sentimeter itu ditemukan pada Selasa sore di dasar bagian timur petirtaan, dalam kondisi terkubur tanah. Arca itu berbentuk sosok tengah duduk bersila dengan tangan empat dan kepala mengenakan semacam mahkota. Namun, yang tampak jelas hanya dua tangan yang menyatu di bagian pusar.

Gutomo mengatakan, awalnya sangat sulit mengenali arca ini karena bentuknya yang belum sempurna. Terlebih lagi, umumnya sosok dewa dikenali dari atribut yang digunakannya. Namun, posisi arca yang dibentuk duduk bersila dan memiliki tangan empat membuat dia memperkirakan arca ini merupakan Shiwa.

Di lokasi tersebut, sebelumnya juga ditemukan tangga masuk petirtaan yang di tepinya terdapat arca dua gajah kembar. Jarak dari sudut sisi utara ke arca sekitar 2 meter. Di sekitar tempat tersebut juga ditemukan saluran kuno pembuangan air yang menuju sungai.

10 Jul 2009

Yang Anda Tebar, Anda tuai


Apa yang Anda tebar, itulah yang akan Anda tuai


Berikut ini adalah karma menurut ilmu Penyembuhan dengan Tenaga Prana. Dalam setiap lokakarya Penyembuhan dengan Tenaga Prana, baik itu Lokakarya tingkat Dasar, Tingkat Lanjut, Tingkat Psikoterapi, Penyembuhan dengan Kristal maupun Yoga Arhatik, selalu saja dibahas soal karma.

Kalau seseorang berbuat sesuatu, dengan tujuan yang baik ataupun buruk, pengaruh karmanya bisa mencapai sepuluh kali lipat. Bila Anda menanam sebutir gabah, Anda tidak hanya akan menuai satu bulir padi, tetapi Anda akan menuai beberapa kali lipat dari apa yang sudah Anda tanam. Kalau Anda menanam satu biji mangga, Anda nanti akan memanen banyak mangga selama bertahun-tahun.

Apa hubungan karma dengan Penyembuhan dengan Tenaga Prana? Apa perlunya kita membahasnya dalam setiap lokakarya?


Kita tahu, Penyembuhan dengan Tenaga Prana sangat ampuh untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Dalam memberikan energi, ada organ-organ atau cakra tertentu yang tidak boleh diberi energi warna tertentu, karena bisa membahayakan pasien kita.

Kita juga telah belajar melakukan penyembuhan jarak jauh, di manapun pasien kita berada, tidak menjadi soal, dengan efektif kita tetap bisa melakukan perawatan.

Kalau Anda tidak mematuhi larangan di atas dan memberikan energi yang membahayakan pada organ atau cakra yang seharusnya tidak boleh diberi energi itu, akan berakibat fatal bagi pasien Anda. Atau mungkin Anda bermaksud jahat ingin mencelakakan seseorang dengan memberikan energi yang berbahaya di tempat yang tidak seharusnya.

Apalagi kalau hal ini Anda lakukan dengan teknik penyembuhan jarak jauh, bukankah ini sama saja dengan ilmu tenung?

Karenanya untuk memberikan rambu-rambu agar kita tidak menyalahgunakan ilmu Penyembuhan dengan Tenaga Prana yang baru saja kita pelajari, sangat penting ditekankan pembahasan mengenai hukum sebab akibat atau karma ini.

Kalau Anda tidak ingin bernasib buruk, janganlah mencelakakan orang lain. Kalau Anda menginginkan kemakmuran, bermurah hatilah.

Mereka yang sedang mengembangkan kemampuan spiritualnya seperti para penyembuh prana, melakukan sesuatu dengan tujuan yang baik maupun yang buruk, pengaruh karmanya dapat berratus kali lipat. Ini tidak berlebih-lebihan dan harus ditafsirkan secara harafiah. Penyalahgunaan kekuatan seseorang atau teknik Penyembuhan dengan Tenaga Prana secara sengaja akan mendatangkan akibat karma yang sangat berat, seseorang akan menuai apa yang ditaburnya. Oleh sebab itu, lebih bijaksana dan lebih baik untuk selalu melakukan tindakan yang baik daripada tindakan yang jahat.

Anda tidak harus menerima begitu saja pendapat ini. Anda dapat mencobanya dengan melakukan sesuatu yang tidak terlalu negatif, untuk kemudian memperhatikan apa yang akan terjadi. Anda juga dapat melakukan sesuatu yang positif dan melihat apa yang akan terjadi. Sering kali akibat karmanya tidak tidak akan langsung terjadi secara sekaligus, tetapi sedikit demi sedikit secara bertahap, tetapi akibat karmanya tetap saja parah.

Hukum karma tidak ditentukan oleh nasib tetapi ditentukan oleh diri kita sendiri atau diarahkan oleh diri kita sendiri. Ini hanya berarti bahwa Anda harus bertanggung jawab atas tindakan, perkataan dan pikiran Anda. Anda tidak bisa menyalahkan orang lain, orang tua Anda, lingkungan Anda atau kekuatan yang tidak nampak untuk segala masalah dan kesulitan yang Anda alami. Jika Anda mendapat kesulitan, maka Anda sendirilah yang harus berusaha keluar dari kesulitan itu dangan atau tanpa pertolongan dari luar. Jika Anda mengalami banyak nasib buruk dan sering mengalami ketidak adilan, maka Anda harus bermeditasi dan merenung, dan menarik pelajaran darinya.

Anda harus melakukan perbuatan baik untuk menghasilkan karma yang baik. Jelas Anda harus bekerja keras dan cerdas untuk memperbaiki keadaan Anda. Dengan memetik pelajaran dari pengalaman Anda inilah, dan dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik, dengan berusaha dan berjuang dengan keras dan cerdas, Anda dapat mengubah keadaan yang merugikan menjadi menguntungkan. Dengan menanggulangi karma negatif, seseorang dapat disucikan dan memperoleh kekuatan dan kebijaksanaan batin.

Kekejaman terhadap sesama dan terhadap makhluk hidup lainnya adalah salah satu penyebab nasib buruk dan penyakit berat yang sangat menyakitkan. Apa yang kita tebar, itulah yang kita tuai, inilah hukumnya. Jika seseorang berulang kali menyakiti orang lain maka dia juga akan menuai rasa sakit yang luar biasa, kadang dalam bentuk penyakit yang berat. Jika seseorang berulang kali menghilangkan nafkah orang lain (bisa penghasilan, uang atau pangan), maka makanan fisiknyapun akan dirampas, ini dapat berupa penyakit paru-paru yang parah di mana dia tersengal-sengal menggapai hidup. Tubuh yang menderita itu lama kelamaan akan menjadi lemah. Ini juga menimbulkan pengaruh keuangan yang sangat merugikan.

Hindarilah kekejaman dan lakukanlah kebaikan hati kepada orang lain, ini adalah kunci utama menuju kesehatan yang baik, kebahagiaan dan untuk menghindari penyakit berat yang disertai rasa sakit yang hebat.

Karma negatif dapat dinetralkan dengan hukum pengampunan dan hukum belas kasihan. Anda dianjurkan untuk memaafkan dan memberkati mereka yang telah menyakiti hati Anda. Ini dapat dilakukan dengan cara membuat daftar orang-orang tersebut. Visualisasikanlah mereka dan dalam hati maafkanlah mereka satu persatu dan berkatilah mereka dengan kesehatan yang baik, kebahagiaan, keberhasilan, kemakmuran dan mohonkan perlindungan Tuhan. Agar karma negatif seseorang dinetralkan, dia perlu memaafkan orang lain, karena bila Anda memaafkan orang lain, Tuhan juga akan memaafkan Anda, tetapi jika Anda tidak memaafkan orang lain, Tuhan juga tidak akan memaafkan kesalahan Anda.

Hukum belas kasihan berarti bahwa untuk menerima belas kasihan, orang harus penuh belas kasihan. Sebaiknya Anda memberikan sepuluh persen dari penghasilan Anda setiap bulan dan selalu beramal. Melakukan tindakan dengan penuh belas kasihan menghasilkan karma baik dan memberikan hak kepada Anda untuk menerima belas kasihan. Menjadi vegetarian adalah tindakan belas kasihan terhadap binatang, karenanya orang yang menderita sakit berat sangat di anjurkan untuk melakukan diet vegetarian. Tindakan-tindakan kejam, ucapan yang menyakitkan hati dan pikiran yang negatif harus benar-benar dihindari. Bagaimana seseorang dapat menerima belas kasihan kalau dia menimbulkan begitu banyak sakit hati pada orang lain?


Dapat disimpulkan dengan sangat jelas bahwa karma adalah sebagai berikut: kalau Anda menanam kebaikan, Anda akan memperoleh kelimpahan, kalau Anda menanam kejahatan, hidup Anda akan penuh penderitaan. Pilihan Anda di tangan Anda.

8 Jul 2009

Filosofi Di Dalam Batik Yogyakarta

Filosofi Di Dalam Batik Yogyakarta


1. Batik cuwiri [batik tulis]

zat warna : Soga alam
kegunaan : Sebagai “semek’an” dan kemben. Dipakai saat upacara “mitoni”
unsur motif : Meru, gurda
filosofi : Cuwiri artinya kecil-kecil, diharapkan pemakainya terlihat pantas dan dihormati.
2. Batik sido mukti [batik tulis]


zat warna : Soga alam
kegunaan : Sebagai kain dalam upacara perkimpoian
unsur motif : Gurda
filosofi : Diharapkan selalu dalam kecukupan dan kebahagiaan.
3. batik kawung [batik tulis]


zat warna : Naphtol
kegunaan : Sebagai kain panjang
unsur motif : Geometris
filosofi : Biasa dipakai raja dan keluarganya sebagai lambang keperkasaan dan keadilan
4. batik pamiluto [batik tulis]


zat warna : Soga alam
kegunaan : Sebagai kain panjang saat pertunangan
unsur motif : Parang, ceplok, truntum dan lainnya
filosofi : Pamiluto berasal dari kata “pulut”, berarti perekat, dalam bahasa jawa bisa artinya kepilut [tertarik].
5. batik parang kusumo [batik tulis]


zat warna : Naphtol
kegunaan : Sebagai kain saat tukar cincin
unsur motif : Parang, mlinjon
ciri khas : Kerokan
filosofi : Kusumo artinya bunga yang mekar, diharapkan pemakainya terlihat indah
6. batik ceplok kasatrian [batik tulis]


zat warna : Soga alam
kegunaan : Sebagai kain saat kirab pengantin
unsur motif : Parang, gurda, meru
ciri khas : Kerokan
filosofi : Dipakai golongan menengah kebawah, agar terlihat gagah
7. batik nitik karawitan [batik tulis]


zat warna : Soga alam
kegunaan : Sebagai kain panjang
ciri khas : Kerokan
unsur motif : Ceplok
filosofi : Pemakainya orang yang bijaksana.
8. batik truntum [batik tulis]


zat warna : Soga alam
kegunaan : Dipakai saat pernikahan
ciri khas : Kerokan
filosofi : Truntum artinya menuntun, diharapkan orang tua bisa menuntun calon pengantin.
9. batik ciptoning [batik tulis]


zat warna : Soga alam
kegunaan : Sebagai kain panjang
unsur motif : Parang, wayang
ciri khas : Kerokan filosofi : Diharapkan pemakainya menjadi orang bijak, mampu memberi petunjuk jalan yang benar
10. batik tambal [batik tulis]


zat warna : Soga alam
kegunaan : Sebagai kain panjang
unsur motif : Ceplok, parang, meru dll
ciri khas : Kerokan
filosofi : Ada kepercayaan bila orang sakit menggunakan kain ini sebagai selimut, sakitnya cepat sembuh, karena tambal artinya menambah semangat baru
11. batik slobog [batik tulis]


zat warna : Naphtol
kegunaan : Sebagai kain panjang
unsur motif : Ceplok
ciri khas : Kerokan
filosofi : Slobog bisa juga “lobok” atau longgar, kain ini biasa dipakai untuk melayat agar yang meninggal tidak mengalami kesulitan menghadap yang kuasa.
12. batik parang rusak barong [batik tulis]


zat warna : Soga alam

kegunaan : Sebagai kain panjang
unsur motif : Parang, mlinjon
ciri khas : Kerokan
filosofi : Parang menggambarkan senjata, kekuasaan.
Ksatria yang menggunakan batik ini bisa berlipat kekuatannya.
13. batik udan liris


zat warna : Soga alam
kegunaan : Sebagai kain panjang
unsur motif : Kombinasi geometris dan suluran
ciri khas : Kerokan filosofi : Artinya udan gerimis, lambang kesuburan

2 Jul 2009

LUPAKAN MASA LALU YANG TELAH DIAM MEMBISU


Mengenang masa lalu atas apa nestapa dan kegagalan di dalamnya merupakan tindakan yang paling membodohkan. Sama artinya dengan membunuh semangat, memupuskan tekad dan mengukur masa depan yang belum terjadi.
Kesedihan tidak akan mampu mengembalikan keadaan, keresahan tidak akan sanggup memperbaikinya, kegundahan tidak akan mampu merubahnya menjadi terang, dan kegalauan tidak akan dapat menghidupkannya kembali, karena ia memang sudah tidak ada.           
Keterikatan dengan masa lalu, keresahan atas apa yang telah terjadi, ketakaran emosi jiwa oleh api panasnya, dan ketakutan jiwa pada pintunya merupakan kondisi yang sangat naif, ironis, memprihatinkan dan menakutkan.           
Kesedihan merupakan teman akrab kecemasan. Adapun perbedaan antara keduanya adalah manakala suatu hal yang tidak disukai hati itu berkaitan dengan hal-hal yang belum terjadi, ia akan membuahkan kecemasan. bila berkaitan dengan persoalan masa lalu, maka ia akan membuahkan kesedihan. Dan persamaannya, keduanya sama-sama dapat melemahkan semangat dan kehendak hati untuk berbuat suatu kebaikan.           Ketika suatu perkara telah selesai, maka selesai pula urusannya. Tidak ada gunanya mengurai kembali bangkai zaman dalam memutar kembali roda sejarah.           
Manakala kita rela mengabaikan masa depan dan justru hanya disibukkan oleh masa lalu. sama halnya dengan kita mengabaikan istana-istana yang indah dengan sibuk meratapi puing-puing yang telah lapuk. betapa pun seluruh manusia dan jin bersatu untuk mengembalikan semua hal yang telah berlalu, mereka tidak akan pernah mampu. demikian itu sudah mustahil pada awalnya.          
 Angin akan selalu berhembus ke depan, air akan mengalir ke depan, setiap kafilah akan berjalan ke depan dan segala sesuatu akan bergerak maju ke depan. Janganlah pernah melawan sunah kehidupan.         
  Ketika melihat seutas tali merenggang kencang ketahuilah tali itu akan segera putus. karena setiap tangisan akan berujung dengan senyuman, ketakutan akan berakhir dengan rasa aman, dan kegelisahan akan sirna oleh kedamaian.          
 Kondisi dunia ini penuh kenikmtan, banyak pilihan, penuh rupa dan banyak warna. Semua bercampur dengan kecemasan dan kesulitan hidup.          
Dunia sebagai tempat bertemunya dua hal yang saling berlawanan, dua jenis yang saling bertolak belakang, dua kubu yang saling berseberangan, dan dua pendapat yang saling berseberangan.         

  Kesulitan dalam kehidupan ini merupakan perkara yang nisbi. segala sesuatu akan terasa sakit bagi jiwa yang kerdil, tapi bagi jiwa yang besar tidak ada istilah kesulitan yang besar.  

        

 Hidup ini adalah seni bagaimana membuat sesuatu. Dan seni harus dipelajari serta ditekuni. maka sangatlah baik bila manusia berusaha keras dan penuh kesungguhan mau belajar tentang bagaimana menghasilkan kebahagiaan.