.

1 Jul 2013

HUTAN (ALAS) DALAM UNGKAPAN JAWA

Pernah saya baca dan catat (sumbernya lupa) bahwa luas Pulau Jawa adalah 129.600,71 Km2 (12.960.071 Ha). Pada abad ke-16 sampai pertengahan abad ke-18, hutan alam di Jawa diperkirakan masih sekitar 9 juta hektar. Sedangkan pada akhir tahun 1980-an, hutan alam di Jawa hanya tinggal 0,97 juta hektar atau sekitar 7 persen dari luas total Pulau Jawa.
Hutan dalam bahasa Jawa disebut ALAS (tanah luas, tidak digarap manusia, penuh pepohonan besar). Dalam bahasa Jawa Krama Inggil "alas" disebut WANA. Banyak ungkapan bahasa Jawa yang menggunakan kata “alas”. Tentunya ungkapan-ungkapan ini lahir saat hutan di Pulau Jawa masih luas, setidak-tidaknya sebelum abad ke 18 seperti disebutkan di atas.
Di bawah adalah beberapa ungkapan Bahasa Jawa yang menggunakan kata ALAS, yang dewasa ini sudah tidak banyak disebutkan orang lagi, kiranya dapat dijadikan rujukan.
1. ALAS ROBAN
Letak Alas Roban ada di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Nama Alas Roban sudah dikenal sejak abad ke 17 karena merupakan rute pasukan Sultan Agung dari Mataram (Yogyakarta/Jateng) waktu mengirim ekspedisi menyerang benteng Belanda di Batavia. 
Sampai sekarang pun walau kondisinya  tidak semengerikan jaman 300an tahun yang lalu, Alas Roban tetap dikenal sebagai hutan yang angker: Baik dari sisi hantu yang konon banyak gentayangan di situ, maupun dari sisi kejahatan (Rampok, bajing loncat). Beberapa puluh tahun yang lalu mobil tidak berani sendirian melewati Alas Roban. Tunggu ada mobil lain, lalu konvoi.
Mengapa disebut Alas Roban? Dari sisi bahasa ROBAN adalah hutan yang bisa kemasukan air laut saat pasang (Rob).
2. ALAS GRENG
Greng (ri-bebondhotan): onak duri. Sigreng: Besar dan angker. Dengan demikian pengertian “alas greng” adalah hutan yang luas, padat pohon, tampak gelap dan angker, penuh dengan onak-duri.
3. ALAS GUNG atau ALAS GUNG LIWANG-LIWUNG
Pengertian “gung liwang-liwung” adalah “besar sekali”. Digunakan untuk menyebutkan hutan yang amat luas dengan pepohonan yang amat besar pula. Kalau penuh onak-duri dan sulit dilewati karena tebalnya, maka disebut ALAS GRENG.
4. ALAS GLEDHEGAN
Gledheg: bunyi seperti orang menarik roda kayu, gledheg-gledheg. Alas Gledhegan adalah hutan lebat, penuh pohon besar, bila ada angin meniup, tedengar suara gledheg-gledheg. “Alas Gledhegan” bisa saja merupakan “Alas Gung Liwang-Liwung atau Alas Greng”
5. ALAS GEROTAN
Sama dengan Alas Gledhegan tetapi dalam hal ini suara kayu yang bergesekan saat ada tiupan angin berbunyi “gerot-gerot”.
6. ALAS TRATABAN
Trataban: Jantung berdebar-debar. Mengapa jantung berdebar (denyut lebih cepat)? Salah satu sebabnya adalah “rasa takut”. Alas trataban adalah hutan kecil berupa gerumbul-gerumbul. Orang desa (jaman dulu) dalam perjalanan sering melewati “alas trataban” ini. Mereka (terutama kalau sendirian) timbul rasa takut waktu harus melewatinya. Jangan-jangan ada binatang buas, penjahat, hantu, dll yang membahayakan dan menakutkan. Jaman sekarang di Pulau Jawa sepertinya sudah tidak ada lagi yang disebut “alas trataban”.
7. ALAS MINANGSRAYA (WINANGSRAYA)
Gambaran hutan yang amat angker: Janma mara mati, sato mara mati (baik manusia maupun binatang kalau masuk ke hutan tersebut pasti mati.
8. ALAS TUTUPAN
Hutan yang dikuasai negara. Tertutup untuk ditebang pohonnya adat diambil hasil hutannya secara liar.
9. ALAS PEJATEN
Hutan yang ditanami pohon jati. Umumnya ALAS PEJATEN juga merupakan ALAS TUTUPAN.
 
 
10. NGALASAKE NEGARA
Termasuk paribasan Jawa. Negara dianggap hutan. Di hutan tidak ada aturan, kalau ada, maka yang ada adalah hukum rimba. Paribasan ini menggambarkan orang yang berbuat semaunya, tidak mengindahkan aturan negara. Dianggapnya negara ini adalah hutan. Ia lupa bahwa ada kata-kata: Desa mawa cara, negara mawa tata.
11. NUSUP NGAYAM ALAS
Ayam hutan umumnya bersembunyi di semak-semak dan berjalan diantara semak-belukar sehingga sulit ditangkap. Paribasan ini menggambarkan orang yang menempuh perjalanan masuk hutan menyusup diantara semak-belukar.
12. SETAN ALAS
Kalau yang satu ini adalah: Salah satu “makian” ala Jawa.
LIDING DONGENG
Duabelas ungkapan ini membuktikan bahwa jaman dulu orang Jawa akrab dengan hutan. Sehingga ada ungkapan mengenai jenis hutan, perilaku manusia yang mbalela, cara manusia sembunyi-sembunyi menembus hutan bahkan makian. Dewasa ini barangkali tinggal satu yang paling sering kita dengar yaitu Alas Roban. Mungkin ada satu lagi yang kadang-kadang kita dengar: Setan Alas. Ungkapan lain barangkali menyingkir bersama hilangnya hutan (Iwan MM)