.

24 Feb 2014

Misteri Ilmu Lembu Petheng Pak Harto

Hanya Kalah oleh Umurnya Sendiri

Misteri Ilmu Lembu Petheng Pak Harto

Misteri Ilmu Lembu Petheng Pak Harto Pak Harto disegani lawan-lawan politiknya termasuk Bung Karno karena memiliki ilmu Lembu Petheng.
Suharto adalah anak petani yang secara politik bisa mengalahkan Sudarsono, DN Aidit, Sukarno, Hatta, Nasution dan seluruh orang besar di negeri ini yang mustahil dikalahkan. Sebab, dia merupakan sosok Lembu Petheng. Secara politik, Suharto hanya dikalahkan oleh umurnya sendiri.
Saat itu Minggu Wage, 27 Januari 2008. Jarum jam menunjuk ke angka 15.30. Bersamaan dengan terdengarnya suara Azan Asar sayup-sayup dari kejauhan. Suasana Astana Giribangun saat itu sangat tidauh, tidak sinar matahari. Uniknya seperti tidak ada  awan, juga tiada tanda gerimis bakal jatuh.
Sejumlah orang berkumpul, mengelilingi sebidang petak tanah makam yang siap digali. Mereka melakukan upacara Bedah Bumi, tujuannya agar penggalian berjalan lancar dan selamat. Yang memimpin Begug Purnomosidi.
Lalu, linggis dihujamkan ke  tanah. Tak ada apapun yang terjadi. Begitu pula yang ke dua. Namun, kejadian yang membuat merinding bulu kuduk terjadi saat linggis mengoyak tanah  untuk kali ketiganya.
“Tiba-tiba, duar! Terdengar suara ledakan yang sangat keras bergema di atas kepala kami,” kata  Sukirno, juru kunci makam keluarga Soeharto di Astana  Giribangun, menceritakan pengalamannya menggali makam Soeharto.
Para penggali makam dan orang-orang di sekitarnya sontak kaget. Mereka berpandangan. Bingung. Mencoba mereka-reka dari mana asal suara menggelegar itu.
“Bukan bunyi petir, lebih  mirip suara bom besar meledak di atas cungkup Astana Giribangun,” kata Sukirno.
Namun, anehnya, tak ada yang porak poranda, tak ada yang benda yang bergeser karena suara ledakan itu. Terbesit di pikiran, mungkin itu suara gaib. Ada juga yang berpikiran itu adalah ilmu Lembu Petheng Suharto.
Semua yang ada di tempat itu terdiam, terpaku. Lalu, suara Begug memecah keheningan. “Bumi  mengisyaratkan penerimaan terhadap jenazah beliau,” tutur  Sukirno.
Memang, jika Negara ini menjadi negara besar, Indonesia harus memiliki pemimpin yang memiliki ilmu Lembu Petheng. Lembu Petheng sebenarnya bukan ilmu, tetapi sekedar perumpamaan terhadap sosok pemimpin yang tak jelas siapa bapak kandungnya. Seperti Ken Arok dan Pak Harto yang tak jelas siapa bapaknya.

Meski demikian, orang-orang yang masuk dalam kategori Lembu Petheng, biasanya memiliki kekuatan yang tiada batas. Lembu Petheng kemudian dianalogikan sebagaian orang sebagai sebuah ilmu atau kekuatan. Sebab, mereka-mereka yang masuk golongan Lembu Petheng–seperti Ken Arok dan Pak Harto, biasanya akan memiliki kekuatan (ilmu) yang besar. Sebab, orang-orang Lembu Petheng tidak punya rasa minder terhadap masa lalu. Itulah yang dikatakan budayawan Sudjiwo Tedjo.
Sejarah Jawa adalah sejarah suksesi, sejarah kudeta dan sejarah berdarah-darah dalam merebut tahta kekuasaan. Banyak tokoh yang kemudian muncul tiba-tiba dalam panggung sejarah, tanpa masa lalu, dan tanpa beban silsilah. Ia kemudian mengklaim sebagai anak para Dewa, anak Para Raja, dan dengan begitu mereka menggenggam mitos.

Suharto adalah manusia paling kontroversial di Indonesia. Nilai kontroversinya jauh melebihi Sukarno. Bila Bung Karno dikenal dunia karena ulahnya yang begitu mencengangkan dan sering bikin kejutan, maka Suharto lebih pada nilai misteriusnya. Misteri Suharto adalah kekuasaan yang begitu besar, dan itu dibangun dengan cara yang mungkin orang akan juga tercengang yaitu sikap: Diam. Pendiam bagi Suharto bukan hanya watak tapi merupakan latihan menahan diri yang ekstrem.
Yah, dengan ilmu Lembu Petheng itulah, Suharto bisa memecahkan mitos buku suci Raja-raja Jawa. Ini juga yang tampaknya dipegang dalam konstelasi perpolitik nasional kita yang belum lepas dari kesejarahan mitos atas silsilah di masa lalu.

Naiknya Megawati dan SBY juga tak lepas dari mitos atas kerja orangtua mereka dimasa lalu. Sehingga silsilah menjadi begitu penting dalam kerja politik kita, penghancuran mitos ini belum reda sampai sekarang.
Mitologi silsilah inilah yang kemudian ditembak oleh Sudjiwo Tedjo dalam melihat kasus Suharto. Menurut Sudjiwo Tedjo, “Bagaimana mungkin seorang anak petani biasa membuat Sri Sultan Hamengkubuwono IX tertunduk dan menurut pada Pak Harto, bagaimana mungkin orang yang begitu Prabawa dan penuh kharisma seperti Bung Karno seperti gemetar ketakutan melihat Suharto, bahkan di akhir tahun 1966 dengan nada galau Sukarno berteriak tiga kali menyebut Suharto sebagai keadaan bahwa tak boleh ada yang merebut kursi Presiden,” katanya
.
Yah, pada saat itu, Bung Karno menyebut nama Suharto tiga kali. “Tidak Juga engkau Suharto, Tidak Juga engkau Suharto, Tidak Juga engkau Suharto….” kata Bung Karno sambil tangannya menunjuk-nunjuk ke arah barisan para Jenderalnya. Ada apa dengan kekuatan Suharto?
Jelas Sukarno tidak akan takut dengan kekuatan militer Amerika Serikat, ia sudah terbiasa menghadapi teater perang besar. Bahkan di hadapan Dadong (nama panggilan Presiden Filipina-Macapagal), Sukarno menyatakan siap menghadapi perang sebesar apapun, dan itu memang sudah dilakukan Sukarno ketika ia meletuskan kata-kata Dwikora dan mengancam perang dengan Malaysia, sebuah pidato yang mirip pidato Franklin Delano Roosevelt.

Koran-koran besar Amerika menjuluki Sukarno sebagai ‘Tiran’ dengan kekuatan tanpa tanding yang mengancam dunia bebas. Tapi di sisi lain di negara-negara bekas jajahan dan negara tertindas, Sukarno dijuluki “Hadiah Tuhan untuk Kebebasan Bagi mereka Yang Tertindas”. Di sini Sukarno menunjukkan bukan saja orang nomor satu, tapi juga tokoh dunia.
Sementara Jenderal AH Nasution sendiri saat menunggui anaknya di RS Gatot Subroto yang sekarat tertembak pasukan penculik pimpinan Letkol Untung, menampik saran Adam Malik.
Saat itu Adam Malik berkata pada Nasution yang juga merupakan sepupunya sendiri “Nas, kau ambil itu kekuasaan Angkatan Darat, sekarang juga kau ke Kostrad, kau pegang sendiri militer”.
Tapi Nasution menolak dengan alasan bahwa “bagaimana mungkin aku meninggalkan anakku yang sekarat untuk urusan pekerjaan”.

Di sinilah kemudian Adam Malik kecewa, dan menganggap Nasution lemah. Tapi mungkin Adam Malik lupa, sepanjang sejarah karir militer Nasution, ia tak berani berhadapan head to head dengan Sukarno. Seperti yang diucapkan Nasution sendiri di Amerika Serikat dalam wawancara dengan jurnalis Amerika Serikat di awal tahun 1960-an.
“Saya tak mungkin berhadapan dengan Sukarno, dialah yang menyadarkan saya tentang arti kemerdekaan, sebelum saya tahu apa itu merdeka di masa saya sekolah dulu,” katanya.
Ini artinya, kekuatan Sukarno memang secara personal luar biasa, dan anehnya kekuatan Sukarno bisa lebur ditangan Jenderal yang sama sekali tak dikenal sebelumnya. Nama Jenderal itu pernah disebut-sebut di koran-koran sepanjang konflik politik yang panas pada paruh pertama 1960-an.
Namanya hanya muncul sekilas saat pemakaman Jenderal Gatot Subroto dan saat ia diangkat jadi Panglima Mandala dalam Perang Perebutan Irian Barat. Itupun kemudian namanya tenggelam oleh Subandrio, Menteri Luar Negeri yang memiliki kelihaian diplomasi dengan mencari celah dukungan Inggris dan Amerika Serikat dalam menendang Belanda keluar dari Irian Barat. Yah, dialah Suharto.
Tidak Jelas Asal-usulnya

Saat menjabat presiden, Pak Harto mengaku sebagai anak petani.
Saat menjabat presiden, Pak Harto mengaku sebagai anak petani.
Suharto lahir dari situasi yang tak jelas. Pernyataan ini bukan hanya lahir dari majalah-majalah gosip yang banyak bermunculan di tahun 1970-an soal asal usul Suharto, tetapi juga dari buku-buku yang berbobot ilmiah tinggi seperti buku Robert Edward Elson, seorang Profesor dari University of Queensland, Australia yang secara serius meriset Suharto.

Disebutkan, bahwa asal usul Suharto menjadi bagian paling rumit untuk mendefinisikan kepribadian dan posisi psikologis Suharto di masa mendatang. Elson Elson menyajikan riset atas konfigurasi keluarga Suharto yang rumit, mengenaskan serta tidak jelasnya siapa ayah kandung Suharto. Ayah kandung Suharto yang tak jelas ini kemudian berpengaruh atas kepribadian Suharto yang pendiam, menganalisa masalah, mempertimbangkan keadaan serta hati-hati dan kepribadian ini menjadi modal dalam keberhasilan hidupnya. Bahkan ketika memimpin negeri ini, Suharto tidak memiliki rasa minder terhadap masa lalu.
Suharto lahir 8 Juni 1921, angka ini juga masih diperdebatkan banyak orang. Namun Suharto sendiri meredakan perdebatan ini dan ia secara gamblang menyatakan tanggal lahirnya adalah 8 Juli 1921.
Suharto dilahirkan dari seorang ibu yang galau, yang stress dan sedang prihatin. Ada juga yang menyebutkan bahwa asal usul Suharto, yakni dua tahun setelah kelahirannya orangtua mereka bercerai, tapi Elson lebih ganas lagi menyebutkan waktunya: Orangtua Suharto bercerai empat minggu setelah kelahiran Suharto.
Sukirah–ibu Suharto–mengalami kondisi stress. Ia dikabarkan hilang dan ternyata sedang ‘ngebleng’ puasa tanpa makan dan minum. Ia merasa membawa beban hidup yang amat berat. Bagi kalangan Jawa yang mengerti ilmu kebatinan, jelas Sukirah mengalami beban psikologi luar biasa karena ia mengandung ‘Seorang Raja di Masa Depan’. Penduduk kampung mencari-cari Sukirah, yang kemudian ditemukan dalam keadaan hampir mati karena kurang makan dan minum.

Dari situasi keprihatinan yang tinggi itulah Suharto lahir. Di usia empat tahun Suharto sudah diserahkan ke kakak ibunya, pada keluarga Kromodiryo. Pada usia yang masih amat muda sekitar lima tahun dan ini mengherankan bagi anak desa seumurnya, Suharto sudah disekolahkan.
Suharto yang berada di dusun amat terpencil bisa bersekolah bagus ini juga menjelaskan siapa ayah Suharto sesungguhnya. Suharto sendiri tak mengalami ikatan emosional yang tinggi kepada orang yang dianggap ayahnya yaitu Kertosudiro. Tapi kemungkinan Suharto sudah mengerti bahwa Kertosudiro bukan ayah kandungnya.

“Di masa lalu ada teman seingat saya bernama si Kromo, yang mengata-ngatai saya sebagai ‘Den Mas Tahi Mabul’. Dan ini penghinaan bagi Suharto kecil, lalu Suharto menonjok anak itu,” kata Suharto.
Dan itulah pengalaman satu-satunya Suharto berkelahi. Ini artinya berbeda dengan pengalaman berkelahi pertama Sukarno yang mempersoalkan dia dilarang main bola oleh Sinyo Belanda karena ia seorang Pribumi. Tapi Suharto berkelahi karena persoalan tak jelas asal usulnya. Dari Sukirah sendiri Suharto memang ada keturunan bangsawan Yogyakarta, kakek buyut Suharto: Notosudiro, memiliki isteri yang merupakan anak perempuan dari Hamengkubuwono V.
Terlepas dari situasi sulit siapa ayah kandungnya, perpecahan keluarga dan segala macam konflik psikologis dalam lingkungannya, Suharto tumbuh secara baik. Ia adalah pemuda yang tampan, berwajah ningrat dan sangat halus perangainya. Beberapa kali Suharto menjadi bahan rebutan antara Sukirah dan Kertosudiro, sehingga Suharto harus tabah dalam menjalani kehidupan.

Suharto sendiri mengakui saat paling bahagia adalah ketika ia ‘ngenger’ (menumpang) pada keluarga Prawirohardjo, yang salah satu anaknya adalah Sulardi di Wuryantoro. Lewat Sulardi inilah Suharto berkenalan dengan Hartinah, puteri wedana di Wonogiri, yang juga merupakan kawan sekelas Sulardi, kelak Hartinah menjadi isteri Suharto.
Suharto hidup prihatin. Ia senang sekali berpuasa. “Saya sudah mengalami banyak laku, banyak tindakan pertapaan di diri saya, satu-satunya yang belum saya lakukan adalah tidur diatas sampah,” kenang Suharto kala itu
.
Bertapa adalah ‘keprihatinan’ ala orang Jawa dalam memahami penderitaan, dalam keprihatinan manusia tidak boleh hidup enak, mereka harus mendidik dirinya sendiri dengan keras agar tidak gampang mengeluh dalam kehidupan dan kuat menghadapi godaan dalam menjalani cita-cita.
Guru Suharto paling awal dalam soal kebatinan dan pemahaman pada nilai-nilai filsafat Jawa adalah Kyai Daryatmo yang ditemui Suharto sewaktu muda.
Kemampuan Suharto dalam mengolah diri inilah yang kemudian berhasil menjadikan dirinya sebagai orang disiplin. Ia juga terus menerus mencari daya linuwih dalam kehidupannya. Ia orang yang tidak gemar kenikmatan hidup. Ia hanya menjalani apa yang diyakininya benar, tentunya terlepas keyakinannya itu membuat sengsara banyak orang, atau membuat keadaan susah, ia tahu apa tujuannya.
Misteri “Diamnya” Suharto

Pak Harto mengenakan blangkon sebagai simbol orang Jawa.
Pak Harto mengenakan blangkon sebagai simbol orang Jawa.
Perkenalan Suharto pertama kali dengan militer adalah di KNIL. Awalnya ia ingin melamar jadi Angkatan Laut, jadi seorang kelasi. Hal ini ia lakukan karena melihat seorang kelasi sedang berlibur di Yogya dan amat gagah. Namun keinginannya saat menjadi kelasi ia urungkan ketika ia mendaftar ke Angkatan Laut Hindia Belanda, soalnya ia mendengar bahwa lowongan yang dibuka hanya sebagai juru masak.
Sekeluarnya dari pendaftaran kelasi Angkatan Laut, tanpa sengaja ia mendengar bahwa KNIL membuka pendaftaran. Ia amat berminat kejadian itu sekitar akhir tahun 1939 atau awal 1940. Saat itu Hindia Belanda sedang membutuhkan tenaga perang sekitar 35.000 orang pribumi. Saat itu memang berkembang wacana bahwa kemungkinan Jepang masuk ke Hindia Belanda dan tak mungkin berhadapan dengan Jepang sendirian, seperti di Filipina yang sedang mempersiapkan perlawanan rakyat, maka Belanda harus mempersiapkan pribumi untuk militerisasi demi menghadapi serbuan Jepang.

Tampaknya wacana militerisasi kaum pribumi menjadi mentah, karena militerisasi ini hanya akan menjadikan ‘senjata makan tuan’ bagi Belanda kelak dikemudian hari. Akhirnya kaum pribumi dibatalkan untuk menghadapi Jepang. Ratusan ribu senjata yang sedianya digunakan untuk perang disembunyikan dan Pemerintahan Hindia Belanda memilih lari ke Australia.
Suharto masuk dalam program militerisasi besar-besaran itu dan ia lulus sebagai yang terbaik tiga tahun kemudian, tak lama kemudian Jepang masuk.
Ada cerita menarik ketika Suharto ingin masuk KNIL. Ia ngangon dua kerbaunya di ladang tebu dan bertemu sepupunya Sukardjo Wilardjito.
Sukardjo bercerita, “Mas Harto pamit dengan saya untuk masuk tentara karena ia tak sempat bertemu dengan ayah Sukardjo yang kebetulan adalah Paman Suharto dan seorang Lurah di Rewulu, Yogyakarta.”
“Kebetulan Dik, kita bertemu disini sehingga aku tak perlu ke rumahmu” katanya kepada Sukardjo.
“Ada apa sih Mas, kok rupanya penting sekali” jawab Sukardjo sambil mengerat tebu. “Penting sih tidak, cuma mau minta pamit”.
“Memang mau kemana sih mas?”
“Aku akan masuk Kumpeni,” kata Suharto.
“Sekolahan?”
“Aku sudah berhenti sekolah kok” Sukardjo heran lantas bertanya, “Padahal kudengar Mas Harto sudah kelas tiga MULO (SMP), tidak tunggu nanti kalau tamat saja?”
Suharto pamit kepada sepupunya untuk menjadi serdadu di Purworejo, Jawa Tengah dan menghentikan sekolahnya. Percakapan ini menjadi penting bukan saja karena dua orang ini memiliki hubungan saudara, tapi karena kelak dua orang ini di tahun 1966 berhadapan di sisi yang berlainan. Suharto memerintahkan Jenderalnya yang disebut ada tiga orang: Mayjen Amircmachmud, Mayjen M Jusuf dan Mayjen Basuki Rachmat untuk meminta surat perintah kekuasaan menertibkan keadaan.
Sementara di pihak lain sepupunya Sukardjo Wilardjito yang saat itu berpangkat Letnan Satu menjadi ajudan Bung Karno. Dan menurut pengakuannya, dia menyaksikan sendiri bagaimana Bung Karno ditodong senjata oleh seorang Jenderal yang ia sebut sebagai Mayjen Panggabean. Jenderal keempat dalam urusan Supersemar ini sempat heboh di awal tahun 2000, dan sampai sekarang kronologis SP 11 Maret 1966 menjadi berita paling menghebohkan.
Namun seperti biasa berita ini tetap dimenangkan oleh pembela Suharto yang mau tak mau Suharto telah memenangkan sejarah dengan memasukkan SP 11 Maret 1966 sebagai tonggak penting konstitusi di Indonesia.

Sukardjo kemudian diburu dan dipenjara bahkan sempat dibuang ke luar Jawa, namun selalu urung dibunuh apakah karena mungkin ia sepupu Suharto? Yang jelas disini Suharto bisa amat dingin membedakan mana saudara, mana politik. Inilah yang kemudian membuat Suharto memang merupakan Jenderal Berdarah Dingin, dan memiliki kepribadian lebih kuat apalagi hanya dibandingkan dengan Nasution yang cenderung lemah.

Kemampuan Suharto dalam memenangkan sejarah ini tak lepas dari kepribadiannya yang teliti sebelum mengambil tindakan dan mengamati. Salah satu modal psikologis dalam memenangkan setiap pertempurannya adalah ia amat “pendiam”.
Rosihan Anwar, wartawan senior Republikein yang pernah bersama Suharto tahun 1949 pernah menceritakan hal itu. “Saya berjalan berjam-jam dengan Suharto untuk menemui Jenderal Sudirman dan diantar oleh dia, tapi sekalipun ia tidak bicara. Ia hanya menyetir mobil lalu masuk pedesaan. Ia juga memetik kelapa dan satu-satunya ucapan yang ia katakan pada saya adalah “silahkan diminum” ketika menawari air degan (degan=kelapa muda). Ia adalah orang yang ‘kulino meneng’ (terbiasa berdiam diri),” sebut Rosihan menjuluki watak Suharto.
Kelak di tahun 1974 surat kabar Rosihan Anwar ‘Pedoman’ dibredel Pemerintahan Suharto, ketika Mashuri bertanya bagaimana nasib Pedoman pasca peristiwa Malari 1974, Suharto menjawab sinis, “Wis dipateni wae (sudah dibunuh saja)”.

Jelas ini menunjukkan Suharto amat dingin terhadap orang yang ia kenal dimasa lalu. Ia lebih mementingkan tujuan dalam mengerjakan sesuatu ketimbang kehangatan hubungan antar manusia.
Diam Suharto itu, kata Rosihan Anwar, modal dan itu adalah prinsipnya. Dengan filsafat diam ia membangun kekuasaannya dengan begitu perkasa dan tidak pernah terkalahkan oleh kekuatan politik lokal apapun. Namun ironisnya, kekuasaan Orde Baru yang begitu besar justru jatuh karena paradoks-paradoks masyarakat yang dibangunnya. Begitu juga dengan kekejamannya, korupsi bahkan lebih jauh lagi merubah secara fundamental haluan bangsa ini yang diarahkan oleh founding fathers sebagai negara kesejahteraan bersama menjadi negara milik kaum kroni, mungkin sampai detik ini.
Ilmu Lembu Petheng

Pak Harto bersama Bung Karno.
Pak Harto bersama Bung Karno.
Suharto amat berminat dalam latihan-latihan kemiliteran. Ia juga terpengaruh oleh ide-ide nasionalisme yang amat bergema pada masa latihan kemiliteran di PETA. Saat itu ide paling besar dari perwira PETA adalah: Nasionalisme Ekstrim, anti Belanda dan Anti Jepang.

Ada hal lain yang perlu dicatat PETA berbeda dengan KNIL. Dalam PETA tidak adanya pengaruh sipil yang mengendalikan ia seakan-akan bergerak sendiri. Sementara KNIL amat dipengaruhi keputusan sipil. Watak dasar entitas inilah yang kemudian menjelaskan bagaimana kemudian Jenderal-Jenderal Orde Baru lulusan PETA yang kemudian mengambil alih kendali sejarah, memutuskan hubungan dengan sipil dan berani menghajar Sukarno, berbeda dengan jenderal lulusan KNIL yang cenderung taat pada otoritas sipil.
Karir Suharto melejit setelah ia mendengarkan pengumuman bahwa Sukarno telah memerdekakan Indonesia. Ia sendiri mengakui bersorak gembira ia larut dalam eforia kemerdekaan Republik Indonesia. Tapi ia langsung bertindak di Yogyakarta dan karena masa lalunya yang baik dalam latihan kemiliteran ia langsung diangkat menjadi Mayor Republik.

Ini adalah keputusan menarik bagi seorang Suharto, karena bagaimanapun sebagai eks KNIL dan memiliki karir bagus di PETA, dan ia bisa saja menunggu Belanda dan melamar menjadi Perwira KNIL untuk perang dengan Republik. Tapi, Suharto lebih memilih menjadi pejuang di garis kemerdekaan Republik Indonesia. Pilihan ini tidak bisa dianggap remeh karena ini bisa menjelaskan watak nasionalisme Suharto yang puritan, ekstrim dan tidak aneh-aneh, setia pada merah putih walaupun kemudian ia gagal paham soal pandangan yang lebih menjlimet lagi ‘soal kedaulatan total’ ide yang dikeluarkan oleh Tan Malaka dan Bung Karno.
Bagi Suharto nasionalisme adalah soal kesejahteraan, cinta tanah air dan rakyat tidak kelaparan. Nasionalisme logistik inilah yang kemudian mewarnai Indonesia selama lebih dari 32 tahun.
Suharto adalah orang yang beruntung, ia tanpa sengaja masuk ke dalam pusaran sejarah dan kenal dengan orang-orang nomor satu di negeri ini. Ia bisa kenal dengan Bung Karno lewat kejadian paling bersejarah, yakni penangkapan Djenderal Mayoor Sudarsono.

Saat itu Sudarsono adalah orang yang paling berjasa terhadap pembentukan pasukan di Yogyakarta. Ia yang menyerang seluruh markas Jepang dan merebut persenjataan sehingga pasukan di Yogyakarta menjadi pasukan terkuat se Indonesia. Kekuatan pasukan inilah yang kemudian menjadikan posisi Sri Sultan Hamengkubuwono IX amat penting serta membuat seluruh kabinet Republik Indonesia mengungsi ke Yogyakarta dan meminta perlindungan pada Sri Sultan Hamengkubuwono IX sekaligus menyusun strategi militer yang lebih komprehensif untuk menghadapi kekuatan Belanda yang menurut data intelijen Inggris dan sudah diterima Sjahrir akan masuk lewat struktur entitas militer bernama NICA.
Di awal tahun 1946 berkembang perdebatan sengit di dua kelompok: Kelompok Sjahrir dan Amir Sjarifuddin. Saat itu mereka bersatu dalam Partai Sosialis (PS) serta menjadi dominan dalam Kabinet menghendaki perundingan kepada Belanda. Sementara di pihak lain kelompok oposisi yang dipimpin Tan Malaka menghendaki perang total, perang tanpa kompromi dengan Belanda.
“Tak Perundingan, Tak ada diplomasi, Merdeka-lah kita 100%”. Dan Kelompok Tan Malaka mendapatkan simpati hampir semua perwira militer terutama yang berasal dari PETA. Jenderal Sudirman adalah pengagum Tan Malaka. Ia selalu berdiri dan bertepuk tangan ketika Tan Malaka pidato. Anak buah Sudirman, Jenderal Mayoor Sudarsono dan anak buahnya Mayor AK Yusuf juga amat berdiri di garis Tan Malaka. Namun ada situasi over acting muncul dari tindakan Sudarsono yang menangkap Perdana Menteri Sjahrir dan pengikutnya.

Tindakan Sudarsono ini jelas dikecam Sukarno. Seorang pemimpin pemuda bernama Sudjojo memerintahkan Suharto–yang saat itu sudah menjadi Letkol karena keberaniannya dalam perang Ambarawa dan menjadi anak buah kesayangan Jenderal Sudirman–untuk  menangkap Sudarsono. Tak lama kemudian keluar surat perintah dari Sukarno untuk menangkap Sudarsono.
Saat itu Suharto berpikir, “Bagaimana bisa ia menangkap atasannya, orang yang paling berjasa atas lengkapnya persenjataan pasukan di Yogyakarta dan dikagumi banyak serdadu Yogya, sementara saya sendiri adalah pengikut Sudarsono,” pikir Suharto.

Tapi Suharto amat hati-hati membalas surat Sukarno. Katanya, ia (Suharto) akan menangkap Sudarsono bila ada perintah dari Jenderal Sudirman. Maka, konflik 3 Juli 1946 ini menjadi amat jelas bagi bagaimana menilai kemampuan Suharto dalam manajemen konflik dan mengerti atas situasi. Dan, ia mendapatkan pelajaran ‘Bahwa kekuasaan bukanlah selalu orang yang berada di atas posisinya, tapi kekuasaan adalah mereka yang secara realitas memegang kekuatan dan kendali atas keadaan’.
Suharto mengerti saat itu bukan Sukarno yang memegang kendali kekuasaan, tapi Sudirman dan Tan Malaka. Soal ini secara jelas diungkapkan banyak sejarawan pada waktu itu tentang pola kekuasaan di Indonesia selama masa revolusi bersenjata 1945-1949. Suharto tak mau melakukan tindakan sebelum tahu jelas sekali situasi dan tak mau bertindak sebelum mengerti siapa yang memegang kendali keadaan. Inilah yang kemudian menjadikan “Si Lembu Petheng’ selalu memenangkan sejarah.
Dan ucapan paling fenomenalnya adalah, “PKI berada dalam penculikan para Jenderal” di awal Oktober 1965. Ini menunjukkan bahwa memang Suharto memiliki informasi amat lengkap sebelum kejadian dan bukan merupakan spekulasi. Inilah yang membedakan Suharto dengan pelaku sejarah lainnya.
Memang, diakui seluruh bangsa, Sukarno merupakan Bapak Pembebas Rakyat Indonesia, tapi mau tak mau peradaban sekarang ini tetaplah peradaban Suhartorian bahkan di jaman era reformasi sekalipun. Seluruh pemegang kekuasaan saat ini merupakan anak didik Suharto yang diberi fasilitas pada jaman Suharto, hampir 100 persen pelaku penting politik saat ini bukanlah orang yang melawan Suharto. Inilah yang menjelaskan kenapa Sudjiwo Tedjo mengatakan ‘Siapa Bapak Kandung Suharto?’
Yah, kekuatan tanpa rasa minder, kekuatan (ilmu) Lembu Petheng itulah bapak kandung Suharto. Seperti ketika Suharto disindir oleh Mayjen S Parman sebelum kejadian 1965, “Suharto itu siapa, pendidikannya apa, arep melu-melu ngurus negoro”. Juga, ada beberapa catatan sejarah tentang para Jenderal yang berpendidikan tinggi dan mengejek Suharto apalagi ketika Suharto dengan lihai menggantikan posisi Bung Karno sebagai Presiden RI di tahun-tahun awal kekuasaannya. Saat itu Suharto selalu menerima banjir ejekan atas dirinya yang kurang berpendidikan dan memiliki masa lalu tak jelas.
Tapi, keadaan itu dijawab Suharto dengan tenang termasuk ketika ia mengadakan konferensi pers saat itu di tahun 1974, ramai sekali perdebatan siapa Bapak Kandung sesungguhnya Suharto. Bahkan Mashuri, bekas tetangga Suharto dan mantan Menteri Pendidikan memberikan keterangan bahwa Suharto adalah anak keturunan Cina. Saat itu ramai spekulasi bahwa Suharto adalah anak kandung Sri Sultan Hamengkubuwono VIII, artinya dia adalah adik kandung Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Ada juga yang menyatakan bahwa ayah kandung Suharto adalah, orang yang memegang payung kuning Sri Sultan Hamengkubuwono VIII. Namun spekulasi-spekulasi itu dijawab tenang dengan ilmu ‘Lembu Petheng’ Suharto, “Saya adalah anak Petani”.

Ya, Suharto adalah anak petani yang secara politik bisa mengalahkan Sudarsono, DN Aidit, Sukarno, Hatta, Nasution dan seluruh orang besar di negeri ini yang mustahil dikalahkan. Secara politik, ia hanya dikalahkan oleh umurnya sendiri.
Bung Karno Sudah Meramal Pak Harto Sebagai Penggantinya
Ki Utomo Darmadi. Dia seorang purnawirawan kapten TNI-AD, yang kebetulan banyak tahu jalannya sejarah, karena berada di lingkar satu Istana. Menjadi tentara tahun 1945, purnawirawan vokal ini tak lain adalah adik kandung pahlawan Peta, Suprijadi. Dalam banyak forum nasioanalis, ia acap bicara lantang. Tak jarang membikin merah kuping orang yang ditudingnya langsung.
Soal Pak Harto, dia mengatakan, orang boleh saja menghujat habis-habisan Pak Harto. Tetapi, katanya, Pak Harto adalah penyelamat Bung Karno. Kalau saja waktu itu pengganti Bung Karno bukan Pak Harto, bisa jadi Bung Karno “dieret-eret” di jalanan. Kalau saja pengganti Bung Karno bukan Pak Harto, belum tentu nasib anak-anaknya seperti sekarang.

Ia lantas mengisahkan, peristiwa tahun 1963 yang ia katakan bahwa Bung Karno sudah meramalkan Pak Harto-lah yang akan menggantikannya menjadi Presiden RI ke-2. Tomi, begitu ia akrab disapa, menyodorkan dua peristiwa bersejarah terkait hal itu. Pertama adalah kejadian setelah Pak Harto sukses sebagai Panglima Komando Mandala, dalam operasi Trikora, dengan misi tunggal mengembalikan Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi.
Nah, setelah itu, Bung Karno menggelorakan Operasi Dwikora, atau yang kita kenal Ganyang Malaysia tahun 1963. Sebagai Panglima diangkatlah Oemar Dhani (Angkatan Udara). Nah, di sinilah Pak Harto tampak kecewa. Dia kemudian menghadap Bung Karno dan menyatakan niatnya “mengundurkan diri”. Bung Karno lantas bertanya, “Nek pensiun, trus kowe arep dadi apa?” (Kalau pensiun, terus kamu mau jadi apa?).
Soeharto menjawab, “Menawi kepareng, dados gubernur Irian Jaya” (Kalau diizinkan, jadi gubernur Irian Jaya).
Di luar dugaan, Bung Karno menolak dengan menjawab, “Ora… kowe dudu gubernur… terus tirakat… kowe sak nduwure gubernur.” Kurang lebih artinya, “Tidak… kamu bukan gubernur… teruslah tirakat… kamu di atasnya gubernur”
.
Inilah yang oleh Tomi Darmadi disebutkan sebagai salah satu isyarat, bahwa Pak Harto bakal jadi presiden. “Dalam konteks pemimpin teritorial, di atas gubernur apa? Ya Presiden,” tegasnya.
Tidak hanya itu. Tomi Darmadi lantas mengilas balik peristiwa sidang kabinet, kurang lebih tahun 1964. Kebetulan Tomi Darmadi ada di ruang itu. Para petinggi militer yang hadir antara lain disebutkannya, ada Mayjen Ginting, Mayjen Sukowati, Brigjen Juhartono, dan Ahmadi. Achmadi. Tomi mendengar ketika Bung Karno secara santai bertanya kepada Achmadi, “Mad, yang nanti mengganti saya, siapa?” Yang ditanya menjawab spontan, “Mas Yani, Bung” Maksudnya adalah Jenderal Ahmad Yani.
Aneh, Bung Karno membelalakkan mata dan memberi isyarat “bukan”. “Bukan! Yang mengganti (saya), itu tuh, yang mengenakan celana kombor.” Bicara begitu sambil melirik ke arah Soeharto yang ada di sudut ruang yang lain, agak jauh dari posisi Bung Karno dan Achmadi.
Usai kejadian itu, Tomi Darmadi dan sejumlah petinggi Angkatan Darat di Front Nasional sempat bergunjing. Tidak sedikit yang memandang remeh Pak Harto dengan mengungkit “SD saja tidak tamat”. Di samping ada juga yang mengingatkan forum itu dengan mengatakan, “Tapi ingat lho… Bung Karno itu punya ilmu ladunni... dia tahu segala sesuatu yang belum terjadi….”
Sejarah kemudian mencatat, sejumlah jenderal Sukarnois tadi sempat meringkuk di penjara Orde Baru…. Belasan tahun kemudian, ketika mereka keluar penjara dan bertemu kembali, topik itu pun kembali disinggung…. Komentar mereka pendek saja, “Ternyata Bung Karno benar….”mudjib/rsd