1 Feb 2013

Mencari Pusat Kota Kerajaan Singosari

Mencari Pusat Kota Kerajaan Singosari


9Tim dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional Departemen Kebudayaan dan Pariwisata melakukan penggalian situs Singosari di Desa Pagentan Kecamatan Singosari Kabupaten Malang. Penggalian bertujuan menemukan kembali pusat kota Kerajaan Singosari.
Tim berjumlah delapan orang (tujuh dari Puslitbang Arkenas Jakarta dan seorang lagi dari Balai Arkeologi Yogyakarta). Mereka direncanakan berada di Malang mulai 22 Juli-3 Agustus 2009. Adapun penggalian dilakukan 22-31 Juli 2009, dan berikutnya akan dilakukan inventarisasi dan pendataan benda-benda temuan.
Hasil penggalian hingga Minggu (26/7), telah ditemukan struktur bata kuno, batuan candi, dan serpihan tembikar serta keramik dari zaman Dinasti Tsung. Temuan-temuan tersebut didapati pada penggalian dengan kedalaman 110 centimeter atau pada speed satu sampai lima.
Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa di daerah selatan Candi Singosari ini tampaknya memang merupakan daerah hunian elit di zaman Kerajaan Singosari. Bisa jadi tembikar dan keramik dari Dinasti Tsung (1213 masehi) tersebut menjadi koleksi kaum elit era Singosari tersebut melalui proses perdagangan, ujar anggota tim peneliti situs Singosari dari Puslitbang Arkenas bidang keramik, Eka Asih P. Taim, di Malang.
Serpihan tembikar dan keramik tersebut diduga dari zaman Dinasti Tsung, melihat tekstur goresan yang rapi, halus, dan ringan. Diduga benda-benda tersebut berasal dari rentang abad 10 sampai abad 13.
Menurut Amelia, Ketua Tim Peneliti Situs Singosari Puslitbang Arkenas, dengan diperolehnya data, ”Idealnya kemudian adalah kami bisa mendekati pemerintah daerah untuk memberi pengertian bahwa di daerahnya ada situs sejarah sehingga kemudian mereka bisa memberi masukan atau pengertian kepada warganya agar minimal menjaga, menyimpan, dan menginformasikan jika mereka menemukan benda-benda tersebut,” ujarnya.
Saat ini dengan pesatnya perkembangan penduduk di Singosari, sejumlah benda-benda peninggalan purbakala rusak. Banyak bebatuan candi dan bata kuno yang dijadikan pagar, bagian jalan, atau untuk keperluan lainnya.