1 Mar 2014

Tuah energi pusaka keris dan tombak



Secara umum keris-keris dibuat tidak untuk diutamakan kesaktian gaibnya, tetapi lebih diutamakan fungsinya sebagai pendamping manusia pemiliknya. Tujuan keris dibuat adalah sejalan dengan tujuan diturunkannya wahyu dewa kepada seseorang, sehingga jenis keris yang dibuat dan karakternya akan sesuai dan sejalan dengan manusia pemiliknya (si manusia pertama pemilik keris)  dan setelah sosok gaib kerisnya menyatu dengan kebatinan pemiliknya, maka sifat-sifat karakter (dan kesaktian) orang pemiliknya akan menjadi menonjol berlipat-lipat setelah adanya penyatuan kebatinan dengan kerisnya.

Sekalipun sebuah keris bertuah untuk kesaktian, wibawa, kekuasaan, kerejekian ataupun keilmuan, sifat-sifat tuahnya itu tidak bisa disamakan dengan benda-benda jimat bertuah. Kepemilikan sebuah keris tidak sama dan tidak dapat disamakan dengan benda-benda jimat ataupun benda-benda gaib lain yang hanya diharapkan keampuhannya dalam memberikan tuahnya. Keris dan kegaibannya hanya bersifat mendampingi, karena seharusnya yang sakti itu adalah orangnya, yang berwibawa dan berkuasa, yang bekerja mencari rejeki, yang menekuni ilmu, seharusnya adalah orangnya, sedangkan keberadaan keris adalah bersifat mendampingi, membantu dan menunjang aktivitas si manusia dan membantu meningkatkan sifat-sifat karakter si manusia sesuai sifat tuah kerisnya.



Empu keris jaman dulu sengaja mendatangkan gaib keris jenis wahyu, karena selain bisa dipastikan bahwa gaib kerisnya itu adalah dari golongan yang baik, juga supaya perpaduan antara wahyu yang sudah ada pada diri si pemilik keris dengan gaib wahyu dari kerisnya bisa menghasilkan suatu sinergi kegaiban yang selaras dan berlipat-lipat ganda kekuatan pengaruhnya. Dengan keris buatannya itu si empu keris memadukan kinerja gaib keris buatannya dengan wahyu dewa yang sudah ada pada diri seseorang, suatu tindakan spiritual yang sangat tinggi yang tidak dapat dicapai kebanyakan manusia jaman sekarang yang hanya sampai pada tataran kebatinan saja, yang mampu membuat jimat beserta kegaibannya, tetapi tidak mengetahui ada / tidaknya suatu wahyu pada diri seseorang, apalagi memadukannya.
Seandainya pun seorang calon pemilik keris tidak memiliki wahyu dewa dalam dirinya, tetapi proses ritual pembuatan keris akan tetap dilakukan seperti itu. Ini adalah bentuk tanggung jawab sang empu keris supaya kerisnya tersebut memberikan kebaikan kepada siapapun pemakainya dan juga akan menjadi "berkah" bagi kehidupan pemiliknya. Dan tuah dari keris-keris itu akan bekerja sesuai penyatuan kebatinan antara si keris dengan si manusia pemiliknya.
Tuah / fungsi / manfaat utama sebuah wahyu adalah untuk melipatgandakan pengaruh gaib dari perbuatan-perbuatan orang-orang yang menerima wahyu.

Manfaat wahyu itu akan bekerja sendiri seiring dengan aktivitas dan perbuatan si manusia penerima wahyu yang sejalan dengan sifat kegaiban wahyunya, sehingga perbuatan-perbuatannya itu memberikan pengaruh yang lebih besar dibandingkan tanpa wahyu. Wahyu yang sudah diterima oleh seseorang akan menjadi pasif peranan dan pengaruhnya jika orang si penerima wahyu tidak melakukan aktivitas dan perbuatan yang sejalan dengan sisi kegaiban wahyunya

.
Karena sisi gaib sebuah keris jawa adalah bersifat wahyu, maka kegaiban keris jawa akan bekerja sendiri sesudah ada penyatuan kebatinan dengan manusia pemiliknya dan akan melipatgandakan pengaruh aktivitas dan perbuatan si manusia pemiliknya yang sejalan dengan sifat kegaiban kerisnya, sehingga perbuatan-perbuatannya itu memberikan pengaruh yang lebih besar dibandingkan tanpa keris. Keris jawa yang sudah dimiliki oleh seseorang akan pasif peranan dan pengaruhnya jika belum ada penyatuan kebatinan dengan orang si pemilik keris dan orangnya tidak melakukan aktivitas dan perbuatan yang sejalan dengan sisi kegaiban kerisnya.
Karena itu kegaiban keris jawa tidak akan bisa langsung dirasakan oleh orang-orang pemilik keris dan banyak pemilik keris yang tidak bisa merasakan manfaat kerisnya, karena kegaibannya akan bekerja hanya
Dengan demikian sifat fungsi dan kejiwaan keris tidak sama dan tidak dapat disamakan dengan benda-benda jimat ataupun benda-benda gaib lain yang hanya diharapkan keampuhannya dalam memberikan tuahnya, dan keberadaan keris juga tidak mengarahkan orang untuk bersikap berhala atau memuja keris.
Sifat kejiwaan keris sama seperti manusia yang memomong dan menjaga anaknya. Bila si manusia peka rasa, bisa mendengarkan bisikan gaib kerisnya yang berupa ide dan ilham dan firasat (dan mimpi), maka orang itu akan dituntun kepada jalan yang mengantarkannya sukses sesuai jenis tuah kerisnya dan menjauhkannya dari kesulitan. Sifat kejiwaan yang seperti itu tidak kita dapatkan dari benda-benda gaib lain. Umumnya orang-orang jawa jaman dulu peka rasa dan batin, sehingga akan mudah penyatuan kebatinannya dengan keris-kerisnya. Itulah juga sebabnya orang-orang jawa jaman dulu, yang peka rasa, lebih memilih keris daripada benda-benda gaib lain. Jika memerlukan bantuan kegaiban dari kerisnya, orang jaman dulu hanya perlu sambat (curhat) saja kepada kerisnya, tidak perlu membaca / mewirid amalan gaib seperti keilmuan orang jaman sekarang.
Secara umum tujuan keris dibuat dimaksudkan dengan cara pendampingannya masing-masing keris-keris itu akan memberikan tuahnya kepada si manusia, dan untuk hasil kegaiban yang maksimal dalam pendampingan itu dibutuhkan adanya penyatuan kebatinan si manusia dengan kerisnya (ada interaksi batin). sesudah ada penyatuan kebatinan pemiliknya dengan kerisnya dan kegaiban keris tidak sama dengan benda-benda bertuah lain yang otomatis memberikan tuahnya sesudah bendanya dimiliki, apalagi mengharapkannya bekerja sendiri mendatangkan rejeki dan kekayaan sama seperti bertuah pesugihan, karena sifat kegaiban keris adalah melipatgandakan pengaruh aktivitas dan perbuatan si pemilik keris yang sejalan dengan sifat kegaiban kerisnya. Jadi, orangnya sendiri yang harus sakti, orangnya harus bekerja, dsb, dan sesudah ada penyatuan kebatinan kerisnya dengan pemiliknya, aktivitas dan perbuatan yang sejalan dengan sisi kegaiban kerisnya pengaruhnya akan dilipatgandakan oleh kerisnya.
Karena itu sebaiknya dipahami, jika kita mempunyai sebuah keris, apapun jenis tuahnya, untuk mendapatkan kegaibannya yang maksimal dibutuhkan adanya penyatuan kebatinan kita dengan si keris (ada interaksi batin), bukan sekedar rasa memiliki sebuah keris dan jangan menyamakan keris dengan benda-benda jimat yang dinilai hanya dari keampuhannya sebagai jimat keselamatan / keberuntungan. Kalau kita belum bisa berbuat begitu, maka janganlah kita memiliki keris, lebih baik kita memiliki jimat lain untuk kesuksesan dan keberuntungan.
Lebih daripada sekedar sebuah senjata berkhodam, atau sebagai bagian dari kelengkapan busana seseorang, sebuah keris dibuat dengan mengikuti suatu filosofi dan pakem pembuatan keris yang tata aturannya tidak boleh dilanggar. Keris dan kegaibannya diciptakan dengan mengikuti tata aturan hirarki status dan kelas gaib keris, yang aturannya sama dengan status dan kelas wahyu dewa yang diturunkan kepada manusia, karena filosofi dasar diturunkannya wahyu gaib keris adalah untuk dipasangkan dengan wahyu dewa yang diturunkan kepada manusia, sehingga hirarki status dan kelas gaib keris dan wahyu dewa itu sejalan. Dengan demikian dalam rangka pembuatannya masing-masing keris sudah disesuaikan dengan status si manusia calon pemiliknya di masyarakat. Sesuai tujuan awal pembuatan keris yang sejalan dengan tujuan diturunkannya wahyu  kepada seseorang tuah pokok keris atau tuah utama sebuah keris yang diberikan kepada manusia pemiliknya adalah tujuan spiritual dari diciptakannya sebuah keris untuk menunjang kehidupan manusia dalam bidang :
 1.  Kesaktian / Keksatriaan.
 2.  Wibawa Kekuasaan.
 3.  Kerejekian.
 4.  Kesepuhan.