20 Des 2013

Kalau Pak Harto = Ken Arok, maka Supersemar = Keris Mpu Gandring

Kalau Pak Harto = Ken Arok, maka Supersemar = Keris Mpu Gandring



Kerajaan Singosari aman sentosa dan sejahtera di bawah raja Tunggul Ametung dan permaisuri Ken Dedes yang kononnya cantik jelita. Ken arok yang cuma orang biasa tergiur kecantikan Ken Dedes maka satu-satunya jalan adalah harus menyingkirkan Raja Tunggul Ametung untuk mendapatkan sang permaisuri.
Bukan hanya Ken Dedes yang didapatnya, kerajaan Singosari pun akan jadi miliknya, begitulah bayang2 yang selalu menghantui pikirannya. Enaknya punya kerajaan dengan permaisuri yang cantik. Siasatpun diatur, dipesannya keris kepada seorang pembuat keris yang terkenal saat itu, Mpu Gandring.
Karena kerisnya agak susah dan lama pula jadinya, akhirnya Ken arok meminta paksa keris tersebut dari Mpu Gandring. Sang Mpu yang perfeksionis itu tak memberikan keris itu begitu saja. Ken arok brangasan yang masih muda tak terlalu sulit untuk merebut dan menikamkan kerisnya kepada sang pembuat keris. Sebelum Mpu Gandring mati ia bersumpah, bahwa keris itu akan memakan 7 orang korban, sesuai jumlah lekukan keris sakti itu.
Kutukan Mpu Gandringpun berlaku. Satu per satu nyawa melayang akibat kutukannya. Setelah Ken Arok membunuh Tunggul Ametung, Kebo Ijo jadi korban berikutnya. Orang2 tahunya bahwa keris itu milik Kebo Ijo pembantu sang raja Tunggul Ametung. Sehingga begitu ada pembunuhan raja, maka Kejo ijo difitnah dan jadi tersangka utama serta langsung dihukum mati, dieksekusi dengan keris itu juga.
Ken Arok berhasil menduduki tahta Singosari serta menikah dengan Ken dedes. Padahal saat itu Ken Dedes sedang mengandung anak hasil perkawinn dengan Tunggul Ametung.
Setelah itu, Ken Arok pula yang dibunuh oleh Anusopati. Anusopati adalah anak Tunggul ametung dengan Ken Dedes. Tadinya, Anusopati itu mengira Ken Arok adalah bapak kandungnya. Tetapi karena Ken arok sangat bengis dengan Anusopati, kecurigaannya terhadap bapak tirinya itupun ditanyakan ke ibunya. Anusopati pula dibunuh oleh Tohjaya (anak Ken Arok dan Ken Dedes). Begitulah, sampai tujuh korban bertumbangan,
Ken Arok sendiri sebetulnya adalah anak Ken Endog yang ditinggalkan di kuburan tua. Bayi yang ditinggalkan di kuburan itu ditemukan oleh seorang pencuri. Entah kenapa Ken Endog membuang Ken Arok, apakah karena sangat miskin atau ia tak mengakui anaknya itu, karena istrinya ada main dengan lelaki lain.
Sejarah pun berulang, Bung Karno turun tahta karena ada Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar). Supersemar yang hingga kini diragukan keberadaan dan keasliannya, mirip2 keris buatan Mpu Gandring.  Kalau Ken arok merebut kekuasaan dari Tunggul Ametung.  Maka Pak Harto merebut kekuasaan dari Bung Karno dengan supersemar.  Entah siapa yang buat supersemar itu.  Apakah ianya hanya rekaan Soeharto, ataukah Bung Karno dipaksa menandatangani supersemar tersebut.
Yang jelas, pemilihan presiden semenjak saat itu penuh intrik dan agak tidak normal.  Termasuk yang terakhir, dimana ada  kalangan (oposisi) yang menduga bahwa  dana bank century yang 6,7 trilyun itu digunakan untuk biaya kampanye SBY.
Saya cuma berandai2 saja. Jika Pak Harto itu sama dengan Ken arok, merebut kekuasaan dari Bung Karno, maka keris Mpu Gandringnya adalah Supersemar. Maka Indonesia akan berganti presiden sampai 7 kali dulu. Setelah itu Indonesia baru bisa maju atau malah sebaliknya.
Sekarang kita hitung, sudah berapa kali presiden Indonesia berganti. Dari mulai Soekarno, Soeharto, Habibie, Gusdur, Megawati dan terakhir pak SBY. Baru enam presiden, berarti kurang seorang lagi. Presiden yang ke-7 setelah SBY adalah penentu, bagaimanakah kondisi Indonesia selanjutnya. Yang jelas sosok Presiden RI yang ke-7 harus orang kuat, harus bertangan besi, kalau tidak bakal banyak propinsi yang minta memisahkan diri dari NKRI…