3 Jan 2014

Kota Gaib Berpenduduk Mayoritas Jin Muslim di kalimantan

WARGA di Kabupaten Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan mengenal kota gaib yang mereka sebut Kota Saranjana. Mengapa disebut kota gaib? Ya, kota ini secara fisik tidak ada dalam peta wilayah Kabupaten Kotabaru. Keberadaan Kota Saranjana diketahui melalui cerita dari mulut ke mulut warga yang berlangsung sejak dulu hingga sekarang.

Dari sedikit orang yang pernah masuk ke Kota Saranjana, disebutkan bahwa kota ini sangat teratur dengan jalan raya yang lebar dan rumah-rumah yang megah. Ada yang menyebutkan bahwa kota ini dihuni oleh mayoritas jin muslim dengan sistem ketatanegaraan lengkap dengan kerajaan dan sitem pemerintahan berupa monarkhi konstitusi, yaitu pemerintahan raja yang dibatasi oleh undang-undang.


Meskipun belum pernah melihatnya, namun masyarakat Kotabaru mempercayai keberadaan Kota Saranjana. Soal letak kota ini, masyarakat menyebutnya di sebuah pulau bernama Pulau Halimun atau juga dikenal sebagai Pulau Laut yang masuk wilayah Kabupaten Kotabaru.


Keberadaan Kota Saranjana diselimuti cerita-cerita mistis. Konon, penduduk Kota Saranjana sangat makmur, layaknya kota metropolitan. Hal ini dikuatkan oleh cerita beberapa dealer motor di Kabupaten Kotabaru, yang mendapatkan pemesanan motor, mobil, dan beberapa alat berat. Pemesan membayar kontan dan meminta barang dikirim di suatu tempat dan tiba-tiba saja barang-barang itu menghilang.


Pada pertengahan tahun 80-an, Pemeritan Kabupaten Kotabaru sempat menerima tamu dari Jakarta yang akan mengantarkan pesanan alat berat dengan tujuan Kota Saranjana-Kotabaru. Namun, di alamat pengiriman tidak disebutkan dengan jelas tempat yang dituju. Pemkab Kotabaru yang tidak merasa memesan alat berat yang sudah dibayar lunas itu, langsung memakluminya bahwa alat berat tersebut pesanan penduduk Kota Saranjana.


Masih banyak cerita-cerita mistis terkait Kota Saranjana, kota yang penduduknya cantik-cantik dan tampan-tampan. Seorang ibu yang bertempat tinggal di Lontar (bagian wilayah Pulau Laut) bercerita bahwa pada saat malam hari terdengar suara ramai deretan mobil lewat di depan rumahnya.


Setelah dilihat ternyata tidak nampak satupun kendaraan tersebut. Kendaraan yang lewat pada waktu itu diyakininya berasal dari penduduk Saranjana yang kebetulan melewati depan rumahnya.


Lain lagi dengan cerita Sulaiman, seorang bekas kepala desa di Teluk Tamiang. Menurutnya, kakeknya sudah lama hilang dan diambil oleh orang-orang Saranjana untuk dijadikan imam masjid di sana.


Sama halnya dengan Sulaiman, Bedi, seorang nelayan yang tinggal di Teluk Tamiang bagian timur, mengaku neneknya hilang di laut. Menurut penerawangan orang alim, sekarang neneknya masih hidup dan tinggal di Saranjana.


Sementara itu, seorang pria yang enggan disebutkan namanya mengaku, saat di dalam kapal ferry dalam perjalanan menuju Pelabuhan Batu Licin, kapal seperti padat dengan penumpang. “Namun, begitu kapal merapat ke dermaga, dalam sekejap tiba-tiba kapal menjadi sepi dan hanya terlihat sedikit saja orang. Kata penumpang kapal, orang-orang yang ramai di dalam kapal tadi, sebagian orang-orang dari Kota Saranjana,” ujarnya.


Itulah cerita tentang Kota Saranjana yang keberadaannya dipercayai sebagian besar penduduk Kotabaru, Kalimantan Selatan.*