.

4 Jan 2014

MAJAPAHIT DAHA JENGGALA KADIRI MASA KINI


Alun-Alun Daha Dahulu pernah jadi Kantor Bupati Kediri, disini banyak ditemukan Benda Purbakala Patung Patung Dewa Leluhur Kerajaan Daha/Kadiri/Jenggala, Benda Purbakala dipindah ke Musium Gunung Kelotok 15 km dari Alun Alun Doho. 
Ada Sumur Peninggalan Majapahit yang cukup angker ditempat ini, Hari tertentu Ada Dewi Berpakaian Putih keluar dari Sumur, Tak jauh dari Sumur berdiri megah Hotel Bismo, di Alun Alun berdiri Patung Pahlawan Kemerdekaan Bismo. Seberang hotel ada Mal/Pusat Perbelanjaan Baru saja diresmikan, jadi Alun Alun sudah bukan Lapangan tapi seperti Taman saja,dimana Malam hari tempat berjualan serba ada dari sate Bekicot sampai Kambing. Barang pun serba ada dari jepit rambut sampai vidio game. 
Tapi Kesakralan masih menghantui tempat ini, banyak para Spiritualis Meditasi, Semedi ditempat ini mencari Wangsit. Disinilah tempat tinggal Brahmaraja XI bila berada di Kediri, yaitu di Hotel Bismo dimana Beliau masih dipanggil Sang Prabu. Hotel Bismo milik cucu Tan Koen Swie Pahlawan Budaya dan bukunya diakui sebagai ‘SEJARAH KOTA KADIRI” yang diakui baik masyarakat maupun Pemerintah Kota Kediri Jawa Timur, Buku itu dilarang dibaca diera Orde Baru 1966-2000′. Yang berisi Ramalan Sabdopalon. Pada 2003 disinilah dipusatkan Ngeruwat Kota Kediri oleh Hyang Bhatoro Agung Suryo Wilatikto, acara pertama kalinya sejak 500 tahun Keruntuhan Majapahit [berita terdahulu] di Kadiri banyak Kerabat Hyang Suryo, bahkan Leluhurnya disarekan di Gunung Kelotok. 
Peninggalan Sejarah Kota Kadiri sangat sesuai dengan Buku Tan Koen Swie karena bisa dilihat dengan mata telanjang bukan gaib, contoh Patung Totok Kerot/Durga yang di Kepruk Sunan Bonang kini berdiri Tegak dengan bahu kanan sempal/putus kena hantaman/Kepruk’an Sunan Bonang sang Wali yang anti Berhala/Musrik/Tohut/Patung. Desa Gedah yang dikutuk pun masih ada, Bahkan Pada Hari jadi Kota Kadiri 23-3-2002 ketika Brahmaraja XI lagi di Hotel Bismo ‘Ono Suworo Tanpo Rupo” suara tanpa ada Orang berbunyi “Nyang ngo Selomangleng” ber ulang-ulang. 
Akhirnya Brahmaraja XI yang biasa dipanggil Eyang Suryo pergi mengikuti suara tadi ke Selomangleng yaitu Guwa Pertapaan Dewi Kilisuci, ternyata sampai disana bertemu seorang Pertapa. ” lha, Kowe wis tak enteni ngger, ontong kupingmu apik iso nrimo wisik” Kamu sudah saya tunggu nak, untung telingamu bagus bisa mendengar suara niskala/gaib. 
Demikian Sabda Sang Pertapa, Singkat Cerita Eyang Suryo dipertemukan Prabu Airlangga, Mpu Bharadah, Prabu Joyoboyo, Dewi Kilisuci, Dewi Sekartaji, Panji Asmorobangun, Buto Lucoyo, Para sesari Pepunden sekeliling Gua Selomangleng Gunung Kelotok Kediri [Salinan tertulis, saat itu Buku Tan Koen Swie /Sejarah Kadiri belum diterbitkan] setelah rapat dengan Para Leluhur ini lalu Sang Pertapa memberikan Simbul Tanah Jawa, sepasang Keris Kembar Luk 13 [ada di Puri Gading] setelah pertemuan aneh ini Sang Pertapa berkata “Ngger, Duwe Deluwang karo potelot te? Aku arep nulis kanggo bukti kanggo Wong sing ora percoyo Gaib” Nak, Punya kertas sama alat tulis?, Saya mau nulis agar dapat dipakai bukti bagi orang yang tidak percaya Niskala, Eyang Suryo mengambil kertas di mobil PU AG 7000 NZ kebetulan ada kertas ber Kop Hotel SATELIT [Hyang Suryo Tinggal di Hotel Satelit bila di Surabaya] dan Balpoin, lalu diserahkan kepada Sang Pertapa, 
Lalu pertapa ini menuliskan tentang pertemuan dan siapa yang hadir, waktu itu memang sangat aneh tapi bagi Hyang Suryo biasa saja karena sudah sering bertemu alam lain cuman tidak berani cerita nanti dianggap bohong, kebetulan peristiwa ini Sang Pertapa mengerti membuat tulisan, Tulisannya Ejaan Zaman Belanda U pakai OE [tulisan Tan Koen Swie], Sang Pertapa bilang ini untuk bukti sudah bertemu dirinya. Hyang Suryo mancing bertanya ” Mbah Kowe iki sopo to?” lalu dijawab “Lhah kowe Lali yo biyen kan bareng waktu jenengmu Sokro, Lha aku Topo terus tetep ngene lha kowe kan nitis bolak balik” hyang Suryo ya pura-pura ngerti, “oo, Yo Mbah aku rodok lali, mosok Sokro, lha Sokro iku sopo Mbah” lagi coba mancing karena Orang Dahulu tidak sekolah/kuliah dan jujur dijawab ” iyo aku maeng kan jambal, yo wis sepurane Bhatoro Indro, pangkatmu luwih duwur” ini sedikit dialog yang diungkap ternyata belakangan ada yang bilang Sakra/Indra. Beliau Sang Pertapa memang Jujur/lugu karena jaman dulu tidak ada sekolah/Universitas, dan Karena Kemanungsan jadi mudah dipancing, kalau alam Roh sulit dipancing, Pertapa ini punya badan kasar, tapi bisa kumunikasi alam lain,jadi badan kasar panca indranya mudah diajak kumunikasi jujur. Jadi peristiwa aneh ini terjadi 23-3-2002 ternyata setahun kemudian 27-3-2003 Hyang Suryo meruwat Kota Kadiri, inipun baru diketahui setelah ditulisnya peristiwa aneh itu hari ini 19-9-2009. 
Kejadian Pertemuan justru Pura Majapahit Trowulan Lagi gawat di serbu dan diancam Bom Karyono dan sudah di tutup di larang kegiatan Hingga Hyang Suryo bisa keluyuran Sowan Leluhur. Karena di Trowulan ditutup itulah Hyang Suryo sering di Kediri atau di Surabaya kemudian Bali. Tulisan Sang Pertapa kini tertempel di Pusat Informasi Pura Ibu Majapahit sebagai bukti ilmiah, Ditambahkan 15-3 2002 Hyang Suryo dilantik sebagai Ketua IX Budaya Sepiritua Asli Nusantara untuk mengurusi Keluarga Mojopait Oleh Prof. DR. RM Wisnuwardhana Suryadiningrat di pendopo Agung Manunggale Kawula Lan Gusti Keraton Suryadiningrat Jogjakarta, kemudian diteruskan Wayangan di Alun Alun Suryodiningratan dengan Lakon ‘Turunnya Wahyu Mahkuto Ramo”, sepulang dari Jogja masih mampir di Solo Gelar Budaya 2002 di Mangkunegaran, kemudian ke Kadiri bertemu pertapa 23-3-2003. dan 27-3-2003 juga tidak sengaja diminta Meruwat kota Kediri jawa Timur.

Selanjutnya Gelar “Budaya Pemersatu Bangsa” di Bali hingga terwujut Pura Ibu Majapahit Jimbaran untuk Melinggihkan Leluhur agar bisa tetap di Odali, dan Odalan Baru dilaksanakan 9-9-’09 yang lalu dengan sukses, dan masih banyak informasi aneh tapi ditunjang bukti ilmiah, seperti Mahkota Mjapahit, nantikan informasi selanjutnya.***Lebih jauh dijelaskan bahwa Buku Tan Koen Swie / Sejarah Kota Kadiri baru didapat Awal 2009 dimana saat ada Pernikahan salah satu Cicit Tan Koen Swie Undangan Pernikahan dilampiri Sejarah Kadiri karangan Tan Koen Swie buku ini dikirim Pura Ibu awal 2009 setelah di Sah kan menjadi Buku Sejarah Kota Kediri, Juga Mangku GRP. Nokoprawiro membawa Copy Negarakertagama awal 2009 setelah Hyang Suryo meresmikan Candi Gajahmada di Kertosono yang dipugar Yayasan Negarakertagama, yang disebutkan oleh Ketua Yayasan Bpk. Harmoko penterjemahan belum selesai tuntas, sebagian Lontar ada yang terbakar. Ternyata setelah di cocok kan ada kemiripan Tokoh yang disebut dalam buku Tan Koen Swie tentang Buta Locaya. 
Soal nama Sokro ini pernah pada 1968 di Trowulan ketika Melepas Djaini Putra Bpk. Saguh Jurukunci Makam Pendopo Agung, bertemu seorang Pertapa dari Gunung Semeru yaitu Mbah Tjokro juga memangil Eyang Suryo Dik Sokro, ada 2X Orang memanggil Eyang Suryo Sokro/Sakra. Bakan sebuah Foto Kuna 1968 Eyang Suryo pakai Blangkon tercantum nama SOKRO menghormati Mbah/Rama/Eyang Tjokro/Cokro yang memanggil Sokro untuk Eyang Suryo.b Jadi selama ini yang menyebut Eyang Suryo dengan panggilan Sokro 2 Orang yaitu Eyang Semeru dan Eyang Kadiri.