2 Jan 2014

Masjid Tiban Malang Masjid Ajaib, Dibangun Jin dalam Semalam?

PENAMPILAN fisiknya menunjukkan cita rasa arsitektur tingkat tinggi. Belum lagi ada cerita mistis yang menyertainya. Tak heran jika masjid ini menarik perhatian. Setiap harinya, ribuan wisatawan datang ke masjid ini. Tak hanya dari daerah Jawa Timur dan kota-kota di sekitar Jawa, tapi juga dari luar Pulau Jawa, seperti Kalimantan dan Sumatera.

Masjid Ajaib, begitu wisatawan menyebutnya. Sedangkan masyarakat sekitar menamainya Masjid Tiban. Disebut Masjid Tiban karena konon masjid yang sangat megah ini ada tiba-tiba (tiban). Masyarakat setempat mengaku tidak mengetahui kapan proses pembangunan masjid, sehingga beredar mitos masjid ini dibangun oleh jin dalam waktu hanya semalam. Masyarakat mengaku, tidak pernah melihat tumpukan material dan juga lalu lalang pekerja.
Terlepas dari desas-desus yang berbau mistis tersebut, masjid yang berada di kawasan Pondok Pesantren (Ponpes) Salafiyah Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah atau Bi Ba’a Fadlrah yang mempunyai makna Laut Madu ini, memang benar-benar menarik. Terletak di Jln. K.H. Wahid Hasyim, Gang Anyar RT 27 RW 06, Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur ini, arsitektur bangunan ponpes dan masjid didominasi gaya Timur Tengah. Ada juga unsur Cina dan Jawa. Didominasi warna biru, keberadaan ponpes dan masjid sangat mencolok diantara bangunan-bangunan lain di sekitarnya.
Melihat keindahan masjid dan ponpes berlantai 10 ini, orang pasti menduga dirancang oleh arsitektur terkenal. Tetapi kenyataannya, rancangan bangunan berdasarkan hasil istikharah pendirinya, yaitu Romo Kiai Haji Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh Al-Mahbub Rahmat Alam, atau yang akrab disapa Romo Kiai Ahmad. Dari beberapa sumber yang diperoleh Kisuta.com, pembangunannya dimulai tahun 1963 dan secara bertahap dilanjutkan pada tahun 1978, seiring dengan adanya sejumlah santri yang menetap.

Sampai tahun 1992, pembangunan terus berlangsung, tetapi tidak dilakukan besar-besaran, melainkan disesuaikan dengan kemampuan sang pemilik. Setelah sempat berhenti cukup lama, baru pada tahun 1998 pembangunan dilanjutkan lagi. Menurut Kisyanto, salah seorang panitia Ponpes Bi Ba’a Fadlrah yang akrab disapa Pak Kis, Romo Kiai benar-benar membangunan ponpes dengan material seadanya, tanpa berusaha meminta bantuan. Bahkan, batu merah dipasang dengan adonan dari tanah liat yang dalam bahasa Jawa disebut ledok. Meskipun bangunan ponpes berlantai 10, namun pembangunannya benar-benar tidak menggunakan alat-alat berat dan modern, seperti halnya membangung gedung bertingkat. Semuanya dikerjakan oleh para santri dan beberapa penduduk di sekitar pondok.
Jadi, tidak benar kalau ponpes termasuk masjid di dalamnya, dibangun oleh jin. Bantahan soal keterlibatan jim dalam pembangunan tersebut, ditempel di depan meja penerima tamu dengan tulisan besar-besar. Begini bunyinya, “Apabila ada orang yang mengatakan bahwa ini adalah pondok tiban (pondok muncul dengan sendirinya), dibangun oleh jin dsb., itu tidak benar. Karena bangunan ini adalah Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah yang murni dibangun oleh para santri dan jamaah.”
Tenang dan damai

Rasa tenang dan damai begitu terasa saat memasuki pintu gerbang setinggi 9 hingga 10 meter yang dihiasi ornamen huruf Arab berwarna biru, menyambut para pengunjung. Ketika menyusuri bangunan, suasana terasa sangat sejuk karena di sekelilingnya masih banyak tumbuh pepohonan yang rimbun.
Bangunan utama memiliki 10 lantai, lantai 1 hingga lantai 4 tempat kegiatan pondok, sedangkan lantai 6 ruangan keluarga, di lantai 5, 7, dan 8 ada kios makanan kecil yang sangat murah harganya, dan juga busana muslim. Di dalam bangunan ada ruangan akuarium dan perpustakaan berisikan buku-buku Islam. Tak hanya unik, di dalam ponpes tersebut juga tersedia kolam renang, dilengkapi perahu yang hanya khusus untuk dinaiki wisatawan anak-anak. Ada juga berbagai jenis binatang seperti kijang, monyet, kelinci, aneka jenis ayam dan burung. Sekeliling ponpes dipercantik dengan bangunan kecil seperti menara yang ada di setiap masjid.

Di lantai dasar, pintu masuk dibuat berlorong dan dihiasi dengan lampu yang memberi nuansa damai. Di pintu gerbang utania, pengunjung akan melihat dua bangunan mirip guci yang sangat besar dan tinggi berwarna orange dan biru. Keduanya berfungsi sebagai pos. Di sisi kanan terletak sebuah taman yang dikelilingi pagar seperti taman bergaya Persia atau India.
Di lantai dasar, saat memasuki pintu utama, harus melalui lorong yang sisi kiri dan kanan penuh hiasan ornamen berbentuk daun, bunga, dan kaligrafi yang juga didominasi warna biru muda. Masih di lantai dasar, ada beberapa ruang menyerupai gua yang dipenuhi batu-batu dan diterangi dengan lampu. Sementara di sisi kiri-kanannya ada beberapa akuarium berjajar dipenuhi berbagai macam ikan hias.
Semakin lama kita menyususuri ponpes, semakin banyak menemukan keindahan. Di lantai dua dan tiga terdapat Musholla yang terhubung dengan tempat wudlu pria dan wanita yang mampu menampung hingga ribuan jamaah. Memasuki lantai empat dan lima ditemukan tempat yang sangat akrab dengan rumah tinggal layaknya rumah kebanyakan. Di lantai ini tempat kediaman keluarga yang dilengkapi dengan dapur dan ruang makan yang mampu menampung sekitar 20 orang. Di lantai ini ditempati keluarga almarhum Romo Kiai Ahmad.
Begitu sampai di lantai sembilan, pengunjung dapat melihat pemandangan yang indah baik didalam maupun diluar kompleks ponpes. Selain itu, di salah satu tempat juga terdapat area khusus untuk satwa, seperti kera dan beberapa macam satwa lainnya. Setelah puas keliling ke semua ruangan dan menjelajahi masjid hingga lantai delapan, pengunjung bisa beristirahat melepas lelah, karena di lantai ini terdapat deretan toko yang menjual minuman dan oleh-oleh khas Malang dan lengkap dengan koperasi yang menjual baju dan kebutuhan sehari-hari.
Sesuai dengan tujuan pembangunan Ponpes Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah, yaitu menciptakan ketenangan dan ke kekhusuan, maka pengunjung akan mendapatkan suasana tersebut.