1 Sep 2013

Fadly zon,cahyokumolo,Anak Agung Gede Waisnawa Putra

Tak banyak kolektor keris yang punya derajat " seperti Fadli Zon, Tjahjo Kumolo, dan Anak Agung Gede Waisnawa Putra. Bukan hanya jumlah keris yang mereka koleksi berjibun, tapi semangat mereka untuk melestarikan seni budaya Indonesia itu juga patut diacungi jempol
----------------------------------------------------------------------------

Aroma wangi dupa aromaterapi merebak saat Jawa Pos memasuki Fadli Zon Library pada Kamis Kliwon, 1 Juli lalu. Rumah bergaya modern minimalis di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, tersebut adalah tempat tetirah bagi politikus muda Fadli Zon. Orang dekat mantan Danjen Kopassus Prabowo Subianto itu mengisi griya tiga lantainya dengan aneka barang kuno, antik, dan langka.

"Saya sebenarnya cinta kepada benda seni sejak masih berada di SMA, tapi baru bisa serius mengumpulkannya di satu tempat sekitar tiga tahun belakangan," ujar Fadli.
 
Sebelum Fadli Zon Library dibangun pada awal 2007, alumnus London School of Economics itu menyatakan bahwa barangnya berserak di mana-mana. "Ada yang ditaruh di rumah saya di Cimanggis, juga Bogor dan Sumatera Barat, asal saya," tutur dia.
 
Fadli menghiasi dinding ruang paling atas rumahnya dengan puluhan lukisan karya seniman besar Indonesia. Ada lukisan Basuki Abdullah, Raden Saleh, Affandi, dan Lee Man Fong. Dia juga mengoleksi 40 ribu buku, fosil-fosil purba, kacamata tokoh pergerakan kemerdekaan, dan barang-barang pribadi Bung Hatta.
 
Yang tak kalah hebat, Fadli juga merupakan kolektor keris. Tidak tanggung-tanggung, sampai kini di lantai 2 rumahnya tersimpan 800 keris. Mulai keris sepuh (tua) sampai tangguh (masa pembuatan) kamardikan. Keris kamardikan adalah keris yang diciptakan oleh para empu setelah Indonesia merdeka pada 1945.
 
Meski berdarah Minang, ayah Safa Sabila dan Zara Saladina itu menuturkan cinta mati pada dunia perkerisan. "Selama ini, orang awam menganggap keris identik dengan budaya Jawa. Padahal, itu adalah warisan nasional. Ada keris Bali, Madura, dan Palembang yang juga sama indahnya dan punya sejarah tinggi," ungkap dia.
 
Fadli juga mengakui bahwa penghobi keris sering dicitrakan sebagai orang kuno yang menyenangi dunia mistik dan klenik. Tapi, dia tidak setuju dengan pendapat itu. "Tidak semua harus dinilai dengan mistik. Keris adalah benda budaya, punya sejarah dan estetika tinggi. Saya menghargai keris dari nilai itu," ucap dia.
 
Meski begitu, dia menghormati orang-orang yang menilai keris dari sisi spiritual. "Benda itu dibuat secara susah payah oleh para empu. Ada doa-doa yang dipanjatkan saat menempa bilah. Tentu itu membawa energi tertentu yang sah-sah saja kalau diyakini," terang komisaris PT Tidar Kerinci Agung (perusahaan perkebunan sawit) itu.
 
Jawa Pos lantas diajak turun ke lantai 2. Wangi minyak keris beraroma cendana tercium saat Fadli membuka pintu ruang yang suhunya selalu dijaga tersebut. Ada tiga lemari kaca besar yang penuh dengan keris di salah satu sudut ruang itu. Di sisi lain, belasan tombak berjajar rapi.
 
Keris tertua yang dimiliki Fadli bertangguh Singosari. Yakni, era Ken Arok-Ken Dedes. "Ada juga yang berasal dari era Majapahit," ujar pendiri Institut for Policy Studies itu.
 
Fadli lantas mengambil sebuah keris. Caranya membuka warangka (sarung) keris menunjukkan bahwa dia adalah orang yang sangat paham. "Itu keris sepuh dari Palembang, sejak masa Kerajaan Sriwijaya," ucap dia. Keris tersebut berluk sembilan dengan pamor wos wutah (beras tumpah). Luk adalah bagian berkelok dari sebilah keris dan pamor merupakan pola yang muncul di permukaan bilah senjata itu.    
 
Fadli "berburu" keris di seluruh Indonesia. Bagi dia, harga nomor dua. "Patokannya ada tiga, yakni sejarah, indah, dan estetika," tegas dia.
 
Maka, uang Rp 100 juta?Rp 200 juta akan mudah berpindah tangan jika Fadli sudah suka dengan sebuah keris. Agar koleksi itu terjamin, dia punya beberapa orang yang secara khusus membantunya menangguh (menilai) sebuah keris. Di antaranya, Benny Hatmantoro dan Toni Junus, dua pakar keris dari Jakarta. "Kadang orang yang tidak saya kenal juga datang ke sini untuk menawarkan keris. Kalau cocok, ya bukan masalah," ujarnya.
 
Tidak takut kena tipu" Fadli tersenyum. "Saya percaya niat baik orang, silakan saja kalau mau menipu. Toh, nanti ada ganjaran sendiri," ujar suami Katharine Grace itu.
 
Politikus Tjahjo juga punya kebiasaan yang mirip dengan Fadli. Bila diajak bicara tentang koleksi keris, dia sampai lupa waktu. Dia menuturkan, kecintaan tersebut mulai muncul ketika merawat sejumlah keris peninggalan almarhum kakek dan ayahnya. Ada enam keris yang diwariskan oleh orang tuanya. Sedangkan dari sang kakek, Tjahjo menerima dua keris.
 
"Lama-lama, saya suka. Sampai saya ketagihan untuk terus berburu keris," tutur Sekjen DPP PDIP itu.
 
Ketua Fraksi PDIP di DPR tersebut kini memiliki 40-an keris "pilihan" serta sejumlah tombak. Ada keris yang berasal dari zaman Majapahit dan Mataram. Ada juga keris yang diperoleh dari Selaparang, NTB, atau bergaya campuran Islam dan Hindu.
 
"Itu namanya keris Semar," ucap Tjahjo sambil mengeluarkan sebilah keris berbentuk Semar dari warangka. Selain itu, dia memiliki keris Lajer Punakawan, Pendawa, Lajer Keleng, luk 13 Bimo Kurdo (Gagrak Ageng), Bethok Budho, Tombak Baru Klinting, Lajer Jalak Kinatah Arap Gondhil, dan Lajer Tri Warno.
 
Yang unik, papar Tjahjo, tidak ada satu pun koleksi keris yang diperolehnya dengan membeli. Tapi, dia juga tidak pernah mau menjual keris koleksinya sekalipun ditawar miliaran rupiah. "Semua saya dapat dari berburu atau diberi teman secara ikhlas. Yang cocok saya simpan. Yang tidak cocok saya kembalikan," ujar laki-laki kelahiran Solo, Jawa Tengah, 1 Desember, 53 tahun lalu itu.
 
Tjahjo percaya bahwa sebagian keris merupakan barang tua yang bertuah. Merawat keris tidak bisa sembarangan, kadang harus berjodoh. "Mungkin dulu pembuatnya adalah seorang empu yang bertirakat cukup panjang. Ada juga beberapa keris yang pernah digunakan untuk membunuh orang," terang dia.
 
Karena itu, setiap ada teman yang memberi atau saudara yang menitipkan keris, Tjahjo selalu "mengujinya" terlebih dulu. Biasanya, dia menginapkan keris tersebut antara 1-2 minggu. "Kalau nggak cocok, saya pulangkan," ujarnya. Saat ditanya soal cara merasakan kecocokan dengan sebuah keris, Tjahjo hanya tersenyum.
 
Tjahjo menyatakan bahwa seluruh anggota keluarga mendukung minatnya terhadap keris. Meskipun, tak jarang terjadi persitiwa aneh. Bahkan, papar dia, awalnya ketiga anaknya sering "diganggu?. Bentuk gangguan itu, mulai kamar didatangi orang tak dikenal, pintu kamar bolak-balik terbuka tanpa jelas pelakunya, sampai terdengar pentas musik di tengah malam dalam studio band milik keluarga Tjahjo.
 
"Apakah itu mukjizat keris" Wallahualam. Sebagai orang beragama, kami sekeluarga percaya terhadap Yang Di Atas saja," kata suami Erni Guntarti tersebut.
 
Meskipun mengakui bahwa keris termasuk benda bertuah, Tjahjo cenderung memandang senjata itu sebagai warisan budaya dan tidak mengultuskannya.
 
"Sebagai warga Indonesia yang lahir di Solo atau orang Jawa, saya ingin melestarikan, jangan sampai keris jatuh ke orang-orang yang tidak tahu tentang cara merawatnya," kata dia.
 
Kecintaan terhadap keris juga ditunjukkan oleh Anak Agung Gede Waisnawa Putra, kepala cabang sebuah institusi pembiayaan di bawah payung Astra Grup di Surabaya. Sebenarnya, keris bukan barang baru bagi Agung. Sebab, beberapa acara keagamaan di Bali sering menggunakan senjata tajam itu. Tapi, baru pada 1998, ketika bertugas di Balikpapan, seorang kenalannya menghadiahkan keris berukuran mungil.
 
Ketika pulang ke Bali, dia bawa keris tersebut. Sang ayah mengatakan bahwa keris itu istimewa.
 
Alasan Agung mengoleksi keris tidak berhubungan dengan hal mistis, melainkan bentuk yang indah. Karena itu, dia tidak percaya jika ada yang menawarkan keris dengan kekuatan macam-macam. "Memang harus teliti. Apalagi, sekarang banyak yang merekayasa. Maksudnya, keris biasa dikasih bahan kimia hingga terlihat tua, terus ditawarkan dengan harga selangit," jelasnya.
 
Hingga saat ini, koleksi keris Agung mencapai lebih dari 300 bilah. Kebanyakan kerisnya berasal dari daerah kelahirannya, Bali, dan biasanya berukuran besar. Rata-rata panjang keris koleksinya lebih dari 40 cm. Selain itu, warangka senjata tersebut lebih berwarna-warni daripada keris Jawa. "Lebih banyak batu permata atau lapisan logam mulianya," jelasnya.
 
Yang istimewa, sepuluh koleksi Agung masuk dalam katalog Keris for The World (keris untuk dunia) yang diluncurkan bersamaan dalam pameran di Galeri Nasional, Jakarta, pada 3?8 Juni lalu. Acara dua tahunan itu tak hanya diikuti kolektor dari Indonesia, tapi juga Malaysia dan Singapura. Selain menjadi ajang pamer serta diskusi tentang perkembangan keris, acara tersebut diisi dengan kompetisi keris.
 
Satu koleksi Agung dinyatakan sebagai karya terbaik untuk keris kamardikan. Keris itu diberi nama Ki Singaraja, yang merupakan kolaborasi antara Agung dan Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Hartonodiningrat alias Rudy Hartono, warga Surabaya yang 15 tahun terakhir menekuni dunia tempa-menempa besi demi menghasilkan sebilah keris.