1 Mei 2014

Soeharto, Bunga Wijayakusuma, dan Cendana


 
50665_475
Ilmu spiritual mantan Presiden kedua RI, Soeharto, semakin dalam setelah bertemu dengan perwira menengah Angkatan Darat, Mesran Hadi Prayitno. Ketika itu, Mesran menyarankan Soeharto untuk bertemu dengan Raden Panji Soedijat Prawirokoesoemo. Pria yang lebih dikenal dengan sebutan Rama Dijat ini adalah guru kebatinan Jawa.
Dalam edisi khusus majalah Tempo, 10 Februari 2008, pada artikel “Soedjono dan ‘Orde Dhawuh’”, diceritakan bahwa Mesran dan Soeharto bertemu Rama Dijat pada 1963. Mereka bersua di rumah orang tua Rama Dijat, Prawiro Dinomo, di Dukuh Gopetan, Desa Gemblegan Kalipotes, Klaten.
“Soeharto kaget,” tulis majalah Tempo. “Ternyata Rama Dijat adalah lelaki misterius yang pernah ia temui waktu berziarah ke makam leluhur raja Majapahit di situs Trowulan.”
Waktu itu, Soeharto melihat seorang lelaki yang tengah bermeditasi dan berhasil melakukan komunikasi dengan alam gaib. Soeharto terkesan, kagum, dan penasaran terhadap lelaki itu. Tapi pria itu keburu pergi.
Pada pertemuan Klaten itu, Soeharto langsung menyatakan diri menjadi murid Rama Dijat. Soeharto pun hampir tidak pernah absen mengikuti sarasehan di rumah Rama Dijat, Jalan Sriwijaya 70, Semarang. Ia pun bertandang ke rumah Rama Dijat untuk berkonsultasi. “Tak jarang pula Rama Dijat diundang ke istana atau diutus mencari sesuatu.”
Kata Dr Budyapradipta, pakar Sastra Jawa Universitas Indonesia, Rama Dijat dan Soedjono Hoemardani pernah pergi mencari pohon wijayakusuma. ”Pak Djono pernah bercerita bagaimana ia bersama Romo Dijat mencari pohon wijayakusuma di dekat Nusakambangan yang lautnya ganas,” kata Budyapradipta, yang pernah menjadi sekretaris pribadi Soedjono pada 1983–1986.
Dalam kisah pewayangan, bunga wijayakusuma adalah senjata Kresna. Dengan bentuk kecil-kecil, bunga wijayakusuma dipercaya memberi tanda negara bakal baik. Setelah Soedjono dan Rama Dijat mendapatkannya, pohon ini ditanam di Cendana, Keraton Solo, dan rumah Soedjono.
Sumber : Tempo